
Gung De dan Astuti sudah menengok besannya di kamarnya. Karena besannya sedang istirahat, mereka berdua pun kembali duduk ke ruang tamu.
Sementara Giska masih di sibukkan dengan menelpon kakak-kakaknya dan saudara lainnya untuk memberitahukan keadaan bapaknya sekarang, jadi ia pun belum bisa bicara banyak dengan Gung De dan Astuti.
Giska tampak fokus pada ponselnya. Ia berulang kali terdengar bicara dengan seseorang yang tak lain adalah anak kandung bapaknya.
Dan di ruang tamu, Gung De dan Astuti tampak mengobrol dengan Siti dan beberapa tetangga lainnya. Para tetangga itu pun terdengar membicarakan Bram di depan Gung De dan Astuti.
Giska yang mendengarnya dengan sayup-sayup pun hanya bisa diam saja. Satu sisi ia merasa kecewa dengan bapaknya. Bahkan kejadian pagi ini sampai menumbuhkan kembali rasa trauma yang berusaha ia sembuhkan. Namun di sisi lain, ia juga sayang pada bapaknya. Mau segimanapun bapaknya, Bram tetaplah bapaknya. Jadi kalau ada orang yang membicarakan keburukan bapaknya, Giska akan merasa sangat sedih. Ia pun menjadi nelangsa.
Prinsip Giska adalah. Biarkan saja dirinya yang di anggap jelek oleh masyarakat. Asal jangan bapaknya yang di anggap jelek. Namun sayangnya, ia tak bisa menutup mulut semua orang yang saat ini menjelekkan bapaknya.
"Bagaimana, Gis? Sudah bisa di telpon?" tanya Siti. Ia baru saja menghampiri Giska.
"Sudah, Mbak."
"Ya syukurlah. Biar anaknya bapakmu juga datang ke sini. Biar dia tau kondisi bapakmu," ucap Siti.
"Biar bagaimanapun, kalian saudara. Jadi kalau ada apa-apa dengan bapakmu, kau harus memberitu kedua mbakmu, Gis," tutur Siti kemudian.
"Iya, Mbak. Mbak Narti (Anak kedua Bram) sudah kuberitahu.Tapi aku tak memberitahu Mbak Ani (Anak pertama Bram) karena dia kan jauh. Dia ada di Kalimantan. Tapi aku sudah memberitahu Mita kok," ucap Giska.
"Mita siapa?" tanya Siti.
__ADS_1
"Itu cucunya bapak. Anaknya mbak Ani dengan suami pertamanya," jawab Giska.
"O ya sudah. Kau temuilah bapakmu dulu. Pijit-pijit saja dulu kakinya," tutur Siti.
"Aku masih tidak enak, Mbak. Takutnya bapak masih marah padaku," sahut Giska sendu.
"Hmm. Ada-ada saja kalian ini. Kalian berdua bertengkar sampai ada kejadian seperti ini. Semua orang jadi membicarakanmu dan bapakmu sekarang ini," ucap Siti.
"Memang aku yang salah, Mbak. Mau bagaimana lagi. Aku belum bisa membahagiakan bapakku," ucap Giska sembari menundukkan kepalanya.
"Bukan kau yang salah. Bapakmu saja yang kurang bersyukur. Sudah enak tidak usah kerja. Tinggal makan tidur saja. Uang juga kau kirimi terus. Lha ini uang telat sehari saja, kok sampai minum obat hama," lontar Siti.
"Apa dia tak kasihan padamu. Kau kerja jauh-jauh cari uang untuk dia. Tapi dia tidak bisa bersyukur. Ini namanya menyiksa anak," lanjutnya.
"Ya sudahlah. Jangan bicara apa-apa lagi. Aku mau menemui ajik dan ibu dulu. Mereka berdua sudah datang sejak pagi. Tapi aku sibuk menelpon sana sini," ucap Giska kemudian. Ia pun langsung menghampiri Gung De dan Astuti.
______
"Maaf, Jik, Ibu. Saya malah sibuk sendiri." Giska menghampiri ajik dan ibunya Bobby. Ia merasa tak enak pada mereka berdua.
"Tidak apa-apa, Nak. Kemarilah." Astuti tersenyum sembari meminta Giska untuk duduk di sebelahnya.
"Sebenarnya ada masalah apa sih, Gis? Kenapa bapakmu sampai seperti itu?" tanya tetangga Giska tiba-tiba.
__ADS_1
"Hanya karena salah paham sedikit, Mbak. Ini salahku juga," jawab Giska. Ia tak mungkin bicara kejadian yang sebenarnya kan? Itu akan menjadi aib nantinya.
"Pasti bapakmu memintamu untuk tinggal di rumah dan kau bisa menikah di sini? Iya kan?" tebak tetangganya.
"Bapakmu ada benarnya juga, Gis. Kau harusnya memikirkan bapakmu," ucapnya kemudian.
"Iya kan, Bu?" Kemudian tetangganya itu beralih meminta pendapat pada Astuti.
Seketika itu juga, Astuti da Gung De pun saling pandang. Lalu mereka berdua pun tersenyum ke arah tetangga Giska itu.
"Benar, Bu." Astuti menjawab.
"Nak, kau telponlah Bobby dulu. Dia sudah menunggu kabarmu." Astuti beralih pada Giska.
"Tapi, Bu----"
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1