
"Oh iya, Bli. Bapak kemarin telpon, Bapak menanyakanmu. Bapak tanya tentang janjimu waktu itu. Kata Bapak ini sudah lewar dari 3 bulan, Bli." Ucap Giska tiba-tiba.
"Iya, Gis. Maafkan aku ya,"
"Kok minta maaf?"
"Ya aku sudah ingkar janji pada Bapak. Harusnya aku bisa menyelesaikan semua ini dalam 3 bulan. Tetapi sekarang keadaannya malah begini. Tia saat ini sedang hamil, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa."
"Memangnya apa sih rencana Bli Bobby? Apa yang mau Bli Bobby selesaikan?" tanya Giska.
"Ada lah pokoknya, Gis. Ini menyangkut hubungan kita kedepannya juga. Sebenarnya tinggal sedikit lagi, Gis. Ada beberapa yang sudah selesai dan sudah siap tetapi ada juga 1 hal yang belum bisa aku selesaikan sampai sekarang." Ucap Bobby.
"Terus maksudnya ini bagaimana? Apa harus menunggu Bu Tia melahirkan baru kau menepati janjimu pada Bapak? Mana mau Bapak menunggu lama lagi?" keluh Giska.
"Tidak juga, Gis. Aku akan usahakan secepatnya. Nanti kita pulang ke Surabaya bersama-sama ya. Nanti aku akan bicara sama Bapak," bujuk Bobby.
"Terus aku harus bilang apa sama Bapak nanti?" Giska berubah sendu.
"Kau tidak perlu bilang apa-apa, Gis. Biar nanti aku yang bicara sama Bapak. Aku sendiri yang menelpon Bapak nanti. Kau tenang saja, ya."
"Bli Bobby kan tau sendiri, bagaimana keras kepalanya Bapak. Aku tidak yakin kalau Bapak akan diam saja setelah ini. Aku takut Bapak benar-benar tidak akan mengizinkanku tinggal di Bali lagi. Aku takut Bapak akan menyuruhku menikah dengan orang lain, nanti!" ucap Giska.
"Heiii, Sayang... Aku tidak akan membiarkanmu dinikahi oleh orang lain. Kau ini istriku! Bagaimana bisa kau menikah dengan orang lain!"
"Iya tapi kan Bapak tidak tau kalau aku sudah menikah dengan Bli Bobby. Bapak taunya kita hanya sebatas pacaran saja. Bahkan Bapak juga tidak tau kalau kita sudah sering melakukan hubungan di atas ranjang. Aku tidak mau kalau nantinya aku harus mengulang semuanya lagi dengan pria baru. Dengan susah payah aku memberanikan diri, susah payah aku menyesuiakan semua ini dengan Bli Bobby, aku tidak mau kalau aku harus memulainya dengan orang lain lagi. Itu semua tidak mudah untukku, Bli!" cicit Giska.
"Siapa yang mau menyerahkanmu pada orang lain, Gis! Kau ini istriku. Hanya aku yang boleh memilikimu!"
"Sampai kapanpun aku tak akan membiarkanmu pergi dariku, Gis. Apapun halangannya, aku akan menerjangnya, sekalipun itu Bapakmu sendiri."
"Kau tenang saja, Gis. Aku sudah memikirkan semuanya. Aku sudah memiliki gambaran sendiri. Aku pasti akan memenuhi janji yang ku buat pda Bapak. Tapi mungkin, waktunya saja yang sedikit molor. Mau bagaimana lagi? Tia sedang hamil. Aku jadi tidak bisa bergerak banyak." Jelas Bobby.
"Ya ya, Bli. Aku percaya sama kamu." sahut Giska.
"Iya, Sayang." Bobby pun mengecup kening Giska.
"Ngomong-ngomong, apa kau sudah sesayang itu padaku? Sampai-sampai kau takut kehilanganku?" goda Bobby.
"Bukan begitu, Bli. Aku hanya tidak ingin menjalin hubungan baru lagi. Itu sebabnya aku menagih janji Bli Bobby," elak Giska. Ia tak mau mengakui kalau ia memang sudah menaruh hati pada Bobby.
Selama ini Giska memang tak pernah mengungkapkan isi hatinya melalui kata-kata. Tetapi, mungkin sikap dan perilakunya selama ini membuat Bobby mengerti kalau sebenarnya sudah ada cinta di hati Giska untuk Bobby.
"Aku harap pemikiranku tidak salah, Gis. Selama ini aku merasa kalau kau sudah mulai mencintaiku," batin Bobby tersenyum. Ia pun kembali mengecup kening Giska dengan sangat lama.
"Tidurlah, aku akan menemanimu di sini." Bobby mengusap rambut Giska.
__ADS_1
"Hmmmm."
"Bli..."
"Apa?"
"Boleh aku balik badan? Aku ingin tidur membelakangimu," ucap Giska ragu.
"Kenapa? Apa kau marah padaku?" Bobby menatap Giska tajam.
"Tidak." Giska langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya ingin saja. Nanti Bli Bobby kan bisa memelukku dari belakang," ujar Giska.
Bobby terkekeh. "Jadi kau ingin aku peluk dari belakang?" tanyanya.
"Iyaa."
"Ya sudah, sana berbaliklah!"
Giska pun langsung membalikkan badannya. Kini ia sudah memunggungi Bobby. Dan Bobby pun langsung memeluknya dari belakang.
_________________
Giska yang sudah tertidur pulas. Ia tak sadar kalau Bobby sudah tak memeluknya lagi. Bahkan ia juga tak sadar kalau Bobby sudah memakaikan selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Sepertinya ia benar-benar sudah masuk ke alam mimpinya. Mungkin ia kelelahan setelah pergulatannya dengan Bobby. Itu sebabnya ia benar-benar sangat pulas tidurnya.
Sementara Bobby, saat ini ia sedang duduk di sofa sambil memandangi layar ponselnya. Ibu jarinya nampak tengah mengetik sesuatu di layar ponsel itu.
Ting!
Bunyi pesan masuk di ponsel Bobby.
*Aku ingin makan roti Conato, Pa. Kau harus mencarikannya sekarang juga! ~ Tia*.
Bobby pun langsung mengetik pesan balasan untuk Tia. Nampaknya ia sibuk bertukar pesan dengan Tia.
*Mana ada Conato buka tengah malam begini? Ini sudah pukul 01.43, Tia. Besok saja ya. ~ Bobby*.
__ADS_1
**Ting**!
*Salah sendiri ponsel dimatikan sejak tadi! Aku sudah menelponmu berkali-kali tetapi kau tak menjawabnya. Pokoknya aku tidak mau tau! Beli rotinya sekarang juga! Atau kalau tidak, kau saja yang jadi gantinya, Pa. ~ Tia*.
*Aku? Gantinya? Maksudnya? ~ Bobby*.
*Kalau tidak bisa mendapatkan rotinya, kau pulang saja. Usap-usap perutku ini, biar nanti anak kita tidak ileran. Cukup kau ada di sini, pasti anak kita tidak minta apa-apa lagi. ~ Tia*.
Bobby menghela napasnya. "Apa iya aku pulang sekarang? Tapi masa iya aku pulang tanpa memberitahu Giska?" pikirnya. Ia menatap Giska yang saat ini masih tertidur pulas.
Drrtttttt!
Drrrttttt!
Belum juga lama, Tia sudah langsung menelpon Bobby.
"Besok saja aku carikan rotinya. Sekarang kau tidurlah saja! Jangan begadang karena itu tidak baik untuk janinmu!" seru Bobby.
"Aku tidak mau! Kau harus pulang atau kau carikan rotinya!" seru Tia.
"Yaya, baiklah. Tunggu!"
Tutttt.
Bobby langsung mengakhiri panggilannya.
"Apa orang hamil memang seperti ini?" gumam Bobby sedikit kesal.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1