Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Tidak semua seberuntung itu


__ADS_3

Usai menerima telpon dari Tia, Bobby pun mengajak Giska untuk beristirahat sebentar, untuk memulihkan tenaga nya yang baru saja mereka pakai untuk bertempur, sebelum nantinya mereka berdua akan menempuh perjalanan jauh dari Surabaya menuju Bali.


Sementara di tempat lain, di salah satu hotel yang cukup besar di Surabaya, tepatnya di kamar no 69, ada sepasang kekasih yang juga sedang mengistirahatkan tubuhnya. Nampaknya mereka berdua juga habis bertempur.


"Sayang, ayo kita siap-siap untuk segera pulang ke Bali." Ajak Roy.


"Ohh Roy, apa kau tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi denganku?" tanya Tia manja, seraya jemarinya bermain di dada bidang Roy.


Ya, mereka adalah Tia dan Roy. Pagi tadi saat Tia merasa kesal dengan Bobby, ia langsung menelpon Roy dan mengajaknya bertemu, untuk menyalurkan kekesalan nya.


Bukankah ini di Surabaya? Bagaimana bisa Roy juga ada di sini?


Roy datang ke Suarabaya tepat sehari setelah Bpbby dan Tia berada di Suarabaya. Dan itu atas permintaan Tia. Ia memanggil Roy ke sini sebenarnya hanya untuk berjaga-jaga saja, jika sewaktu-waktu Bobby sibuk dengan urusan Giska, jadi ia tak perlu merasa kesepian lagi jika ada Roy. Dan benar saja, apa yang Tia pikirkan benar terjadi. Di siang hari Bobby selalu sibuk mengintai Giska, sementara Tia tidak di izinkan untuk ikut. Alhasil, pergi menemui Roy adalah jalan yang di pilih Tia, untuk mengobati rasa kesalnya.


"Aku sih mau-mau saja. Tapi, bukankah kau baru saja mengatakan pada suami mu itu, kalau kau saat ini sudah di Bandara Juanda? Bagaimana jika suami mu menyusulmu kesana?" tanya Roy.


"Itu kan hanya ucapanku saja. Kenyataannya sekarang kita berada di sini, kan? Hanya berdua saja. Lagipula dia tidak akan menyusulku ke Bandara. Dia membawa mobil sendiri, dan dia pasti akan berangkat ke Bali mengendarai mobilnya bersama istri kedua nya itu." Ucap Tia malas.


"Sudahlah! Kau jangan membahas kedua orang itu lagi. Kau membuat mood ku hancur saja!" Kesal Tia.


"Oke-oke, sorry, Sayang. Hmmm, apa kau mau bermain lagi denganku?" goda Roy, seraya tangan nya mengusap lembut pipi Tia.


"Tentu, Sayang. Ayo buat aku melayang. Buat aku sejenak melupakan semua permasalahan yang saat ini tengah mengganggu pikiranku." Ucap Tia pasrah.


"Of course, Sayang. Bersiap-siaplah menerima tusukanku lagi." Roy menatap Tia dengan penuh nafsu. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung menyerang Tia. Ia benamkan bibir nya di bibir Tia. Jari jemarinya pun mulai bergerak, merambat ke paha Tia, perlahan satu jari nya mulai menelusup masuk ke dalam lubang kenikmatan yang selama ini ia gilai.


Setelah cukup lama Tia menikmati permainan jari Bobby, ia pun meminta Roy untuk segera menusuknya dengan benda pusaka yang bisa membuat siapa saja yang merasakan nya akan melayang. Dan tanpa pikir panjang, Roy pun langsung melakukan apa yang Tia minta.


Suara desahan keduanya terdengar nyaring memenuhi seluruh ruangan itu. Dengan nafsu yang menggebu-gebu, keduanya saling berlomba mencari kenikmatan dari pertempuran itu.


Sungguh hidupnya Roy penuh dengan kesenangan. Tanpa mengeluarkan banyak uang, ia bisa menikmati wanita cantik nan sexy seperti Tia ini. Bagi pria yang sudah memiliki istri, tentu tidak akan sulit jika ingin melakukan hal itu. Namun, bagi pria yang belum menikah, tapi sudah pernah merasakan kenikmatan surga dunia, dan pria itu ingin mengulangnya kembali, itu tak akan mudah, apalagi kalau tidak memiliki kekasih. Tentunya pria itu akan memerlukan uang yang banyak setiap kali ingin melakukan itu. Kenapa perlu uang banyak? ya tentunya untuk membayar wanita yang bisa melayani nya.


Jika di tanya, apakah Roy nyaman dan bahagia menjalin hubungan seperti ini? Menjalin kasih dengan istri orang lain? Tidur dengan istri orang lain? tentu saja iya, tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia juga menderita jika terus-terusan seperti ini. Ia mencintai Tia. Pria mana yang tak sakit jika wanita yang di cintai juga tidur dengan pria lain yang tak lain adalah suami sah dari wanita itu sendiri. Tapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa, dia hanyalah sebagai selingkuhan saja. Besarnya rasa cinta nya kepada Tia, membuat ia sulit mengambil keputusan. Mau pergi, Sayang, mau tetap tinggal tapi menyakitkan. Itulah gambaran perasaan nya saat ini.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Roy dan Tia masih di sibukkan dengan kegiatan panasnya di ranjang. Entah berapa lama lagi mereka akan menyelesaikannya.


1 jam...


Tia dan Roy sudah menyelesaikan pergulatannya.


2 jam...


3 jam...


4 jam...


5 jam...


6 jam berlalu, di tempat lain. Saat ini Bobby dan Giska sudah berada di perjalanan menuju Bali. Mereka baru saja menempuh perjalanan selama 1 jam. Tepat pukul 14.15 tadi mereka memulai perjalanannya. Kemungkinan besok pagi mereka baru akan sampai di Bali. Ya, karena menempuh perjalanan melalui jalur darat, maka perlu waktu yang cukup lama untuk bisa sampai di Bali.


Sejak tadi sampai sekarang, selama 1 jam perjalanan Giska terus saja bicara tentang Tia. Ia terus saja merasa bersalah karena Tia lebih memilih pulang lebih dulu naik pesawat daripada harus pulang bersama Bobby naik mobil. Bobby yang mendengar Giska tak berhenti mengoceh tentang Tia, ia pun merasa jengah. Bukan ia tak perduli dengan Tia, hanya ia saja ia pikir ini juga jalan terbaik untuk mereka berdua, agar Tia dan Giska tidak perlu berada di satu mobil, apalagi dalam waktu yang cukup lama. Jika mereka 1 suami beserta 2 istri berada di dalam satu mobil, pasti akan ada yang sakit hati. Bobby hanya tak ingin membuat keadaan bertambah rumit nantinya.


"Sudahlah, Gis. Jangan membahas itu terus! Kau juga tak perlu menyalahkan dirimu sendiri seperti itu. Bahas yang lain saja, ya." Tutur Bobby, sekilas melirik ke arah Giska, kemudian ia kembali fokus mengemudikan mobilnya.


"Iya." Jawab Giska singakat.


"Hmm, tapi aku senang, seperti yang sudah ku ceritakan padamu tadi, aku berusaha meyakinkan Bapak, dan akhirnya Bapak mau memberiku kesempatan untuk membuktikan keseriusanku." Ucap Bobby bangga. Ya, saat di penginapan tadi, sebelum mereka memulai perjalanannya, Bobby sudah menceritakan tentang bagaimana ia bicara dengan Bram, sampai akhirnya ia mendapat kesempatan dari Bram.


"Iya," lagi-lagi Giska menjawab singkat.


"Sebenarnya ada 1 alasan yang membuat Bapak sulit memberi izin kepada kita. Yaitu karena Bapak tidak ingin tinggal terpisah lagi denganmu. Kau beruntung memiliki orang tua seperti Bapak. Beliau sangat menyayangimu. Bagi anak perempuan Bapak adalah sosok pria idolanya. Pria yang selalu menjaga dan melindungi anak perempuan nya. Setiap anak perempuan, pasti sosok Bapak adalah cinta pertama nya. Kau juga pasti begitu ya, Gis?" kini giliran Bobby yang tak berhenti bicara tentang Bapak.


Entah mengapa mendengar perkataan Bobby tentang figur Bapak di mata anak perempuan nya, hatinya menjadi sakit. Tidak semua Bapak adalah cinta pertama anak perempuan nya, tidak semua seberuntung itu. Bisa jadi Bapak adalah patah hati pertama bagi anak perempuan nya, seperti Giska ini. Giska yang tak pernah mengenal cinta dari pria lain di lauaran sana, tiba-tiba ia di buat hancur oleh pria terdekatnya yang tak lain adalah Bapak nya sendiri. Miris, jika mengingat tentang semua itu.


"Gis... Gis..." Panggil Bobby, saat Giska hanya diam saja tak merespon ucapan nya.


"Iya, Bli, kenapa?"


"Kok kenapa? Kau yang kenapa, Gis? Kenapa diam saja?" tanya Bobby.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bli."


"Apa kau sakit? Aku akan menepikan mobilnya dulu."


"Aku tidak apa-apa. Lanjut jalan saja, Bli." Pinta Giska.


"Benarkah kau baik-baik saja?"


"Iya," Giska mengangguk.


"Baiklah, nanti kalau kau merasa badanmu kurang sehat atau kau mau apa, kau bilang saja ya."


"Iya, Bli."


"Oh iya, Gis. Setelah ku pikir-pikir, apa tidak sebaiknya Bapak kita ajak tinggal di Bali? Kau dan Bapak bisa tinggal bersama. Jadi, kita tidak perlu khawatir lagi tentang Bapak." Bobby memberi saran.


"Jangan!" Cegah Giska cepat.


"Kenapa?"


"Ya, kan Bapak belum tau kalau kita sudah menikah. Bagaimana jadinya nanti kalau Bapak tinggal bersamaku? Lagipula jika Bapak ikut ke Bali, nanti bagaimana kalau Bapak tau tentang status Bli Bobby yang sudah memiliki Bu Tia?"


"Aku maunya, nanti aku bicara pelan-pelan dengan Bapak, supaya Bapak tidak kaget." Giska memberi alasan.


"Iya, kau benar juga, Gis. Aku janji akan membuat keadaan ini tak lagi rumit. Tunggu saja dalam waktu 3 bulan ini. Jika semua nya sesuai dengan apa yang aku pikirkan, dalam waktu 3 bulan mendatang, aku akan membuat pernikahan kita di setujui oleh Bapak." Ucap Bobby tersenyum.


Giska mengernyitkan keningnya, "Memangnya apa yang Bli Bobby pikirkan?" tanya Giska penasaran.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2