Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Akan Menjadi Ibu


__ADS_3

Giska yang baru saja sadar dari pingsan, tiba-tiba mendapat telpon dari nomor Trias. Saat ia jawab telpon itu, ternyata yang bicara bukanlah Trias, melainkan staff bidan yang menangai Trias. Staff itu mengabarkan bahwa saat ini Trias sedang berada di ruang persalinan di rumah sakit yang sama tempat Giska diperiksa.


Dengan keadaan yang masih lemas, Giska langsung pergi dari ruang UGD, bahkan ia langsung meninggalkan suaminya begitu saja.


Setelah sempat kebingungan mencari dimana letak ruang bersalin, akhirnya Giska menemukannya.


Seketika Giska langsung masuk ke dalam ruangan itu dan langsung menemui Trias.


Namun pada saat ia akan bicara dengan Trias, staff bidan itu memanggilnya.


"Iya, Bu?" Giska duduk di depan meja staff itu, yang terletak tak jauh dari ruang bersalin.


"Anda yang saya telpon tadi?"


"Iya, Bu.


"Menurut keterangan pasien, anda yang akan bertanggung jawab untuk semuanya pada pasien, Bu. Apa itu benar?" tanya staff itu.


"Iya benar. Apa teman saya itu benar akan melahirkan sekarang? Pasalnya usia kandungannya baru 7 bulan, Bu?" Giska bertanya.


"Benar, Bu. Saat saya cek tadi, pasien sudah mengalami pembukaan 8."


"Tapi, Bu? Bagaimana ini bisa terjadi? Usia kandungannya masih 7 bulan," sahut Giska merasa heran.


"Apa itu berarti bayinya nanti lahir prematur?" tanyanya kemudian.


"Benar, Bu. Kita tidak tau kondisinya nanti. Jika setelah lahir bayi lemah dan perlu mendapatkan perawatan khusus, maka bayi harus masuk ke ruang inkubator. Tetapi ada beberapa kasus yang seperti ini, bayinya juga bisa saja sehat normal seperti bayi yang lahir du usia kandungang 9 bulan 10 hari. Saya lihat memang bayi pasien ini sudah siap untuk lahir, Bu," jelas staff bidan itu.


"Anda harus segera mengurus pendaftaran pasien. Ada beberapa surat yang harus anda tanda tangani juga, untuk memastikan bahwa anda benar penanggung jawab dari pasien," jelasnya lagi.


"Baik."


Giska segera mengisi formulir pendaftaran atas namanya sendiri. Ya, ia menulis nama Trias dengan namanya sendiri, Giska. Hal ini sudah dibicarakan sejak awal dengan Trias. Saat melahirkan nanti memakai nama Giska saja, agar semuanya akan semakin mudah. Mudah dalam mengurus akta kelahiran dan surat-surat lainnya. Karena pada saat bayi sudah lahir, Giska lah yang langsung mengambil alih. Sementara Trias sudah tak ingin ada sangkut pautnya lagi.

__ADS_1


Setelah pendaftaran selesai, Giska akhirnya bisa masuk untuk menemui Trias.


Trias terlihats sudah di infus di pergelangan tangannya. Ada beberapa alat juga yang tertempel di perut Trias dan tersambung pada sebuah monitor kecil yang ada di meja sebelah ranjang Trias.


Dug.. dug... Dug...


Seperti itulah bunyi monitor itu. Kata staff bidan itu adalah suara detak jantung sang bayi.


"Tri, bagaimana keadaanmu?" Giska menggenggam tangan Trias. 


"Perutku tiba-tiba saja kram, Gis. Kramnya sangat aneh, seperti mulas begitu. Eh saat diperiksa ternyata aku mau melahirkan," ucap Trias.


"Bagaimana ini, Gis? Mengapa aku harus melahirkan sekarang? Bagaimana dengan bayimu nanti, Gis? Aku takut sekali." Trias terlihat begitu cemas, sekaligus menahan sakit di perutnya.


"Tidak apa-apa, Trias. Tadi Ibu bidan sudah menjelaskan semuanya padaku. Beberapa orang yang melahirkan di usia kandungan 7 bulan, bayinya juga sehat. Ya semoga juga hal yang sama terjadi padamu, Tri," tutur Giska.


"Aku tidak ingin melahirkan sekarang, Gis," celetuk Trias.


"Lahh, kau ini bagaimana. Bu bidan sudah memeriksamu dan kau akan melahirkan hari ini. Kepala bayinya juga sudah berada dijalan kelahiranmu. Mana bisa bayinya didorong masuk lagi." Giska terkekeh. 


"Aduhhh perutku." Trias memekik kesakitan.


"Aahhhh sakitt." 


"Tri, kau yang kuat ya. Aku ada di sini, menemanimu." Giska mengusap lembut punggung Trias. Sesekali ia juga mengusap perut Trias dengan lembut, sambil ia berkata, "Nak, jika kau ingin lahir sekarang, maka segeralah lahir dengan tenang ya, Nak. Jangan buat Trias sakit ya, Nak."


"Din, bagaimana dengan baju bayi dan perlengkapan lainnya? Kau kan belum belanja sama sekali, Gis? Kata Bu bidan tadi, saat bayi akan lahir, minimal ada pakaian sepasang dulu, untuk dipakai bayinya," ucap Trias, ia mengingat perkataan staff bidan tadi.


"Oh iya, kau benar. Kita baru akan belanja besok kan? Tapi ternyata bayinya akan lahir hari ini," gumam Giska.


"Permisi..." Bobby datang dan ikut masuk ke ruang bersalin itu. Untung saja setengah badan Trias tertutupi oleh selimut, jadi Bobby tidak melihat bagian penting milik Trias.


"Ahh kebetulan Bli Bobby di sini." Giska langsung berdiri dan mendekati Bobby. Namun sebelum ia bicara pada Bobby, Bobby sudah lebih dulu bicara dan memeluknya.

__ADS_1


"Sayang.... Selamat ya. Sebentar lagi kau akan menjadi Ibu," ucap Bobby penuh semangat. Ia bahkan berulang kali mengecupi pipi Giska.


Giska sempat terkejut mendengar dan melihat sikap suaminya ini. Tetapi kemudian ia langsung tersenyum setelah menyadari suaminya akhirnya benar-benar mau menerima anak Trias.


"Bli Bobby juga senang?" tanya Giska, sesaat setelah pelukan terlepas.


"Tentu saja, Sayang. Aku bahkan sangat senang." Bobby tersenyum lebar.


"Syukurlah, Bli. Aku pikir selama ini kau masih keberatan dengan keputusanku ini. Tapi ternyata aku salah mengira." Giska ikut tersenyum.


"Akhhhhhh!" Lagi-lagi suara Trias terdengar memekik kesakitan. Giska yang sedang bicara dengan Bobby, pun sontak langsung berbalik menatap Trias. Lalu ia kembali menatap Bobby.


"Bli, bisakah kau keluar sebentar. Pergilah ke toko baju bayi. Tolong belikan beberapa baju bayi dan perlengkapan lainnya untuk bayi kita nanti," pinta Giska. Ia bahkan tak ragu lagi meminta pada Bobby.


"Sekarang?" 


"Iya, Bli. Bayi kita akan lahir sebentar lagi. Aku bahkan belum membeli bajunya satupun," sahut Giska.


"Tapi...."


"Tapi apa? Itu kau tidak lihat Trias sedang kesakitan, Bli. Dia sudah bukaan 8. Apa kau mau saat bayi kita lahir tidak dipakaikan baju? Nanti kalau masuk angin bagaimana? Kan kasihan, baru juga lahir masa sudah dibiarkan masuk angin," cerocos Giska.


"Iya-iya baiklah. Ayo kau juga ikut saja. Aku tidak mengerti model seperti apa bajunya," ujar Bobby.


"Tidak bisa. Aku harus di sini menemani Trias. Baju bayi kan modelnya ya begitu, Bli. Nanti tanya saja pada penjualnya. Pasti diberi tau," sahut Giska.


"Ya baiklah. Tapi warna apa yang harus ku beli. Anaknya perempuan apa laki-laki?" tanya Bobby.


"Oh iya kita belum tau jenis kelaminnya, Bli. Aku baru mau mengajak Trias USG besok. Tetapi belum sempat USG malah sudah mau lahir," celetuk Giska.


"Iya jadi beli warna apa bajunya?" tanya Bobby lagi.


"Beli yang netral saja, Bli."

__ADS_1


"Ya sudah. Aku akan membelinya. Kau tetaplah di sini, jangan pergi kemana-mana. Jangan kecepean juga. Duduk saja di sana," tutur Bobby.


"Iya-iya baiklah."


__ADS_2