Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Bak Di Hukum


__ADS_3

"Ajik sudah pergi, Gis."


Degg!


Mendengar kalimat yang dilontarkan Bobby, jantung Giska rasanya terhenti. Fikiran pun menjadi kemana-mana. Meski ia tak mau yakin dengan maksud kalimat Bobby tadi.


"Pergi?" tanya Giska lirih, kedua matanya pun tampak berkaca-kaca.


"Iya, Ajik sudah meninggal." Bobby menjawabnya dengan suara pelan.


"Ajik..." Giska bicara lirih, tanpa terasa air matanya pun menetes membasahi pipinya. Perasaannya pun menjadi semakin tak karuan.


"Bli Bobby, ini..."


"Gis, maaf jika aku masih belum bisa meluangkan waktu untukmu dan juga Bapak." Bobby bicara, memotong perkataan Giska yang belum selesai.


"Aku benar-benar tidak tau kenapa semuanya jadi seperti ini, Gis. Sulit untukku percaya bahwa saat ini Ajik sudah tidak bersama kita lagi. Selama ini Ajik sangat sehat, tidak pernah sakit apapun, tapi semenjak kecelakaan itu, Ajik menjadi seperti ini. Bahkan setelah kecekalaan waktu itu kondisi Ajik masih baik-baik saja, tapi semakin hari bukannya pulih sehat, malah Ajik pergi," ucap Bobby dengan suara bergetar, seolah menahan tangisnya.


"Saat ini Ibu juga sakit. Kondisi Ibu memang sudah baik sekarang, tapi bagaimana nanti jika kondisi Ibu kembali menurun setelah Ibu tau kalau Ajik sudah tiada? Ibu pasti hancur, Gis."


"Aku bahkan tidak tau bagaiamana caraku memberitahu Ibu. Aku tidak tega memberitahunya, Gis. Tapi bagaimana aku bisa menyembunyikannya? Bagaimana jika Ibu ingin melihat Ajik di kamarnya? Apa yang akan ku katakan nanti?" Bobby mengatakan kebingungannya pada Giska.


Hikksss... Hikss.....


Giska tak bisa menjawabnya karena ia terdengar menangis tersedu-sedu.


Bobby yang mendengar tangisan Giska pun, ia jadi ikut menangis. Tangis yang sudah ia tahan sejak mengetahui Ajiknya sudah tiada, akhirnya tangis itu runtuh ketika mendengar Giska menangis.


"Gis, setelah ini Aku akan mengantar Ajik untuk di kremasi," ucap Bobby.


"Apa harus sekarang juga? Hari ini juga?" tanya Giska sambil menangis.


"Iya."


"Aku ingin melihat Ajik, Bli," pinta Giska.


"Nanti saja akan ku kirim foto dan video Ajik," ucap Bobby.


"Tapi kenapa harus secepat ini di kremasi? Kenapa tidak menunggu Ibu sehat dulu? Bagaimana perasaan Ibu nanti jika tau bahwa Ajik sudah tiada dan sudah di kremasi? Ibu bahkan tidak bisa melihat Ajik untuk yang terakhir kalinya." Giska mengatakan pendapatnya.


"Ya mau bagaimana, Gis. Ini berat untuk kita semua. Tapi tidak mungkin aku membiarkan Ajik di rumah suka duka sampai nanti hari Ngaben tiba. Aku juga tidak akan sanggup melihat Ajik seperti itu," ucap Bobby.


"Tapi, Bli..."

__ADS_1


"Sudah dulu, Gis. Aku mau mengurus Ajik dulu. Kau tolong jaga diri baik-baik di sana."


Tuttt! Bobby langsung mengakhiri panggilan telponnya tanpa menunggu Giska bicara.


Tangis Giska pun semakin pecah setelah Bobby langsung memutus panggilannya. Rasa sesal pun muncul di dalam hati Giska. Ia pun jadi menyalahkan dirinya atas semua kejadian ini yang menyebabkan Ajik mertuanya tiada.


"Aku yang baru saja mengenal Ajik, rasanya hancur ketika Ajik pergi seperti ini. Lalu bagaimana dengan Ibu, Bli Bobby dan Bu Tia? Mereka semua pasti lebih hancur daripada aku." Giska bicara lirih.


"Ini semua memang salahku. Jika saja Ajik dan Ibu tidak ke sini untuk menemaniku, pasti sekarang mereka baik-baik saja. Ajik pasti tidak akan pergi seperti ini, hiksss..."


"Maafkan aku, Ajik, Ibu..."


_______


Empat hari berlalu.


Sudah empat hari sejak kepergian Ajik Gung De. Duka dan kesedihan masih tak kunjung pergi dari Bobby begitupun juga dengan Giska. Itu sudah pasti, karena tidak mudah melepas orang tua kita dengan mudah. Sangat mustahil jika bisa lupa hanya dalam beberapa hari saja. Jangankan beberapa hari, mungkin sampai bertahun-tahun pun tidak akan bisa melupakan semua kenangannya.


Selama empat hari ini, Giska rutin mengirim pesan pada Bobby untuk menanyakan keadaan Ibu Astuti. Ia sudah tak lagi menaruh gengsi pada Bobby, semua ini ia lakukan demi bisa mengetahui perkembangan kondisi ibu mertuanya.


Pagi, siang, sore dan malam. Setiap waktu ia selalu mengirimkan pesan pada Bobby, namun sayangnya ia tak langsung mendapat jawaban dari Bobby. Terkadang seharian Bobby baru menjawab bahkan juga sampai 3 hari Bobby tidak menjawabnya, seperti sekarang ini. Sudah tiga hari berlalu, ia sama sekali tak mendapatkan kabar apapun dari Bobby. Tetapi untungnya masih ada Kadek -- pegawai Bobby sekaligus teman Giska sendiri, yang masih bisa di andalkan untuk memberikan informasi mengenai Ibu Astuti.


Ini sedikit melegakan perasaan Giska, namun tetap saja tak bisa dipungkiri bahwa ia juga merasa cemas akan keadaan Bobby. Apa yang terjadi dengannya di sana? Bagaimana keadaannya saat ini? Pertanyaan-pertanyaan itu pun muncul di benaknya.


"Aku tau pasti Bli Bobby masih sangat terpukul saat ini. Tapi setidaknya berilah kabar padaku sekali saja, Bli," batin Giska pilu.


Ting...


Satu pesan masuk dari Bobby. Giska pun langsung membukanya karena kebetulan ponsel sudah ada di tangannya sejak tadi.


{Kondisi Ibu menurun. Ibu sudah tau kepergian Ajik dan sekarang kondisinya menurun. Dokter mengatakan Ibu kritis. Sekarang ini Ibu akan dipindahkan ke rumah sakit lain yang alat medisnya lebih lengkap dan memadai daripada rumah sakit yang sekarang ini. Tolong kau doakan Ibu agar Ibu bisa kembali sehat seperti sebelumnya. ~ Bobby}


Itulah pesan dari Bobby. Mengabarkan kondisi Ibunya sedang kritis. Bahkan di dalam pesan itu, namanya sama sekali tak disebutkan oleh Bobby.


"Ibu... Hiksss..."


"Kenapa Kadek tidak mengatakan ini padaku? Dia bilang Ibu baik- baik saja. Tapi ternyata Ibu sedang tidak baik-baik saja." Penyelasan pun kian menyerang Giska. Ia merasa seolah sedang dihukum oleh semua orang yang tak membiarkannya tau apa-apa.


__________


Dua minggu telah berlalu


Tiada henti-hentinya Giska berdoa untuk kesembuhan Bapak dan juga Ibu mertuanya. Disetiap doanya, ia selalu mengatakan bahwa ia siap berpisah dari Bobby jika itu bisa membuat Bapak dan juga Ibu mertuanya kembali sehat seperti sedia kala. Ia beranggapan bahwa semua kejadian ini terjadi karena ia telah menjadi istri kedua yang artinya ia telah menyakiti hati seorang wanita yang tak lain adalah Tia -- istri pertama Bobby. Mungkin dengan doanya yang seperti itu, Tuhan mau menghentikan semua ujian ini dan mau mengembalikan kebahagiaan yang telah hilang.

__ADS_1


Tak hanya berdoa saja. Selama dua minggu ini pula, Giska merawat bapaknya di rumah sakit. Ya, tepatnya di hari ia menerima kabar bahwa ibu mertuanya sedang kritis, di hari itu juga keadaan bapaknya juga memburuk, dan ia pun memutuskan membawa bapaknya ke rumah sakit tanpa berunding dengan siapapun. Ya ia memutuskan semuanya sendiri dan mengurus semuanya sendiri tanpa bantuan dari kakak-kakaknya.


Selama dua minggu ini pula ia juga sudah tak pernah mengetahui kabar Bobby dan juga ibunya lagi. Bukan ia tak mencari tau, ia sudah mencari tau pada Kadek, Bobby dan juga Tia, namun mereka bertiga sama sekali tak meresponnya.


"Tunggu Bapak ada yang menjaga, baru nanti mungkin aku bisa ke Bali sehari untuk mencaritau keadaan Bli Bobby dan Ibu," batin Giska seraya ia menggantikan popok bapaknya.


Mau tidak mau ia melakukan itu sendiri. Dengan menguatkan hati ia akhirnya terbiasa melihat hal yang membuatnya kehilangan keperawannya sejak belia dulu.


"Permisi..." Perawat datang menghampiri Giska dan Pak Bram.


"Iya, Sus?" sahut Giska.


"Mbak Giska, Dokter memanggil anda," ujar perawat itu.


"Emm, baik, Sus. Tapi kalau saya pergi sekarang, bagaimana dengan bapak saya? Suster tau sendiri kan, Bapak saya suka teriak-teriak memanggil saya. Nanti takutnya mengganggu pasien yang lainnya," ucap Giska.


"Tidak apa-apa, Mbak Giska. Ruangan saya kan tidak jauh dari kamar ini. Itu bahkan kelihatan dari sini. Jadi misalnya saya dengar Pak Bram memanggil anda atau Pak Bram perlu sesuatu, saya akan segera kesini," ujar perawat itu.


"Baik, terimakasih ya, Sus. Titip Bapak saya sebentar. Saya permisi dulu."


"Gis... Gis.. Giss!"


Giska ingin pergi tetapi bapaknya sudah memanggilnya. Bahkan berulang kali.


"Sebentar, Pak. Aku mau bicara dengan dokter dulu," tutur Giska.


"Giska..." Lagi-lagi Pak Bram memanggilnya.


"Ditinggal saja tidak apa-apa, Mbak Giska," tutur perawat.


"Iya, Gis. Pergi saja. Biar aku yang menunggu Bapak," ucap seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu, yang tak lain ialah kakaknya Giska --- anak kandung pak Bram.


"Mbak." Giska tersenyum menyapa kakaknya itu.


"Iya, ya sudah sana temui dokternya, biar aku yang di sini."


"Iya, Mbak."


Giska pun segera pergi menemui dokter di ruangannya.


..


..

__ADS_1


..


Bersambung...


__ADS_2