Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Dia bukan istri simpanan!


__ADS_3

"Ajik di sini?"


"Ya, ini Ajik berdiri di depan mu, ya berarti Ajik di sini. Pertanyaanmu konyol sekali, Bob." Gung De terkekeh pelan.


Bobby menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.


"Bersama Ibu atau sendiri?" Bobby celingukan melihat ke dalam rumah.


"Ibumu ada di dalam."


"Ya sudah, ayo masuk, Jik." Bobby mengajak Gung De masuk ke dalam rumah.


"Dimana, Ibu?" Bobby menatap sekeliling rumah nya, tetapi ia tak melihat ada Ibu nya di sana.


"Mungkin di dapur, Bob. Tungu saja di sini." Gung De mendaratkan tubuhnya di sofa.


"Biar Bobby lihat ke dapur, Jik."


"Tidak perlu, itu Ibumu..." Gung De melihat istrinya tengah berjalan mendekat ke arah nya. Bobby pun ikut menoleh ke arah Ibu nya.


"Bu..." Panggil Bobby.


"Dimana istrimu, Bob?" Astuti langsung bertanya.


"Mungkin di kamar, Bu. Sebentar, biar Bobby panggilkan."


"Dia tidak ada di kamarnya. Ibu sudah memanggilnya sejak tadi. Ibu baru ingat, tadi ibu lihat, mobil nya juga tidak ada di depan."


"Tia tadi menelpon Ibu, dia meminta Ibu dan Ajik datang kesini, tapi dia nya malah tidak ada di rumah. Sebenarnya ada apa, Bob? tumben sekali dia meminta Ibu dan Ajik kesini."


"Emm, Bobby akan coba menghungi Tia dulu. Ibu dan Ajik tunggu sebentar, ya." Bobby melangkah pergi menuju kamar nya.


"Duduk, Bu. Sampai kapan Ibu mau berdiri di situ. Ayo sini duduk." Gung De menepuk sofa di sebelah nya, meminta istri nya untuk duduk di samping nya. Astuti pun langsung duduk di samping nya.


Selang tak berapa lama, Bobby nampak kembali menghampiri orang tua nya.


"Bagaimana? Apa Tia bisa di hubungi?" tanya Astuti.


Bobby ikut mendaratkan tubuh nya di sofa, sebelum ia menjawab Ibu nya. "Iya, Bu. Sebentar lagi dia datang." Jawab nya.


Belum ada 5 menit Bobby selesai bicara, nampak Tia baru datang, dengan membawa banyak bingkisan di tangan nya. Tia berjalan menghampiri ketiga orang yang tengah duduk di sofa, lalu menyapa ketiga nya. Tak lupa ia menyelipkan senyuman manis nya, di depan suami dan kedua mertua nya.

__ADS_1


"Ajik, Ibu... Maaf kalau menunggu lama." Sapa Tia ramah.


"Tia, kau memanggil Ibu dan Ajik? kenapa?" tanya Bobby, ia menghunuskan tatapan yang sulit di artikan.


"Tidak ada apa-apa, Pa. Aku hanya ingin mengajak Ajik dan Ibu makan bersama kita. Sudah lama kan, kita tidak makan bersama," Tia tersenyum.


"Sebentar, biar aku siapkan dulu makanan nya." Tia langsung melangkah menuju ruang makan, sembari membawa bingkisan yang berada di tangan nya.


"Apa yang dia remcanakan? kenapa harus melibatkan Ajik dan Ibu?" kesal Bobby dalam hati nya.


"Ayo, Bob, Bu... Kita ke ruang makan." Ajak Gung De.


"Ibu dan Ajik, duluan saja. Nanti aku menyusul." Ucap Bobby.


"Kok menyusul? mana ada makan bersama, tapi yang 1 nya menyusul. Ayoo kesana!" paksa Astuti.


"Hmm, iya-iya... Ayo."


Mereka bertiga pun menyusul Tia ke ruang makan.


***


"Hmmm, Bu, Ajik... Ada yang ingin Tia sampaikan kepada kalian berdua." Ucap Tia, setelah mereka berempat menyelesaikan acara makan nya.


"Tia!" seru Bobby, ia menatap Tia tajam. Bobby tau apa yang akan Tia bicarakan kepada orang tua nya. Pasti ini tentang masalah hubungan nya saat ini.


Mendapat tatapan tajam dari Bobby, Tia langsung memalingkan wajah nya. Ia seolah tak perduli bagaimana anggapan Bobby nanti nya.


"Ada apa? Apa yang ingin kau sampaikan? Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Astuti saat melihat anak dan menantu nya seperti kurang akur.


"Emm, Ibu dan Ajik pergi istirahat dulu saja. Kalian baru saja selesai makan, dan mungkin makanan nya belum sepenuh nya turun ke perut. Nanti saja kita bicara lagi." Pinta Bobby.


"Tidak apa-apa, bicara sekarang saja. Nasi Ibu juga tidak mungkin naik lagi, kan. Ayo bicara, jangan membuat Ibu penasaran!" seru Astuti.


"Bu, sebelumnya Tia ingin minta maaf, karena sampai sekarang Tia masih belum bisa hamil. Padahal kami sudah menikah 5 tahun. Jujur, Tia sangat ingin hamil, Bu. Tia juga ingin memiliki anak, tetapi, saat ini, anak Ibu ini, sudah tak mau lagi perduli dan perhatian kepada Tia. Bagaimana Tia bisa hamil, jika anak Ibu tak pernah menyentuh Tia lagi. Bahkan sekarang, dia tak pernah mau tidur di rumah lagi, dia lebih memilih tidur di rumah istri simpanan nya, Bu." Ucap Tia to the point. Ucapan Tia sukses membuat Ajik dan Ibu nya Bobby, terkejut. Bobby pun tak menyangka, Tia akan sefrontal ini menyampaikan semua nya kepada orang tua nya.


"Dia bukan istri simpanan!" bela Bobby. Bobby menatap Tia, dengan penuh kekesalan.


"Istri simpanan? Apa maksud mu?"


"Apa yang kau katakan, Nak?"

__ADS_1


Orang tua Bobby, kompak bertanya.


"Emm, kalian lupakan saja, apa yang Tia katakan." Pinta Bobby.


"Kenapa, Pa? Apa kau tak memberitahu Ajik dan Ibu tentang istri simpananmu itu?" Tia menyindir.


"Tidak perlu lagi menyembunyikan semua ini, Pa. Ajik dan Ibu juga harus tau, seperti apa terluka nya hati ku, melihat kau memiliki istri simpanan!" Tia menjadi emosional, bahkan air mata nya pun sudah terlihat mengalir deras di pipi nya. Entah bagaimana cara nya ia bisa mengeluarkan air mata itu dengan begitu singkat. Padahal, tiga menit yang lalu, ia masih terlihat baik-baik saja. Tak ada tanda-tanda ia akan menangis. Tetapi saat ini, tiba-tiba saja air mata nya sudah mengalir deras di pipi nya.


Gung De sontak bangun dari duduk nya.


Plakk.... Plakk....


Dua pukulan mendarat mulus di kedua pipi Bobby. Bahkan karena pukulan nya yang terlalu keras, Bobby sampai terpental jatuh bersama kursi nya.


Tia dan Astuti sampai melongo, saat melihat Gung De memukul Bobby dengam sangat keras.


"Cukup, Jik. Dia putramu!" Astuti menarik lengan suami nya, yang akan kembali memukul Bobby.


Sementara Tia, ia langsung sigap membantu Bobby kembali berdiri.


"Lepas!" Bobby menampik tangan Tia, "Ini yang kau mau, bukan? Kau hanya menceritakan setengah kebenaran nya, dan membuat Ajik sampai marah kepadaku!" seru nya.


Tia pun semakin memelaskan muka nya, ia pun menunduk kan kepala nya.


"Bobby!" Teriak Gung De, "Pria macam apa kau ini?! kau yang salah, dan kau malah menyalahkan istrimu!"


Bugh... Plakk... Bughh...


Gung De kembali memukuli Bobby. Bobby pun hanya bisa menahan pukulan Ajik nya, sesekali ia terlihat menghindar dari pukulan Ajik nya.


"Ajik! Cukup!" Astuti berteriak. Ia pun kembali menarik suami nya agar tak memukuli Bobby.


"Lepas, Bu! Biar aku memberinya pelajaran! Putramu sudah kurang ajar, dia tidak diri!" Gung De melepas genggaman istri nya.


"Ajik belum mengetahui semuanya. Dengarkan aku dulu, Jik." Bobby membela diri. Tangan nya memegangi bibir nya yang terasa ngilu akibat pukulan dari Ajik nya. Nampak darah segar mengalir dari sudut bibir nya.


"Cukup! Jangan memukul nya lagi." Astuti langsung mendekap Bobby. Ia menangis melihat Bobby babak belur karena ulah dari Ajik nya sendiri.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2