
Pagi itu, Ajik Gung De dan Bu Astuti bicara pada Pak Bram. Mereka ingin mengajak Pak Bram tinggal di Bali. Namun sayangnya, meski mereka sudah berusaha membujuk Pak Bram, Pak Bram menolaknya, dengan alasan dia tak ingin membiarkan rumahnya kosong.
Akhirnya pagi itu, Ajik Gung De kembali ke Bali seorang diri. Dan Bu Astuti, memilih menemani Giska, menjaga Pak Bram.
Pak Bram sendiri tak merasa keberatan dengan tinggalnya Bu Astuti di rumahnya tanpa Ajik Gung De. Meskipun sebenarnya tidak baik jika dipandang oleh para tetangga tetapi ini semua sudah menjadi keputusannya. Lagipula alasan yang diberikan Ajik Gung De dan Bu Astuti tidak ada yang salah di mata Pak Bram.
_______
"Giska..." Pak Bram memanggil Giska sedikit berteriak.
"Iya, Pak." Giska menyahut dan segera berlari ke kamar bapaknya.
"Kenapa, Pak?" tanya Giska sesampainya di kamar bapaknya.
"Kau ini dari mana saja. Aku memanggilmu sejak tadi. Kenapa kau lama datangnya?" Pak Bram bicara dengan nada sedikit kesal.
"Tadi aku anterin Ajik Gung De sampai depan japan, Pak. Sama Bu Astuti juga. Dan setelah Ajik pergi, aku dan Bu Astuti sarapan sebentar di belakang," terang Giska.
"Sarapan saja lama sekali. Masa tidak selesai - selesai!" protes Pak Bram.
"Hanya sebentar tadi, Pak. Ini juga sambil siapin sarapan buat, Bapak."
"Ayo sekarang duduk dulu, terus Bapak sarapan," ucap Giska. Ia meletakkan piring yang ia bawa ke meja kayu yang ada di dekat kasur bapaknya. Lalu kemudian ia membantu bapaknya untuk duduk.
"Biar Ibu bantu," sela Bu Astuti. Ia hendak masuk ke kamar Pak Bram.
"Ini sudah bisa kok, Bu. Ibu duduk saja ya," sahut Giska sopan.
"Baiklah kalau begitu. Ibu mau pergi ke warung dulu."
"Biar nanti saya saja yang ke warung, Bu."
"Tidak apa - apa, Nak. Kau di sini saja temani Pak Bram. Lagipula Ibu ingin menikmati udara sejuk di kampung sini."
"Baiklah kalau begitu, Bu. Ibu hafal sama jalannya kan?"
__ADS_1
"Iya, Nak. Ya sudah Ibu pergi dulu."
"Iya, Bu."
Setelah Bu Astuti pergi, Giska pun kembali fokus pada bapaknya. Ia kemudian mulai menyuapkan nasi putih dan sayur bening kepada bapaknya.
"Buka mulutnya, Pak."
Pak Bram pun menurut. Ia langsung membuka mulutnya, menerima suapan dari Giska.
"Gis, aku ini bagaimana ya?" celetuk Pak Bram.
"Bagaimana apanya, Pak?"
"Kenapa aku tidak sembuh - sembuh? Sekarang malah lemas kakinya," ucap Pak Bram sendu.
"Ya mau bagaimana lagi, Pak. Namanya juga masih fi uji oleh Tuhan. Bapak harus sabar. Nanti Bapak pasti sembuh," tutur Giska.
"Bapak juga mau dibawa ke rumah sakit, tidak mau. Katanya mau di rumah saja," tambahnya.
"Jangan pikirin masalah uang, Pak. Itu sudah jadi tanggung jawabku. Dan yang akan menunggu fdi rumah sakit, aku, Pak. Bapak fokus saja untuk sembuh," ucap Giska.
"Kita ke rumah sakit ya, Pak," ajaknya kemudian.
Pak Bram menggelengkan kepalanya.
"Kenapa, Pak? Apa Bapak tidak suka jika aku yang menunggu di rumah sakit?" tanya Giska.
"Di rumah saja, toh juga sama saja," jawab Pak Bram.
"Emm, Kakakmu kapan katanya mau ke sini? Keponakanmu juga kapan dia mau ke sini?" tanya Pak Bram kemudian.
"Kau sudah menelponnya kan?" tanyanya lagi.
"Emmm, Kakak masih banyak pekerjaan, Pak. Dan cucu Bapak juga masih banyak urusan. Jadi mereka belum bisa ke sini sekarang. Mungkin besok atau lusa, mereka akan datang," jawab Giska.
__ADS_1
Ya, kedua anak kandung Pak Bram memang belum ada yang datang. Kalau anak pertamanya, mungkin memang tidak bisa datang karena saat ini posisinya jauh. Tetapi kalau untuk anak kedua Pak Bram, sebenarnya tinggalnya tak begitu jauh dari sini. Hanya perlu menempuh waktu 30 menit saja. Namun entah mengapa dia tak kunjung datang. Dia mengatakan suaminya selalu kerja dan dia sendiri katanya sibuk menjaga tokonya. Entah semua itu benar atau mungkin itu hanya alasannya saja. Begitupun dengan cucunya, dia juga belum bisa datang karena suaminya belum dapat cuti kerja.
"Bapak jangan terlalu banyak pikiran. Nanti mereka pasti akan ke sini. Ya mungkin tidak sekarang. Tapo mereka pasti datang, Pak. Sekarang lebih baik Bapak makan yang banyak. Habiskan makanannya supaya Bapak lekas sembuh," tutur Giska kemudian.
"Sudah. Aku kenyang."
"Tapi Bapak baru makan 3 sendok."
"Iya tapi aku sudah kenyang, Gis."
"Tapi, Pak---"
"Aku bilang sudah ya sudah." Pak Bram tetap tak ingin menghabiskan makanannya. Dan kalau sudah seperti ini, Giska pun tak bisa memaksa Pak Bram.
***
Di tempat lain.
Bobby terlihat sedang bersiap - siap untuk pergi. Dan Tia, dia tampak terus saja memegangi tangan Bobby.
"Tia, lepaskan tanganku. Aku harus pergi. Kau jangan egois seperti ini. Keadaanmu kan sudah baik - baik saja. Jadi kau tidak bisa menghalangiku lagi!" seru Bobby.
"Aku tidak mau ditinggal sendirian, Pa. Lagipula kenapa kau harus pergi ke Surabaya sih? Di sana kan sudah ada Ajik dan Ibu. Sudahlah, kau di sini saja," jawab Tia.
"Tia, kau jangan lupa, Giska juga istriku. Kau jangan bersikap egois. Aku sudah banyak mengalah dengan sikapmu. Giska juga sudah banyak mengalah denganmu. Jadi tolong kali ini mengertilah," pinta Bobby.
"Aku juga sudah menawarimu untuk ikut bersamaku kan? Tapi kau menolaknya. Jadi biarkan aku pergi sekarang," ucap Bobby.
"Baiklah kalau begitu. Aku mau ikut denganmu."
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...