Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Merasa Tak Penting


__ADS_3

Giska duduk sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Tak ketinggalan selimut tebal menyelimuti tubuh polosnya. Raut wajahnya nampak sedih, gelisah sekaligus kesal. Ia pun nampak sedang memainkan ponsel di tangannya. Entah dia mau berbuat apa dengan ponsel itu.


Ia memang sudah tidur tadi. Tetapi beberapa menit yang lalu, ia mendapatkan telpon dari bapaknya yang mengabarkan bahwa saat ini bapaknya tengah sakit.


Bayangkan saja ketika kita sedang tidur pulas terus tiba-tiba mendapat telpon yang mengabarkan bapaknya sakit? Apalagi bapak tinggal jauh dari kita. Siapapun itu pasti akan langsung khawatir. Begitupun dengan Giska saat ini.


Di tambah lagi, Giska tak melihat ada Bobby di sini. Ia pun menjadi semakin bingung. Pasalnya Bobby tadi berada di sini tapi sekarang tiba-tiba Bobby menghilang. Akhirnya Giska memutuskan untuk menelpon Bobby.


Namun, saat telpon sudah tersambung dan bahkan sudah di jawab oleh Bobby. Ia malah mendengar Bobby memanggil Tia. Padahal saat itu Giska belum bicara apapun. Bersuara saja belum sempat. Dan Bobby malah mengira bahwa yang menelponnya adalah Tia.


Detik itu juga, Giska langsung mengakhiri panggilannya. Padahal sebelulmnya ia ingin bicara mengenai bapaknya yang sedang sakit. Dan jika memungkinan, ia akan langsung minta izin untuk pulang ke kampung. Tapi semua itu ia urungkan karena ia sudah terlanjur kesal pada Bobby.


Sempat kembali terlintas dipikirannya bahwa menjadi istri kedua sangatlah berat. Rasanya susah mendapatkan keadilan. Ia berpikir, selama ini ia sudah terlalu mengalah dengan Tia. Bahkan semenjak Tia hamil, Giska juga sudah jarang bersama Bobby. Karena Bobby lebih sering menghabiskan waktunya bersama Tia.


Dan hari ini saat ia baru mendapatkan jatah waktu dari Bobby, ia harus kembali menerima kalau ternyata waktunya bersama Bobby hanyalah beberapa jam saja. Dan itu semua karena Tia. Entah apapun itu yang pasti ini semua berhubungan dengan Tia.


Giska pun menyimpulkan bahwa sebenarnya hanya Tia lah yang penting bagi Bobby.


"Aku memang tidak penting baginya. Bahkan di saat seperti ini pun, dia juga tak ada di sisiku," batin Giska getir.


"Dia sendiri yang mengatakan banyak janji padaku tapi apa buktinya? Sampai sekarang tetap saja seperti ini. Punya suami tetapi seperti tidak punya suami," batinnya lagi.


"Aku rasa, aku memang harus pulang sendiri. Untuk apa aku memikirkan pria yang tak peduli denganku? Biarkan saja dia bersama istri pertamanya. Aku akan pulang sendiri," putus Giska.


Giska mengambil keputusan ini atas ke khawatirannya pada bapaknya yang saat ini tengah sakit. Dan juga atas kekecewaannya terhadap Bobby.


"Sepertinya hanya Kadek yang bisa membantuku saat ini," gumam Giska. Ia pun memutuskan langsung menghubungi Kadek. Bodo amat lah meski ini sudah malam, ia tetap menghubungi Kadek. Karena tidak ada lagi orang yang bisa ia mintai tolong selain Kadek.


Tut...


Tut...


"Kenapa, Gis?" sapa Kadek di sebrang sana.


"Maaf sebelumnya Dek, aku sudah mengganggu istirahatmu. Aku menelponmu karena aku ingin minta tolong, Dek," ucap Giska to the point.


"Katakan ada apa? Apa yang bisa ku lakukan?" tanya Kadek.


Giska pun langsung mengatakan segalanya pada Kadek. Tentang rencananya saat ini juga.


***

__ADS_1


Di tempat lain.


Bobby baru saja sampai di rumahnya. Ia pulang dengan tangan kosong dengan artian, ia tak membawakan apa yang Tia inginkan. Ya mau bagaimana lagi, ia sudah berusaha tetapi ia tak menemukan apa yang Tia pesan.


"Semoga saja Tia tidak marah," gumam Bobby.


Ia pun langsung turun dari mobilnya. Namun saat ia baru turun dari mobil, ia melihat ada mobil lain yang parkir di halaman rumahnya. Dan ia pun mengenal mobil yang ada di halaman rumahnya itu.


"Roy," gumam Bobby.


Bobby pun langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa banyak berpikir lagi. Pandanganya menyapu seisi rumah untuk mengetahui keberadaan Tia dan Roy. Namun ia tak mendapati keberadaan mereka berdua di manapun. Namun masih ada satu tempat yang belum ia lihat.


Kamar, ya itulah yang Bobby pikirkan saat ini. Ia pun langsung berjalan cepat menuju kamarnya.


Sesampainya di depan kamar, ia pun langsung membuka pintu kamar itu secara perlahan.


Krieettt....


Bobby langsung di hadapkan dengan pemandangan yang kurang enak dipandang.


"Roy...."


Roy pun langsung terkejut melihat kedatangan Bobby.


Bobby pun mengerutkan keningnya. "Tentu saja aku akan masuk. Ini kamarku," ujar Bobby.


"Sttttt." Roy meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Lalu ia pun sigap langsung berdiri dan ia langsung menarik Bobby keluar dari kamar itu.


"Kau tadi memintaku masuk lalu sekarang kenapa kau membawaku keluar dari kamarku sendiri?" tanya Bobby tak mengerti.


"Tia sedang tidur, kita bicara di luar saja, Bob," bisik Roy.


"Ini kenapa kau jadi yang ngatur aku sih? Ini rumahku dan itu kamarku! Kenapa kau malah mengaturku?" tanya Bobby heran.


'Ya i know, itu kamarmu. Tapi Tia baru saja tertidur. Aku tak ingin dia bangun gara-gara mendengar suaramu," ujar Roy.


"Waitt, kau kenapa bisa di sini? Dan ada di kamarku pula? Kau dan Tia habis melakukan itu?" selidik Bobby.


"Jangan berpikir negativ dulu, Bob. Tadi setelah aku bertemu denganmu di jalan dan kau menceritakan tentang Tia, aku memutuskan langsung datang ke sini untuk membawakan roti conato untuk Tia," jelas Roy.


"Tapi apa harus di dalam kamar? Dan itu, Tia kenapa tidur?" tanya Bobby. Ia masih ingin penjelasan.

__ADS_1


"Tadi Tia sempat syock saat melihatku. Dan tiba-tiba perut Tia sakit. Jadi ya aku bawa dia ke kamarnya," jelas Roy.


"Lagipula kau ini darimana saja? Sudah tau istri hamil tapi malah kau tinggal!" tegur Roy.


"Lah, aku kan tadi berusaha mencari roti untuk Tia," ujar Bobby.


"Mana sekarang rotinya?" tanya Roy.


"Tidak dapat," jawab Bobby langsung.


"Lupakan masalah roti. Sekarang fokuslah pada Tia. Kasihan dia sedang hamil. Jangan kau tinggal terus!" tutur Roy sok bijaksana.


"Aku tau kau punya 2 istri. Tapi setidaknya kau lebih fokuslah pada Tia," tambahnya.


"Kenapa kau jadi perhatian pada Tia? Apa kau masih memiliki rasa untuknya?" selidik Bobby.


"Kau sudah tau jawabannya, Bob. Sebekumnya aku sudah mengatakan segalanya padamu. Dan wajtu itu kau berjanji untuk menyatukanku dengan Tia. Tapi itu tidak terjadi," ucap Roy sendu.


"Saat itu pun aku langsung memutuskan pergi dari hidup Tia. Aku pikir Tia sudah bahagia bersamamu. Jadi aku putuskan pergi. Tapi hari ini setelah mengetahui Tia hamil, entah kenapa aku jadi ingin menjaga Tia," ungkap Roy.


"Sorry jika aku melewati batasan, Bob." Roy meminta maaf.


"Kita perlu bicara, Roy. Tapi tidak di sini," ujar Bobby.


Drrttt...


Drrttt...


"Sebentar. Aku akan menjawab telpon masuk dulu," ucap Bobby. Ia pun menunda untuk bicara serius dengan Roy dan ia memilih menjawab panggilan masuk dari ponselnya. Namun sebelum menjawab panggilan masuk itu, Bobby mengernyitkan keningnya kekika melihat siapa penelpon itu.


"Ada apa?" tanya Bobby langsung saat ia baru menjawab telpon.


".........."


"Apa? Lalu kau dimana sekarang?" tanya Bobby lagi. Ekspresinya berubah cemas.


"............"


"Dasar bodoh!" umpat Bobby pada si penelpon itu.


Bersambung....

__ADS_1


Lanjutinnya pelan-pelan ya kak hehe...


Maafkan sudah libur lamaπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2