
"Nak, kau telponlah Bobby dulu. Dia sudah menunggu kabarmu," tutur Astuti pada Giska.
"Iya, Nak. Kasian dia bingung memikirkanmu," tambah Gung De.
"Tapi---" Giska tampak berat.
"Lha ini, Bobby malah telpon ke ponsel Ajik." Gung De tersenyum menunjukkan ponselnya yang berdering karena ada panggilan masuk dari Bobby.
"Kau jawablah ini, Nak." Gung De pun memberikan ponsel itu pada Giska.
Giska pun mengangguk ragu. "Baiklah," ucapnya sembari menerima ponsel itu.
"Saya bawa ponselnya ke belakang boleh, Jik?" tanya Giska ragu. Ia merasa tak nyaman jika bicara di sini. Selain karena ada kedua mertuanya, di sini juga ada tetangganya. Ia tak ingin membuat membuat gosip lagi nantinya.
"Boleh, Nak. Sana pergilah ke kamarmu atau kemana saja senyamanmu," tutur Gung De sembari tersenyum.
Giska pun mengangguk dan ia segera pergi ke belakang. Ke belakangnya ini bukan ke kamar mandi, melainkan ke belakang rumahnya.
Giska mulai meletakkan ponsel itu ke dekat taun telinganya. Ia menghela napasnya berat lalu ia pun menyapa Bobby.
"Hallo..."
"Giska... Sayang.. Ini benar kau?" Suara Bobby terdengar sangat bahagia.
"Kau kenapa tak mau menjawab pesan dan telponku, Sayang? Apa kau tak tau aku di sini sangat mencemaskanmu. Aku khawatir padamu." Bobby langsung mencecoros.
"Jika aku salah, aku minta maaf. Tapi tolong jangan pernah seperti ini lagi. Jangan mengabaikan panggilanku dan juga pesanku, Sayang. Jangan membuatku semakin cemas padamu."
"Jika saja tidak ada masalah di rumah, aku pasti sudah menyusulmu ke sana, Sayang. Tapi sayangnya aku belum bisa kesana. Itu sebabnya aku meminta ajik dan ibu untuk datang ke sana melihatmu." Bobby terus bicara tanpa henti.
__ADS_1
Sementara Giska, ia hanya diam dan terus mendengarkan Bobby bicara. Jauh di dalam lubuk hatinya saat ini, ia merasa sangat senang mendengar suara Bobby lagi. Saat ini, ingin rasanya ia berlari memeluk Bobby dengan sangat erat. Kemudian ia tumpahkan segala perasaannya pada Bobby. Ia tumpahkan semua air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan. Ia ingin menceritakan segalanya pada Bobby mengenai apa yang ia rasakan saat ini. Tapi apalah daya. Ia tak bisa melakukannya.
"Hmmm." Hanya deheman saja yang keluar dari mulut Giska. Suaranya terdengar bergetar.
"Sayang harus kuat ya. Jangan menangis. Aku akan selalu ada untukmu. Kita akan lalui ini bersama-sama." Suara Bobby pun terdengar bergetar.
"Maafkan aku karena saat ini tidak bisa mendampingimu di sana. Aku tau bagaimana perasaanmu sekarang. Maafkan aku."
Mendengar Bobby meminta maaf seperti ini. Giska semakin tak bisa mengendalikan dirinya. Ia semakin susah mengendalikan air matanya. Ia juga jadi susah mengendalikan perasaannya pada Bobby.
Hikkss....
Tangisnya pun keluar. Giska terduduk di tanah. Ia sudah tak bisa menahannya lagi. Ia pun menangis.
Sementara Bobby di sebrang sana, ia menjadi bertambah khawatir mendengar Giska menangis. Ia pun berusaha memanggil-manggil Giska namun Giska tak menyahut sama sekali. Yang bisa ia dengar hanyalah suara tangis Giska saja.
"Nak..." Astuti tiba-tiba datang menyusul Giska ke belakang. Ia bahkan langsung memeluk Giska.
"Jangan menangis, Nak. Kuatkan dirimu. Ada Ibu di sini. Kau tidak sendirian," tutur Astuti sembari memeluk erat Giska.
Semakin di peluk, Giska pun semakin kesulitan mengendlikan diri dari rasa sedihnya itu.
"Bapakmu baik-baik saja kan? Dia sedang istirahat sekarang. Jangan menangis ya," tutur Astuti tulus. Astuti mengira Giska menjadi sangat sedih karena memikirkan keadaan bapaknya saat ini.
Memang benar perkiraan Astuti. Keadaan bapaknya adalah salah satu alasan Giska menangis saat ini. Selain itu, rasa trauma serta bayang-bayang saat bapaknya tergeletak di dapur tadi, juga menjadi alasan Giska menangis. Intinya hari ini Giska benar-benar merasa lelah dengan semua ujian yang Tuhan berikan padanya.
Semua rasa kini telah bersarang di dalam hati Giska. Jika saja bisa, ia ingin menyerah. Ia benar-benar lelah.
"Bu, saya tak mengerti apa salahku pada Tuhan." Giska mulai bicara sembari masih menangis di pekukan ibu mertuanya
__ADS_1
"Sabar, Nak." Astuti pun semakin mengeratkan pelukannya pada Giska. Ia pun tampak ikut menangis.
"Ini adalah ujian, Nak. Tuhan tau kau anak yang kuat," ucap Astuti sembari mengusap kepala Giska.
"Aku tak mengerti dengan jalan yang Tuhan berikan ini, Bu. Saya sangat bingung. Saya bingung harus bagaimana," ucap Giska tersendat-sendat.
"Jangan banyak berpikir dulu, Nak. Ibu tau perasaanmu saat ini. Ibu tau kau bingung memilih. Ibu tau kau dihadapkan oleh 2 pilihan yang berat. Tapi, Nak. Jangan jadikan ini sebuah pilihan. Kau harus bersama keduanya. Bersama bapakmu dan juga suamimu," tutur Astuti.
Giska mengendurkan pelukan ibu mertuanya. Ia pun menatap ibu mertuanya dengan tatapan sendu. Dalam hati ia bertanya, "Apakah orang-orang di sini sudah banyak cerita pada ibu Astuti?"
"Ibu tau apa yang kau pikirkan saat ini." Astuti mengusap air mata Giska.
"Bobby juga sudah tau semuanya. Tadi Ibu sudah memberitahunya," ucapnya kemudian.
"Bli Bobby tau? Pantas saja dia berusaha menguatkanku tadi," batin Giska.
"Tapi Bu, sebenarnya saya tak tau bagaimana kedepannya nanti. Maksud saya, saya belum tau akan bagaimana," ucap Giska tiba-tiba.
"Ibu paham maksudmu. Seperti yang Ibu katakan tadi. Kau tidak akan memilih, Nak. Kita akan tinggal bersama," ucap Astuti.
"Tinggal bersama bagaimana?" tanya Giska tak mengerti.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1