
Bobby tersenyum, melihat Giska makan dengan begitu lahap nya. "Kau ini sebenarnya siapa sih, Gis? Kenapa setiap aku berada di dekatmu, hatiku menjadi tenang. Bahkan, di saat pikiranku kacau seperti ini, kau bisa mengalihkan pikiranku, dengan kepolosan mu itu." Batin Bobby.
"Kenapa menatapku seperti itu? isi senyum-senyum, pula." Giska menyadari, Bobby menatap nya sejak tadi.
"Siapa yang menatapmu?" elak Bobby, ia pun langsung memandang ke arah lain.
Giska menatap Bobby penuh selidik, kedua matanya menatap Bobby semakin dalam, hingga membuat Bobby merasa aneh.
"Kenapa menatapku seperti itu? cepat selesaikan makanmu, setelah ini ikut aku!" ucap Bobby, kemudian ia langsung bangun dari duduk nya.
"Cepatlah! aku tunggu di mobil!" seru nya, sebelum ia berjalan keluar meninggalkan Giska, yang masih makan.
Giska mengernyit heran, sembari menatap punggung Bobby yang kian tak terlihat.
"Ada apa dengan nya? Tumben sekali, saat kesini dia tak masuk ke dalam kamar dulu." Batin Giska.
"Ahhh, mikir apa sih aku ini?" Giska menggeleng-gelengkan kepalanya, "Biarkan saja dia tidak masuk ke kamar, itu lebih bagus malah. Kalau masuk kamar dulu, bisa panjang urusannya nanti."
"Cepatlah, Gis! Kenapa kau begitu lama sekali!" teriak Bobby dari luar.
"Iya..." Sahut Giska. Ia pun cepat-cepat menghabiskan makanan nya.
Giska berjalan menghampiri Bobby di luar, sembari mulutnya masih mengunyah makanan.
"Sebentar ya, Bli. Aku mau mengganti pakaianku dulu." Ucap Giska tak begitu jelas, karena di dalam mulutnya masih ada makanan yang belum selesai ia kunyah.
"Telan dulu makananmu, baru bicara." Bobby terkekeh.
Giska mengangguk, "Aku ganti pakaian dulu." Ucap nya, setelah ia berhasil menelan makanan nya.
"Tidak perlu mengganti pakaian. Pakai ini saja. Ayo cepatlah!"
"Memangnya mau di ajak kemana sih? kenapa terburu-buru sekali, sampai mau mengganti pakaian saja tidak boleh." Protes Giska.
"Nanti juga kau akan tau. Ayo naik! bisa kan membuka pintunya sendiri?" ucap Bobby dari dalam mobil.
"Bisa lah, sebentar." Giska berlari masuk ke dalam rumah.
"Ehh, kenapa kau malah masuk lagi!" teriak Bobby.
Selang tak berapa lama, Giska pun nampak kembali keluar dengan membawa bingkisan di tangan nya. Ia berjalan dengan santai nya menuju mobil Bobby. Meskipun Bobby selalu saja berteriak memintanya cepat-cepat, namun, Giska memilih tetap santai membuka pintu mobil, hingga ia masuk ke dalam mobil.
"Ayo, Bli." Ucap Giska, setelah ia duduk nyaman di mobil.
Bobby pun langsung mengemudikan mobil nya.
"Apa kau tidak pernah membersihkan telingamu?" tanya Bobby kemudian. Sembari ia terus melajukan mobilnya.
"Pernah." Jawab Giska singkat.
"Lalu, kenapa kau tidak bisa mendengar saat aku teriak tadi?"
"Aku dengar, kok." Jawab Giska polos.
"Lalu? kalau sudah dengar kenapa kau malah santai, dan malah kembali masuk ke dalam? kau kan tau aku memintamu untuk cepat!"
__ADS_1
"Itu salah Bli Bobby sendiri. Sudah tau aku masih makan, malah di suruh cepat-cepat. Tadi itu makanan nya seperti tersangkut di tenggorokan ku, jadi ya aku masuk, untuk minum. Sekalian juga aku mengambil ini." Giska menunjukkan bingkisan yang berada di tangan nya.
"Sayang kan kalau tidak di makan, 15 ribu ini." Ucap Giska kemudian. Ia pun membuka bingkisan yang di dalam nya berisi roti goreng mini.
"Ya ampun, 15 ribu, hanya dapat 5 biji saja. Mana ini kecil-kecil sekali bentuk an nya." Ucap Giska terheran-heran.
Bobby menghela napas nya, "Ya namanya juga mini, ya kecil bentuk an nya, Gis. Kalau mau besar, beli yang jumbo." Celetuk Bobby.
"Memangnya ada yang jumbo, Bli?" tanya Giska.
"Ada, mungkin. Apa kau mau ku pesankan yang jumbo?"
"Ehh, tidak usah, Bli. Aku tadi hanya bercanda saja kok. Lagipula ini juga sudah banyak." Tolak Giska. Sungguh malu sebenarnya, ia malu jika Bobby sampai beranggapan kalau dirinya sangat rakus.
Terukir senyum di sudut bibir Bobby.
"Hmm, Bli Bobby mau?" Giska menyodorkan roti kepada Bobby.
"Kau tidak lihat aku sedang menyetir?"
"Lihat. Di makan nanti kan bisa." Jawab Giska.
"Tidak usah. Kau makan sendiri saja."
"Ya sudah, kalau begitu." Tanpa membantah, Giska pun langsung memakan roti nya.
Bobby melirik Giska sekilas, "Suapin kenapa Gis." Batin Bobby. Entah muncul darimana rasa itu, tiba-tiba saja, ia ingin makan di suapi oleh Giska. Tetapi, ia juga tak mungkin mengatakan nya langsung kepada Giska. Jadilah ia melupakan keinginan nya, karena Giska tidak peka.
Sembari fokus mengemudi, tak jarang Bobby selalu mencuri-curi pandang, menoleh ke arah Giska. Senyuman terukir di sudut bibir Bobby, saat ia melihat Giska memakan roti goreng mini, itu. "Biasanya saja selalu malu-malu di dekatku. Hmm, mungkin dia sudah mulai terbiasa berdekatan denganku." Gumam Bobby. Ya, jika mengingat dari awal pertemuan mereka, Giska selalu saja bersikap ketus kepada Bobby, terkadang Giska juga gugup, takut serta malu, jika Bobby mendekatinya. Namun, saat ini, Bobby merasa sikap Giska sudah mulai ada perubahan. Giska terkesan lebih cuek, dan berani. Itu anggapan Bobby.
***
20 menit kemudian.
Bobby memarkirkan mobilnya, di tempat parkir khusus, yang ada di bengkel miliknya. Bobby mengernyitkan keningnya, melihat ada mobil yang ia kenal juga tengah parkir di parkiran itu.
"Bli Bobby, ini bengkel siapa?" tanya Giska.
"Bengkel suamimu." Bobby menjawab tanpa menoleh ke arah Giska. Karena ia masih memandangi mobil yang parkir, tepat di depan nya.
"Ohhh, jadi ini punya Bli Bobby? besar sekali bengkel nya, Bli. Baru kali ini aku melihatnya." Oceh Giska.
"Hmmm..." Bobby hanya berdehem.
"Gis, kau tunggulah di sini. Jangan keluar dari mobil, sampai aku memanggilmu, nanti." Ucap Bobby kemudian.
Giska pun reflek langsung menganggukkan kepala nya, ketika melihat tatapan Bobby yang terlihat serius.
"Ingat, jangan keluar!" seru Bobby yang di balas anggukan oleh Giska. Bobby pun langsung keluar dari mobil nya, dan langsung masuk ke dalam bengkel.
"Hmmm, aku kira Bli Bobby mau mengajakku kemana, ehh, tau-tau di ajak ke parkiran bengkel nya, di suruh diam di dalam mobil, pula." Gumam Giska.
Di dalam mobil, Giska hanya diam sembari celingak celinguk melihat sekitarnya. Mau bermain ponsel, ia lupa mengambil ponsel nya, di kamar, saat hendak berangkat, tadi. Mau makan, roti nya juga sudah habis. Jadilah ia hanya duduk diam, sembari menunggu Bobby datang.
**
__ADS_1
"Bos, Bu Tia sudah menunggu di dalam sejak tadi." Ucap Kadek, saat Bobby baru saja tiba.
"Ya." Bobby pun langsung masuk ke dalam ruangan nya.
Sementara di dalam bengkel, tepatnya di dalam ruangan Bobby. Tia tengah duduk di kursi Bobby, sembari tangan nya memegang ponsel. Berkali-kali ia mendekatkan ponsel itu ke daun telinga nya, seolah ia tengah mencoba menghubungi seseorang, namun, tidak kunjung tersambung.
Ceklek...
Mendengar suara pintu terbuka, Tia langsung meletakkan ponsel nya di meja. Senyum sumringah tergambar di bibir nya, ketika melihat orang yang datang adalah suami nya, yang sejak tadi ia tunggu. Ia pun langsung menghampiri suaminya, dan langsung berhambur memeluknya.
"Pa, kemana saja, aku sudah menunggumu sejak tadi. Aku juga mencoba menghubungimu, tetapi ponsel mu tidak aktiv. Aku takut terjadi apa-apa denganmu, karena tadi kau pergi begitu saja, Pa." Oceh Tia.
"Ada apa kau kemari?" Bobby melepas pelukan Tia.
"Aku mencemaskanmu, Pa." Tia membimbing Bobby, untuk duduk di kursi nya.
"Aku juga ingin meminta maaf, atas semua kesalahanku. Kau pasti tau, Pa, aku tidak sungguh-sungguh melakukan semua itu. Kau tau, betapa aku sangat mencintaimu, Pa." Ucap Tia, sesaat setelah Bobby duduk di kursi. Tia memegang tangan Bobby dengan sangat erat.
"Aku tau, kau juga sangat mencintaiku, Pa. Aku masih ingat, dulu kau sampai rela melakukan apapun untuk ku. Kau bilang, itu semua karena besarnya rasa cintamu padaku. Sampai sekarang pun, cinta itu masih ada di hatimu, Pa." Ucap Tia dengan penuh percaya diri.
Flashback On.
Beberapa saat yang lalu, saat Bobby pergi begitu saja meninggalkan Tia di rumah. Tia menjadi kesal bercampur takut. Ia kesal karena Bobby langsung pergi begitu saja, ia juga takut, jika Bobby langsung menceraikan nya, setelah Bobby sudah mengentahui tentang perselingkuhan yang selama ini ia tutupi. Ia juga merasa tak rela, jika itu sampai benar-benar terjadi, apalagi saat ini Bobby memiliki 2 istri. Ia tak ingin, Bobby sampai memilih Giska nanti nya.
Ketika Tia tengah memikirkan semua resiko buruk yang akan menimpanya, tiba-tiba saja ia teringat akan kenangan di masa lalu bersama Bobby. Ia mengingat, dulu Bobby sangatlah mencintainya, bahkan Bobby sampai rela melakukan apapun untuk nya, untuk membuktikan betapa besarnya rasa cinta Bobby. Seketika Tia menjadi tersadar, ia yakin, jika sampai saat ini Bobby masih sangat mencintai nya. Dengan rasa penuh percaya diri, Tia mempersiapkan diri nya, untuk pergi menemui Bobby di bengkel nya.
Flashback Off.
"Kenapa kau bisa sepercaya diri ini, Tia?" Bobby menarik tangan nya dari genggaman Tia.
"Pa...."
"Pergilah dari sini!" seru Bobby dengan ekspresi yang sulit di gambarkan. Entah bagaimana perasaan nya saat ini, mau marah, juga semua sudah terjadi, bahkan ia sudah mengetahuinya sejak 4 tahun yang lalu. Sejujurnya, ia sudah berusaha memafkan Tia sejak lama, itu sebab nya ia masih mempertahankan Tia sampai saat ini. Tetapi, semakin lama, rasanya semakin susah untuk ia terus memendam rasa sakit di hati nya.
Mungkin, seandainya orang di luaranan sana mengetahui tentang ini, mereka akan berpikir Bobby adalah pria yang bodoh, tidak tegas dan tidak bisa mengambil keputusan. Tetapi menurut Bobby sendiri, kenapa ia sampai bertahan seperti ini karena ia mengingat tentang perjuangan nya selama ini. Tia adalah wanita yang pernah, sangat amat ia cintai, bahkan sangat ia gilai. Tak hanya itu saja, ia juga punya alasan kuat, kenapa selama ini ia masih mempertahankan Tia.
Tetapi, mungkin kali ini akan berbeda setelah beberapa saat yang lalu, ia memberanikan diri mengeluarkan isi hatinya, yang selama ini ia pendam kepada Tia. Ia seolah berusaha mendorong hati dan pikiran nya untuk bisa memutuskan, apa yang terbaik, untuk ke depan nya nanti.
"Pergilah!" Bobby mengulang ucapan nya.
"Kita belum selesai bicara, Pa. Kau belum mengatakan, kalau kau sudah memaafkanku." Ucap Tia sedikit memaksa.
"Aku akan mengurus semua nya. Kita bertemu di rumah, nanti." Ucap Bobby datar.
.
.
.
Bersambung...
Maaf baru bisa up hari ini.. Maaf ya jika tidak sesuai dengan waktu yang aku bilang tempo hari...
Terimakasih atas dukungan kalian semua, dan juga vote dari kalian semua.. Terimaksih sudah mau menunggu🙏🙏🙏
__ADS_1
❤️❤️❤️