
"Siapa yang sudah lebih dulu mengambil kesucianmu? Kalau bukan pria itu?" Bobby memperjelas ucapannya.
Degg...
Giska langsung terdiam, seketika itu juga. Namun, diamnya Giska hanya bertahan selama beberapa detik saja. Karena detik selanjutnya Giska berusaha untuk tak merasa takut akan pertanyaan yang di lontarkan oleh Bobby.
"Kenapa bertanya seperti itu?" Giska mencoba untuk bersikap biasa saja, meski di dalam hatinya ia merasa sakit, karena arah pembicaraan ini mengingatkan tentang perbuatan Bapaknya.
"Aku hanya ingin tau saja. Kau bilang kau tidak pernah memiliki kekasih, kan. Lalu siapa yang merenggutnya darimu?" Bobby tetap ingin tau.
"Sorry, Bli. Itu adalah masa laluku. Dan aku tidak ingin membicarakan hal itu." Giska menolak memberitahu. Karena menurutnya ini adalah privasinya. Ia berhak untuk tak menceritakan ini kepada siapapun termasuk pada suaminya sendiri. Ia ingin mengubur dalam-dalam kepahitan itu. Selain itu, ia juga tak ingin citra Bapaknya menjadi buruk di mata Bobby. Kalau sampai Bobby mengetahui segalanya tentang Bram, maka kemungkinan besar Bobby tak akan respek lagi dengan Bram. Dan kemungkinan besar, Bobby pasti melarang Giska untuk berhubungan lagi dengan Bram.
Itu semua tidak boleh terjadi, karena biar bagaimanapun juga, Bram tetaplah orang tua yang sudah mengasuh Giska dari kecil. Ia juga yang sudah menyekolahkan Giska hingga SMP.
Pengorbanan yang di lakukan oleh seorang bapak dalam menghidupi anaknya dari kecil hingga dewasa, tak cukup bila di bayarkan dengan uang. Sebanyak apapun anak memberi uang pada orang tua, itu masih tak sebanding dengan perjuangan orang tua, dalam membesarkan anaknya.
Itulah yang Giska yakini. Sebejat-bejatnya orang tua pada anaknya, sampai kapanpun dia tetaplah orang tua kita. Hanya saja, yang Giska lakukan saat ini, meski ia begitu menyayangi Bapaknya, tapi ia tetap sengaja menjaga jarak dengan Bapaknya, karena ia tak ingin Bapaknya mengulangi perbuatannya. Rasa sayang tetaplah ada, hanya saja menjaga jarak mungkin adalah jalan yang terbaik.
"Aku tau itu masa lalumu, Gis. Tapi sekarang aku sudah menjadi suamimu." Ucap Bobby.
"Selama aku menjadi suamimu, aku selalu memperhatikanmu. Setiap kali aku mendekatimu kau selali gugup dan ketakutan. Aku merasa, kalau rasa takutmu itu bukanlah takut karena aku masih asing bagimu, tapi rasa takutmu itu lebih ke trauma. Kau seperti mempunyai trauma sendiri. Tapi yang aku tidak mengerti, kau trauma dalam hal apa? Itu yang membuatku bingung." Ucap Bobby.
"Hmmm, kenapa sih jadi bahas itu? Ini katanya kita liburan, kok malah bahas masa lalu?" Giska masih tak mau menjawab.
"Baiklah, jika kau tak mau mengatakannya. Tapi, jika suatu saat kau ingin mengatakannya, aku siap mendengarkannya, Gis." Ucap Bobby.
"Maafkan aku," lirih Giska.
"Apa salahnya, Gis. Aku hanya ingin tau, siapa pria yang mendapatkanmu lebih dulu. Apakah pria itu ada sangkut pautnya dengan ketakutanmu, atau ini hanya anggapanku saja." Gumam Bobby dalam hatinya.
***
2 hari kemudian.
Kini Bobby dan Giska bersiap akan kembali pulang ke rumah. Rencananya mereka akan kembali siang ini juga. Namun, saat ini Bobby masih terlihat santai merebahkan tubuhnya di kasur.
__ADS_1
"Bli, ayo kita pulang sekarang!" Ajak Giska. Ia berdiri di samping ranjang.
"Oke, ayo." Bobby pun beranjak bangun dari kasurnya. Ia langsung berdiri dan berjalan menuju pintu, tanpa menunggu Giska.
Giska menghela napasnya panjang sembari menatap punggung Bobby yang kian tak terlihat saat Bobby sudah keluar dari kamar. "Apa Bli Bobby marah padaku?" Lirih Giska.
Sejak berakhirnya obrolan di sore itu, sikap Bobby berubah menjadi sedikit cuek. Bobby lebih menjaga jarak dengan Giska. Dia tak lagi seperti biasanya. Bahkan 2 hari ini, ia hanya mengajak Giska jalan-jalan saja, tanpa ada candaan atau ungkapan hati yang biasa Bobby ucapkan.
"Apa aku salah?" Lirih Giska.
"Bli Bobby belum tau saja, sudah langsung marah. Apalagi kalau dia sampai tau tentang masa laluku, pasti dia akan semakin marah." Gumamnya.
Giska pun terjatuh dalam lamunannya. Ia pun masih terdiam di dalam kamar.
Sementara di luar kamar, Bobby sudah berteriak memanggilnya.
"Ayo, Gis!" Bobby memanggilnya dari luar kamar.
"Iya..." Sahut Giska. Ia pun langsung berjalan keluar dari kamar. Di luar kamar, ia melihat Bobby sudah berdiri menunggunya.
"Bli Bobby..." Giska memegang lengan Bobby.
"Bli Bobby marah?"
"Tidak, Gis. Untuk apa aku marah." Jawab Bobby.
"Tapi,---"
"Tapi apa? Sudahlah, ayo kita pulang sekarang!" Ajak Bobby.
"Ya, Bli."
_________
2 jam kemudian.
__ADS_1
Bobby menghentikan mobilnya di depan perumahan yang Giska tinggali.
Seharusnya perjalanan tidak sampai memakan waktu 2 jam, namun karenan jalanan ramai, dan sedikit macet, jadi Bobby dan Giska perlu sedikit lama mengahabiskan waktu di jalan.
________
"Kau masuklah, Gis!" Perintah Bobby. Saat ini mereka berdua masih berada di dalam mobil.
"Apa Bli Bobby tidak ikut masuk?" Tanya Giska.
"Tidak, Gis. Maaf ya, hari ini aku tidak bisa menginap di sini. Aku harus pulang ke rumah Tia untuk menepati janjiku yang akan mengajak Tia liburan, besok." Ucap Bobby, ia menatap Giska sekilas.
"Oohhh... Iya sudah, Bli. Aku akan masuk." Giska pun langsung turun dari mobil Bobby.
"Salam buat Bu Tia, ya." Ucapnya sebelum ia melangkah menjauh dari mobil Bobby.
"Iya, nanti aku sampaikan salam mu. Cepat masuklah! Jangan lupa kunci semua pintu dan jendelanya. Jangan biarkan siapapun masuk. Jika ada yang mengetuk pintu, apapun alasannya, kau jangan membuka pintunya." Perintah Bobby.
"Iya, Bli." Tanpa basa-basi lagi Giska pun langsung masuk ke rumahnya. Ia bahkan tak mengucapkan kata hati-hati untuk suaminya yang hendak pulang ke rumah istri pertamanya.
Entah kenapa rasanya jelek sekali di hati. Ia tak mengerti dengan apa yang hatinya rasakan. Hanya saja, tadi saat Bobby bicara seperti itu, rasanya seperti aneh.
_________
Sementara Giska sudah masuk ke rumah, sedangkan Bobby, ia masih tetap berada di mobil dan belum pergi dari halaman rumah Giska. Ia terus menatap pintu rumah itu, rasanya ia ingin ikut masuk ke dalam, tapi, pikirannya mengatakan untuk tak ikut masuk. Jadilah Bobby langsung melajukan mobilnya, pergi dari sana.
"Maaf, Gis. Jika aku penting untukmu, maka pasti kau akan menyadari sikapku ini. Jika kau benar-benar ingin mencoba membangun rumah tangga kita, pasti kau akan mau membagi kegelisahanmu denganku." Gumam Bobby, seraya mengemudikan mobilnya.
"Mungkin aku terkesan egois karena ingin tau, siapa pria masa lalu yang mendapatkanmu. Aku ingin tau, apakah kau menyerahkan kesucianmu itu dengan sukarela, ataukah ada hal lain yang mengharuskanmu melepas kesucianmu itu." Sambungnya.
"Aku ingin mengetahui kebenarannya, Gis. Agar aku tak menduga-duga lagi. Aku tak ingin selalu berpikiran buruk tentang masa lalumu."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...