
Di rumah Giska.
"Siapa yang menelponmu, Gis? Apa kau sudah memiliki kekasih?" tanya sesorang dengan tiba-tiba, setelah ia mendengar Giska berbicara dengan seseorang melalui telpon.
"Mmmmm, ini..." Giska kesulitan menjawab.
"Sudah lupakan saja. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu, dan juga Bapakmu." Ucap Ela.
Ya, yang bertanya tadi adalah Ela. Setelah tadi Ela sempat pulang ke rumah nya, tiba-tiba saja ia kembali ke rumah Giska lagi.
"Soal apa ya, Bu?" tanya Giska.
"Kita bicara di dalam saja ya, supaya Bapak mu dengar sekalian." Ajak Ela.
"Masalah apa, Bu? Apakah penting? Kalau pentingnya dengan Bapak, Bu Ela masuk saja. Bapak ada di kamar nya, kok. Saya masih ingin duduk di sini, Bu." Ujar Giska. Saat ini ia tengah duduk di teras depan. Ya, setelah tadi ia sempat masuk ke dalam untuk melihat kondisi Bram, ia kembali keluar saat Bobby menelpon nya. Ia tidak ingin Bram mendengar pembicaraan nya dengan Bobby, makanya ia memilih bicara di teras depan.
"Ini menyangkut kau juga, Gis. Ayolah!" Ela menarik lengan Giska, dan ia membawa Giska masuk ke dalam rumahnya sendiri.
"Mas Bram, bagaimana keadaanya? Kenapa itu kepalanya di ikat pakai kain?" tanya Ela, sesampainya ia di depan kamar Bram.
"Darah tinggiku sepertinya kambuh, kepalaku rasanya berat sekali." Jawab Bram lirih.
"Apa tidak pergi ke dokter saja?" Ela kembali bertanya.
"Kemarin sudah ke dokter kok, Bu. Saat kemarin di periksa, tensi nya normal. Ini obatnya juga masih ada." Sahut Giska.
"Hmmm... Kalau di rasa darah tinggi nya kambuh, coba minum air rebusan daun alpukat, Mas. Atau bisa juga minum air dari perasan seledri." Tutur Ela.
"Mmm, iya nanti biar aku buatkan, Bu." Sahut Giska.
"Iya, Gis. Ohh iya, hampir saja lupa. Jadi begini, ada keponakan nya suamiku, dia ingin mencari jodoh, Gis. Dia mencari gadis yang baik, yang sayang dengan orang tua, dan yang paling penting tidak pernah neko-neko." Ujar Ela tanpa ragu.
"Lalu? apa hubungannya denganku, Bu?" tanya Giska pura-pura tidak tau. Sebenarnya ia malas menanggapi ini, hanya saja ia ingin tau, sejauh mana Ela akan terus bicara.
Sementara Bram, ia hanya diam sembari menunggu penjelasan dari Ela.
"Iya, ada hubungannya, Gis. Kemarin saat dia bicara seperti itu, aku langsung ingat dengan dirimu. Aku pikir, apa tidak sebaiknya kau menikah saja. Daripada kau kerja di Bali, lebih baik kau menikah agar kau bisa tetap tinggal bersama Bapak mu di sini. Dia juga pasti mau tinggal di sini. Jadi, kau bisa merawat Bapakmu. Kasihan Bapakmu sudah sering sakit-sakitan. Apalagi kalau sakit, Bapak mu di rumah sendirian, pasti nelangsa rasanya, Gis. Kalau kau menikah kan enak, nanti ada yang menafkahimu, jadi kau tidak perlu bekerja lagi." Ucap Ela tanpa henti. Ia tak melihat bagaimana ekpresi Giska saat mendengar perkataan nya.
Giska menghela napas nya dengan kasar, "Jadi ini tentang perjodohan lagi?" Giska menanggapinya dengan malas. Bukan ia tak menghargai atau tak sopan kepada Ela, hanya saja Ela selalu saja membicarakan jodoh kepada nya.
Bukan hanya sekali ini saja, Ela sudah berulang kali ingin mengenalkan Giska dengan pria yang menurutnya baik. Sejak Giska masuk SMP, nah dari situlah Ela mulai ingin mengenalkan Giska dengan pria. Entah dia kurang kerjaan atau bagaimana, pasalnya ia nampak seperti biro jodoh keliling. Sebentar-sebentar membicarakan tentang pria yang ingin mencari istri. Dan yang lebih tak di mengerti, kenapa selalu Giska yang ia tawari. Sedangkan di kampung ini masih banyak gadis-gadis yang sudah cukup umur untuk menikah. Kenapa bukan itu saja yang di tawari?
"Aku hanya ingin membantumu, Gis. Dia ini orang nya baik lho, tidak pernah neko-neko. Dia juga bukan perokok dan peminum alkohol. Selama ini dia hanya fokus bekerja sampai dia tak pernah memiliki kekasih. Kerjanya juga bagus, Gis. Dia jadi manager di salah satu hotel yang berada di Bali. Selama ini di bekerja keras dan saat ini dia sudah memiliki tabungan uang 150 juta. Rumah juga sudah punya. Tapi, misalkan setelah menikah kau ingin tinggal di sini, dia juga pasti mau. Nanti dia juga pasti merenovasi rumahmu ini agar bisa sama seperti tetangga lain nya." Cerocos Ela.
Giska seketika terkekeh, "Tidak ada pria yang seperti itu, Bu. Katanya tadi kerja di hotel, sebagai manager. Pasti banyak pegawai hotel yang cantik-cantik. Apalagi setauku di Bali juga banyak gadis cantik. Entah kenapa semua ucapan Ibu, sangat tidak masuk di akal." Giska berucap santai. Jika sebelum-sebelum nya ia selalu diam, kali ini ia memberanikan diri menjawab Ela. Ia berharap dengan begini Ela akan berhenti menjodohkannya lagi.
__ADS_1
"Kau ini tau apa, Gis! Aku yang kenal sama dia. Dia memang baik orangnya." Ela tetap pada pendirian nya.
"Bagaimana Mas? Apa Mas Bram setuju jika Giska menikah muda?" Ela beralih bertanya kepada Bram.
"Jujur saja aku ingin melihat Giska menikah. Ya, umur kan tidak ada yang tau. Aku hanya takut jika suatu hari aku meninggal, Giska akan sendirian. Aku ingin Giska menikah dan tinggal di sini." Jawab Bram.
"Jangan bicara seperti itu, Pak!" seru Giska.
"Bapak akan baik-baik saja. Aku tidak suka mendengar Bapak bicara tentang meninggal lagi!"
"Bapakmu benar, Gis." Ela menyahut.
"Cukup, Bu Ela! Aku tidak bisa mengenal pria yang Ibu katakan tadi." Tegas Giska.
"Kenapa? Apa kau sudah punya kekasih?"
"Iya." Giska langsung menjawab.
"Siapa? orang mana? apa pekerjaan nya?" Bla...Bla... Bla... Ela tak berhenti bertanya. Pembahasan mengenai perjodohan pun tak berhenti di sini saja. Ela terus saja bicara. Ia tak membiarkan Giska pergi menghindar begitu saja.
Entah kesaktian apa yang Ela miliki, sehingga Bram berada di pihak nya. Apapun yang Giska katakan, Bram sama sekali tak mau tau. Alhasil, Giska jadi berdebat hebat dengan Bram. Apalagi kondisi Bram yang saat ini tengah sakit, emosinya semakin meledak dan tak terkendali. Ya, mungkin efek dari penyakit darah tinggi yang di deritanya.
Melihat Bram semakin tak terkendali, Giska pun memilih mengalah. Ia diam tak lagi membalas semua perkataan Bram. Ia takut jika Bram terus seperti ini, nanti akan berakibat fatal untuk kesehatan nya. Biar bagaimanapun juga Bram tetaplah orang tua yang Giska sayangi. Seburuk-buruk nya perilaku orang tua terhadap kita, dia tetaplah orang tua kita.
"Sudah, Pak. Bapak istirahat ya." Pinta Giska.
"Iya, Pak."
"Iya saja dulu, nanti biar ku urus belakangan. Yang penting Bapak sehat dulu. Hufttt... Bu Ela memang brekele ( umpatan ala Giska ) sekali!" Batin Giska.
"Ya sudah, aku cari daun alpukad dulu ya, Pak. Biar bisa buat jamu untuk Bapak."
"Iya."
***
Hari terus berlalu, tak terasa sudah satu minggu Giska berada di rumah nya. Selama ia di rumah, ia selalu hidup dalam kewaspadaan tingkat tinggi. Setiap ia mandi, ia selalu memakai pakaian nya. Jadi saat memakai sabun, tangannya lah yang selalu menelusup masuk ke dalam pakaian nya. Tak hanya saat mandi saja ia menjadi waspada, saat tidur pun ia selalu memakai baju double dan celana jeans double, serta tak lupa ia juga memakai ikat pinggang di celana nya. Terkadang ia sampai kegerahan karena selalu memakai baju dan celana double. Tetapi, itu semua ia lakukan demi keselematan nya sendiri.
Selama satu minggu ini Giska merawat Bram hingga kini Bram sudah semakin sehat. Karena Bram juga sudah semakin sehat, mungkin besok Giska sudah bisa kembali ke Bali lagi.
"Pak, besok aku berangkat ya. Tidak enak kalau libur terlalu lama. Nanti takutnya aku di pecat." Giska memberi alasan.
"Kalau di pecat ya kau pulang saja, Gis. Lebih baik kau cari kerja di dekat-dekat sini saja." Ucap Bram.
"Mmm, ya tidak bisa begitu, Pak. Giska sudah tanda tangan kontrak soalnya. Nanti kalau kontrak putus sebelum waktu nya, Giska akan di minta bayar ganti rugi." Entah darimana Giska dapat alasan seperti ini.
__ADS_1
"Ohh, ya sudah. Terserah kau saja."
Drtttt.... Drttttt..... Drttttt....
Tiba-tiba ponsel Giska berdering.
Giska menjadi sedikit gugup saat melihat ID pemanggil di layar ponsel nya. Namun, sebisa mungkin ia menutupi kegugupan nya.
"Siapa yang menelpon?" tanya Bram.
"Rissa, Pak. Teman SMP ku dulu." Jawab Giska berbohong. Pasalnya bukan Rissa yang menelpon nya, melainkan Bobby.
"Ya sudah, angkat saja."
"Iya, Pak."
Giska pun menjawab panggilan itu. Tak lupa ia meletakkan ponselnya ke dekat telinga.
"Hallo, Riss. Nyapo nelpon?" tanya Giska langsung.
( Kenapa nelpon )
"Haaa? Riss siapa? Bicara apa, Gis?" Bobby kebingungan.
"Tiyang nu ngorto jak Bapak, ne." Ucap Giska sedikit berbisik. Ia sengaja menggunakan bahasa Bali, supaya Bram tidak mengerti.
( Aku masih mengobrol dengan Bapak, ini )
"Ohh yo wes, Riss. Ngko tak telpon lagi yo." Ucap Giska kemudian.
( Ohh ya sudah, Riss. Nanti aku telpon lagi, ya )
"Bapak ke kamar dulu, Gis." Sela Bram tiba-tiba.
"Iya, Pak."
Giska menghela napas nya, "Bli, Bapak sudah masuk ke kamar nya." Ucap Giska, sembari ia berjalan ke belakang rumah. Biarkan saja ia menjauh, supaya Bram tidak mendengar.
"Hmm, Gis. Aku merindukanmu. Jelek sekali rasanya sembunyi-sembunyi seperti ini. Aku jadi tidak bisa bicara denganmu secara bebas." Keluh Bobby.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Bobby dan Giska ditunggu di next part ya..