
Saat ini, Giska merasa bingung dengan apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia bimbang, di satu sisi ia ingin pulang ke Bali saat ini juga, tetapi di sisi lain, ia tak tega meninggalkan Bapak nya yang kembali sakit. Ia tengah di apit oleh 2 keputusan yang sama-sama melibatkan Bram. Ia ingin pergi karena ia takut Bram akan berulah kembali, dan ia harus stay di rumah, karena Bram sedang membutuhkan nya saat ini. Terlebih lagi, ia mengingat akan semua ucapan tetangga nya, yang semakin membuat hatinya bingung.
Dan akhirnya, Giska pun memutuskan untuk tetap di rumah, merawat Bapak nya sampai sehat kembali. Di balik keputusan nya itu, ia juga sudah bertekad akan lebih menjaga diri nya sendiri, agar Bram tak sampai mengulang perbuatan nya kembali.
Di tempat lain.
Bobby nampak baru saja membuka kedua mata nya. Ia menatap ke sampingnya, nampak Tia masih tertidur sangat pulas di balik selimut tebal nya. Seketika Bobby tersadar akan apa yang sudah ia lakukan semalam bersama Tia
"Shiittt! Sungguh pusing sekali kepalaku." Bobby memegangi kepalanya. Sepertinya ia merasa pusing karena pengaruh dari obat yang Tia berikan semalam.
Bobby pun beranjak duduk di tepi ranjang, ia melihat tubuhnya polos nya, "Bercinta karena obat perangsang!" Bobby mendengus kesal. Ia baru menyadari penyebab ia begitu bergairah semalam.
...Flashback On...
Semalam, tak lama setelah ia meminum teh buatan Tia, tubuhnya mendadak panas. Ada hawa aneh yang menjalar di tubuh nya. Ia mencoba tak memperdulikan semua itu, tetapi semakin lama rasanya tubuhnya semakin memanas. Gairahnya menjadi begitu besar. Di saat ia di serang oleh gairahnya sendiri, ia malah membayangkan Giska. Saat-saat bersama Giska, saat ia memaksa Giska untuk bercinta dengan nya. Semua tentang Giska memenuhi pikiran nya.
Semakin lama, hasrat nya semakin menggebu-gebu, saat itu juga ia sangat ingin menuntaskan nya bersama Giska. Ia membayangkan, saat ia mulai membenamkan Joni nya ke dalam milik Giska. Rasanya Joni seakan di pijat di dalam sana. Begitu sempitnya milik Giska, sehingga saat ia memasukkan Joni, Joni serasa di genggam dengan sangat erat. Sungguh nikmat nya. 😂😂😂
Di saat bayangan Giska tengah menari-nari di dalam pikiran nya, tiba-tiba saja ia melihat Giska mengenakan lingerie sexy dan berjalan menghampiri nya. Meski tak begitu jelas, ia tetap mengira jika itu adalah Giska. Padahal itu Tia, bukanlah Giska.
Dan... Terjadilah penyatuan panas itu.
Saking besarnya hasrat Bobby, Bobby sampi melupakan rasa nyeri yang ada pada wajahnya. Jika saja ia sadar, ia pasti akan merasa sakit, saat ia menciumi Tia, dan saat Tia membelai pipi nya. Ya, karena wajahnya masih penuh dengan luka lebam, kreasi dari Ajik nya sendiri.
...Flashback Off...
Bobby beranjak bangun dan berdiri, kemudian ia langsung melangkah menuju kamar mandi.
15 menit berlalu, Bobby nampak baru keluar dari kamar mandi. Ia pun langsung berjalan menuju lemari pakaian, dan ia langsung mengambil baju, cawet dan juga celana, untuk ia kenakan. Ia pun langsung mengenakan pakaian itu.
"Dimana ponselku?" batin nya, seraya ia mencari ponsel di kamar nya.
"Ahh, mungkin tertinggal di sofa." Pikir nya, ia pun melangkah keluar dari kamar. Ia pun langsung mencari ponsel nya di sofa yang selama ia duduki. Dan ternyata benar ponsel nya ada di sana. Ia pun mengambil ponsel itu, dan ia langsung pergi meninggalkan rumah, tanpa berpamitan kepada Tia.
***
Bengkel Asiawan.
__ADS_1
Saat ini Bobby masih berada di dalam mobil nya, meski ia telah sampai di bengkel. Ia sengaja tak langsung turun dari mobil, karena ia sangat ingin bicara dengan Giska, saat ini juga. Ia pun mencoba menghubungi Giska. Setelah berulang kali mencoba, akhir nya ia pun tersenyum, karena Giska menjawab panggilan nya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Bobby pada Giska melalui panggilan telpon.
"Iya, Bli." Jawab Giska di sebrang telpon.
"Bagaimana Bapak, Gis?"
"Semalam, Bapak sudah sehat, Bli. Tapi pagi ini, tiba-tiba Bapak kembali sakit. Tubuhnya menggigil, kepala nya pusing katanya." Jawab Giska.
"Harusnya aku akan kembali pagi ini, tapi sepertinya tidak jadi." Ucap Giska.
"Jangan kembali dulu, Gis. Bukankah suda ku katakan, kau rawat Bapak dulu di sana. Tungguin Bapak sampai benar-benar sehat." Tutur Bobby.
"Iya, Bli." Jawab Giska lirih.
"Kau jangan mencemaskan apapun, Gis. Besok kita akan bertemu di sana." Ucap Bobby kemudian.
"Maksudnya, Bli?" tanya Giska sedikit bingung.
"Ehh, jangan, Bli! Tidak perlu kesini. Bli Bobby di sana saja, perbaiki semua masalah di sana. Bli Bobby kan sudah janji mau menyelesaikan semua masalah itu! Bapak di sini baik-baik saja, kok. Bli Bobby tenang saja ya." Ucap Giska, ia mencari alasan untuk menolak Bobby, supaya tak datang ke Surabaya.
"Masalahnya sudah selesai, Gis. Ya, meskipun aku sendiri masih berat menerimanya. Tapi, mungkin dengan begini, aku bisa mengetahui apa yang ingin ku ketahui." Batin Bobby.
"Ya ya, Gis. Aku tau kau akan langsung menolak ku. Berjanjilah padaku, kau akan menjaga dirimu di sana. Kau harus makan dengan teratur, makan yang bergizi. Kau juga harus tidur teratur. Kau harus menjaga kondisimu sendiri, supaya kau tetap sehat."
"Kau belilah apapun yang ingin kau beli di sana. Dan ya, jangan terlalu hemat kalau untuk makan! Apapun yang kau inginkan, belilah semua nya. Jangan melihat harga nya. Oke!" Tutur Bobby. Ia seperti tengah menasehati putri nya sendiri.
"Iya." Jawab Giska singkat.
"Kau jangan memikirkan masalah uang, seperti yang ku bilang kemarin, jika kau sudah ada waktu luang, pergilah ke Bank dan buatlah rekening di sana. Jadi, aku bisa mengirimimu uang." Tutur Bobby kembali.
"Iya, Bli."
"Ehh, satu hal lagi. Ini yang terpenting."
"Apa lagi?" tanya Giska.
__ADS_1
"Jaga hatimu untukku. Kau harus ingat, sekarang kau sudah punya suami. Jadi, kau tidak boleh macam-macam di sana! Mengerti!"
"Astaga... Iya, Bli."
"Gadis pintar." Puji Bobby. "Baiklah, Sayang... Kau lanjutkan aktifitasmu. Nanti ku telpon lagi." Ucap Bobby.
"Ehh, apa yang ku dengar baru saja? Dia memanggil sayang?" batin Giska tersenyum.
"Iya." Meski ia tersenyum saat Bobby memanggilnya sayang, tapi tetap saja ia masih bersikap cuek.
"I love,--"
Tuttt....
Giska lebih dulu mengakhiri panggilan telpon nya, saat Bobby hendak mengucapkan sesuatu. Alhasil, Bobby pun gagal mengucapkan nya.
"Giska... Gadis apa sih kau ini?" batin Bobby sedikit kesal. Namun, rasa kesalnya tak lebih besar daripada rasa sayang nya terhadap Giska.
***
Di rumah Giska.
"Siapa yang menelponmu, Gis? Apa kau sudah memiliki kekasih?"
"Mmmmm, ini..." Giska kesulitan menjawab.
"Sudah lupakan saja. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu, dan juga Bapakmu." Ucap Ela.
Ya, yang bertanya tadi adalah Ela. Setelah tadi Ela sempat pulang ke rumah nya, tiba-tiba saja ia kembali ke rumah Giska lagi.
"Soal apa, Bu?"
.
.
Bersambung...
__ADS_1