
Drrtttt.....
Drrrtttt....
Drrrtttt....
Ponsel Bobby yang terus berdering tanpa henti benar-benar mengganggu kegiatan yang sedang di lakukan oleh Bobby dan Giska saat ini.
Sebenarnya kalau dari Giska sih, ia sama sekali tidak terganggu dengan suara dering telpon milik suaminya itu. Justru ia malah merasa senang karena ponsel Bobby tak berhenti berdering sejak tadi. Karena menurutnya, suara dering ponsel Bobby itu bisa menyelamatkan dirinya dari terkaman Bobby, yang saat ini sedang meraba-raba seluruh tubuhnya. Seperti biasa, kegugupan itu masih ada di dalam diri Giska. Meski pikirannya ingin menolak, dan hatinya juga merasa takut dan gugup, namun tidak dengan tubuhnya. Tubuh Giska seolah menginginkan lebih dari sentuhan tangan Bobby saat ini. Aahhh entahlah, pokoknya seperti ada sesuatu yang mempengaruhi tubuh Giska yang ia sendiri masih belum paham, sesuatu apa itu.
Di satu sisi Giska merasa senang saat mendengar ponsel Bobby tak berhenti berdering, namun di sisi lain, Bobby si pemilik ponsel itu sendiri malah merasa sangat terganggu dengan suara dering ponselnya itu. Dengan kesal, Bobby pun mengambil ponsel itu, lalu kemudian ia letakkan ponsep itu kembali setelah ia melihat ada nama Tia yang tertulis di layar ponselnya itu.
"Kenapa di taruh lagi?" tanya Giska.
"Angkat saja dulu, Bli!" ujar Giska kemudian.
"Biarkan saja, nanti biar aku yang menelponnya." Jawab Bobby.
"Kenapa begitu?" tanya Giska.
"Tidak apa-apa. Sudahlah, Sayang... Jangan pikirkan ponsel itu lagi. Ayo kita lanjutkan!" Bobby kembali fokus pada tubuh Giska yang setengah polos.
"Tapi itu bunyi terus, Bli! Siapa tau penting!" Giska berusaha membujuk Bobby.
"Aruugkkhhhh," geram Bobby.
"Ya sudah, aku angkat telponnya dulu. Kau tunggu di sini sebentar, jangan kemana-mana!" Seru Bobby kemudian.
"Iyaa," jawab Giska di ikuti senyum tipis di sudut bibirnya.
Bobby pun beranjak bangun dari kasurnya, lalu ia segera mengambil ponselnya lalu ia pun langsung berjalan keluar dari kamar.
__ADS_1
Melihat suaminya keluar dari kamar hanya untuk menjawab telpon, Giska pun merasa sedikit aneh di hatinya. Namun ia belum menyadari keanehan itu sepenuhnya. Justru kini ia kembali menyunggingkan senyumnya, karena ia merasa sementara ia aman dari suaminya. Saat ini ia pun memilih menutupi tubuhnya yang setengah polos itu dengan selimut tebal miliknya.
Selang tak lama, Bobby nampak kembali masuk ke dalam kamar dengan senyum mengembang di sudut bibirnya.
"Sayang... Aku harus pulang." Ujar Bobby detik itu juga saat ia baru masuk ke kamar usai menjawab telpon dari seseorang.
"Haa? Pulang?" gumam Giska. Hatinya kembali merasa aneh.
"Pulang?" kata itu pun lolos begitu saja dari mulut Giska.
"Iya, Sayang. Tadi itu Tia yang menelpon, dia bilang dia sudah melakukan test dan ternyata hasilnya positiv. Aku harus pulang sekarang, Sayang. Biar ku pastikan dengan benar." Ucap Bobby dengan mata yang berbinar. Ia tak sadar kalau ucapannya itu ternyata membuat hati Giska sakit. Mungkin karena Bobby terlalu senang mendengar berita ini, makanya ia ucapannya lepas kendali.
"Eummm, jadi Bu Tia benar-benar hamil?" tanya Giska dengan kedua matanya menatap Bobby.
Bobby mengangguk dengan cepat.
"Selamat ya, Bli atas kehamilan, Bu Tia." Meski rasanya aneh, Giska tetap saja mengucapkan selamat atas kehamilan Tia.
"Eummm, iya, Gis."
"Iya," Giska mengangguk.
Detik itu juga Bobby langsung memungut kaosnya yang ada tadi ia lempar ke lantai, lalu ia segera memakainya. Setelah memakai kaos itu, Bobby pun langsung mengecup kening Giska, lalu ia pun melangkah pergi dari kamar dan juga dari rumah itu.
Sementara Giska, ia masih terdiam di atas kasur dengan kedua matanya yang masih menatap ke arah pintu.
"Kok hatiku seperti ini ya? Jelek sekali rasanya." Gumamnya seraya memadangi pintu kamarnya. Entah kenapa hatinya saat ini, tadi saat Bobby mengajaknya bercinta ia masih merasa ragu dan gugup sampai-sampai ia memanfatkan suara ponsel Bobby untuk membuat Bobby sedikit memberi waktu. Tapi ternyata setelah menjawab telpon itu, Bobby malah langsung pulang tanpa melakukan keinginannya itu. Dan saat Bobby pulang, hati Giska benar-benar merasa aneh dan juga sakit.
Apakah pantas ia memiliki perasaan seperti ini? Bukankah ia harusnya ikut senang karena suaminya akan memiliki anak? Tapi kenapa ia malah menaruh rasa sedih di hatinya? Apa karena anak itu hadir di dalam perut Tia?
'Harusnya aku,' kata itu tiba-tiba terbesit di pikiran Giska.
__ADS_1
"Ishhhhh, aku tidak boleh seperti ini." Giska menepis pikiran buruknya.
***
Di tempat lain, beberapa menit yang lalu.
Tia tersenyum bahagia saat mengetahui kalau dirinya benar-benar hamil. Ia mengetahui kalau dirinya hamil karena ia baru saja melakukan test dengan alat pipih yang ia beli semalam bersama Bobby.
Detik itu juga, Tia pun langsung menelpon Bobby. Sampai berulang kali ia menelpon namun Bobby belum menjawab telponnya. Hal itu sempat membuatnya kesal karena ia tau kalau saat ini Bobby sedang berada di rumah Giska. Pikirannya pun sudah mengarah kemana-mana, segala pikiran buruk pun tertuju pada Bobby. Namun, di saat ia merasa kesal, ia malah semakin gencar menghubungi Bobby, dengan maksud agar Bobby dan Giska tidak bisa berbuat hal yang tidak Tia inginkan.
Dan ia beruntung, berkat kegigihannya yang terus saja menelpon Bobby, akhirnya Bobby pun menjawab telponnya.
"Paa... Positiv," ucapnya langsung mengawali pembicaraan melalui telpon.
"Positiv?" lirih Bobby bertanya. Namun suaranya masih bisa di dengar oleh Tia.
"Iya, Pa... Aku hamil." Ucap Tia dengan sangat jelas.
"Sungguh? Apa kau sudah memastikannya?"
"Sudah. Lebih baik kau pulang sekarang juga! Kau lihat saja sendiri, Pa!" Pinta Tia.
"Oke, aku pulang sekarang." Jawab Bobby langsung. Ia pun langsung mengakhiri panggilannya.
"Lihat ini, Nak, kau belum lahir saja Papamu sudah sangat menyayangimu. Apalagi nanti saat kau sudah lahir, Mama yakin Papamu akan menjadi milik kita seutuhnya." Gumam Tia bahagia.
"Ini adalah awal baru untuk kita, Nak." Gumamnya lagi.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...