
"Angkat! itu istrinya menelpon." Ucap Giska. Entah kenapa rasanya aneh sekali, dia mengucapkan kalimat itu.
Bobby pun mengambil ponsel itu. Sebelum ia menjawab panggilan itu, Bobby lebih dulu meminta Giska, agar tak bersuara.
"Sttt, diam dulu." Bobby menempelkan ibu jarinya ke depan bibir nya, sembari satu tangan nya menempelkan ponsel ke telinganya.
Giska mengangguk tanda mengerti.
"Hallo..." Sapa Bobby.
"........................."
"Ya, aku pulang sekarang." Ucap Bobby, kemudian ia pun mengakhiri panggilan nya.
Bobby menatap Giska, "Aku pulang ya." Ucap nya.
"Iya." Giska pun menjawab dengan cepat.
"Nanti akan ada orangku yang datang kemari, untuk mengganti kaca yang pecah. Satu lagi, jika mau makan, beli melalui online saja." Tutur Bobby.
"Aku tidak memiliki aplikasi nya." Jawab Giska jujur.
"Download dong, kan bisa."
"Aku tidak memiliki kuota."
"Astaga, bisa ya kau hidup tanpa kuota? padahal biasanya, orang-orang selalu mengeluh jika tak memiliki kuota." Bobby merasa heran.
"Bisa lah, kenapa memangnya kalau tidak memiliki kuota? toh juga kita makan nasi, bukan makan kuota." Jawab Giska dengan polos nya.
"Hmmm, iya, iya. Biar nanti aku saja yang memesan nya. Kau tunggu saja, nanti akan ada yang mengantar makanannya kemari!" seru Bobby.
"Iya." Giska mengangguk.
"Baiklah, aku pulang dulu. Nanti malam aku akan kesini." Ucap Bobby, kemudian ia melangkah keluar dari kamar, menuju pintu depan.
"Bukankah dia tadi juga mengatakan akan pulang? tapi kenapa sekarang malah di suruh pulang lagi? kemana dia tadi?" pikir Giska.
Ya, pagi tadi, usai Bobby mengantarkan Giska ke rumah baru nya, Bobby memang langsung pulang ke rumah nya. Baru sebentar Bobby berada di rumah nya, tiba-tiba saja, ia mendapat pesan dari Giska, yang menyuruhnya untuk datang ke rumah baru nya. Alhasil, Bobby pun kembali ke rumah Giska.
Beberapa jam kemudian.
Hari sudah menjelang sore. Beberapa jam yang lalu, kaca rumahnya juga sudah di perbaiki oleh orang suruhan nya Bobby. Makanan yang di pesan Bobby untuk Giska pun, sudah datang. Bahkan Giska langsung menghabiskan semua makanan itu. Setelah perutnya kenyang, Giska pun menjadi mengantuk. Alhasil, tidur lah dia, dan sampai se-sore ini belum terbangun.
Sementara di tempat lain.
Bobby yang langsung pulang, saat Tia menelponnya siang tadi. Saat ini, Bobby tengah menemani Tia, di kamar.
"Pa, kenapa tidak pulang semalam? tidur dimana?" tanya Tia, sembari tangan nya bermain-main, di dada Bobby.
__ADS_1
"Aku menginap di rumah gadis yang baru ku nikahi." Jawab Bobby jujur. Seketika Tia langsung menatap tajam kearah Bobby.
"Kenapa sampai menginap di sana? apakah semalam,-------" Tia tak meneruskan ucapannya.
"Menurutmu?" Bobby balik bertanya.
"Pasti kau ketiduran, ya. Karena tidak mungkin, kalian berdua melakukan itu semalaman." Tia berspekulasi sendiri.
"Kenapa kau bicara tidak mungkin? apa kau tidak kesal, jika aku bisa bercinta dengan gadis lain?"
"Kesal lah. Wanita mana yang bisa terima jika suaminya menikah lagi, apalagi sampai bercinta dengan gadis lain. Tapi, aku tidak yakin, jika kau bisa melakukan nya, Pa. Kita kan sama-sama tau, bagaimana milikmu itu. Melakukan denganku saja, tidak sampai tuntas." Ucap Tia.
"Lagi-lagi, dia meremehkanku. Bagaimana kalau dia tau, jika aku bisa menuntaskannya dengan Giska? malah aku ingin mengulanginya lagi. Tetapi, Giska nya malah menolak." Batin Bobby.
"Baru kali ini aku sampai memaksa istriku sendiri, untuk melakukan itu. Padahal dengan Tia, dialah yang suka rela memberikannya, tanpa perlu aku paksa. Tetapi sayang nya, aku tidak ingin melakukan dengan nya." Bobby terkekeh pelan. Ia benar-benar bingung dengan kehidupan nya ini. Sekarang dia memiliki 2 istri, yang 1 sangat agresif, sedangkan yang 1 lagi, selalu menolak.
"Kenapa malah diam?" Tia menyentuh bibir Bobby.
"Ucapanku benar, bukan?" tanya nya.
"Terserah kau mau berpikir apa, kau mau beranggapan apa." Jawab Bobby.
Tia tersenyum, "Aku benar berarti." Ucap nya penuh percaya diri.
"Segeralah selesaikan perjanjian ini, Pa. Setelah semua kembali normal, segera ceraikan dia." Ucap Tia.
"Ku rasa akan perlu waktu lama. Bukankah kau sendiri yang mengatakan, jika aku tidak bisa menuntaskan nya?" Bobby menatap Tia.
"Kalau kau yakin tidak akan bisa, kenapa juga kau menikahinya?" Tia bertanya.
"Aku melakukan ini, untuk membuktikan kepadamu, jika aku bisa melakukan nya. Aku juga ingin menunjukkan padamu, jika masih ada wanita yang bisa menerimaku." Ujar Bobby.
"Sudahlah. Jangan di bahas lagi!" seru Tia.
"Lakukan denganku, Pa." Tia langsung duduk di atas tubuh Bobby. Ia menciumi Bobby dengan lahap nya, ia mainkan dada Bobby dengan lihai nya.
"Aku lelah, Ma." Bobby menolak.
Tia mengabaikan penolakan Bobby. Tanpa berlama-lama, ia langsung melucuti pakaian nya sendiri.
"Apa kau tidak mau menyentuhku?" Tia meliuk-liukkan tubuh polos nya.
Semua pria normal, akan langsung bergairah jika melihat aksi Tia yang seperti ini. Tubuhnya yang sexy, dada yang besar, semua terlihat sempurna. Namun sayang nya, Bobby sama sekali tidak tergoda, Bobby melihat Tia seperti itu, rasanya biasa saja.
"Aku benar-benar lelah." Bobby kembali menolak.
"Ayolah, Pa. Sebentar saja." Tia memasang muka melas.
"Baiklah, lakukan apa yang kau mau. Bangunkan dia, jika dia mau bangun, aku akan melakukannya." Ucap Bobby.
__ADS_1
Nampak senyum mengembang di bibir Tia, ia pun dengan semangat memulai aksi nya. Meskipun ia tau, akan susah membangunkan milik Bobby, namun, ia tetap akan berusaha sekeras mungkin.
Beberapa saat kemudian.
Tia sudah memakai kembali pakaian yang tadi ia lepaskan. Ia duduk menatap Bobby yang masih merebahkan diri kasur.
"Kenapa menatapku? apa kau senang?" tanya Bobby.
Tia mendengkus kesal, "Bukan senang, yang ada aku, kesal!" serunya.
Bobby terkekeh, "Sudah ku katakan, bukan? aku sedang lelah." Ucap Bobby, ia pun memejamkan kedua matanya.
"Apa kurangnya aku, sih? kenapa dia sama sekali tak tertarik lagi padaku?" gerutu Tia.
***
Bobby baru saja membuka mata nya, ia menatap jam yang tertempel di dinding kamar nya, seketika matanya membulat lebar, mengetahui jika saat ini sudah pukul 20.00 WITA. Bobby beranjak bangun dan segera berlari ke kamar mandi.
20 menit kemudian.
Bobby sudah terlihat rapi dan wangi. Ia bersiap akan pergi ke rumah Giska.
"Dimana Tia?" Bobby menatap sekeliling rumahnya, namun ia tak mendapati Tia. Ia pun berencana menelpon Tia. Bobby mengambil ponsel nya dan ternyata sudah ada pesan masuk dari Tia, sejak satu jam yang lalu.
Maaf, aku pergi tanpa membangunkanmu, Pa. Aku pergi ke mall, dan kemungkinan akan pulang sedikit terlambat. ~ Tia.
Bobby tak membalas pesan dari Tia, ia pun langsung keluar menuju mobil nya, untuk segera pergi ke rumah Giska.
Saat di perjalanan, Bobby juga tak lupa membeli makanan untuknya dan Giska.
Setelah 20 menit menempuh perjalanan, tibalah Bobby di depan rumah Giska. Ia pun membuka pintu gerbangnya, lalu ia memasukkan mobilnya ke dalam halaman.
"Lho, Gis, kau dari mana?" tanya Bobby, sesaat setelah ia keluar dari mobil nya. Ia melihat Giska baru akan masuk ke rumah.
"Dari rumah sebelah, Bli."
"Rumah sebelah? rumah nya siapa? kenapa kau kesana?" rentetan pertanyaan keluar dari bibir Bobby.
"Rumahnya Trias. Temanku yang tadi siang itu, lho." Jawab Giska.
"Sudah ku bilang kan, jangan bergaul dengannya! kenapa kau tak mengerti juga!" seru Bobby.
"Tidak bisa, lah. Kami sudah berteman sejak kecil. Orang dia tidak memiliki salah apa-apa, kenapa juga aku tidak boleh bergaul dengan nya?" protes Giska.
Bobby menghela napas, "Ayo masuk!" Bobby menarik tangan Giska.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...