
"Benarkah yang ku lihat tadi Giska? Tapi apakah mungkin?" gumam Tia seraya mengerutkan keningnya.
Ya, dialah yang sejak tadi memperhatikan Giska.
"Bi, kau darimana tadi?" Tia langsung bertanya pada pembantunya yang tadi mengobrol dengan Giska.
"Buang sampah di depan, Nyonya," jawab wanita yang bernama Eka itu.
"Nyonya belum tidur? Apa Nyonya perlu sesuatu?" tanya Bi Eka.
"Tidak. Oh iya, kau bicara dengan siapa tadi? Aku perhatikan kau akrab dengannya? Siapa dia?" tanya Tia penuh selidik.
"Ohh gadis tadi. Itu tadi saya bertemu di depan sana, Nyonya. Kasihan sekali dia seperti sedang kurang sehat. Tadi saya tawarin untuk istirahat di dalam sebentar barangkali mau saya ambilkan makan dan minum, tetapi dia menolak," jawab Bi Eka.
"Bi, jangan seenaknya membawa masuk orang asing ke rumah saya! Kau ini di sini kerja jadi jangan sembarangan membawa orang!" tegur Tia tegas.
"Baik, Nyonya. Saya minta maaf," ucap Bi Eka sembari menundukkan kepalanya.
"Siapa tadi nama gadis itu?" tanya Tia lagi.
"Gek Giska, Nyonya."
"Siapa? Giska?" Raut wajah Tia langsung berubah masam.
"Iya, Nyonya."
"Bi, dengarkan perkataan saya baik-baik. Jangan kau ceritakan ini pada suami saya. Jangan sekali-kali kau menyebut nama Giska di depan suami saya, mengerti!" perintah Tia.
"Baik, Nyonya. Lagipula untuk apa juga saya cerita pada Tuan Bobby. Tidak ada sangkut pautnya juga kan, Nyonya?" sahut Bi Eka.
"Bagus." Tia langsung melenggang pergi ke kamarnya.
"Kenapa juga saya harus cerita pada Tuan Bobby tentang hal yang tak ada sangkut pautnya dengan keluarga ini? Ada-ada saja, Nyonya," gumam Bi Eka seraya ia berjalan ke arah kamarnya.
"Bi..." Suara Bobby menghentikan langkah Bi Eka.
"Iya, Tuan?" Bi Eka pun menoleh ke arah Bobby yang ternyata sudah di belakangnya.
"Tuan perlu sesuatu?"
"Kenapa belum istirahat, Bi? Ini sudah malam. Jika masih ada pekerjaan yang belum selesai, besok saja di kerjakan lagi. Sekarang waktunya istirahat," tutur Bobby.
"Iya, Tuan. Saya baru saja buang sampah di depan. Ini sekarang saya mau ke kamar, istirahat. Tapi ngomong-ngomong kenapa Tuan juga tidak istirahat? Tuan kan baru saja pulang dari rumah sakit?"
__ADS_1
"Saya mau keluar sebentar. Bibi istirahat saja. Kunci semua pintunya. Jangan tunggu saya pulang karena saya bawa kunci sendiri," ucap Bobby.
"Tapi, Tuan----"
"Jangan beritahu Tia, Bi. Saya keluar hanya sebentar saja. Mau cari angin."
"Tapi kondisi Tuan-----"
Bi Eka tak sempat menyelesaikan ucapannya karena Bobby sudah melenggang pergi.
"Mungkin Tuan Bobby hanya mau jalan-jalan di jalanan depan saja," gumam Bi Eka. Ia pun kembali berjalan ke arah kamarnya.
_________________
POV Giska
Di dalam kamar yang sepi, aku berselimutkan sunyi. Inginku menyapa malam tapi diriku terkapar di dalam kesunyian. Angin dingin yang datang melewati jendela yang sedikit terbuka, membelai hingga membuatku semakin menggigil. Keluh rasa hati semakin menekan hingga terbongkarlah rindu yang sudah ku benamkan.
Seandainya dia masih ada di sini, mungkin aku tak akan seperti ini. Berjalan tak tentu arah, mencarimu yang hilang bak ditelan bumi.
Ku telan kesedihan hingga ke dada, di kala bayang wajahmu datang dan tersenyum padaku lagi. Jiwaku semakin meronta, meraba dinding kamar ini, merasa seakan engkau tiba-tiba ada di sini.
"Bli Bobby... entah apa yang sebenarnya ada di hatiku saat ini. Sampai saat ini kau masihlah suamiku. Terkadang aku merindukanmu seperti saat ini yang sedang ku rasakan. Tapi terkadang juga aku membencimu. Entah aku membencimu karena apa, aku sendiri pun tak mengerti dengan hatiku yang selalu berubah-ubah tentangmu."
"Bli Bobby, mungkin kali ini adalah kali terakhir aku datang ke sini. Setelah besok aku kembali pulang ke Surabaya, aku memutuskan untuk tak akan pernah kembali ke sini lagi. Karena aku tak memiliki siapapun lagi di sini. Lebih baik aku mengubur traumaku di masa lalu dan aku menetap di Surabaya lagi. Mungkin memang jodoh kita hanya cukup sampai di sini. Ya meskipun statusku masih tetap menjadi istrimu tetapi aku merasa kalau sebenarnya kau tak pernah menginginkanku."
"Aku tidak apa-apa seperti ini. Aku akan selalu mendoakanmu dan juga Bu Tia agar rumah tangga kalian selalu bahagia."
POV End.
Giska mengusap air matanya yang tak henti-hentinya jatuh membasahi pipinya. Sesekali ia menatap foto Bobby yang ada di dalam ponselnya. Foto yang di ambil di kamar ini beberapa bulan yang lalu. Tampak Bobby tersenyum manis sembari memegang tangan Giska. Senyum itu membuat Bobby terlihat semakin tampan.
"Hubungan yang dari awal dibangun dengan kesalahan sampai kapanpun akan tetap salah. Benar kan?" Giska tersenyum getir.
"Giska-Giska, kau memang tidak cocok di sini. Kau itu lebih cocok hidup di kampung halaman saja," ucap Giska pada dirinya sendiri sambil ia menangis.
Tangisannya pun terhenti sejenak tatkala ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari kakaknya yang saat ini tengah menjaga bapaknya di rumah sakit.
Ini adalah panggilan ke sekian kalinya sejak ia keluar dari rumah sakit tadi pagi. Dengan helaan napas panjang, ia pun menjawab panggilan itu.
"Kenapa lagi, Mbak?" tanyanya malas. Pasalnya ia sudah tau apa maksud dari kakaknya itu.
"Sudah selesai belum ambil uangnya? Cepat kembali ke sini, Gis. Ini Bapak panggil-panggil namamu terus sejak tadi. Bapak mau kau yang di sini katanya," kata kakak Giska di sebrang telpon.
__ADS_1
"Belum, Mbak. Aku sampainya saja jam 9 malam tadi. Besok baru bisa ku ambil," jawab Giska beralasan.
"Ya sudah. Kau harus datang pagi-pagi besok, biar bisa langsung pulang ke sini. Untuk masalah travel kau jangan khawatir, nanti coba aku tanyakan pada temanku. Siapa tau besok jadwalnya dia pulang ke Surabaya. Jadi kau bisa naik travel milik temanku itu."
"Tidak perlu, Mbak. Aku sudah pesan travel untuk besok. Jadi Mbak tidak perlu khawatir masalah travel," ucap Giska. Dalam hati ia pun berkata, "Mau cari travel untukku, nanti juga ongkosnya aku juga harus bayar sendiri." Senyum pelik terukir di bibir Giska.
"Baiklah kalau begitu." Panggilan pun berakhir.
Usai panggilan berakhir, Giska pun kembali merenung sedih. Ia tetap memilih duduk bersandar di ranjangnya sembari ia memeluk gulingnya. Ia bahkan tetap mengabaikan rasa laparnya karena rasa sedih yang ia rasakan saat ini.
Malam pun semakin larut, sementara Giska masih saja tetap tak merubah posisinya, hingga ia tertidur dengan sendirinya, tetap pada posisinya.
***
Pagi harinya.
Giska dibangunkan oleh suara dering ponselnya yang berbunyi berulang kali. Ada banyak panggilan masuk dari nomor bapaknya. Ketika ia menjawab panggilan itu, ia langsung mendengar suara bapaknya yang merintih kesakitan dan mengadu pada Giska.
Giska, kau ini dimana? Badanku sakit semua. Kenapa kau malah pergi menjauh dari bapakmu ini? Apa kau tidak senang berada di dekatku? Cepatlah pulang ke sini. Jika nanti aku tiada, kau pasti akan merasa senang, bukan? Kau pasti senang karena sudah tidak ada lagi yang membebanimu.
Begitulah ucapan Pak Bram pada Giska. Hal ini pun membuat Giska semakin tak enak hati. Ia pun akhirnya memutuskan untuk membatalkan mencari Bobby lagi dan memutuskan untuk segera kembali ke Surabaya pagi ini juga.
Namun sebelum ia meninggalkan rumahnya ini, ia menyempatkan untuk menulis surat sebanyak tiga lembar yang akan ia tinggalkan di sini. Dengan harapan suatu saat surat itu akan dibaca oleh Bobby ketika Bobby kembali ke rumah ini.
Semua isi hatinya ia tuangkan dalam surat itu. Rasa sedih, senang, sayang serta rasa bencinya, semua ia lontarkan di dalam surat itu. Ia tak menutupi apapun di dalam surat itu.
Ia pun meletakkan surat itu di atas meja yang ada di dekat ranjang. Lalu ia pun memutuskan untuk segera pergi dari sana.
Saat ia hendak membuka pintu rumah, ia dikejutkan dengan suara klakson mobil yang berbunyi berulang kali. Tanpa menunggu lama, ia pun mempercepat membuka pintu rumah itu. Dan benar saja, tanpa ia duga dan ia pikirkan sebelumnya, ia melihat Bobby berada di dalam mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya itu.
"Bli Bobby..." Suara Giska bergetar memanggil Bobby. Tubuhnya seakan langsung mematung di tempat namun kedua matanya tak berkedip menatap ke arah Bobby.
"Benarkah ini? Apa ini khayalanku saja?" batin Giska.
"Sayang... Kenapa berdiam diri di sana? Kemarilah, mendekatlah padaku. Apa kau tidak merindukanku?" Bobby melambaikan tangannya pada Giska.
..
..
..
Bersambung...
__ADS_1