
Di ruang persalinan, Giska tengah tegang menanti Trias akan melahirkan.
Di rumah sakit yang sama, Tia juga tengah tegang ingin melahirkan bayinya. Berbeda dengan Trias yang ditemani oleh Giska, di sini Tia ingin melahirkan bayinya tanpa ditemani oleh siapapun.
Tia bahkan tak memberitahu Bobby jika saat ini ia akan segera melahirkan. Meski hendak melahirkan di rumah sakit yang sama, namun Tia tidak melahirkan di ruang persalinan yang sama dengan Trias, melainkan ia memilih melahirkan secara sesar.
Sungguh tak diduga bukan? Tia dan Giska akan sama-sama memiliki bayi yang lahir di hari yang sama.
3 jam kemudian...
Oeekk... Oeeekk.... Oeeekkk...
Terdengar suara tangisan bayi yang baru saja dilahirkan di ruang operasi. Bayi itu adalah bayi Tia.
Suara yang sama pun terdengar di ruang bersalin. Trias juga berhasil melahirkan bayinya yang hanya ia kandung selama kurang lebih 7 bulan.
Bu bidan tengah menjahit luka robekan di area bawah Trias. Sementara staff lainnya yang bertugas membersihkan bayi yang baru saja dilahirkan itu.
Sementara Giska, ia kembali jatuh pingsan setelah melihat darah saat Trias melahirkan. Saat ini Giska tengah dibawa Bobby kembali ke UGD. Bobby langsung membawa Giska yang tengah pingsan dan ia meninggalkan Trias dan bayinya begitu saja di ruang bersalin.
Saat tiba di ruang UGD, dokter yang tadi memeriksa Giska terkejut.
"Lho, kenapa lagi istrinya, Pak?" tanya dokter itu.
"Pingsan lagi, Dok. Tolong diperiksa, saya takut terjadi apa-apa pada istri saya," ucap Bobby.
"Apalagi yang anda makan, Pak? Apa sebelum istri anda pingsan, anda kembali memakan buah tertentu secara berlebihan? Atau makanan lainnya?" tanya dokter.
"Tidak. Saya tidak makan apa-apa, Dok. Tadi istri saya pingsan karena menunggu temannya yang melahirkan. Istri saya ikut masuk ke dalam ruang bersalin, tapi tiba-tiba seorang perawat membawa istri saya keluar sudah dalam keadaan pingsan," jelas Bobby.
"Baik, saya akan memeriksa istri anda, Pak." Dokter pun mulai memeriksan Dinar lagi. Kali ini Dokter tetap membiarkan Bobby berada di ruang UGD ini.
"Tidak apa-apa, Pak. Semuanya normal. Sepertinya istri anda hanya sedikit kelelahan saja. Atau bisa jadi juga istri anda trauma jika melihat darah. Mungkin tadi istri anda pingsan setelah melihat darah," jelas dokter itu.
__ADS_1
"Biarkan istri anda istirahat dulu, Pak," tuturnya kemudian.
"Baik, Dok. Bayi kami juga baik-baik saja kan, Dok?" tanya Bobby.
"Kandungan istri anda baik-baik saja. Hanya saja perlu dijaga lebih ekstra lagi ya. Anda jangan sembarang memakan makanan yang bisa membuat perut istri anda kontraksi. Anda sudah paham kan dengan apa yang saya jelaskan tadi?"
"Iya saya mengerti, Dok. Saya akan menjaganya."
"Jarang terjadi kasus seperti ini, Pak. Hamil tetapi tidak tau." Dokter itu terkekeh sebelum akhirnya pergi dari sana.
Bobby kemudian beralih menatap Giska. Lalu ia memegang lengan Giska dan ia kecup berulang kali.
"Entahlah, mengapa kau bisa tidak menyadari bahwa kau tengah hamil, Sayang. Apa mungkin sebenarnya kau tau tetapi kau sengaja tidak ingin memberitahuku?" gumam Bobby. Ia menatap wajah Giska lekat-lekat. Ia pun kembali teringat akan hasil lab Giska yang diberitahukan oleh dokter tadi.
Hasil lab itu mengatakan bahwa saat ini Giska tengah hamil dan usia kandungannya sudah memasuki minggu ke 18.
Di hasil lab itu tertulis bahwa penyebab perut Giska mulas sampai dia pingsan itu karena Giska mengalami kontraksi. Penyebab kontraksi yang dialami Giska karena terlalu banyak memakan buah yang seharusnya tidak dikonsumsi oleh ibu hamil. Sebenarnya bukan tidak boleh, boleh dimakan ibu hamil tetapi tidak boleh terlalu berlebihan.
Beruntung janin Giska masih kuat. Karena kebanyakan wanita hamil yang mengalami kontraksi yang lumayan hebat ini, akan kehilangan janinnya.
Namun pertanyaannya itu akhrinya dijawab oleh dokter. Kata dokter, hal bisa terjadi kepada pasangan suami istri. Terkadang saat istrinya hamil, malah suami yang merasakan morning sick atau ngidam dan hal-hal lainnya.
Hal itu langsung disadari oleh Bobby. Selama hampir 3 bulan ini, ia selalu bersikap aneh. Terkadang ia mual jika mencium aroma parfum yang menyengat. Terkadang juga ia makan sangat banyak sekali. Dan terkadang juga ia sangat ingin makan sesuatu yang sebelumya tak pernah ia makan.
Seperti tadi saat ia membeli buah. Ketika melihat mangga dan nangka, ia langsung ingin memakannya di sana. Dan kebanyakan mangga yang ia makan adalah mangga yang masih muda dan belum terlalu matang. Itupun ia makan tidak dalam jumlah yang sedikit. Ehhh, ternyata perut Giska yang merasakan mulasnya.
Bobby rasanya masih tak menyangka jika sebentar lagi ia akan memiliki anak dari Giska. Hal yang ia impikan sejak lama, akhirnya terwujud juga.
Namun di tengah rasa bahagianya ini, ia teringat akan Ibu dan Ajiknya dan juga Bapak Bram yang sudah tiada. Mereka semua tidak bisa mendengar kabar bahagia ini secara langsung, tetapi Bobby yakin, mereka bisa melihat dan mendengarnya dari atas sana.
"Kenapa menangis, Bli?" Suara Giska mengagetkan Bobby.
"Sayang." Bobby langsung tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa tadi menangis? Apa terjadi sesuatu pada Trias dan bayi kita?" Giska seketika menjadi cemas. Ia berusaha ingin bangun dari ranjang pembaringannya. Namun Bobby langsung mengcegahnya.
"Aku tidak menangis, Sayang."
"Tapi itu ada air mata di pipimu, Bli. Jujur saja ada apa?" Gsika masih merasa cemas.
Seketika Bobby meraba pipinya. Ternyata memang benar ia menangis tetapi ia tak menyadarinya.
"Sayang aku tidak sadar jika menangis. Tetapi ini bukan air mata kesedihan, Sayang. Ini air mata bahagia," ujar Bobby.
"Benarkah? Itu artinya bayi kita baik-baik saja? Apa dia sudah lahir? Dia laki-laki atau perempuan?" Gsika langsung bersemangat.
Bobby langsung menghela napasnya. Ia tau yang dibicarakan oleh Giska ialah Trias dan bayinya.
"Sayang, berhentilah membicarakannya. Sekarang dengarkan aku, aku ingin menanyakan hal penting padamu. Kau harus jawab jujur," pinta Bobby.
"Apa?"
"Kapan kau terakhir kali datang bulan?" tanya Bobby.
"Aku tidak ingat. Kenapa menanyakan itu?" sahut Giska.
"Bulan lalu dan bulan ini, apa kau sudah datang bulan?" tanya Bobby lagi.
"Lupa aku, Bli. Mungkin sudah. Kenapa malah menanyakan hal ini?" sahut Giska.
"Apa kau tidak merasakan ada yang aneh pada perutmu?"
"Iya tadi mulas. Tapi sekarang tidak lagi," jawab Giska.
"Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku, Sayang?"
"Tidak. Kau ini kenapa, Bli? Sudahlah aku ingin menemui Trias dulu." Giska kembali beranjak bangun dan hendak pergi dari sana. Namun lagi-lagi Bobby menghentikannya.
__ADS_1
"Pikirkan dirimu juga, Gis! Saat ini kau sedang hamil. Kau harus jaga sikap dan kondisimu," ungkap Bobby.