
Saat ini Bobby tengah mengemudikan mobilnya menuju ke rumah yang Giska tinggali.
"Kenapa istri Bli Bobby bicara seperti itu tadi? bukankah istri Bli Bobby sudah mengizinkan kita menikah?" tanya Giska.
"Nanti saja kita bahas ini di rumah. Biarkan aku fokus mengemudi."
"Apa susah nya sih, hanya tinggal menjawab saja. Tadi juga saat berangkat, Bli Bobby biasa saja saat mengobrol sambil mengemudikan mobil."
Giska terus saja bicara, tetapi Bobby sama sekali tak menjawab semua apa yang Giska tanyakan. Hingga beberapa menit kemudian, mereka berdua sampai di rumah. Bobby langsung turun dari mobil tanpa menunggu Giska. Giska yang melihat Bobby langsung turun, ia pun ikut turun dan segera berjalan menyusul Bobby.
"Sekarang katakan! Apa maksud semua ini? kenapa aku yang terkesan sudah menggoda Bli Bobby?"
"Jangan bilang, kalau selama ini Bli Bobby bohong tentang persetujuan dari istri Bli Bobby, saat akan menikahiku?!" Oceh Giska, di belakang Bobby.
Bobby pun seketika menghentikan langkah nya.
Dughh... Badan Giska membentur badan Bobby.
"Aduhh." Pekik Giska, "Kenapa berhenti tiba-tiba?!" kesal Giska.
Bobby menoleh, "Kau yang dari tadi terlalu banyak bicara, sampai-sampai kau tidak bisa melihat ada orang di depanmu." Bobby terkekeh.
"Ishhh... Bli Bobby yang tiba-tiba berhenti. Ahh sudah, lupakan. Sekarang jawab aku, apa maksud semua ini? kenapa aku merasa istri Bli Bobby tidak menerima pernikahan kita?" cerocos Giska.
"Duduklah, dulu." Bobby membimbing Giska duduk di sofa.
"Ayo katakan!" desak Giska.
"Dengarkan aku,--"
__ADS_1
"Iya aku mendengarkan, ayo katakan!"
"Diam dulu! Kau jangan memotong ucapanku!" seru Bobby.
"Jangan memikirkan ucapan Tia, saat di bengkel tadi. Dari awal dia sudah tau jika aku ingin menikahimu, dan dia juga sudah memberi izin. Jadi, kau tidak perlu memikirkan semua ucapan nya." Ucap Bobby.
"Bohong, tidak mungkin kalau sudah di izinkan, istri Bli, marah seperti itu. Kesan nya di sini, aku yang sudah merusak keharmonisan rumah tangga kalian. Mungkin semua orang juga mengecapku, pelakor."
"Pernikahan ini memang tidak seharusnya terjadi. Bli Bobby yang paling salah di sini, sudah punya istri, kenapa malah memaksaku menikah dengan Bli Bobby. Sekarang lihat! Bli Bobby sudah menyakiti hati istri sendiri."
"Siapa sih yang ingin membagi suaminya dengan wanita lain? tidak ada wanita yang ingin seperti itu. Dan wanita mana yang ingin menjadi duri di pernikahan orang lain? kalau saja bisa aku memilih, aku tidak akan mau hidup seperti ini. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga di dalm rumah tangga orang." Oceh Giska, kedua mata nya memerah, seperti hendak menangis.
Bobby menangkup bahu Giska, ia menatap mata Giska sangat dalam. Ia bisa melihat ada ketakutan, kekecewaan dan juga penyesalan di sana. "Heii, Gis. Kenapa kau yang banyak bicara lagi. Dengarkan aku, kau tidak perlu merasa seperti itu. Aku menikahimu karena aku mencintaimu, Gis. Aku sudah jatuh cinta padamu."
"Kau bukan pelakor atau apapun itu. Kau adalah istriku, dan aku adalah suamimu. Kau jangan perdulikan ucapan Tia. Dia bicara seperti itu karena dia sedang marah." Tutur Bobby lembut. Nampak ada keseriusan yang tergambar di kedua mata nya.
"Cinta? Mudah sekali Bli, mengucapkan cinta. Lalu bagaimana dengan Bu Tia? apa Bli Bobby sudah tidak cinta lagi, itu sebab nya Bli Bobby menghianati Bu Tia?!" Giska menyindir.
"Siapa pria yang sudah ku nikahi ini? Dia dengan mudah mengatakan cinta, apa sebenarnya dia sudah biasa mempermainkan wanita seperti ini?" batin Giska. Bayangan kejadian saat Bobby memaksanya sewaktu belum menikah dulu, kembali muncul di pikiran Giska. Berbagai spekulsi negativ pun terpikir oleh Giska.
"Terserah, Gis. Kau mau percaya atau tidak. Aku juga tidak mengerti bagaimana aku bisa jatuh cinta padamu. Yang ku tau, cinta itu datang tanpa permisi. Cinta datang dengan sendirinya tanpa memandang situasi. Apa kau tidak bisa melihat cinta di mataku ini? tatap aku, lihat mataku." Bobby mengangkat dagu Giska. Ia semakin memperdalam tatapan nya, di kedua mata Giska.
"Tidak." Giska memejamkan kedua mata nya. Ia tak berani menatap Bobby terlalu lama. Masih ada perasaan takut yang menyelimuti Giska.
"Ini sudah melenceng dari pembahasan kita. Aku hanya ingin memperjelas tentang Bli Bobby dan Bu Tia saja. Bukan seperti ini." Giska mengalihkan.
"Aku bisa menangkap 1 hal di sini. Saat ini hati Bu Tia sangat terluka karena aku. Aku tidak ingin menyakiti hati wanita lain seperti ini. Jalan satu-satunya adalah kita pisah. Tinggalkan aku, perbaikilah hubungan Bli, dengan Bu Tia." Ucap Giska tanpa membuka mata nya. Entah keberanian dari mana, sehingga ia bisa mengatakan ini.
Setiap wanita, bahkan setiap orang pasti ingin hidup nya bahagia. Menikah hanya sekali se umur hidup nya dengan orang yang di cintai. Begitu pun dengan Giska, ia juga punya impian yang sama, ingin menikah sekali saja dalam seumur hidup nya dengan pria yang ia cintai, dan bisa hidup bahagia. Tetapi, bukan seperti ini yang ia mau. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan orang lain. Ia juga baru mengenal Bobby, tidak ada cinta di hati Giska, saat ini. Mereka menikah juga, karena Giska terpaksa. Jadi, untuk apa mempertahankan semua ini?
__ADS_1
"Apa yang kau katakan, Gis! kau tidak pernah tau bagaimana aku menjalani hidupku bersama Tia. Kau dengan mudahnya mengatakan ingin pisah dariku? Apa kau pikir pernikahan ini hanyalah sebuah permainan yang bisa kau sudahi kapanpun kau mau?!" Nada suara Bobby berubah tinggi, kini tatapan nya berubah, tak selembut sebelumnya.
"Bagaimana aku bisa tau, kalau Bli Bobby tidak pernah menceritakan padaku? aku bukan paranormal yang bisa melihat kehidupan seseorang."
"Dan ya, aku tidak bermaksud mempermainkan ikatan pernikahan. Siapa sih yang mau seperti ini? siapapun pasti tidak ingin seperti ini!"
"Lagipula, Bli Bobby kan sudah merasakan tidur bersamaku. Jadi, tunggu apa lagi? lebih cepat kita pisah, itu akan lebih baik. Dan Bli Bobby bisa kembali bahagia dengan Bu Tia." Ucap Giska, kali ini ia memberanikan diri menatap langsung kedua mata Bobby. Dan tanpa terasa, air mata yang sejak tadi ia tahan, perlahan mengalir di pipi nya.
"Aku tidak menceritakan padamu, karena aku menghargaimu, Gis. Kau juga istriku, tidak mungkin aku menceritakan semua tentang Tia padamu. Aku menjaga perasaan mu. Dan ya, kau salah besar, jika selama ini kau anggap aku menikahimu karena ingin menidurimu saja. Jika aku menginginkan itu, untuk apa aku repot-repot menikahimu, aku bisa melakukan nya dengan Tia, bahkan jika aku mau, aku bisa membeli gadis yang melayani jasa seperti itu."
"Bukalah mata dan pikiranmu, untuk apa aku melakukan semua ini, jika bukan karena aku mencintaimu?" Bobby mengusap lembut, air mata di pipi Giska.
"Tidak, aku tetap ingin pisah! Aku tidak bisa menyakiti hati wanita lain." Kekeh Giska.
"Apa yang ada di pikiranmu, Gis! Kita menikah baru beberapa hari, dan itupun keluargamu tidak ada yang tau tentang pernikahan ini. Dan sekarang, dengan mudah nya kau minta pisah dariku?! Apa kau ingin menikah berulang kali? kau ingin tubuhmu itu di nikmati oleh pria lain lagi?! Kesal Bobby.
Degg....
Ucapan Bobby membuat Giska terdiam. Memang benar semua nya, di usia nya yang belum genap 18 tahun, sudah 2 pria yang sudah menjamah tubuh nya . Jika ia benar pisah dengan Bobby, kemungkinan suatu saat nanti ia akan kembali menikah dengan pria lain, dan itu artinya, bertambah 1 pria lagi yang menjamah tubuh nya. Tetapi, jika ia tetap bertahan, itu artinya ia akan semakin membuat hati Tia hancur.
"Ya Tuhan... Pilihan macam apa ini? kenapa kau menempatkanku di posisi seperti ini?" ucap Giska dalam hati.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1