Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Aku tulus menyayangimu


__ADS_3

"Maaf sudah menunggu lama, Mas."


"Tidak, Gis. Ayo naik!" Ari tersenyum.


Giska mengangguk, ia langsung naik dan duduk di belakang Ari, lalu Ari pun segera melajukan motor nya.


"Kenapa berhenti, Mas?" tanya Giska, pasalnya ia belum sampai di rumah nya, tetapi malah berhenti di depan kedai bakso.


"Kita makan sebentar ya, sekalian nanti bungkusin buat Bapak di rumah."


"Ya."


"Tunggulah di sana, aku pesan dulu bakso nya." Tutur Ari. Giska mengangguk, ia pun duduk di tempat yang di tunjuk oleh Ari tadi.


"Kita mampir sebentar tidak apa-apa, kan?" tanya Ari, ia baru saja duduk setelah ia memesan bakso.


"Asal tidak lama saja, ya tidak apa-apa. Kalau lama nanti kasihan Bapak di rumah, soalnya tadi di telpon suruh cepat-cepat pulang." Ujar Giska.


"Iya."


"Gis, terimakasih karena kau bersedia berteman dengan pria tua, dan hanya sebagai tukang ojek ini." Ucap Ari menggenggam tangan Giska.


"Iya, aku juga terimakasih karena Mas juga mau berteman dengan seorang pembantu." Ucap Giska.


"Aku tulus menyayangimu, Gis."


"Terimakasih."


"Gis, boleh aku bertanya?"


"Apa?"


"Apa kau tidak malu jika jalan berdua denganku? secara umur kita jauh, dan aku hanya tukang ojek." Ucap Ari.


"Tidak." Giska menggelengkan kepala nya.

__ADS_1


Umur mereka memang terpaut jauh, Ari sudah berumur 26 tahun, sementara Giska baru akan berumur 15 tahun. Giska merasa bahagia karena Ari selalu perhatian kepada nya, selama ini Giska tak pernah merasakan di perhatikan seperti teman-teman nya yang lain oleh orang tua nya. Namun ia mendapat perlakuan buruk dari Bapak nya, itu membuat ia menjadi canggung, bahkan terkadang enggan berdekatan dengan Bapak nya.


Trauma pasti, awalnya Giska juga takut kepada Ari, bahkan bukan hanya Ari saja, ia takut kepada semua laki-laki, lebih tepatnya ia enggan berdekatan dengan laki-laki, karena ia takut akan terjadi hal yang sama. Namun, entah bagaimana ia bisa luluh dengan Ari, perlahan ia mulai bisa berteman dengan Ari.


"Silahkan, ini bakso nya," seorang Ibu mengantarkan 2 mangkok bakso, dan meletakkan nya di meja Giska dan Ari.


"Terimaksih, Bu." Ucap Giska.


Ibu itu mengangguk, "Selamat menikmati." Lalu Ibu itu permisi pergi.


˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚


"Sampai di sini saja, Mas." Giska meminta Ari berhenti.


"Memang rumahmu dimana, Gis?" tanya Ari.


"Disana, masuk gang itu." Giska menunjuk sebuah gang kecil yang tak jauh dari tempat mereka berhenti saat ini.


"Ya sudah, ayo ku antar sampai rumah, aku juga sekalian mau menjenguk, Bapak."


"Baru juga pukul 20.12 Gis." Ucap Ari, ia melihat jam di pergelangan tangan nya.


"Maaf, Mas. Lain kali saja ya." Giska memelas.


"Ya sudah tidak apa-apa. Kau jalan lah! aku akan melihatmu dari sini." Ucap Ari, ia mengalah, meskipun sebenarnya ia ingin mengantarkan Giska sampai di depan rumah nya, namun ia juga tak mau memaksa Giska.


Giska mengangguk, "Terimakasih, Mas." Ia tersenyum.


"Iya." Ari memandangi Giska yang sudah masuk ke dalam gang, minim nya lampu penerangan membuat ia tak begitu jelas melihat Giska. Saat di rasa Giska sudah sampai di rumah nya, ia pun kembali melajukan motor nya menuju ke rumah nya sendiri, karena kebetulan rumahnya juga tak jauh dari sini, hanya beda nama Desa saja.


Sementara Giska, ia berjalan dengan sedikit terburu-buru menuju rumah nya, ia takut jika Bapak nya menunggu terlalu lama.


Tok, tok, tok.


Giska mengetuk pintu rumah nya, "Pak, Giska pulang." Ucap nya.

__ADS_1


"Pak... Pak..." Karena tak ada jawaban dari Bram, tangan Giska meraih gagang pintu, ia memutarnya dan terbukalah pintu itu.


"Astaga, ternyata pintu nya tidak di kunci," Giska langsung masuk ke dalam, ia langsung menuju kamar Bram. Nampak Bram tengah tertidur, wajahnya juga terlihat pucat, Giska memberanikan diri memegang kening Bram.


"Panas sekali."


"Pak, Bapak..." Panggil Giska.


"Kepalaku pusing, aku sungguh tidak tahan, aku ingin mati saja." Gumam-gumam Bram.


"Pak, jangan bicara seperti itu, besok Giska antar ke dokter." Tutur Giska.


Bram membuka mata nya, "Gis, kau sudah pulang?" ucap Bram pelan.


"Iya, Pak. Baru saja datang. Bapak makan dulu ya, Giska membawa bakso untuk Bapak, sebentar Giska siapkan dulu." Giska segera memindah bakso nya ke dalam mangkok.


"Ayo, Pak, duduk dulu. Di makan dulu bakso nya." Giska membantu Bram duduk.


˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚


"Minum dulu obat nya, Pak." Giska memberikan obat yang ia temukan di meja, ssperti nya obat itu yang biasa di minum Bram saat ia merasa pusing.


Usai Bram meminum obat nya, Giska menyuruhnya segera tidur, lalu ia sendiri langsung masuk ke kamar nya dan ia juga langsung mengistirahatkan badan nya.


Jedug, jedug.


Giska langsung kembali ke kamar Bram, saat ia mendengar suara benturan dari sana.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Haii.. mohon dukungan nya ya, beri like , komen dan rate. Tapi jika mau vote juga gpp, hehe ..Terimakasih🙏🙏🙏


__ADS_2