
"Dimana ini? Kamar siapa ini?" Giska menatap sekelilinya. Giska menatap ruangan itu bingung. Pasalnya ini bukan kamar nya yang biasa ia tempati di perumahan itu.
"Gis, kau sudah bangun?" Bobby tiba-tiba masuk ke kamar.
"Iya, ini dimana, Bli? Kamar siapa ini?"
"Ini kamarku, sekarang kita berada di rumah orang tuaku, yang tak lain adalah mertuamu." Jawab Bobby santai.
"Apa?" Giska reflek teriak.
"Ba-bagaimana jika orang tua Bli Bobby memarahiku?" ucap Giska takut.
Bobby tersenyum, "Tidak akan. Ajik dan Ibu sudah menerimamu, Gis. Sekarang saat nya aku mengenalkanmu kepada mereka dan mulai saat ini kau harus mulai mengenal mertuamu." Tuturnya.
"Ta-tapi, bagaimana mungkin?" tanya Giska masih tak percaya. Ia juga tak menduga akan bertemu dengan mertuanya secepat ini. Pasalnya ia sendiri tak yakin dengan pernikahan nya. Ia pikir, dirinya tak akan pernah mengenal mertuanya, tapi ternyata semua yang ia pikirkan adalah salah.
"Jangan banyak tapi-tapi, Sayangku." Bobby mencubit gemas pipi Giska. "Cepatlah mandi! Nanti kita akan mememui Ajik dan Ibu bersama-sama." Tutur Bobby.
"Tapi aku masih tidak mengerti, Bli. Bagaimana nantinya..."
"Hihhhhhhhh, kau ini! Sudah ku bilang jangan banyak tapi, jangan banyak protes! Jangan banyak berpikir, Gis. Patuhilah suamimu ini. Aku kan sudah berjanji untuk membuat pernikahan kita jelas, dan aku sudah berjanji akan memperjuangkanmu. Aku akan menjadikanmu milikku selama nya." Oceh Bobby gemas, namun sedikit kesal karena Giska terus saja protes.
Giska pun terdiam. Entah karena ia merasa terkejut atau karenya nyawanya belum terkumpul semua sehabis ia bangun tidur.
Bobby pun menjettikkan jarinya di depan wajah Giska. "Jangan melamun. Cepat mandi! Atau kau mau aku memandikanmu?" Bobby mengedipkan sebelah matanya.
"Emm, iya." Jawab Giska reflek.
"Iya? Jadi kau mau aku memndikanmu?"
"Tidak!" Sergah Giska cepat. "Maksud ku iya adalah, iya aku akan mandi sekarang." Giska pun langsung berjalan cepat menuju pintu.
"Gis..." Panggil Bobby.
Giska pun menoleh, "Apa?"
__ADS_1
"Kau mau keluar kamar?" tanya Bobby.
"Aku mau ke kamar mandi. Tadi kan katanya di suruh mandi." Jawab Giska polos.
Bobby terkekeh, "Iya, tapi kau berjalan ke arah pintu kamar, Gis. Itu kamar mandinya di sebelah sana." Bobby menunjuk kamar mandi yang berada di sebelah kanan, di dalam kamar itu.
"Ohh iya." Giska pun langsung merubah langkahnya menuju kamar mandi yang sebenarnya.
Bobby pun menggeleng-gelengkan kepalanya, "Giska, Giska." Gumam Bobby tersenyum. Ia pun memilih duduk di tepian ranjangnya sembari menunggu Giska selesai mandi.
***
20 menit berlalu. Bobby masih setia menunggu Giska selesai mandi. Namun, nampaknya belum ada tanda-tanda Giska akan keluar dari kamar mandi. Bobby pun merasa cemas, ia takut telah terjadi sesuatu dengan Giska di dalam kamar mandi. Ia pun beranjak bangun dan langsung menuju kamar mandi.
Tokkk.. Tokk...
"Gis..." Panggil Bobby seraya punggung jarinya mengetuk pintu kamar mandi.
"Gis, buka pintunya!" Seru Bobby, suaranya terdengar cemas.
"Gis, kenapa kau lama sekali? Apa kau baik-baik saja?" tanya Bobby.
"I-iya, iya Bli, aku baik-baik saja."
"Apa kau belum selesai mandinya?" tanya Bobby.
"Aku sudah selesai, Bli."
"Lalu kenapa kau tidak keluar?"
"Iya ini dah aku mau keluar." Ucap Giska. Tak lama setelah itu ia pun mulai membuka pintu kamar mandi. Lalu perlahan ia keluar dari kamar mandi, nampak tubuhnya hanya terbalut oleh handuk. Ia pun melangkah dengan malu-malu, seraya tangannya memegang handuknya dengan sangat erat.
Bobby yang melihat Giska hanya mengenakan handuk saja, matanya tak berhenti menatap Giska. Seutas senyuman pun nampak di sudut bibir nya. Tanpa ragu ia pun langsung menarik Giska ke dalam dekapan nya.
"Kau mau menggodaku, ya?" Ucap Bobby sedikit berbisik. Hidungnya mengendus wangi tubuh Giska. "Kau wangi sekali, Gis." Ucapnya seraya mengecup rambut Giska.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku tidak berniat menggodamu, Bli. Bajuku tadi terjatuh dan basah. Aku lupa mengambil baju ganti saat hendak masuk ke kamar mandi, tadi. Aku juga tidak tau dimana tas ku berada. Dan di dalam kamar mandi hanya ada handuk saja, Bli. Jadi ya aku mengenakan handuk saja. Tapi sebenarnya aku tak ingin keluar seperti ini, tapi ya mau bagaimana lagi?" Ucap Giska polos.
Bobby mengendurkan pelukan nya. Ia pun menatap Giska, "Jangan minta maaf. Justru aku lebih suka melihatmu seperti ini, eh tidak, aku lebih suka melihatmu telanjang." Ucap Bobby seraya menggigit bibir bawah nya sendiri.
Entah kenapa, melihat Bobby seperti itu, Giska merasa seakan tergoda oleh bibir Bobby. Sexy sekali. Tapi, Giska juga tak sepintar itu untuk merasakan apa yang tubuhnya inginkan. Ia selalu menampik semua rasa yang muncul ketika bersama Bobby.
"Heiii, kenapa melamun lagi? Apa kau sedang menatap suamimu yang tampan ini?" goda Bobby.
"Tidak, Bli," Giska menggelangkan kepalanya cepat, "Aku hanya bingung saja. Bli Bobby suka melihatku telanjang? Apa Bli Bobby akan menyuruhku telanjang sepanjang hari, bahkan di depan semua orang?" tanya Giska polos.
"Kau ini!" Bobby menghela napasnya, "Maksudku, kau hanya boleh telanjang hanya di depanku saja, hanya ada kita berdua saja. Tak boleh ada siapapun yang melihat isi tubuhmu itu. Hanya aku yang boleh melihatnya. Paham!"
"Aku saja tidak bisa melihat isi tubuhku, Bli." Jawab Giska heran, "Apa Bli Bobby mau menyayat tubuhku, supaya Bli Bobby bisa melihat isi tubuhku?" tanya nya. Ia bergidik ngeri membayangkan jika Bobby benar-benar melakukan nya. Karena itu artinya, ia akan tiada.
"Akhhhh, jangan! Jangan lakukan itu! Jangan menghabisiku, Bli! Aku mohon. Aku akan melakukan apapun yang Bli Bobby minta. Tolong, jangan habisi aku." Giska mengatupkan kedua tangan nya. Ia memohon kepada Bobby.
"Astaga, Gis! Konyol sekali kau ini." Bobby tergelak.
"Bukan organ dalam tubuhmu, Gis!" Bobby pun langsung menarik handuk Giska, hingga terpampanglah tubuh polos Giska. Dua gundukan sintal dan juga hutan yang tak begitu lebat nampak jelas di mata Bobby.
"Isi tubuhmu yang ku maksud itu adalah, ini!" Satu tangan Bobby memegang dada Giska, sementara tangan yang satunya memegang area kesukaan nya.
"Ahhhhh..." Giska reflek teriak. Ia pun langsung mundur, lalu kedua tangan nya berusaha menutupi kedua bagian pribadinya itu.
Tanpa pikir panjang, Bobby pun berlari ke arah pintu, untuk mengunci pintu kamarnya. Setelah memastikan pintu nya terkunci, ia pun tanpa basa basi langsung menggendong paksa tubuh Giska, lalu menjatuhkan nya ke atas ranjang.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1