
"Bu, sebenarnya saya tak tau bagaimana kedepannya nanti. Maksud saya, saya belum tau akan mengambil keputusan apa," ucap Giska tiba-tiba.
"Ibu paham maksudmu. Seperti yang Ibu katakan tadi. Kau tidak akan memilih, Nak. Kita akan tinggal bersama," ucap Astuti.
"Tinggal bersama bagaimana?" tanya Giska tak mengerti.
"Ya, kita akan bawa Pak Bram ke Bali. Jadi kau tak akan bingung dan sedih lagi jika sewaktu-waktu Pak Bram sakit. Kau jadi bisa bersama bapakm terus," jelas Astuti bijak.
"Tinggal di Bali bersamaku? Bagaimana kalau Bapak melakukan hal yang sama lagi? Apalagi di Bali aku selalu saja di rumah sendirian. Bli Bobby hampir tak pernah lagi menginap di rumah. Bagaimana kalau di sana Bapak tambah menjadi-jadi?" pikir Giska dalam hatinya.
"Aku senang jika bisa merawat bapak. Tapi untuk saat ini aku benar-benar masih trauma. Aku takut bapak dendam padaku dan dia berbuat nekad lagi nanti?"
"Apa yang harus ku katakan pada Ibu Astuti? Aku tak mungkin bicara terus terang padanya. Jika aku katakan kebenaran tentang bapak, bapak pasti akan merasa malu. Dan nanti pasti tak akan ada yang mau peduli pada bapak lagi, termasuk ibu Astuti juga," batinnya bingung.
"Kenapa malah bengong, Nak? Apalagi yang kau pikirkan?" tanya Astuti sembari menepuk bahu Giska.
"Eumm, tidak ada Bu." Giska langsung menggelengkan kepalanya. Ia pun langsung menunduk menyembunyikan matanya yang hendak menangis lagi.
Astuti yang menyadari Giska kembali menitihkan aor mata, ia pun langsung memegang dagu Giska lalu mengangkatnya, agar wajah Giska bisa ia lihat dengan jelas.
"Kenapa kau masih menangis, Nak? Apa kau takut kalau bapakmu tak akan mengizinkanmu bersama Bobby?" tanya Astuti pelan.
"Maafkan saya, Bu," ucap Giska sendu.
__ADS_1
"Bapak pasti----"
"Sudah-sudah. Kau tidak perlu minta maaf, Nak. Bapakmu memang benar. Bapakmu hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Wajar kalau bapakmu kecewa pada Bobby. Ini kesalahan dari pihak kami, Nak. Harusnya Ibu dan Ajik datang sejak dulu untuk menemui bapakmu untuk memastikan hubunganmu dan Bobby," tutur Astuti. Ia tampak menyesali keterlambatannya berkenalan dengan besannya.
"Ibu salah paham," gumam Giska dalam hatinya.
"Bu, bapak tidak perlu ikut ke Bali. Biarkan saja bapak di sini. Masih ada kakak. Dia juga anaknya bapak. Pasti dia juga mau merawat bapak di rumahnya," ujar Giska sedikit ragu.
"Tadi saya sudah menelpon kakak, Bu. Mungkin sebentar lagi akan datang," ucapnya kemudian.
"Dan untuk saya sendiri, saya belum bisa memastikan akan kembali ke Bali lagi atau tidak," ungkap Giska kemudian.
"Tentu saja kau harus ke Bali. Suamimu ada di sana, Nak. Dan untuk bapakmu, kenapa kau merepotkan kakakmu. Biar bapakmu ikut kita saja. Kau juga pasti senang jika dekat dengan bapakmu," tutur Astuti.
"Salah kau, Nak!" tegur Astuti seketika itu juga.
"Sejak kau pulang ke Surabaya, Bobby bingung ingin menyusulmu ke sini. Tapi karena Tia sedang sakit, Bobby jadi tak bisa menyusulmu ke sini. Setiap hari dia gelisah memikirkanmu," ungkap Astuti.
"Bobby tak akan mau membiarkanmu pergi, Nak. Ibu dan ajik juga tak akan mengizinkanmu. Kau adalah istri Bobby dan kau adalah menantuku. Jadi jangan pernah memiliki pikiran untuk pergi." Astuti memberikan nasehatnya.
"Tapi, Bu. Saya merasa kalau Bli Bobby tidak menginginkan saya," sahut Giska pelan.
"Apa yang kau rasa itu salah, Nak. Ibu paham maksudmu sebenarnya. Percayalah pada Ibu. Bobby itu sangat menyayangimu. Dia begitu mencintamu, Nak," tutur Astuti.
__ADS_1
"Darimana Ibu tau?" Giska masih tak mau percaya.
"Apa kau meragukan ucapan Ibu? Apa kau pikir Ibu berbohong padamu?" sahut Astuti.
Seketika Giska langsung menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah. Maka kau jangan punya pikiran akan pergi lagi," pinta Astuti.
"Sekarang kau bicaralah kembali pada Bobby. Berikan dia waktu untuk bisa bicara lebih banyak denganmu. Dia sangat merindukanmu, Nak," tutur Astuti.
"Kau jangan cemaskan bapakmu dulu. Ada Ibu dan ajik di sini," lanjutnya.
"Baiklah, Bu." Giska mengangguk setuju.
"Aku akan menelpon Bli Bobby dari ponselku sendiri, Bu. Aku akan mengambilnya di kamar," ucap Giska.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1