Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Apa yang terjadi di sana?


__ADS_3

Di rumah Giska.


"Bapak?" Giska merasa ketakutan, karena Bapak nya tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya, dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Giska.


Jantung Giska berdebar-debar, keringat dingin pun mengucur deras dari pelipis nya. "Apa kejadian itu akan terulang kembali?" batin Giska ketakutan. Tiba-tiba saja ia teringat akan ponselnya, yang masih ia genggam. Ia pun langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana nya. Ia tak ingin, Bram sampai mengambil ponsel nya, untuk di gunakan sebagai alat penerangan agar Bram bisa melancarkan aksi nya, seperti dulu lagi.


Bram hanya tersenyum, tiba-tiba saja ia langsung melingkarkan tangan nya, memeluk tubuh Giska. Giska sontak terkejut, ia pun langsung menepis tangan Bram.


"Bapak merindukanmu, Gis." Bram berbisik.


Giska langsung beranjak bangun dari kasur nya, ia menepis tangan Bram yang berusaha menariknya.


"Jangan seperti ini, Pak! ingatlah! aku ini anakmu!" seru Giska, ia pun langsung berlari keluar rumah, meninggalkan Bram yang masih berada di kamar nya. Giska berlari sekencang mungkin, menuju rumah tetangga yang tak jauh dari rumahnya.


Sesampainya di depan rumah tetangga nya, ia pun langsung mengetuk pintu rumah itu dengan cukup keras.


Tok, tok, tok.


"Bu," panggil Giska dengan suara ketakutan, di ikuti oleh tangan nya yang terus mengetuk pintu itu.


Berulang kali Giska mengetuk pintu, namun tetangga nya tak kunjung membukakan pintu nya, hingga ia melihat Bram juga keluar dari rumah. Bram berjalan ke arah Giska. Giska semakin merasa ketakutan, ia pun terus mengetuk pintu itu, bahkan ia semakin mengeraskan ketukan nya, ia berharap sang pemilik rumah bisa mendengarnya.


Langkah Bram semakin mendekati Giska, Giska pun semakin merasa ketakutan. Ia hendak berlari, namun Bram lebih dulu melewatinya. Ternyata Bram tak menghampiri Giska, Bram malah melewati Giska begitu saja, dengan langkah cepat, dan juga ekpresi kesal.


"Punya anak, tidak bisa membuat orang tua senang! Tidak bisa mengerti maunya orang tua!" itulah kalimat yang Giska dengar, saat Bram melewatinya.


Tubuh Giska seketika merosot ke bawah, tepat di depan pintu tetangganya, dengan napas yang masih memburu.


"Kurang mengerti bagaimana lagi? setiap bulan, aku selalu mengirim uang. Apa mau nya? Apa aku harus selalu mau, jika Bapak mengajak ku tidur? Bukankah Bapak bilang, aku ini anak nya? Tapi kenapa, dia malah meniduri anaknya sendiri?" batin Giska. Kehidupan nya benar-benar miris.


Ceklek...


Tiba-tiba pintu terbuka, nampak ada wanita berdiri di ambang pintu.


"Giaka? kau benar Giska?" tanya wanita itu.


"Iya, Bu. Ini Giska." Giska pun langsung berdiri.


"Kapan kau datang, Gis? Dan iya, kau kemari malam-malam begini? Ada apa?" tanya wanita itu.


"Siang tadi, Bu, aku datang nya. Bu, bolehkan aku numpang tidur di sini?" pinta Giska.


"Boleh saja, Gis. Memangnya kenapa, sampai kau ingin tidur di sini?" tanya wanita itu.


"Emmm, Bapak marah padaku, Bu." Ucap Giska berbohong. Sebenarnya tidak berbohong sih, memang benar Bram marah kepada Giska, karena Bram tak mendapatkan keinginannya.


"Marah? kenapa sampai marah? memang apa masalah nya?" wanita itu semakin ingin tau.


"Apa yang harus ku katakan? tidak mungkin kan, aku mengatakan jika Bapak ingin menyetubuhiku?" batin Giska. Giska pun merasa bingung, dengan jawaban apa yang akan ia berikan. Jika sampai semua orang tau tentang kelakuan Bram kepada Giska, bisa-bisa Bram di usir dari kampung ini. Bahkan ia bisa saja masuk penjara. Itulah yang Giska takutkan, ia tidak mau sampai ada yang mengetahuinya, karena biar bagaimanapun, Bram tetaplah orang tuanya.


"Emmm, i-itu... Anu. A-aku juga tidak mengerti, Bu. Tiba-tiba saja Bapak marah-marah. Bahkan dia sekarang keluar, entah kemana. Tadi aku melihat, Bapak jalan ke arah sana." Giska menunjuk jalan yang Bram lewati.


"Aneh sekali Bapakmu itu. Ayo masuklah, Gis." Ajak wanita itu.

__ADS_1


Giska mengangguk, "Terimakasih, Bu."


"Tapi, Bu. Kaki ku seperti nya kotor, aku lupa memakai sandal, Bu." Giska menunduk, menatap kedua kakinya. Saking takutnya, ia sampai lupa tidak memakai sandal.


"Tidak apa-apa. Masuk saja."


"Terimakasih, Bu." Giska pun masuk ke dalam.


"Tidurlah di kamar, Gis. Ini selimutnya." Wanita itu memberikan sebuah kain sarung kepada Giska.


"Terimakasih, Bu. aku tidur di sofa ini saja."


"Di kamar saja, di sini banyak nyamuknya, Gis."


"Tidak apa-apa, Bu. Di sini saja."


"Baiklah, jika itu maumu. Aku tinggal ke kamar ya." Pamit wanita itu.


"Iya, Bu. Maaf ya, Bu, sudah mengaggu waktu istirahat Ibu." Giska meminta maaf. Ia sungguh merasa tidak enak karena sudah mengganggu tetangga nya, di jam malam seperti ini.


Wanita itu tersenyum, "Tidak apa-apa." Ucap nya, kemudian wanita itu pun meninggalkan Giska di sofa.


Giska pun mendaratkan bokongnya di sofa itu, ia pun menyandarkan punggungnya. Saat ini ia masih memikirkan tentang kejadian yang baru saja ia alami.


"Kenapa Bapak masih belum berubah? Harusnya dia sadar akan kesalahan nya. Aku jauh-jauh pulang ke sini, karena cemas dengan keadaan Bapak, namun nyatanya, Bapak malah ingin...." Giska tak meneruskan ucapan nya. Miris sekali nasib nya. Hidup nya selalu di hantui rasa takut, mirisnya Bapak nya sendiri yang membuatnya ketakutan. Bukankah seoarang Bapak, harus nya melindungi Anak nya? Tapi kenapa itu tidak berlaku untuk Giska? Apa karena Giska hanyalah anak angkat, sehingga Bram tega melakukan hal keji itu.


***


Tut... Tut... Telpon tersambung. Tak perlu menunggu lama, suara Giska kembali menyahut dari sebrang telpon.


"Hallo," suara Giska terdengar gemetar.


"Gis, apa kau baik-baik saja? Kenapa kau seperti ketakutan? Apa yang terjadi di sana?" tanya Bobby, nada suaranya terdengar cemas.


"Aku tidak apa-apa, Bli." Giska mencoba menormalkan suaranya


"Sungguh? Tapi kenapa kau tidak bicara sejak tadi? Apa Bapak baik-baik saja?" tanya Bobby.


"Maafkan aku, Bli. Tadi, aku mengobrol dengan Bapak. Aku lupa jika masih tersambung telpon nya. Iya, Bapak baik-baik saja, kok." Bohong Giska.


"Hmm, aku kira terjadi sesuatu denganmu, dan juga Bapak." Ucap Bobby, ada sedikit kelegaan di hatinya.


"Gis, aku merindukanmu. Kapan kau kembali ke sini?" tanya Bobby.


"Besok pagi aku berangkat kesana." Giska langsung menjawab.


"Eh, tidak Gis. Aku hanya bercanda tadi. Aku tidak benar-benar menyuruhmu secepatnya kesini. Kau uruslah Bapak dulu di sana, sampai benar-benar sembuh. Kasihan Bapak sendirian." Tutur Bobby.


"Tidak, aku memang akan kembali besok pagi. Bapakku juga sudah sehat, kok."


"Apa kau yakin? Surabaya - Bali, itu tidak dekat, Gis. Lebih baik kau stay di rumah beberapa hari, biar Bapak juga puas bisa kangen-kangen nan sama anak nya. Tungguin saja dulu, Bapak di rumah. Sampai Bapak benar-benar sehat." Bobby kembali membujuk.


"Kangen-kangenan? ck," Giska berdecak dalam hati nya, "Mungkin jika keluarga normal, mereka bisa kangen-kangen nan dengan Bapak nya. Tapi, aku? kangen nya Bapak, itu berarti dia ingin kembali meniduriku, seperti tadi. Mungkin jika aku tidak lari, saat ini aku masih melayani nafsu Bapak ku sendiri." Batin Giska, miris.

__ADS_1


"Gis? Kenapa diam?" suara Bobby kembali menyadarkan Giska.


"Tidak apa-apa. Hmm, sudah malam, Bli. Aku mengantuk." Ucap Giska, lalu ia langsung mengakhiri panggilan nya.


***


"Ada apa dengan nya? Aku rasa ada yang aneh dengan nya?" Bobby merasa bingung. Bobby pun berniat menelpon Giska kembali, namun ia urungkan. Karena ia ingin membiarkan Giska bisa istirahat. Ia pun kembali melajukan mobilnya.


Bobby mengemudikan mobil, dengan pikiran yang masih bingung memikirkan Giska. Ia bisa merasakan ada gelagat aneh di dalam diri Giska, saat ia bicara melalui telpon, baru saja. Suara Giska juga terdengar tak biasa. Andai saja, jarak Bali - Surabaya, bisa ia tempuh hanya dalam waktu 1 menit, pasti saat ini ia langsung pergi menemui Giska.


Selang tak berapa lama, Bobby nampak baru sampai di rumah nya. Bahkan perlu waktu 5 menit, untuk ia menyadari bahwa saat ini ia sudah sampai di rumah nya. Ia pun langsung turun dari mobil, setelah selama 5 menit ia diam di dalam mobil.


Bobby melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.


"Pa, kok baru pulang?" tanya Tia, saat ia menyambut kedatangan Bobby, di depan pintu. Ia pun langsung menggandeng lengan Bobby.


"Iya, lembur di bengkel, tadi." Jawab Bobby, sembari ia terus melangkah masuk, hendak menuju kamar nya.


"Hmm, baiklah. Papa bersih-bersih dulu saja di kamar. Biar ku siapkan makan malam nya." Ucap Tia, seraya mengantar Bobby ke kamar.


"Tidak perlu, tadi aku sudah makan." Bobby menolak.


"Ya sudah kalau begitu, biar ku buatkan teh hangat untukmu, Pa."


"Iya."


Sesampainya di kamar, Bobby langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang sudah terasa lengket, terkena keringat. Sementara Tia, ia langsung pergi ke dapur, untuk membuatkan teh hangat untuk Bobby.


Tak lama kemudian, Tia nampak kembali ke kamar dengan membawa secangkir teh hangat. Ia pun meletakkan teh itu di atas meja, tepat di samping ranjang nya. Selang tak berapa lama, Bobby terlihat baru keluar dari kamar mandi, dan sudah memakai pakaian tidur nya. Tubuhnya terlihat sangat segar, aroma wangi sabun, pun bisa tercium sampai ke hidung Tia, yang saat ini ia tengah merebahkan tubuhnya ranjang.


"Di minum, Pa, teh nya." Pinta Tia.


"Iya," Bobby pun mengambil teh itu, lalu meminum nya. Usai meminum tehnya, ia pun memilih keluar dari kamar.


Tia menghembuskan napas nya dengan kasar, saat melihat Bobby memilih keluar kamar, daripada tidur berdua dengan nya di kamar.


1 jam kemudian.


Tia berjalan menghampiri Bobby, di ruang tengah. Dari kejauhan, ia bisa melihat dengan jelas, saat ini Bobby nampak sangat gelisah. Dengan langkah cepat, ia berjalan mengahampiri Bobby.


"Pa..." Panggil Tia, saat sudah berdiri di hadapan Bobby.


Greebbb....


"Emmphhh..."


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2