
Giska duduk termenung di sebelah ranjang pembaringan Trias. Sudah lebih dari 20 menit ia terdiam, sejak ia baru sampai tadi, hingga sekarang.
Giska bahkan tak bertanya apapun pada Trias. Ia juga belum menanyakan bagaimana bayi Trias yang baru saja dilahirkan. Jenis kelaminnya pun ia juga belum mengetahuinya, karena ia belum bertanya.
Bahkan Trias pun tak berani bertanya apapun pada Giska. Dia hanya memandangi Giska saja sejak tadi. Sesekali ia bahkan sempat tertidur sekejap-sekejap karena tak adanya pembicaraan sama sekali.
Hingga kemudian suara perawat yang masuk langsung memecah keheningan antara Trias dan Giska.
"Permisi, Bu. Apa bayinya sudah di susui?" tanya perawat itu.
Seketika Giska dan Trias saling tatap, lalu Trias menggelengkan kepalanya seraya menjawab, "Belum."
"Sebaiknya langsung disusui saja, Bu."
"Iya. Tapi dimana bayinya, Sus?" Kini Giska yang bertanya. Akhirnya ia mengeluarkan suaranya juga.
"Itu." Perawat menunjuk ke salah satu ranjang kecil yang diatasnya berisikan sinar lampu khusus yang dipakai untuk menghangatkan tubuh bayi yang baru saja lahir.
Kemudian perawat itu mengangkat bayi itu dari ranjangnya, lalu ia berikan kepada Trias.
"Eh sebentar, Sus. Berikan saja pada teman saya ini," ucap Trias pada perawat itu.
Perawat itu mengernyitkan keningnya. "Kan anda yang harus menyusuinya, Bu," ucap perawat itu.
"Itu adalah anak temanku, Sus. Saya tidak ingin menyusuinya. Temanku ini yang akan menyusuinya," ucap Trias secara terang-terangan.
"Hehh! Kau ini ada-ada saja. Bagaimana bisa aku menyusui, sedangkan aku belum melahirkan!" timpal Giska.
"Emm baiklah. Saya paham maksudnya. Jika memang tidak memberikan asi pada bayi, anda bisa memberikan susu formula sebagai gantinya," ucap perawat itu.
"Nah itu maksudku, Gis," sahut Trias.
"Oh iya, iya." Giska seketika terkekeh.
"Jadi ini mau digendong siapa bayinya? Apa mau saya letakkan kembali di ranjang bayi?" tanya perawat kemudian.
"Biarkan di ranjang bayi dulu, Sus. Teman saya biar keluar dulu beli susunya," putus Trias. Ia bahkan tak mau menggendong bayinya.
"Baiklah." Perawat itu pun kembali menidurkan bayi itu ke ranjang yang berisi sinar itu. Kemudian dia pergi.
"Kenapa kau masih di sini, Gis? Sana berikan anakmu susu. Belilah dulu susunya," ucap Trias.
"Tapi aku tidak tau susu yang bagaimana, Tri, sahut Giska.
"Ya kan ada tulisannya nanti, Gis. Atau kau bisa tanyakan langsung pada pegawai tokonya," ujar Trias.
"Iya baiklah. Aku akan membelinya." Giska pun segera keluar dari sana.
__ADS_1
Giska menyusuri jalanan sekitaran rumah sakit, mencari tempat dimana ia bisa membeli susu bayi. Sesekali ia bertanya pada seseorang yang ia jumpai di sana dan ia pun akhirnya diberi tau tempatnya. Ia pun segera bergegas ke toko itu.
Setelah cukup jauh ia berjalan, bahkan hingga ia keluar dari area rumah sakit. Dan sekarang, sampailah ia di salah satu minirmarket yang terletak tak begitu jauh dari minimarket. Namun jika diperhitungkan, lumayan jauh juga ia berjalan dari kamar Trias hingga sampai di minimarket ini. Ia harus melewati kawasan rumah sakit yang cukup besar.
Lelah dan lemas, itulah yang ia rasakan saat ini. Apalagi saat ini kondisinya tengah hamil dan beberapa saat yang lalu ia baru saja mengalami muntah-muntah yang cukup parah sampai menyebabkan ia pingsan. Tetapi ia juga tak pantas jika harus mengeluh mengenai itu.
Ia merasa kembali kuat ketika mengingat bayi kecil yang bahkan belum ia ketahui jenis kelaminnya dan juga belum ia ketahui bagaimana betuk mukanya. Semua rasa ini adalah sedikit tantangan yang diberikan oleh orang tua baru, seperti Giska sekarang ini.
"Mbak, jika ingin membeli susu bayi untuk bayi baru lahir, yang mana ya, Mbak?" Giska langsung bertanya pada pegawai minimarket itu.
"Mari saya antarkan, Bu." Giska pun mengikuti kemana pegawai itu berjalan.
"Silahkan, Bu. Ada beberapa merk susu bayi baru lahir. Anda bisa langsung memilihnya."
"Baik, terimakasih."
Setelah pegawai itu pergi, Giska sedikit kebingungan melihat deretan susu dengan berbagai merk itu. Ia bingung memilih susu mana yang akan ia beli. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menjatuhkan pilihannya pada merk susu yang sama dengan merk susu yang pernah ia lihat saat ia masih bekerja menjadi pembantu dulu. Lebih tepatnya merk susu yang sama, yang diminum oleh anak majikannya dulu. Hanya saja bedanya pada ukuran usia pertumbuhannya saja.
Setelah menganbil susu itu, tak lupa ia juga mengambil beberapa botol susu, termos, serta pernak pernik lainnya yang akan ia butuhkan untuk bayinya nanti. Setelah mendapatkan semuanya, ia langsung pergi ke kasir untuk membayar semua belanjaannya.
Untung saja ia selalu membawa ponselnya kemana-mana. Karena saat ini ia tak membawa dompet, ia pun membayar semua belanjaanya menggunakan uang yang ia simpan di salah satu aplikasi online, yang juga sering ia gunakan untuk memesan makanan dari sana juga. Dan untung saja saldonya cukup. Jika saja tidak cukup, maka kemana ia akan mencarinya.
"Lumayan juga belanjanya," gumamnya. Ia pun hendak segera kembali ke rumah sakit lagi. Namun pada saat ia hendak keluar dari minimarket itu, ia tak sengaja mendengar seorang perawat rumah sakit tengah bicara rahasia dengan seseorang melalui telpon.
Bagaimana Dinar bisa tau itu rahasia? Karena perawat itu memang mengatakan kata rahasia itu.
Begitulah kalimat yang tak sengaja Giska dengar dari pegawai rumah sakit itu. Giska pun tak mempedulikannya, karena itu bukanlah urusannya. Ia pun kembali bergegas kembali ke rumah sakit. Tak lupa ia membeli air panas untuk mengisi termosnya, sebelum ia kembali ke rumah sakit. Karena ia berpikir, air panas ini akan sangat diperlukan untuk membuat susu nanti.
"Kenapa lama sekali, Gis?" Giska langsung disambut oleh pertanyaan Trias, ketika ia baru sampai.
"Sudah dapat susunya?" tanya Trias lagi.
"Sudah." Giska menunjukkan belanjaannya.
"Apa itu?"
"Botol susu."
"Untuk apa?" tanya Trias.
"Ya untuk tempat susunya, Tri? Masa iya bayiku aku suruh minum langsung pakai gelas?" Giska kemudian terkekeh.
"Oh iya, iya." Trias pun ikut terkekeh. Ia lalu menatap Giska.
"Mengapa kau menatapku seperti itu?" tanya Giska saat ia sadar Trias menatapnya.
"Aku senang melihatmu sedikit tertawa lagi, Gis. Tidak seperti tadi yang terus diam saja," celetuk Trias.
__ADS_1
"Aku takut kau berubah pikiran, Gis. Aku takut kau tidak akan menerima bayi itu. Lalu akan ku kemanakan bayi itu nantinya?" ucap Trias sendu.
"Jangan bicara seperti itu. Itu adalah anakku kan? Aku merasa sangat bahagia menyambut kelahiran anakku, Tri. Kau sudah berjuang sangat keras untuk melahirkan anakku dengan selamat dan sempurna. Aku benar-benar bersyukur karena itu," sahut Giska.
"Tapi kenapa kau diam saja tadi?"
"Tidak apa-apa, Tri. Hanya saja ada yang sedang ku pikirkan," jawab Giska.
"Apa itu?"
"Bisakah berhenti bertanya, Tri? Jika kau terus bertanya, kapan aku bisa memberikan susu ini pada anakku?" Giska terkekeh lagi.
"Dan ya, aku bahkan belum mengetahui apakah anakku perempuan atau laki-laki. Kau juga tak memberitahuku sejak tadi." Giska kemudian memrotes.
"Ah iya. Sepertinya anakmu perempuan, Gis."
"Kenapa sepertinya? Kau ini bagaimana?"
"Tadi saat bayinya sudah lahir, aku merasa lemas sekali, Gis. Saat diberitahu jenis kelaminnya, aku mendengar hanya samar-samar saja. Coba kau lihat saja sendiri sana. Itu kan bayinya di sana," ucap Trias.
"Hmmm." Giska pun langsung menghampiri bayinya.
"Bayiku." Kedua mata Giska seketika berbinar menatap bayi mungil itu. Jantungnya berdegub kencang menatap bayi mungil nan merah kulitnya.
Tak kuat hanya menatap saja, Giska segera keluar untuk memanggil perawat dan memintanya untuk membantu mengangkat bayinya dari ranjang bayi itu, agar bisa ia gendong.
Giska lalu duduk di kursi yang nyaman, lalu ia meletakkan bantal besar di atas pahanya, agar bayinya merasa nyaman saat ia pangku setelah ini.
"Terimakasih, Sus." Giska tersenyum haru ketika ia sudah memangku bayinya.
"Sama-sama, Bu."
"Oh iya, Sus. Bayi saya laki-laki atau perempuan?" tanya Giska.
"Laki-laki, Bu."
"Bukan perempuan?"
"Bukan, tetapi laki-laki."
"Laki-laki tau, Tri. Kau ini bagaiamana tadi." Giska kembali terkekeh seraya menatap Trias.
"Aku pikir perempuan." Trias pun ikut terkekeh.
Tangan Giska sedikit gemetar. Ia benar-benar gugup sekaligus merasa takjub melihat bayi lucu ini. Ini adalah suatu keajaiban yang diberikan oleh Tuhan. Ia bisa memiliki bayi selucu ini.
Giska langsung merasa jatuh cinta pada bayinya ini saat pertama kali ia melihatnya tadi. Ia benar-benar merasa sangat bahagia sampai-sampai ia melupakan kecemasannya dan juga pertanyaan-pertanyaan mengenai kehamilannya. Tak hanya itu saja, ia bahkan juga tak mengingat, lebih tepatnya belum tak menyadari jika suaminya belum menyusulnya ke sini sejak tadi.
__ADS_1
Bersambung...