
Mengetahui Bobby sudah mengurus perceraian dengan Tia, seketika itu juga, Tia menjadi kesal dan marah. Ia tidak mau jika Bobby sampai menceraikan nya. Di saat Tia sedang melakukan aksi protes nya terhadap keputusan Bobby, tiba-tiba saja ia harus menghentikan ocehan nya, karena ponsel Bobby berdering.
Drtttt... Drtttt... Drtttt..
"Stop! diamlah dulu! ada telpon masuk." Bobby meminta Tia diam, karena ia mau menjawab panggilan masuk di ponsel nya. Bisa-bisa nya ia menunda amarah Tia, karena panggilan masuk, dan heran nya, Tia pun mau menurut begitu saja.
"Ada apa?" tanya Bobby kepada penelpon di sebrang sana.
"............"
"Apa yang kau katakan! Kenapa kau baru mengatakan nya sekarang!" kesal Bobby.
"Tolong, kau tahan dia dulu. Jangan biarkan dia pergi! Katakan pada nya, 1 jam lagi aku akan datang kesana." pinta Bobby. Ia pun langsung mengakhiri panggilan nya.
Melihat Bobby selesai menelpon, Tia pun kembali protes kepada Bobby.
"Jangan lakukan ini, Pa. Kita harus bicara dari hati ke hati. Kita menikah sudah 5 tahun, dan sekarang dengan mudah nya kau mau meninggalkan ku? Please, Pa, jangan seperti ini." Tia memohon.
"Aku mengakui semua kesalahan ku, Pa. Kau tidak bisa meninggalkan ku begitu saja. Oke, aku memang sudah bersalah, tetapi selama ini jika kau sudah mengetahui semua nya, kenapa kau tidak pernah menegurku, Pa? bukankah tugas seorang suami, untuk menegur istrinnya, jika istri nya melakukan kesalahan. Suami mempunyai tanggung jawab untuk membimbing istri nya, saat istri melakukan kesalahan. Tapi, apa yang kau lakukan, Pa? Kau malah diam, dan membiarkan ku terus melakukan kesalahan. Jika saja kau langsung menegurku waktu itu, mungkin kesalahanku tidak akan sampai sejauh ini. Dan mungkin, saat ini kita sudah kembali seperti dulu, saat kita baru menikah. Mungkin juga, saat ini kita sudah memiliki anak." Tia tak berhenti bicara. Ia terus saja membela diri nya.
"Tia... Kau menyalahkan ku untuk semua yang sudah kau lakukan padaku? kau menganggapku bersalah untuk perselingkuhan mu itu?" Bobby tersenyum kecut.
"Tidak," Tia menggeleng cepat. "Maksud ku, kita berdua sama-sama bersalah. Kita harus membicarakan ini lebih dalam lagi, untuk kembali memperbaiki rumah tangga kita, Pa."
"Dengar Tia... Kau salah, jika kau berpikir selama ini aku tak pernah menegur mu. Aku sudah melakukan itu, sejak pertama kali aku melihat mu selingkuh."
"Kapan kau menegurku, Pa?" Tia merasa bingung. "Apa iya dia sudah menegurku sejak lama? tapi, kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali, ya? apa aku terlalu sibuk dengan kekasihku, sehingga aku mengabaikan teguran dari Bobby?" tanya nya dalam hati.
"Bukalah laci itu!" Bobby menunjuk laci yang berada di samping ranjang nya. Tia pun langsung membuka laci itu. Tia menemukan sebuah ponsel yang tergeletak di dalam nya. Ia pun langsung mengambil nya.
"Ponsel?"
"Ya, itu ponsel ku. Sekarang, kau bukalah ponsel itu. Lihat semua pesan terkirim dan gambar yang selalu ku kirimkan kepadamu."
"Dengar, aku sudah menegur dan memperingatkan mu, meskipun aku tak melakukan nya secara langsung, tetapi semua nya sudah tersimpan di ponsel itu. Jika kau melihat nya, kau pasti akan mengingat nya. Sekarang, lihat dan perhatikan baik-baik, semua yang ada di ponsel itu. Satu hal lagi, aku pasti akan memberitahu tentang perpisahan kita kepada Ajik dan Ibu ku." Ucap Bobby dingin. Kemudian, ia pun langsung keluar dari kamar nya.
"Pa... Kau mau kemana?" teriak Tia. Namun, Bobby tak merespon nya.
__ADS_1
"Pasti dia pergi menemui wanita itu lagi." Kesalnya.
"Arrghhh, aku tidak mungkin menghentikan nya sekarang. Aku harus melihat isi ponsel ini dulu, apa yang di maksud Bobby tadi? sebenarnya apa isi ponsel ini?" Tia semakin bertanya-tanya. Ia pun langsung memeriksa ponsel itu. Saat ia membuka pesan, ia sungguh terkejut melihat semua isi pesan itu. Ia pun terus menscroll semua pesan itu sampai paling bawah sendiri, tepat nya, 4 tahun yang lalu.
Pengkhianat! Kau sudah mengkhianati suami mu!
Berhentilah! kalau tidak aku akan mengirimkan foto ini kepada suami mu!
Kau masih belum berhenti juga! Asal kau tau, suami mu sudah mengetahui tentang perselingkuhan mu ini. Cepat hentikan! sebelum suami mu meninggalkan mu!
Bla bla bla, masih banyak lagi ribuan pesan lain nya.
Itulah isi pesan yang Bobby kirimkan kepada Tia, dengan menggunakan ponsel lain, selama ini. Bahkan tak hanya pesan saja, Bobby juga mengirimkan foto-foto perselingkuhan Tia, bahkan ada banyak foto adegan ranjang Tia dengan selingkuhan nya.
"Bodoh, bodoh, bodoh!" Tia melempar ponsel itu ke lantai. "Aku pikir, semua pesan dan gambar yang ku terima selama ini, hanyalah keisengan orang saja. Aku tidak mengira jika Bobby yang mengirimkan itu semua."
"Arrgghhh, bodoh sekali aku! Apa yang akan ku lakukan sekarang?!" Tia menjambak rambut miliknya sendiri. Ia benar-benar bingung dengan situasi yang ia hadapi saat ini.
***
Bobby langsung menemui kedua orang tua nya, setelah ia keluar dari kamar nya.
"Bobby pergi dulu." Pamit nya kemudian. Ia pun langsung melangkah dengan cepat, tanpa menunggu kedua orang tua nya menjawab.
"Bob... Kau masih terluka.. Kau akan pergi kemana?" teriak Ibu Astuti Namun, Bobby sudah terlanjur pergi dari sana.
"Lihat itu putramu. Dia meninggalkan masalah nya begitu saja. Dia juga tak berniat menyelesaikan masalah nya." Gung De bersuara.
"Kau jangan selalu menyalahkan nya. Kita tunggu saja dia sampai pulang ke rumah. Mungkin, saat ini ada urusan yang lebih penting dari ini, yang harus ia selesaikan." Bela Astuti.
Di tempat lain.
Bobby tengah mengemudikan mobil nya dengan kecepatan lumayan tinggi. Ia seolah tak perduli dengan banyak nya kendaraan yang melintas di jalanan. Saking tinggi nya kecepatannya , ia bisa sampai di tempat yang tuju hanya dengan waktu 15 menit saja. Padahal, normal nya, jarak rumah nya sampai tempat ini, memerlukan waktu 25 menit, untuk sampai di sini.
Begitu sampai, Bobby langsung turun dari mobil nya. Ia pun berlari menghampiri seseorang yang tadi, menelpon nya.
"Dimana Giska?" tanya nya dengan napas ngos-ngosan.
__ADS_1
"Bos, kenapa Bos bisa babak belur seperti ii?" Kadek malah balik bertanya.
"Lupakan ini. Dimana Giska?" tanya Bobby kembali.
"Masih di toilet, Bos."
"Kenapa kau membiarkan istriku ke toilet sendirian? bagaimana kalau dia hilang, nanti?!"
"Aku akan menyusulnya."
"Maaf, Bos. Bos tidak perlu menyusul nya. Itu dia, sudah kembali." Kadek menunjuk Giska yang tengah berjalan ke arah nya.
Bobby pun menoleh, ia langsung berlari menghampiri Giska. "Jangan pergi, Gis." Bobby memeluk Giska.
"Lepas, Bli! Malu! ini tempat umum!" Giska berontak. Bobby pun melepas pelukan nya.
"Bli Bobby kenapa babak belur seperti ini?" cemas Giska. Ia menyentuh wajah Bobby yang terluka.
"Lukaku ini tidak penting, Gis. Katakan! Kenapa kau ingin pergi, Gis? Aku kan sudah mengatakan, akan menyelesaikan semua nya. Aku memintamu menunggu di rumah, tapi kau malah pergi ke terminal." Oceh Bobby.
Ya, saat ini, mereka tengah berada di terminal.
"Bagaimana bisa tidak penting. Itu lukanya banyak sekali, Bli." Giska semakin cemas.
"Tidak apa-apa. Ini sudah di obati, Gis. Nanti juga sembuh. Jangan mengalihkan pembicaraan, Gis. Kau jangan pergi, Gis!"
"Untuk apa lagi, Bli? Kita sudah tidak bisa bersama lagi." Giska memalingkan wajah nya.
"Apa yang kau katakan! Kenapa kau masih tidak mau mengerti ucapanku, Gis?"
"Aku sudah tau semua nya, Bli. Bli Bobby menikahiku hanya karena ingin membuktikan, bahwa milik Bli Bobby masih normal atau tidak, iya kan? Setelah Bli Bobby sudah mengetahui normal, Bli Bobby akan langsung menceraikan ku, bukan? jadi tunggu apa lagi, semua sudah terbukti normal. Jadi, cepat atau lambat, kita akan berpisah. Dan menurutku, lebih cepat akan lebih baik, untuk kita berdua berpisah." Terang Giska.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...