Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Semakin Terluka


__ADS_3

"Sudahlah! Di sana tak dapat apa-apa. Jangan kembali ke sana lagi! Tinggal saja di rumah. Cari kerja di dekat sini saja," pinta Bram.


"Bapakmu ini sudah tua. Mataku juga sudah kabur jika melihat sesuatu. Pendengaranku juga sudah mulai berkurang. Entah kapan waktuku tiba," ucapnya kemudian.


"Jangan bicara seperti itu, Pak." Giska berucap sembari menahan air matanya yang hendak keluar lagi.


"Sudahlah, Pak. Bapak harus istirahat," ucap Giska kemudian. Ia pun langsung keluar dari kamar bapaknya. Ia langsung berlari menuju kamar mandi. Namun bukan karena ia kebelet pipis atau apa, melainkan ia sudah tak sanggup lagi menyembunyikan air matanya.


Hikkks....


Hiikkksss...


"Ya Tuhan. Ampuni aku karena belum bisa menjadi anak yang baik untuk bapak." Giska duduk bersimpuh di dalam kamar mandi. Tangisnya pun pecah seketika itu juga.


Sambil menangis, ia juga tampak memikirkan sesuatu. Bapaknya sudah tua tetapi ia masih belum bisa membuat bapaknya bahagia.


Pantasnya di usia bapaknya yang sudah sepuh ini, beliau bisa kumpul bersama anak dan cucunya bukannya malah dibiarkan tinggal sendirian di rumah. Namun bagaimana? Meski Giska sudah menikah tetapi ia belum memiliki anak. Selain itu juga usia Giska saat ini masih terlalu muda. Dan juga usia pernikahannya juga belum ada setahun. Dan ya, ia bahkan belum mengatakan pernikahan ini pada bapaknya.


Giska ingin jujur pada bapaknya tentang pernikahannya. Tetapi bapaknya sama sekali tak menyukai Bobby. Jadi untuk mendapat restu itu pun sangatlah mustahil.


Sebenarnya sekitar 3 bulanan yang lalu, bapaknya sudah mulai mau menerima Bobby sebagai teman dekat Giska. Tetapi karena Bobby tak bisa memenuhi janjinya, kini bapaknya pun tak lagi menerima Bobby. Dan sepertinya ketidaksukaannya pada Bobby semakin bertambah besar.


Giska sendiri saat ini juga tengah menjaga jarak pada Bobby karena ia merasa kalau sebenarnya Bobby tidak pernah menginginkannya. Yang ada di hati Bobby hanyalah istri pertamanya saja.


Dan kini rasa sesal di hati Giska pun semakin besar. Pasalnya ia lebih memilih membiarkan bapaknya tinggal sendirian di rumah, sementara ia tinggal bersama Bobby karena statusnya yang sudah menjadi istri Bobby, ya meskipun hanya istri kedua.


Namun ternyata hidup menjadi istri kedua itu tidaklah mudah. Ia selalu tidur sendirian. Tinggal di rumah sendirian. Meski sudah jelas ia memiliki suami tetapi rasanya seperti tak memiliki suami.


Apakah itu adalah karma dari perbuatannya yang membiarkan bapaknya tinggal sendirian? Dan ia sendiri juga mengalami hal yang sama apa yang di alami bapaknya selama ini. Yaitu tinggal sendirian.


POV Giska.


Aku sangat menyayangi bapak. Aku tak sanggup melihat bapak seperti ini. Aku seperti sudah menelantarkan bapakku karena membiarkannya tinggal sendirian.


Para tetangga yang seumuran bapak, mereka semua terlihat bahagia. Punya rumah bagus. Punya pasangan. Dan mereka juga dekat bersama anak dan cucunya. Ya meskipun tidak serumah tetapi meraka sangatlah dekat.


Hatiku nelangsa jika membandingkan bapakku dan mereka. Aku belum bisa mewujudkan apa yang bapak inginkan.


Apa yang harus ku lakukan sekarang? Apa aku harus benar-benar pisah dari Bli Bobby agar aku bisa tinggal di sini. Dan aku bisa menikah di sini sesuai dengan keinginan bapak?


Tapi, hatiku masih sangat berat melakukan semua itu. Bukan berat karena Bli Bobby tetapi aku berat untuk menetap di sini lagi. Entah kenapa pikiranku masih terarah pada kejadian waktu itu.


Tapi jika aku tidak di sini, lalu siapa yang akan menjaga bapak? Kedua anak kandung bapak juga tak mungkin. Mereka semua sibuk pada keluarganya masing-masing.


Ya Tuhan... Aku benar-benar bingung. Mana yang harus ku dengarkan? Rasa sayangku apa traumaku?

__ADS_1


POV End.


Giska masih duduk bersimpuh di dalam kamar mandi. Ia masih terus menangis melampiaskan kesedihannya di dalam tangisnya itu. Hingga tanpa sadar celananya sudah basah karena terkena air yang meluber dari bak mandi.


Ya, karena tak ingin ada yang mendengar suara tangisannya, Giska sengaja menghidupkan kran air agar menyamarkan suara tangisannya sekaligus mengisi bak mandi yang kosong. Namun kini airnya malah meluber dan jatuh kemana-mana.


"Ya ampun, celananaku sampai basah," gumam Giska setelah ia menyadari celananya yang basah.


Karena ia tak melihat ada handuk di sana, ia pun memutuskan keluar dari kamar mandi dengan keadaan celana yang basah. Namun sebelum ia keluar, ia lebih dulu membasuh wajahnya yang sedikit sembab. Setelah itu barulah ia keluar.


Giska pergi ke kamarnya untuk mengambil handuk dan juga pakaian gantinya. Lalu kemudian ia kembali lagi ke kamar mandi, sekaligus ingin menyegarkan badannya.


Seperti biasa, ia mandi tetap mengenakan seluruh pakaiannya. Entah itu akan bersih atau tidak tapi yang pasti, ia seperti ini karena ia ingin mencegah hal-hal yang tak di inginkan.


Ya bukannya ia mau berburuk sangka pada bapaknya. Hanya saja ia masih tak bisa lupa jika menyangkut tentang kejadian buruk yang pernah menimpanya.


***


2 hari telah berlalu.


2 hari yang lalu, Giska membawa bapaknya ke dokter dan ternyata setelah di cek, tensi bapaknya tinggi. Itu sebabnya bapaknya mengeluh sakit di kepala bagian belakangnya. Dan sekarang, kondisi bapaknya sudah berangsur membaik.


Hari sudah siang. Karena Bram waktunya minum obat, Giska pun akan memberikan makan pada bapaknya.


"Iya." Bram pun mengambil piring berisi nasi dan soup yang Giska bawakan. Lalu ia langsung memakannya.


Baru juga makan sesuap, Bram terdengar komplain dengan masakan Giska. "Masak saja tak bisa. Hambar rasanya," ucap Bram sembari meletakkan piring itu ke atas meja secara kasar.


"Hambar bagaimana Pak? Tadi aku coba sudah pas rasanya," sahut Giska.


"Sudahlah! Makananya tak enak. Buang saja!"


"Punya anak seperti tak punya anak. Semuanya jauh! Tak ada yang peduli!" gerutu Bram.


Giska pun hanya bisa mengehela napasnya. Dalam hati ia berkata, "Sabar."


"Lha aku ini apa bukan anakmu, Pak? Ini aku sudah ada di sini lho. Aku langsung pulang ke sini saat tau Bapak sakit," sahut Giska sopan.


"Bukan kau yang ku maksud! Tapi kedua mbakmu. Mereka tinggal jauh dari sini," sahut Bram ketus.


"Kondisi bapak sudah berangsur membaik. Tapi kenapa masih suka uring-uringan tak jelas ya?" batin Giska.


"Bapak mau makan apa? Pinginnya apa, biar aku masakin," tawar Giska. Ia kembali membahas makanan.


"Tidak usah! Aku tidak pingin apa-apa!" ketus Bram.

__ADS_1


"Ya sudah nanti kalau pingin makan apa, Bapak bilang saja. Ini sekarang bapak makan roti saja dulu buat ganjel perut. Setelah itu Bapak minum obatnya," tutur Giska seraya memberikan roti pada bapaknya.


"Nanti Mita katanya mau datang ke sini. Mungkin sebentar lagi dia datang," ucap Giska kemudian. Ia memberitahu bahwa cucu kesayangan bapaknya akan datang.


Mita adalah anak dari putri pertama bapak. Mita sudah berusia 23 tahun. Usianya lebih dewasa daripada Giska. Dan Mita juga sudah menikah bahkan ia juga sudah memiliki seorang anak laki-laki berusia 3 tahun.


Mita dan juga anaknya adalah cucu dan cicit yang paling bapak sayangi. Bahkan rasa sayang bapak pada mereka melebihi rasa sayangnya pada dirinya sendiri.


"Mita?" respon Bram dengan wajah sumringah.


"Iya, Pak. Kemarin aku menelponnya dan memberitahu dia kalau Bapak sedang sakit," ujar Giska.


"Jam berapa katanya dia akan datang?" tanya Bram. Ia sepertinya sudah tak sabar menunggu kedatangan Mita.


"Mungkin sebentar lagi. Bapak tunggu saja."


Giska pun langsung membereskan piring dan ia segera membawanya ke dapur. Setelah meletakkan piring ke dapur, ia pun memilih pergi ke kamarnya sembari menunggu cucu bapaknya datang, nanti.


Di dalam kamar, Giska tampak melihat-lihat pesan masuk di ponselnya. Di sana hanya ada pesan dari 3 orang saja, yaitu dari Bobby, Kadek dan juga Trias. Namun meski hanya dari 3 orang saja tetapi pesannya sangat banyak sekali. Bahkan hingga sampai puluhan pesan. Dan yang terbanyak mengirim pesan adalah Bobby.


Ya tentu saja dia yang paling banyak mengirimkan pesan. Bahkan tak hanya pesan saja, ada puluhan panggilan tak terjawab dari Bobby.


Sayang, pleasee jawab telponnya. Balas pesanku juga. Jangan membuatku khawatir, Sayang. ~ Bobby.


Sudah 3 hari kau mengabaikan pesan dan panggilanku. Bahkan kita sudah tak bicara selama 3 hari. Tolong jangan seperti ini. ~ Bobby.


Itulah 2 pesan dari pulahan pesan yang Bobby kirimkan.


"Apa kau benar-benar mencemaskanku? Atau kau hanya merasa bersalah saja karena aku tiba-tiba pulang ke Surabaya?" gumam Giska sendu.


"Kalau kau memang cemas. Harusnya kau bisa menyusulku ke sini kan? Sekalian kau luruskan semuanya pada bapak. Tepati janjimu yang pernah kau katakan pada bapak," ucapnya dalam hati.


"Tapi kau tidak melakukannya. Itu artinya aku benar. Kau memang tidak benar-benar menginginkanku, Bli Bobby."


"Mungkin bapak memang benar. Aku sudah salah karena memilihmu. Dulu aku ingin pergi darimu tapi kau menahanku sampai akhirnya aku mulai membuka hati untukmu. Tapi nyatanya, semua itu malah membuatku semakin terluka," gumamnya getir.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2