
"Eh, coba deh kalian dengar, itu di ruangan Bos ada suara ribut-ribut." Ucap kasir yang bekerja di bengkel Bobby.
"Suara ribut bagaimana?" tanya salah satu pegawainya Bobby.
"Sepertinya, Bos sedang ribut dengan istrinya." Ucap kasir itu.
"Kau menguping ya?" Kadek bersuara.
"Bukan menguping, Dek. Aku tidak sengaja mendengarnya, saat aku mau mengantarkan laporan keuangan bulan ini, kepada Pak Bobby." Jelasnya.
"Kau juga sih, sudah tau di dalam ada Bu Tia. Nanti saja kau berikan laporan nya." Tegur Kadek.
"Iya-iya, Dek."
"Sudah-sudah, daripada kita sibuk mengurusi urusan si Bos, lebih baik kita fokus dengan kerjaan kita masing-masing." Tutur Kadek.
"Iya..."
***
Di dalam ruangan Bobby, Tia dan Bobby msih saja terdengar ribut. Bobby bahkan sudah meminta Tia untuk pergi, tetapi, Tia masih saja ngotot dan terus meminta maaf kepada Bobby.
Sementara di parkiran, Giska merasa kesal dan jenuh, karena ia sudah terlalu lama menunggu Bobby kembali. Giska juga kebingungan, karena rasa ingin pipis yang sudah ia tahan sejak tadi, kini menjadi semakin tak bisa di tahan lagi.
"Aduhhh, Bli Bobby kenapa belum kembali juga sih? mana ini sudah di ujung." Giska menggerutu.
"Ahhh, biar dah, aku turun saja." Giska pun turun dari mobil Bobby. Ia berlari masuk ke dalam bengkel, sembari tangan nya memegangi area luar celana nya. Saat ia baru masuk, tak sengaja ia melihat Kadek, yang sepertinya baru saja selesai memperbaiki mobil milik salah satu pelanggan.
"Dek.." Panggil Giska. Biar dah, ia tahan dulu rasa takut serta rasa malu nya, kepada semua orang yang berada di dalam bengkel itu, yang terpenting saat ini hanyalah, ia bisa pergi ke toilet.
"Lho, Gis... Kau di sini?" Kadek pun langsung menghampiri Giska.
"Iya... Dek aku pinjam toilet nya, ya. Sudah kebelet ini." Giska masih memegangi area luar celana nya, sembari badan nya tak berhenti bergerak, agar ia tetap bisa menahan pipis nya.
"I-iya, ayo ku antarkan." Kadek pun langsung menarik Giska, dan membawanya ke toilet.
**
"Giska, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Kadek, sesaat setelah Giska keluar dari toilet.
"Bli Bobby yang mengajakku, Dek. Maaf ya sebelum nya, aku tiba-tiba masuk ke sini. Tadi itu, aku benar-benar sudah kebelet, Dek. Maaf ya, jika aku terkesan tidak sopan."
"Tidak apa-apa, Gis. Kau kan sudah menjadi istri dari pemilik bengkel ini."
__ADS_1
"Iya, istri kedua." Giska tersenyum pelik.
"Maafkan aku, Gis. Karena membantuku, kau jadi berada di dalam situasi seperti ini." Kadek merasa bersalah.
"Isshh, ngomong apa sih, Dek. Ini adalah pilihanku sendiri, kau jangan selalu menyalahkan dirimu seperti ini." Giska tersenyum.
"Iya, tapi kan,---"
"Sudahlah, Dek. Jangan bahas ini lagi. Aku tidak suka, melihatmu terus bersikap seperti ini." Giska menyela ucapan Kadek yang belum sempat terselesaikan.
"Kau memang baik, Gis. Sampai kapan pun, aku tidak akan bisa membalas budi baikmu, untuk pengorbananmu ini, demi menolong Ibu ku. Aku berjanji, aku akan selalu bersamamu, di dalam situasi apapun." Batin Kadek.
"Dek, kok malah melamun?"
"Ehm, tidak Gis. Emm, ngomong-ngomong, Pak Bobby, kan sudah masuk ke dalam sejak tadi, lalu, tadi kau berada dimana?" tanya Kadek mengalihkan pembahasan.
"Aku diam di mobil tadi."
"Astaga, aku harus cepat-cepat kembali ke mobil, Dek." Giska berjalan cepat menuju depan.
"Tunggu, Gis. Kenapa kembali ke mobil?" tanya Kadek, ia berjalan mengikuti Giska dari belakang.
Giska menoleh, "Iya, pokok nya aku harus kembali, Dek." Ucap Giska. Ia pun kembali meneruskn langkah nya. Namun, tiba-tiba langkah nya terhenti, saat ia melihat Bobby ada di depan nya.
"Giska..." Lirih Bobby.
Tia bisa mendengar apa yang Bobby ucapkan baru saja, karena posisi nya ia tepat berada di sebelah Bobby.
"Ohhh, jadi ini, wanita yang sudah menggoda suamiku?" Tia menatap tajam ke arah Giska.
"Dengar dan lihat baik-baik wajah wanita ini, wanita ini adalah penggoda suami orang. Dia sudah menggoda suamiku." Tia sengaja mengeraskn suaranya, agar semua orang yang berada di bengkel bisa mendengar.
Beberapa pelanggan pun seketika langsung menatap hina, Giska. Suara bisik-bisik pun terdengar meski tak begitu jelas.
"Tia! Jaga bicaramu!" geram Bobby.
Sementara Giska, ia terkejut mendengar perkataan Tia. Giska pun langsung memegang tangan Kadek.
"Dasar wanita penggoda!" Tia mendorong Giska. Namun, beruntung Giska tidak sampai tersungkur, karena Kadek menahan tubuh Giska.
"Tia!" Bentak Bobby.
"Wanita yang kau hina ini, adalah istriku. Kau sendiri tau, itu. Kalian semua dengar, Giska adalah istriku." Jelas Bobby. Ia menggenggam tangan Giska. Ia juga tak sungkan merangkul pundak Giska di depan seluruh pegawai dan juga pelanggan nya.
__ADS_1
Sementara Giska, ia merasa takut sekaligus malu, karena ia takut semua orang akan menggapnya penggoda suami orang, setelah mendengar apa yang Tia ucapkan tadi. Ya, meskipun Bobby sudah membela dan mengakuinya sebagai istri, tetapi tetap saja, ia takut dengan anggapan orang lain. Rasa nya Giska ingin membela diri, namun, tenggorokan nya seakan tercekat, sehingga ia sulit untuk mengeluarkan suara nya.
"Aku baru tau kalau si Bos punya 2 istri." Bisik pegawai nya.
"Iya, aku juga baru tau. Dan ya, aku tidak menyangka, gadis yang tiba-tiba masuk kesini tadi, adalah istri kedua nya, Pak Bobby." Tandas pegawai lain nya.
"Hmm, enak sekali ya Pak Bobby, punya 2 istri, mana istrinya cantik-cantik, pula." Bisik-bisik pegawai nya.
*
"Lepas! Apa-apa an sih, Pa?" Tia mencoba menarik Bobby.
"Tia! Pergilah dari sini!" usir Bobby kemudian.
"Pa... Kau mengusirku karena wanita ini?"
"Banyak bicara. Baiklah, biar aku saja yang pergi." Bobby langsung menarik tangan Giska. Ia membawa Giska keluar.
"Shitttt!" Tia mengumpat kesal. Ia pun segera menyusul Bobby keluar. Namun, sayang nya ia terlambat menghentikan Bobby, karena Bobby dan Giska sudah pergi dari bengkel.
"Arrrghhhhh, kemana pergi nya mereka berdua? Shittt!" Tia semakin kesal.
"Awas kau wanita sialan. Aku akan membuat suamiku meninggalkanmu."
Niat hati menemui Bobby, karena ingin mendapatkan maaf dari Bobby, eh maaf tidak dapat, malah berakhir seperti ini.
***
Di tempat lain.
Saat ini Bobby tengah mengemudikan mobilnya menuju ke rumah yang Giska tinggali.
"Kenapa istri Bli Bobby bicara seperti itu tadi? bukankah istri Bli Bobby sudah mengizinkan kita menikah?" tanya Giska.
"Nanti saja kita bahas ini di rumah."
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1