Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Apalagi yang kau ragukan?


__ADS_3

Kini Giska dan Bobby sudah berada di dalam mobil. Giska terus menatap Bobby yang tengah fokus menyetir mobil.


"Kenapa menatapku terus? Apa kau sangat merindukanku?" canda Bobby, ia melirik Giska sekilas.


"Aku hanya ingin tanya, apa yang kalian bicarakan tadi? Kenapa Bapak bisa mengizinkan kita bersama?" tanya Giska.


"Apa itu artinya, Bapak juga menyetujui hubungan kita?" tanya Giska kembali.


"Rahasia," Ucap Bobby di iringi senyum di sudut bibir nya.


"Ishhh, ayo katakan, Bli!" Giska mencubit lengan Bobby.


"Aduhhh," pekik Bobby.


"Kok di cubit sih? Sakit, Sayang." Protes Bobby.


"Makanya cepat katakan, apa yang tadi Bli Bobby bicarakan dengan Bapak!" Giska memasang wajah jutek nya.


"Kau mau tau?"


"Iya lah. Kalau tidak mau tau, untuk apa bertanya?!" ketus Giska.


"Cium dulu!" Bobby menunjuk pipi kirinya.


"Duhh, isi cium-cium segala. Tinggal bilang ini!"


"Mau apa tidak? Kalau tidak mau cium ya sudah. Aku tidak akan mengatakan apapun."


Cuppppp...


Giska langsung mengecup pipi Bobby sekilas. Ia pun langsung memalingkan wajah nya menghadap kaca pintu mobil. Entah kenapa setelah ia mencium pipi Bobby, jantungnya berdebar-debar. Entah ini debaran karena rasa takut atau karena suatu hal yang lain.


"Kurang lama, Gis." Pinta Bobby sekilas menoleh ke arah Giska. "Ehh sebentar, kenapa langsung membuang muka? Kau malu ya?" goda Bobby.


"Tidak! Sudah cepat katakan!" Seru Giska, tanpa menoleh ke arah Bobby.


"Aku akan mengatakan nya, tapi tidak sekarang. Tunggu kita berhenti dulu ya, Gis. Bahaya kalau cerita sambil mengemudi seperti ini." Ucap Bobby.


"Tinggal bicara saja susah sekali sih! Kan tidak harus menoleh ke sini, menyetir saja biasa, sambil ngomong!" Paksa Giska.


"Nanti saja, kita sudah dekat kok. Nanti akan ku beritahu semua nya, oke." Bobby mengedipkan sebelah mata nya.


"Huffttt, ya ya. Mau maksa juga percuma." Giska mengerucutkan bibir nya.


"Biasakan saja bibir nya, Gis. Jangan di manyun-manyunin begitu. Kalau bibirmh seperti itu, aku jadi ingin itu." Ucap Bobby tersenyum.


"Ingin apa?" Giska menatap Bobby penuh selidik.

__ADS_1


"Ya pokoknya itu." Bobby tersenyum. Ia pun semakin mempercepat laju mobil nya.


***


Beberapa menit kemudian.


"Kau tunggulah di sini sebentar!" perintah Bobby, kemudian ia turun dari mobil.


Selang tak lama, Bobby kembali masuk ke dalam mobil.


"Kenapa kita ke penginapan?" tanya Giska curiga.


"Kau tau ini penginapan? Apa kau pernah kesini sebelumnya?" Bobby balik bertanya.


"Iya tau lah ini penginapan. Tadi di depan kan ada tulisan nya, Penginapan Nusantara! Aku tau bukan berarti aku pernah datang kesini." Ucap Giska.


"Hmmm." Bobby hanya berdehem, seraya ia kembali melajukan mobil nya. Tak lama mobil itu melaju, Bobby pun menghentikan mobilny di depan salah satu kamar yang ada di penginapan itu.


"Ayo, Gis!" Ajak Bobby.


"Untuk apa kesini, Bli?"


"Duhhh, kau ini banyak bicara ya!" Bobby yang tak sabar akan pertanyaan-pertanyaan Giska, ia pun langsung menggendong Giska dan langsung membawanya masuk ke dalam kamar itu.


"Lepas! Lepas!"


"Sudah diam!"


Bobby menurunkan Giska di ranjang. Ia pun langsung ikut menjatuhkan tubuhnya di samping Giska. Tanpa banyak bicara, ia langsung menarik Giska ke dalam pelukan nya. Di kecupnya kening Giska cukup lama, lalu ia pun berkata, "Aku sangat merindukanmu, Gis."


"Lepas!" Giska langsung mendorong Bobby dengan sekuat tenaga. Tiba-tiba saja keringat dingin mengucur dari pelipis Giska. Ia pun beranjak bangun dan langsung menjauh dari Bobby.


"Apa yang Bli Bobby lakukan!" Teriaknya tiba-tiba.


Bobby pun ikut bangun, ia menatap Giska bingung. "Kau ini kenapa? Apa kau sudah lupa kalau kau adalah istriku?" tanya Bobby heran. Ia tak mengerti dengan Giska.


"A-aku..."


"Satu minggu kita tidak bertemu, Gis. Aku sangat merindukanmu, tapi kau malah mendorongku. Apa kau tak ingin aku memelukmu?" tanya Bobby kembali.


"Ma-maaf." Giska menndukkan kepala nya. Entah kenapa ia reflek langsung mendorong Bobby saat Bobby memeluk dan mencium kening nya, tadi. Rasanya ia seolah melihat Bram di depan nya. Bayangan Bram saat kejadian satu minggu yang lalu pun kembali melintas di dalam benak nya. Namun setelah ia menjauh dari posisi Bobby, ia kembali sadar kalau pria yang bersamanya saat ini adalah Bobby, yang tak lain adalah suami nya sendiri.


"Kau ini kenapa sih, Gis?" Bobby masih bingung.


"Tidak apa-apa. Hanya saja aku sedikit merasa aneh, Bli. Mungkin karena kita tidak bertemu lama." Alasan Giska.


"Tapi tadi kau biasa saja saat berdua denganku di dalam mobil. Kenapa saat kita berada di sini kau baru merasa aneh?"

__ADS_1


"Yaaa, aku tidak tau."


Bobby menghela napas nya, lalu ia pun berjalan mendekat ke arah Giska. Saat ia sudah berdiri di hadapan Giska, ia langsung memutar tubuh Giska, dan ia langsung mendekap Giska dari belakang.


"Biarkan aku memelukmu, Gis. Please! Jangan berontak lagi. Aku sangat merindukanmu." Bisiknya di telinga Giska.


Dug... Dugg... Dug...


"Apa ini? Keras sekali." Batin Giska. Ia meraskan ada benda keras yang menempel di tubuh bagian belakang.


"Bli, a-aku,---"


"Please, Gis!" Bisik Bobby kembali.


"Aku menginginkanmu, Gis." Ucap Bobby lirih, seraya bibir nya mulai mengecupi bahu Giska yang masih terbungkus baju dan juga jacket. Lalu perlahan bibirnya mulai mengecupi leher jenjang Giska. Tangan nya pun mulai membelai lembut pantat Giska, lalu di cubitnya pantan Giska dengan pelan.


"Bli Bobby, a-aku,--"


"Emmppphhhh..." Saat Giska mulai bicara, Bobby langsung memutar tubuh Giska, lalu ia pun langsung mengecup bibir Giska. Sadar tak mendapat respon dari Giska, ia pun mennggigit kecil bibir bawah Giska dengan sengaja. Setelah mendapat gigitan kecil itu, otomatis bibir Giska menjadi sedikit terbuka, dan Bobby pun langsung menelusupkan lidahnya masuk ke dalam mulut Giska. Dengan lihai ia memainkan lidahnya di dalam sana. Jika saja ciuaman mereka saling berbalas, pasti akan lebih menambah kenikamatan ciuman itu.


Di satu sisi Bobby tengah fokus menikmati ciuman nya, sementara di sisi lain Giska merasa aneh sekaligus takut. Ia mau memberontak pun tak bisa, pasalnya Bobby sudah memegang kedua tangan nya dengan sangat erat.


"Bagaimana ini? Apa Bli Bobby akan melakukan itu lagi? Tapi bukankah status hubungan kami kedepan nya masih belum jelas? Tapi kenapa Bli Bobby seperti ingin melakukan itu saat ini?" Batin Giska seraya ia memejamkan kedua mata nya. Ada buliran air mata yang menetes di sudut matanya.


Bobby yang tengah asik menikmati bibir Giska, ia pun melepas ciuman itu. Di tatapnya Giska lekat-lekat, di belainya pipi mulus Giska dengan tangan kanan nya, sementara tangan kirinya masih memegang erat kedua tangan Giska.


"Kau memejamkan matamu, apa kau takut padaku?" tanya Bobby.


Giska pun menganggukkan kepala nya cepat. Kemudian perlahan ia menbuka kedua mata nya.


"Jadi kau benar-benar takut?" tanya nya sekali lagi.


"Iya." Jawab Giska langsung memalingkan wajahnya.


"Apa yang membuatmu takut kepadaku? Aku ini suami mu. Kita sudah pernah melakukan ini, bukan? bahkan tak hanya sekali saja, tetapi sudah beberapa kali. Kenapa kau masih takut, Gis?"


"I-itu hubungan kita..." Giska tak meneruskan ucapan nya.


"Jadi kau masih berpikir bahwa kita akan berpisah?"


Giska mengangguk.


"Stop berpikir seperti itu, Gis! Sudah berulang kali ku katakan, kita tidak akan berpisah! Sedikit saja kau percayalah padaku. Aku benar-benar mencintaimu, aku ingin menjadikanmu milikku selama nya. Kau harusnya tau, aku jauh-jauh datang kesini, untuk menyusulmu. Bahkan aku juga sudah meminta restu langsung kepada Bapak mu. Apalagi yang kau ragukan dari diriku, Gis?" Bobby sedikit kecewa dengan sikap Giska.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2