
Giska terlihat duduk di teras rumah nya. Penampilan nya terlihat simpel dan rapi, dengan memakai kaos lengan panjang warna putih serta di padukan dengan celana jeans panjang berwarna hitam. Rambut nya pun ia biarkan tergerai, sehingga sebagian rambutnya dapat menutupi sebagian wajah cantik nya.
Ia tak duduk sendirian di sana, melainkan di temani dengan tas pakaian yang kemarin ia bawa dari Bali, dan kini ia akan membawa nya kembali ke Bali.
Giska nampak sibuk dengan ponsel di tangan nya. Sejak tadi ibu jarinya sibuk menggeser-geser touch screen ponsel nya.
"Susah sekali sih mau pesan ojek!" Kesal nya. Ternyata ia sibuk memesan ojek melalui aplikasi online, untuk mengantarnya ke terminal. Namun sayangnya, sudah beberapa kali ia mencoba, ia masih belum mendapatkan ojek nya.
"Gis..." Panggil seorang tetangga yang kebetulan lewat di depan rumah Giska.
Giska pun menoleh, "Iya, Bu." Ia mengulas senyuman kepada Ibu itu.
"Kapan kau pulang?" tanya Ela. ( Nama tetangga Giska ).
"Kemarin siang, Bu."
"Ohhh... Ayo main-main ke rumah, Gis." Ajak Ela.
"Iya, Bu." Jawab Giska basa basi.
"Kau sudah rapi begitu, mau pergi kemana, Gis?"
"Emmm... Mau pu,----" Ucapan Giska terhenti, karena Bram tiba-tiba pulang ke rumah.
"Eh, Mas Bram, pagi-pagi begini, darimana?" sapa Ela pada Bram.
"Jalan-jalan pagi." Jawab nya singkat.
"Itu anakmu pulang, kok malah di tinggal jalan-jalan." Tegur Ela. Namun, Bram memilih diam tak mau menjawab. Giska pun sama, ia juga diam sembari menundukkan kepala. Giska sungguh tak ingin menatap muka Bram.
__ADS_1
"Wajahmu nampak pucat, Mas. Apa kau sakit lagi?" tanya Ela lagi.
Bram mengangguk, "Iya, badanku meriang. Kepala ku juga terasa pusing."
"Ya sudah, kau istirahatlah di dalam." Perintah Ela. Bram pun langsung masuk ke dalam rumah.
Sementara Bram sudah masuk ke dalam, di depan rumah tinggalan Giska dan juga Ela, yang masih lanjut mengobrol. Saking lama nya mereka mengobrol, Giska sampai melupakan keinginan nya, untuk memesan ojek online. Setelah cukup lama mengobrol, akhirnya Ela pun pamit pulang ke rumah. Sementara Giska, ia merasa dilema, setelah mendengar perkataan dari Ela, tadi. Saat mereka mengobrol, ada beberapa pembahasan yang membuat Giska merasa bingung. Di tengah kebimbangan hati nya, ia memilih tetap berada di teras rumah, daripada harus masuk ke dalam rumah.
"Mbak Giska..." Panggil seorang anak lelaki berusia sekitar 10 tahun. Dia adalah Riko, salah satu tetangga Giska.
"Eh, Riko. Ada apa?"
Riko pun mendekat ke arah Giska. "Boleh aku memberitahu sesuatu?" tanya Riko.
"Boleh dong! Mau memberitahu apa?"
"Waktu Mbak Giska tidak ada di rumah, aku pernah melihat Om Bram, sembunyi-sembunyi di dekat sumur, saat Tante Umi mandi." Ucap Riko sedikit berbisik di dekat telinga Giska.
Degg....
Jantung Giska seketika berdebar kencang, karena ia terkejut mendengar perkataan Riko.
"Apa mungkin Bapak tengah mengintip Tante Umi mandi?" Giska menerka-nerka. Tapi, sepertinya perkiraan Giska benar. Bram pasti sedang mengintip Tante Umi mandi.
"Astaga... Apa yang harus ku lakukan? Bagaimana jika semua orang sampai mengetahui hal ini?"
"Mungkin saat ini orang belum ada yg mengetahui nya. Tetapi, bagaimana suatu saat nanti, jika Bapak tidak bisa mengubah sikap nya? Apakah Bapak akan berbuat seperti ini terus? lalu bagaimana jika ada yang memergoki Bapak?" batin Giska. Ia sungguh takut akan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi suatu saat nanti.
"Emm... Riko..." Giska menarik Riko sedikit menjauh dari teras.
__ADS_1
"Siapa saja yang melihat?" tanya Dewi, pelan.
"Hanya aku saja. Waktu itu aku tidak sengaja lewat, eh aku melihat Om Bram sembunyi di dekat sumur." Jawab Riko polos.
"Riko, saat itu Om Bram sedang mencari cacing di dekat sana. Kau lihat kan, di sana ada beberapa batang pohon pisang yang sudah membusuk. Pasti banyak cacing nya di sana." Terang Dewi berbohong. Ia tak ingin anak sekecil Riko beranggapan buruk tentang Bram. Untung saja ia punya alasan yang tepat, yaitu mencari cacing. Ia tau Bram juga suka memancing, jadi, ini bisa ia jadikan alasan.
"Iya, Mbak. Ya sudah aku mau main dulu ya, Mbak." Pamit Riko.
"Iya, Rik."
Giska menghela napas dengan kasar, pikiran nya saat ini benar-benar kacau. Hati nya juga sakit, mengetahui sikap Bram yang sudah sangat keterlaluan. Selama ini, ia menutupi semua perbuatan Bram, karena ia tak ingin Bram merasa malu dan tak ingin Bram terkena masalah. Namun, sekarang kenyataan nya, Bram malah bertindak nekat dengan mengintip seorang wanita mandi.
Sungguh berat sekali beban yang Giska pikul. Di usia nya yang masih sangat muda, ia sudah harus berpikir layaknya orang dewasa yang sudah berumah tangga. Ia memikirkan nama baik, ekonomi dan yang lain-lain nya. Padahal masih ada 2 kakak perempuan nya, yang merupakan anak kandung Bram. Tetapi selama ini, mereka tak pernah ada, untuk membantu Bram dan juga Giska. Padahal, menurut yang Giska dengar, kakak nomer 2 Giska, hidupnya sangat berkecukupan, bahkan rumah nya juga tak begitu jauh dari rumah Giska. Mungkin, hanya perlu waktu sekitar 30 menit untuk sampai di sini. Tetapi, dia tidak pernah datang ke rumah Bram dan Giska. Sementara kakak yang pertama, ia ikut suami nya tinggal di Kalimantan. Ya, wajar jika dia tak pernah berkunjung.
"Aku rasa, aku tidak bisa pulang Ke Bali saat ini." Giska membatalkan niat nya untuk pulang ke Bali, pagi ini. Sebenarnya ia sudah tidak ingin berlama-lama di rumah. Namun, ia juga tetap lah sekarang anak yang sayang kepada orang tua nya. Bagaimana bisa ia meninggalkan Bapak nya yang tengah sakit?
Ya, Bram kembali sakit. Suara rintihan nya pun sampai terdengar hingga ke teras. Itu lah yang membuat Giska mengurungkan niat nya. Tanpa pikir panjang, Giska pun kembali masuk ke dalam rumah.
***
Di tempat lain.
Bobby nampak baru saja membuka kedua mata nya. Ia menatap ke sampingnya, nampak Tia masih tertidur sangat pulas di balik selimut tebal nya. Seketika Bobby tersadar akan apa yang sudah ia lakukan semalam bersama Tia
"Shiittt! Sungguh pusing sekali kepalaku." Bobby memegangi kepalanya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...