
"Tunggu saja dalam waktu 3 bulan ini. Jika semua nya sesuai dengan apa yang aku pikirkan, dalam waktu 3 bulan mendatang, aku akan membuat pernikahan kita di setujui oleh Bapak." Ucap Bobby tersenyum.
Giska mengernyitkan keningnya, "Memangnya apa yang Bli Bobby pikirkan?" tanya Giska penasaran.
"Kau." Jawab Bobby.
Giska mengernyitkan keningnya, "Aku bertanya Apa, bukan Siapa?" Ucap Giska.
Bobby terkekeh, "Aku memang memikirkanmu, Gis. Aku memikirkan istri kecilku yang lugu, tapi kadang-kadang juga menyebalkan." Ujar Bobby.
"Hihhhh, ya sudah lah, terserah Bli Bobby saja. Aku tidak akan bertanya lagi." Giska memalingkan wajahnya, kini ia kembali menatap ke samping.
"Apa aku salah kalau aku memikirkanmu?"
"Salah." Jawab Giska cepat.
"Salahnya dimana? Aku baru tau kalau seorang suami memikirkan istrinya sendiri itu salah?"
"Huftttt," Dengus Giska sebal, "Untuk apa memikirkanku? Aku ada di sini, kan? Yang harusnya Bli Bobby pikirkan saat ini adalah Bu Tia! Bukan aku!" Protes Giska.
"Tia lagi, Tia lagi. Kau tidak perlu memikirkan Tia sampai sebegitunya, Gis. Mungkin saat ini Tia sudah istirahat di rumah."
"Iya, tapi kan,---"
"Tapi-tapi apa? Ya sudah kalau kau tidak mau aku pikirkan, aku memikirkan yang lain saja."
"Yang lain siapa?" Giska kembali menoleh ke arah Bobby.
"Ya, orang lain, yang mau aku pikirkan." Ujar Bobby.
"Itu dah, siapa orang itu?" tanya Giska kesal.
"Ya orang lain, Gis! Kau ini kenapa sih? Kau jadi banyak bicara ya sekarang." Ucap Bobby, pandangan nya masih fokus menatap jalanan depan.
"Hishhhh, ya sudah. Jangan memikirkan orang lain! Pikirkan aku dan Bu Tia saja!" Seru Giska. Entah kenapa ia selalu tak suka jika Bobby menyebut orang lain. Giska beranggapan orang lain itu adalah wanita lain di luaran sana yang tengah dekat dengan Bobby. Meskipun ia masih setengah hati menjadi istri Bobby, namun setiap kali ada kata orang lain, atau gadis lain yang Bobby ucapkan, ia menjadi tak suka.
"Lahhh, kau ini bagaimana sih, Gis? Tadi katanya aku salah kalau memikirkanmu?" Bobby terkekeh, ia menoleh sekilas ke arah Giska.
"Sekarang boleh. Sudah tidak salah lagi." Jawab Giska.
"Sungguh?"
"Iya!"
"I love you." Ucap Bobby pelan.
"Haa? Bicara apa?" Giska menatap Bobby.
"Aku tidak bicara apa-apa." Elak Bobby.
"Ohhh, berarti aku salah dengar." Giska pun kembali menatap kaca sampingnya. "Aku kira Bli Bobby bilang i love you padaku. Hmm ternyata itu hanya hayalanku saja. Duhh, ada apa denganku ini? Kenapa aku bisa menghayal seperti itu?" batin Giska.
"Ehhh..." Jerit Giska saat Bobby tiba-tiba menariknya dan langsung merangkulnya dengan tangan satu tangan nya. Sementara satu tangan nya lagi fokus memegang setir kemudi mobil nya.
"I love you, istriku." Ucap Bobby dengan begitu jelas.
Bibir Giska seketika bungkam, ia tak mengatakan apapun.
__ADS_1
"Kenapa malah diam?" tanya Bobby, "Kau tidak salah dengar tadi. Aku tadi mengatakan i love you padamu." Bobby tersenyum.
"Hmmm, i-iya, Bli." Giska tersenyum malu.
"Hanya iya saja? Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?" tanya Bobby.
"A-aku? Mengatakan apa?" ucap Giska gugup.
Bobby menghela napasnya, "Tidak perlu mengatakan apa-apa." Ucap nya. Ia menyadari ia tidak akan mendapatkan ucapan manis dari Giska. Giska tak mungkin membalas ungkapan cinta nya saat ini. Entah Giska nya yang terlalu polos atau memang Giska belum mencintai Bobby.
"Emm, Bli, tolong lepaskan aku. Biarkan aku duduk di kursiku dengan benar. Jadi Bli Bobby bisa fokus mengemudi." Pinta Giska.
Bobby pun membiarkan Giska kembali ke posisi nya semula.
"Kau tidurlah jika mengantuk. Nanti sampai di penyebrangan aku akan membangunkanmu." Titah Bobby.
"I-iya, Bli." Giska menginyakan ucapan Bobby, meskipun sebenarnya ia tak mengantuk. Ia hanya tak tau lagi akan membicarakan apa dengan Bobby.
"Rebahkan kursimu, biar kau bisa tidur dengan nyaman." Titah Bobby kembali.
"Tidak perlu, Bli. Biarkan seperti ini saja." Tolak Giska. Ia pun langsung duduk miring menghadap ke arah jendela. Ia juga tak bicara lagi.
***
Semburat oranye mengakhiri perjumpaan. Sang surya pergi, terganti eloknya bulan. Gemerlap bintang yang berjejer di langit, berduet dengan purnama. Menciptakan perpaduan yang indah di angkasa. Bobby dan Giska nampak masih setia duduk di dalam mobil, sembari menikmati perjalanan jauh yang mereka tempuh. Beberapa saat yang lalu, mereka baru saja berhenti di sebuah rumah makan, untuk mengisi perut mereka, sekaligus untuk istirahat sejenak. Lalu kemudian, setelah di rasa lelahnya sedikit berkurang, mereka berdua pun kembali melanjutkan perjalanan nya.
Malam yang semakin larut membuat suasana jalanan pun nampak tak seramai seperti siang tadi. Suasana jalanan yang seperti ini membuat Bobby berkendara dengan leluasa. Ia pun menambah laju kecepatan mobilnya.
"Gis... Apa kau tidur?" tanya Bobby, ia menoleh kearah Giska. Nampak Giska duduk miring menghadap jendela samping.
"Istriku benar-benar tidur." Bobby mengusap puncak kepala Giska dengan satu tangan nya. Ia pun kembali fokus mengemudikan mobil nya.
Beberapa jam kemudian.
Sampailah mereka di pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Tiket juga sudah ia beli, kini ia kembali melajukan mobilnya mengikuti arahan petugas penyebrangan, menuju ke arah kapal yang akan membantunya menyebrang lautan. Nampak ada beberapa Bus, mobil pribadi, Truck serta sepeda motor tengah berbaris antri menunggu giliran masuk ke dalam kapal Ferry. Mobil Bobby pun ikut berbaris di belakang barisan Bus itu.
Setelah menunggu selama beberapa menit, tibalah giliran Bobby untuk masuk ke dalam kapal Ferry itu. Bobby pun melajukan mobilnya perlahan masuk ke dalam kapal, lalu ia mengikuti arahan petugas yang membantu mangatur parkir di dalam kapal itu. Usai memastikan mobilnya terparkir dengan benar, Bobby pun membangunkan Giska yang hanya pura-pura tidur. Lalu kemudian, ia dan Giska pun keluar dari mobil, lalu berjalan naik ke atas kapal.
Bobby menggandeng tangan Giska, mereka pun berjalan beriringan. Banyak mata tertuju pada Bobby dan Giska, sebagian orang yang berada di kapal itu melihat Bobby dan Giska dengan aneh. Dan kebanyakan yang menatap aneh adalah golongan para wanita. Entah kenapa mereka semua menatap Giska seperti itu.
"Bli, lepaskan! Tidak enak di lihat banyak orang." Protes Giska sedikit berbisik.
Bukannya melepas gandengan nya, Bobby malah merangkul pundak Giska. "Biarkan saja, jangan perdulikan orang lain. Toh kita tidak ada salah dengan mereka. Sudah cuek saja." Ucap Bobby.
"Nah itu ada kursi kosong." Bobby menunjuk deretan kursi yang sudah di isi oleh beberapa orang, namun masih ada 2 tempat yang kosong. Bobby pun mengajak Giska ke sana.
Setelah sampai di kursi itu, Bobby pun meminta Giska untuk duduk terlebih dulu, setelah Giska duduk barulah ia ikut duduk.
"Apa kau mau makan pop mie?" tanya Bobby.
Giska menggelengkan kepalanya.
"Sungguh kau tidak mau?" tanya Bobby sekali lagi.
"Iya, lagipula tadi kan sudah makan."
"Tapi kenapa kau berulang kali menelan ludahmu sendiri saat melihat anak kecil itu makan pop mie?" Bobby terkekeh.
__ADS_1
"Iya, aku pengen makan pop mie, Bli." Giska pun mengakuinya.
"Ya sudah, tunggulah di sini sebentar. Aku akan segera kembali."
"Aku ikut." Pinta Giska.
"Tunggu di sini saja. Biar aku yang beli." Bobby pun pergi ke kantin yang ada di kapal itu. Sementara Giska, ia tetap duduk di itu sembari menunggu Bobby kembali.
Angin bertiup kencang, kapal pun nampak bergoyang ke kiri dan ke kanan, nampaknya ombak juga lumayan besar, sehingga membuat kapal bergerak kencang.
Brukkkk....
Giska jatuh tersungkur ke samping, dan ia pun tak sengaja menjatuhkan air mineral kemasan botol milik salah satu penumpang yang duduk di deretan kursi itu. Ia pun dengan sigap langsung mengambil botol itu, lalu ia pun memberikan nya pada pemiliknya.
"Maaf, Pak, saya tidak sengaja." Ucap Giska seraya menyerahkan botol itu.
Si pemilik pun langsung menerimanya, "Tidak apa-apa. Ombaknya sangat besar sekali, sampai-sampai kapalnya bergoyang-goyang seperti ini. Apa kau tidak apa-apa?" Orang itu balik bertanya.
"Saya tidak apa-apa, Pak." Ucap Giska, ia pun menggeser pantatnya ke kursi tempat ia semula duduk. Sementara si penumpang itu malah terus menatap Giska sambil tersenyum. Giska yang tau orang itu terus menatapnya, ia pun menjadi tak nyaman.
"Kau darimana, Dek?" tanya orang itu.
"Surabaya." Jawab Giska singkat.
"Siapa namamu?" tanya orang itu, kembali.
"Ohhh, jadi ini gadis yang menjadi selingkuhanmu!" Ucap seorang wanita berusia 30 an, yang tiba-tiba berdiri di samping Giska. Wanita itu pun menatap Giska dengan sinis, kemudian ia beralih menatap pria yang sejak tadi bertanya pada Giska.
Giska yang mendapat tatapan sinis itu pun menjadi bingung, namun ia hanya diam tak mengatakan apapun. Ia tak mengerti apa maksud dari wanita yang berdiri di samping nya ini.
"Siapa kau?" tanya pria itu pada wanita yang berdiri di samping Giska.
"Ohh, kau pura-pura tidak mengenaliku ya? Apa karena ada selingkuhanmu di sini?!" Bentak wanita itu. Seluruh penumpang yang mendengarnya pun seketika langsung menoleh ke tempat di mana ada Giska, wanita itu dan juga pria itu.
"Jaga sikapmu! Aku tidak mengenalmu" Seru pria itu.
"Ada apa ini? Kenapa malah rmembuat keributan di sini?!" Bobby datang dengan membawa sebungkus pop mie dan juga air mineral di tangan nya.
Giska pun langsung berdiri, ia pun berjalan sempoyongan mendekat ke Bobby. "Bli, aku tidak tau. Ibu itu langsung marah-marah." Ucap Giska.
"Wajar aku marah di sini! Gadis lon#e ini adalah selingkuhan suamiku!" Geram wanita itu.
"Suami apanya? Aku saja tidak mengenal orang ini." Bantah pria itu.
"Jaga bicaramu!" Bobby menatap tajam ke arah wanita itu. Ia pun meletakkan pop mie dan juga air mineral itu ke kursi.
"Gadis ini adalah istriku. Dan kau sudah salah menuduh istriku." Ucap Bobby, ia pun menarik Giska ke dalam pelukan nya. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung membawa Giska pergi dari sana.
Entah apa yang terjadi selanjutnya dengan wanita serta pria itu. Yang tak habis pikir, bisa-bisa nya wanita itu langsung menuduh Giska. Padahal Giska saja tak mengenal pria itu. Di saat seperti ini, kapal yang terombang ambing karena ombak yang besar, bukan nya lebih banyak berdoa memohon keselamatan, tapi ini malah membuat keributan, mana asal nuduh segala.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Mohon maaf jika terlambat untuk feedback ke lapak kakak2 Author🙏