Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Sedikit Waktu


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Ibu, Bli? Apa Ibu sudah pulang ke rumah?" tanya Giska lagi.


Bobby mengangguk pelan. Lalu ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu kemudian ia bicara. "Ibu sudah pulang, Gis," katanya pelan dan berat.


"Astungkara, Bli. Ibu sudah sehat berarti," sahut Giska. Ia memberikan sedikit senyuman di sudut bibirnya meski matanya masih menangis.


"Ibu sekarang sudah sehat. Bahkan jauh lebih sehat dari sebelumnya," ucap Bobby berat.


"Ibu ikut pulang bersama Ajik, Gis," ungkapnya kemudian. Tangisnya pun pecah usai memberitahu Giska.


Giska yang semula sedikit tersenyum, pun menjadi terkejut sektika.


"Pulang bersama Ajik?" Giska mengulang perkataan Bobby, pelan.


"Ibu telah tiada, Gis. Ibu ikut pergi bersama Ajik. Hiksss... Hiksss...."


"Ibu.... Hiksss.. Hiksss..." Tangis Giska pun semakin pecah, melebihi Bobby.


"Bli Bobby, Ibu..." Ia bahkan kembali memeluk erat Bobby. Kali ini sangat erat melebihi pelukannya yang pertama tadi. Ia tak henti-hentinya memanggil Ibu di sela-sela tangisnya.


"Kenapa Ajik dan Ibu pergi secepat ini? Ibu... Ajikkk..."


"Aku juga tidak mengerti dengan keputusan Tuhan, Gis. Aku bahkan baru tau kemarin siang kalau Ibu sudah tiada. Aku bahkan tidak bisa melihat Ibu untuk yang terakhir kalinya karena Ibu juga langsung di kremasi saat itu," ucap Bobby sambil menangis.


"Setelah aku sadar dari koma, aku selalu menanyakan keadaan Ibu pada Tia. Dan Tia selalu bilang kalau Ibu baik-baik saja. Ibu sudah sehat katanya. Tapi ternyata Tia membohongiku."


"Tia mengatakan kalau dia tidak berani memberitahuku jika Ibu sudah tiada, karena Tia takut aku kembali drop dan mungkin aku akan ikut pergi bersama Ajik dan Ibu."


"Aku sangat marah saat tau yang sebenarnya, Gis. Sedih, marah, semua bercampur menjadi satu. Tapi aku bisa apa? Aku mau memarahi Tia seperti apapun, itu tetap tidak akan bisa mengembalikan Ibu. Aku harus berusaha iklhas meski ini sangat amat sulit," ungkapnya masih sambil menangis.


"Aku tak cukup kuat kehilangan kedua orangtuaku seperti ini, Gis. Tapi aku bisa apa? Mau protes? Protes pada siapa? Pada Tuhan? Atau pada dunia? Ini sangat berat."


"Bli Bobby..." Giska malah semakin terisak. Ia tak ragu dan malu untuk terus membenamkan wajahnya ke dada bidang Bobby.


"Sudahlah, Gis. Sudah cukup kita menangis. Ibu dan Ajik di sana pasti melihat kita saat ini. Mereka tau kalau kita sangat menyayangi mereka. Sudah cukup kita menangis hari ini," pinta Bobby seraya satu tangannya mengusap air matanya. Lalu kemudian ia membelai kepala Giska.


"Ngomong-ngomong, kau mau pergi kemana sepagi ini, Gis? Apa kau mau mencariku lagi?" goda Bobby. Ia berusaha mencairkan suasana agar tak berlarut-larut dalam kesedihan.


"Aku mau kembali ke Surabaya, Bli," jawab Giska lirih.


"Secepat ini? Memangnya kapan kau ke sini, Gis? Kok sudah mau ke Surabaya lagi?" Bobby mengernyitkan keningnya. Ia kemudian mendorong kepala Giska pelan, agar ia bisa melihat wajah Giska yang kini menjadi sembab itu.


Giska pun balasa menatap Bobby, lalu ia menjawab, "Baru semalam aku sampai di sini, Bli. Aku fikir aku sudah tidak bisa menemukan Bli Bobby lagi. Jadi ya untuk apa aku di sini. Lebih baik aku pulang saja ke Surabaya."


"Enak saja main pulang-pulang! Tidak bisa. Kau tidak boleh pulang! Aku baru saja sembuh dan kita baru saja bertemu lagi setelah sekian lama tak bertemu. Apalagi saat itu kau pulang ke Surabaya tanpa memberitahuku karena kau tengah marah padaku. Dan sekarang ini, aku rasa kau sudah tak marah lagi padaku. Jadi kau jangan pulang, ya," pinta Bobby secara paksa.


"Apa kau tidak merindukan suamimu yang tampan ini?" Bobby mulai genit. Ia mengedipkan sebelah matanya yang juga sembab itu.


"Tidak bisa, Bli. Mau bagaimana lagi. Aku harus mengurus Bapak di rumah. Apalagi saat ini Bapak ada di rumah sakit," ujar Giska sendu.


"Bapak masih sakit? Sekarang di rumah sakit?"


"Iya. Sudah dua minggu Bapak dirawat di rumah sakit."


"Ya Tuhan. Kenapa semuanya jadi seperti ini? Ujian yang kau berikan kenapa harus berbondong-bondong seperti ini?" sesal Bobby.


"Entahlah, Bli. Aku juga tidak mengerti. Mungkin ini adalah hukuman untukku," ucap Giska pilu.

__ADS_1


"Hukuman apa? Kau ini bicara apa?" Bobby tampak kesal.


"Ya buktinya keadaan menjadi seperti ini."


"Bukan hanya kau saja, Gis. Keadaanku juga seperti ini. Ini bukan hukuman untuk kita tetapi ini ujian dari Tuhan. Jadi stop menyalahkan dirimu sendiri!" tegas Bobby.


"Sekarang bagaimana keadaan Bapak?" tanyanya kemudian.


"Ya begitulah, Bli. Kalau besok kondisi Bapak lebih baik, maka Bapak sudah diperbolehkan pulang ke rumah," jawab Giska.


............


Giska dan Bobby menghabiskan waktu di dalam mobil saja hanya untuk mengobrol dan melepas rindu satu sama lain. Banyak cerita yang mereka ceritakan satu sama lain tentang apa yang terjadi selama mereka lost contact. Tangisan pun tak henti-hentinya terdengar dari mereka karena selama mereka lost contact banyak hal menyedihkan yang terjadi.


Giska sendiri menjadi lupa kalau ia harus segera pulang ke Surabaya ketika ia sudah bersama Bobby. Mungkin bukan lupa, tepatnya ia sedikit menunda waktu untuk kembali agar ia bisa menghabiskan sedikit waktunya bersama Bobby.


Kemarahan yang ada di dalam dirinya pun sirna seketika. Keputusan-keputusan yang ia buat sendiri untuk masa depannya pun kini kembali ia pikirkan ulang. Dan, untuk surat yang ia tulis untuk Bobby, pun tetap ia beritahukan kepada Bobby. Hanya saja ia tak ingin memberitahukan isinya. Ia ingin Bobby sendiri yang membacanya.


Setelah hampir dua jam mereka berada di dalam mobil, akhirnya Bobby mengantarkan Giska ke Bandara I Gusti Ngurah Rai. Namun kali ini Bobby tak menyetir mobilnya dikarenakan kondisi fisiknya yang masih kurang bagus. Ia tak ingin mengambil resiko yang nantinya akan membahayakan dirinya dan juga Giska. Jadi kali ini ia meminta salah satu anak buahnya untuk menyetir mobilnya. Sementara ia dan Giska bisa menghabiskan waktu lagi dengan duduk berdua di kursi belakang.


Awalnya Giska sempat menolak saat Bobby memintanya pulang ke Surabaya dengan menaiki pesawat. Ia merasa takut karena ia belum pernah menaiki pesawat. Namun karena nasehat yang diberikan oleh Bobby, dan juga agar menghemat waktu juga, ia pun akhirnya setuju.


"Sayang..." Bobby berbisik di telinga Giska.


"Iya?"


"Sebenarnya aku ingin kita lebih lama menghabiskan waktu berdua saja. Aku masih ingin memelukmu. Aku masih sangat merindukanmu. Tetapi kau harus segera pulang," ucap Bobby sedih.


"Iya mau bagaimana lagi, Bli. Ini sekarang kan kita masih bersama. Sebelum sampai di Bandara kita masih bersama-sama kan? Bahkan kau juga terus memelukku sejak tadi. Padahal sebenarnya aku malu karena pasti Bli yang menyetir mobil itu melihat kita," sahut Giska sedikit berbisik.


"Kau ini istriku. Biar saja meski Anton melihat kita. Iya kan Ton?" lanjutnya. Lalu ia lanjutkan dengan mengecup pipi Giska.


"Ishhh!" Giska reflek memukul lengan Bobby.


"Iya, Pak." Anton menjawab sambil tersenyum.


"Pelan-pelan saja bawa mobilnya, Ton. Biar sedikit lama sampai Bandaranya," pinta Bobby.


"Tapi ini sebentar lagi kita sudah akan sampai, Pak. Mungkin sekitar 10 menit lagi," ucap Anton.


"Yahhh, sudah mau sampai ya? Cepat sekali," desah Bobby sedikit kesal.


"Iya, Pak."


"Tapi pesawatnya masih satu jam lagi. Emm nanti di restoran depan kita berhenti dulu, Ton."


"Baik, Pak."


"Tunggu di Bandara saja, Bli. Kenapa harus berhenti di restoran?" protes Giska.


"Kita makan dulu, Sayang. Kau pasti belum makan, kan? Entah sudah berapa lama kau tidak pernah makan," ucap Bobby seraya membelai rambut Giska.


"Tapi aku tidak ingin makan. Aku tidak lapar," tolak Giska.


"Kenapa tidak ingin makan? Kau ingin jatuh sakit juga? Kau ingin masuk rumah sakit? Lalu nanti siapa yang menjaga Bapak kalau kau juga sakit? Apa kau ingin Bapak yang menjagamu? Begitu?"


"Tidak." Giska menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Karena kau masih sedih jadi kau tidak ingin makan? Begitu?" tebak Bobby.


Giska hanya terdiam. Ia tak membenarkan dan juga tak menyalahkan tebakan Bobby. Entahlah, ia benar-benar tak ingin makan.


"Aku juga sama sedihnya, Sayang. Kalau aku memilih untuk tidak makan karena aku masih sedih, bisa jadi aku akan kembali masuk ke rumah sakit lagi nantinya. Kondisiku baru saja baik, jika aku tidak menjaga kondisi, maka aku mungkin bisa langsung menyusul Ibu dan Ajik," ucap Bobby.


"Jangan bicara seperti itu, Bli!" Giska langsung menggengam tangan Bobby.


"Kau harus sehat," pintanya.


"Ya aku juga tidak ingin kembali sakit, Sayang. Aku masih ingin membahagianmu. Aku ingin bersamamu. Jika aku cepat tiada maka nanti siapa yang akan menjagamu? Jangan sampai nanti ada pria lain yang menggantikan posisiku," ujar Bobby.


"Sudah jangan bicara seperti itu lagi. Iya kita akan makan. Aku mau makan," putus Giska. Namun tak bisa dipungkiri bahwa saat ini hatinya masih belum membaik setelah kabar duka yang ia terima tadi.


Rasa sedih yang masih berlarut dalam dirinya, pun kini bertambah. Rasanya sulit menemukan bahagia bersama orang tua lagi, untuk saat ini.


_______


Makan di restoran sesuai keinginan Bobby, sudah terjadi. Meski sebenarnya Giska tak nafsu makan, ia tetap makan agar membuat Bobby senang dan tak khawatir lagi.


Seusai makan, mereka pun meneruskan perjalanan menuju ke Bandara yang hanya memerlukan waktu 5 menit untuk sampai. Dan sesampainya di bandara, Bobby tak memiliki banyak waktu lagi untuk bersama Giska karena Giska harus segera pergi.


Cupp. Kecupan hangat Bobby daratkan di kening Giska sebelum Giska pergi. Tak lupa ia juga memeluk Giska begitu erat.


"Hati-hati, Sayang. Kabari aku terus setelah sampai di Surabaya. Jaga dirimu baik-baik di sana. Nanti setelah fisikku benar-benar kuat, aku akan segera menyusulmu ke sana," tutur Bobby.


"Fokus saja dengan pemulihan Bli Bobby. Lagipula di sini masih banyak urusan yang harus Bli Bobby tangani. Apalagi Ajik dan Ibu belum diaben," ucap Giska.


"Ya kau ada benarnya juga, Sayang. Ya lihat nanti saja lah. Aku masih belum bisa memikirkan itu," sahut Bobby.


"Ingat ya, jaga hati, jaga kondisi. Dan jaga Bapak juga. Semoga Bapak segera sembuh, Sayang. Kau jangan khawatir masalah uang. Nanti akan ku transfer lagi untuk biaya Bapak dan juga untuk kebutuhanmu selama di sana. Yang terpenting adalah kau harus banyak-banyak makan supaya badanmu tak sekurus ini, mengerti!"


"Iyaaa."


"Ya sudah sana pergilah."


"Ya, Bli."


"I love you, istriku."


Giska tersenyum, lalu ia pun melenggang pergi meninggalkan Bobby.


"Maafkan aku, Bli Bobby. Aku tidak bisa merawatmu di sini. Saat kau sakit aku bahkan tidak tau, dan sekarang saat aku sudah tau, aku justru harus segera pulang."


..


..


..


..


..


..


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2