Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Periksa Ke Dokter Kandungan


__ADS_3

Di tempat lain, beberapa menit yang lalu.


Tia tersenyum bahagia saat mengetahui kalau dirinya benar-benar hamil. Ia mengetahui kalau dirinya hamil karena ia baru saja melakukan test dengan alat pipih yang ia beli semalam bersama Bobby.


Detik itu juga, Tia pun langsung menelpon Bobby. Sampai berulang kali ia menelpon namun Bobby belum menjawab telponnya. Hal itu sempat membuatnya kesal karena ia tau kalau saat ini Bobby sedang berada di rumah Giska. Pikirannya pun sudah mengarah kemana-mana, segala pikiran buruk pun tertuju pada Bobby. Namun, di saat ia merasa kesal, ia malah semakin gencar menghubungi Bobby, dengan maksud agar Bobby dan Giska tidak bisa berbuat hal yang tidak Tia inginkan.


Dan ia beruntung, berkat kegigihannya yang terus saja menelpon Bobby, akhirnya Bobby pun menjawab telponnya.


"Paa... Positiv," ucapnya langsung mengawali pembicaraan melalui telpon.


"Positiv?" lirih Bobby bertanya. Namun suaranya masih bisa di dengar oleh Tia.


"Iya, Pa... Aku hamil." Ucap Tia dengan sangat jelas.


"Sungguh? Apa kau sudah memastikannya?"


"Sudah. Lebih baik kau pulang sekarang juga! Kau lihat saja sendiri, Pa!" Pinta Tia.


"Oke, aku pulang sekarang." Jawab Bobby langsung. Ia pun langsung mengakhiri panggilannya.


"Lihat ini, Nak, kau belum lahir saja Papamu sudah sangat menyayangimu. Apalagi nanti saat kau sudah lahir, Mama yakin Papamu akan menjadi milik kita seutuhnya." Gumam Tia bahagia.


"Ini adalah awal baru untuk kita, Nak." Gumamnya lagi.


"Sehat-sehat ya anak Mama." Tia mengusap perutnya yang masih datar.


_________


"Tiaa..." panggil Bobby. Ia baru saja sampai di rumahnya.


"Tia," panggilnya lagi.


Berulang kali Bobby memanggil Tia tetapi nggak ada sahutan sama sekali dari Tia. Ia pun langsung melangkah menuju kamarnya. Sesampainya di depan kamar, ia langsung membuka pintu kamarnya.


Ceklekk!


"Tia..." Bobby melangkah masuk ke dalam kamar.


"Ehh, Pa. Sudah sampai?" sahut Tia. Ia terlihat meletakkan ponselnya ke meja. Lalu ia pun menghampiri Bobby.


"Aku memanggilmu sejak tadi tetapi kau tidak menyahut sama sekali," ujar Bobby. Ia mendudukkan tubuhnya di tepi kasur.


"Aku tidak mendengarnya, Pa. Maaf ya." Tia ikut duduk di samping Bobby.


"Pegang ini!" Tia menarik tangan Bobby lalu ia letakkan di perutnya.


"Ada anak kita di sini, Pa," ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Apa kau sungguh-sungguh hamil?" tanya Bobby sambil mengusap perut Tia.


"Iya, Pa. Anak yang kita nanti-nanti selama ini akhirnya hadir juga, Pa." Tia menyandarkan kepalanya di bahu Bobby.


"Aku harap kehamilanku ini bisa membuatmu lebih perhatian lagi padaku," ujarnya kemudian.


"Hmmm." Bobby pun menarik Tia ke dalam pelukannya. Ia pun mengecup singkat puncak kepala Tia. Nampaknya kedua mata Bobby berkaca-kaca. Hatinya begitu bahagia mengetahui kalau Tia sedang hamil. Impian yang ia impi-impikan sejak dulu akhirnya terwujud juga. Meski ia sendiri belum tau, bayi siapa yang Tia kandung saat ini tetapi hati kecilnya tetap saja merasa bahagia.


Bobby memang memilki rencana untuk menyatukan Tia dan Roy. Tetapi, kalau boleh ia meminta, ia berharap kalau anak yang Tia kandung ini bukanlah anak dari Roy melainkan anaknya sendiri. Untuk urusan Roy nantinya, biarlah ia pikirkan nanti.


"Kau harus menjaga dirimu dan juga bayi ini, Tia," tutur Bobby yang masih memeluk Tia.


"Tentu, Pa." Tia tersenyum. Ia pun balas memeluk Bobby.


"Kehangatan inilah yang aku rindukan. Thanks God karena kau sudah mengembalikan perasaan suamiku padaku. Aku bersyukur karena masih bisa bersama suamiku setelah semua masalah yang menimpa rumah tangga kami." Monolog Tia dalam hatinya. Ia pun semakin mengeratkan pelukannya pada Bobby.


"Tia," lirih Bobby.


"Hmmm, apa Pa?" sahut Tia. Ia mendongakkan kepalanya.


"Jangan beritahu Ibu dan Ajik dulu tentang kehamilanmu ini," pinta Bobby.


"Kenapa?" Tia langsung menatap Bobby penuh tanya.


"Ya pokoknya jangan dulu! Aku ingin merahasiakan ini dulu dari mereka," ujar Bobby.


"Apa alasannya? Bukankah seharusnya kita segera memberitahu Ibu dan Ajik? Mereka berdua pasti senang mengetahui aku hamil, Pa! Kenapa kau malah ingin merahasiakan ini?" protes Tia. Ia tak mengerti dengan pemikiran Bobby.


"Ya baiklah, Pa." Tia pun menuruti kemauan Bobby.


"Baiklah. Kau siap-siaplah! Aku akan mengantarmu periksa ke dokter kandungan."


"Sekarang?"


"Iya, biar kita tau kondisi janinmu, Tia."


"Iya, Pa. Tunggu ya!" Tia pun beranjak berdiri. Ia langsung menanggalkan seluruh pakaiannya di hadapan Bobby.


"Masuklah ke kamar mandi, Tia!" pinta Bobby.


"Biarkan saja, Pa." Tia tersenyum.


"Lagipula aku hanya perlu ganti baju saja," imbuhnya.


"Yaya," sahut Bobby. Ia pun beralih memainkan ponselnya yang baru saja ia ambil dari saku celananya.


"Kenapa? Apa kau ingin melakukannya sekarang, Pa? Apa kau Joni ingin masuk kesini?" ucap Tia dengan suara sensual sambil jemarinya menunjuk ke arah lubang kenikmatannya.

__ADS_1


Niat hati ingin melangkah ke arah lemari untuk mengambil baju ganti namun sekarang ia malah melangkah mendekat ke arah Bobby. Dan sesampainya di depan Bobby, ia langsung duduk di pangkuan Bobby.


"Tia! Cepat pakai bajumu! Aku akan mengatarmu ke dokter untuk periksa!" tutur Bobby. Ia meminta Tia turun dari pangkuannya.


Bukan Tia namanya kalau ia nggak melakukan aksi gila di depan Bobby. Tanpa malu ia pun mengambil ponsel dari tangan Bobby kemudian ia langsung meletakkan ponsel itu ke kasur. Lalu ia pun menarik tangan Bobby dan ia langsung meletakkannya di bagain intinya.


"Ayo masukkan jarimu, Pa!" pinta Tia sambil berbisik mesra. Setelah berbisik di telinga Bobby, ia malah menjilat telinga Bobby.


"Tia!" seru Bobby. Ia langsung berdiri. Otomatis Tia pun juga ikut berdiri.


"Pakailah bajumu! Aku tunggu di luar!" seru Bobby. Ia pun berlalu pergi dari kamar.


"Pa..." Tia berjalan cepat untuk mengejar Bobby yang keluar dari kamar. Dengan tubuh polosnya, ia berjalan tanpa malu.


"Tia, apa-apaan sih kau ini! Bisa-bisanya kau telanjang begini keluar dari kamar! Nanti kalau ada yang melihatmu bagaimana!" seru Bobby.


"Masuklah ke kamar!" perintahnya tegas.


Beruntung di rumah itu sedang tak ada orang lain selain Bobby dan Tia. Kalau saja ada pembantu, lalu bagaimana jadinya nanti? Sungguh memalukan, bukan? Kalau sampai pembantu melihat Tia keluar kamar tanpa mengenakan pakaian.


"Ayo, kau juga ikut masuk!" Tia menarik lengan Bobby. Ia pun memaksa Bobby untuk ikut masuk ke kamar.


Brakk!


Tia langsung menutup pintu kamarnya usai ia dan Bobby masuk.


"Ayo, Pa. Sebentar saja," pinta Tia memelas.


"Ayo apa? Cepatlah pakai bajumu atau kita akan terlambat nanti!" seru Bobby. Ia memalingkan wajahnya.


Pagi tadi ia sangat ingin melakukan itu dengan Giska tetapi gagal karena Tia memintanya pulang. Dan sekarang, ia malah disuguhkan pemandangan aduhai oleh Tia. Kemolekan tubuh Tia terpampang nyata di depan matanya. Jika saja ia mau, ia pasti akan langsung menerkam Tia detik ini juga tetapi ia tak mau.


Sebenarnya hasratnya juga sesekali muncul saat melihat Tia telanjang seperti ini tetapi hasratnya itu timbul tenggelam. Pikirannya seolah mengatakan, 'Terkam saja Tia, dia kan juga istrimu. Kau berhak mendapat kepuasan dari Tia. Lihatlah itu, dadanya besar, bokongnya juga bulat nan sexy, dan itu bagian favoritmu, dia sudah sangat ingin dirasuki oleh Jonimu yang besar dan panjang itu'.


Tetapi hatinya berkata, 'Tia memang masih istrimu. Tetapi bukankah dia sedang hamil saat ini? Apa tidak bahaya nantinya? Dan ya, bukankah kau juga ingin menyatukan Tia dan Roy? Kau sendiri yang sudah yakin kalau Tia dan Roy saling mencintai, masa iya sekarang kau ingin meniduri Tia lagi?'.


Tak hanya hati dan pikirannya saja yang seolah bicara tetapi egonya juga sepertinya ikut bicara. 'Jonimu memang tegak saat kau mau memasukkannya pada lubang milik Tia tetapi nanti pertengahan, pasti Jonimu akan langsung tidur begitu saja. Kau pasti tidak akan bisa menuntaskan permainanmu nantinya. Tia nanti kurang puas dan kau sendiri juga pasti akan merasa buruk nantinya. Pikirkan ulang kalau kau mau memasukkan Jonimu pada lubang milik Tia.'


"Paa..." Tia menjentikkan jemarinya tepat di depan wajah Bobby. Bobby pun sontak terkejut.


"Haa?" Bobby seakan langsung tersadar dari lamunannya.


"Ayolah, Pa! Pleasee!" Tia lagi-lagi memelas.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2