
1 bulan kemudian...
Seorang gadis tengah asyik bercerita pada sahabatnya. Menceritakan tentang kisah cintanya yang selalu gagal, juga pekerjaan yang semakin lama semakin membuatnya tak nyaman, lalu penghianatan yang dilakukan oleh teman sendiri dan juga bercerita tentang keluarga yang bersikap tak adil.
Emosi pun terpancar dari gadis itu. Emosi bercampur air mata kesedihan terpampang nyata di wajahnya. Bahkan ia sesekali tampak memeluk sahabat yang kini duduk di sebelahnya itu.
Namun sang sahabat tampak diam saja tak memberi respon apapun, sejak awal cerita dimulai sampai cerita berakhir. Hal itu baru disadari saat sudah tak ada lagi yang akan diceritakan. Sontak gadis itu pun menegur sahabatnya seraya memasang wajah kesal.
"Jadi kau tidak mendengarkanku sejak tadi? Kau ini jahat sekali sih, Gis! Aku datang ke sini karena aku ingin membagi masalahku denganmu. Aku pikir kau masih sahabatku yang mau mendengarkan keluh kesahku ini, tapi ternyata kau malah mengabaikanku!" tegur Trias pada Giska.
Giska yang semula menundukkan kepalanya, ia lalu mengangkat kepalanya lalu ia menatap Trias yang masih duduk di sebelahnya itu. "Maaf." Hanya kata itu yang terucap dari bibirnya.
"Ahh kau sudah tidak asyik, Gis! Sia-sia aku cerita panjang lebar sejak tadi. Ya sudahlah, lebih baik aku pulang saja!" Trias beranjak bangun dari duduknya lalu ia pun berlalu pergi meninggalkan Giska.
Sepulang Trias dari rumahnya, pun Giska kemudian beranjak bangun dari duduknya, lalu ia berjalan ke kamarnya.
Sementara Trias, ia keluar dari rumah Giska dengan mulutnya yang tak berhenti mengomel. Ia bahkan terdengar berulang kali mengumpat karena saking kesalnya tak ada tempat yang mau mendengarkan keluh kesahnya itu.
"Orang-orang pada kenapa sih? Semuanya menyebalkan! Giska juga, kenapa dia jadi seperti ini? Tumben sekali dia tak menganggapku seperti ini? Apa dia sudah tidak mau berteman denganku lagi?" Trias mengomel sendiri.
"Ternyata semua orang memang saja." Trias tersenyum getir.
"Kenapa kau keluar-keluar langsung mengomel sendiri? Apa kau bertengkar dengan Giska?" tanya Bobby yang tak sengaja berpapasan dengan Trias di halaman rumah Giska.
"Beritahu Giskamu itu. Kalau dia sudah tak mau berteman denganku ya langsung saja katakan. Jangan seperti ini! Bikin aku semakin kesal saja. Lebih tepatnya aku sedih dan juga kesal!" cerocos Trias pada Bobby.
"Apa dia mengabaikanmu?" tebak Bobby.
"Iya. Kesal sekali aku."
"Jadi Giska tidak mengatakan apapun padamu?" tanya Bobby.
__ADS_1
"Mengatakan apa? Dia bahkan tak bicara. Eh tidak, dia hanya bicara maaf saja. Hanya itu. Ah sudahlah, lebih baik aku pergi."
"Kau jangan berfikiran buruk tentang Giska. Karena kau tidak tau apa yang sedang terjadi padanya," tegur Bobby. Seketika teguran itu membuat Trias mengurungkan langkahnya yang ingin pergi dari sana.
"Memangnya apa yang terjadi padanya?" tanya Trias.
"Bukan hakku untuk memberitahumu. Biar Giska yang memberitahumu nanti."
Usai mengatakan itu, Bobby pun melenggang masuk ke dalam rumah, meninggalkan Trias yang masih berdiri di halaman.
"Kalian berdua memang sama saja!" teriak Trias yang masih di dengar Bobby.
Bobby pun tak menanggapinya lagi karena ia juga sudah berada di dalam rumah. Ia pun segera pergi ke kamar untuk mencari Giska.
"Sayang..." Bobby memanggil ketika ia sudah berada di depan kamar. Ia pun langsung masuk ke kamar tanpa menunggu Giska menjawabnya.
"Sayang..." Bobby langsung menghampiri istrinya yang sedang duduk di lantai sambil memeluk lututnya itu. Kemudian ia pun langsung memeluk istrinya, lalu ia membimbing istrinya untuk naik ke kasur.
Giska menganggukkan kepalanya pelan. "Semua itu masih terngiang di kepalaku, Bli. Aku bahkan masih ingat betul saat-----" Giska tak bisa melanjutkan perkataannya karena ia sudah menangis.
Flashback On.
Pagi hari, dua minggu yang lalu, Giska menyeka tubuh Pak Bram dengan kain washlap. Setelah memastikan tubuh Pak Bram bersih, Giska pun segera memasang popok dewasa pada Pak Bram, kebetulan juga tadi Pak Bram baru saja buang air besar. Lalu kemudian ia memasang ****** ***** dan juga ditambahkan dengan celana pendek rumahan pada Bram. Namun, ia tidak memakaikan baju pada Pak Bram karena biasanya Pak Bram selalu menolak mengenakan baju.
Setelah memastikan Pak Bram bersih dan harum, ia kemudian menyuapi Pak Bram dengan bubur sumsum yang tadi ia beli di dagang sayur keliling.
Setelah hampir sepuluh menit, ia pun akhirnya selesai menyuapi Pak Bram. Pagi ini cukup banyak bubur sumsum yang mau ditelan oleh Pak Bram. Berbeda dengan biasanya, mau makan sesuap saja sudah sangat bersyukur sekali.
Giska pun merasa senang pagi ini. Ia menganggap kalau ini adalah kemajuan besar. Jika setiap hari bapaknya mau makan seperti ini, maka semakin cepat bapaknya akan kembali pulih.
Buntut dari kesenangan Giska itu pun membuat Giska semangat mengurus bapaknya. Ia pun berinisiatif untuk membersihkan telinga dan kuku bapaknya. Apalagi sejak tadi bapaknya terlihat diam dan pasrah saja, tak melakukan protes apapun seperti yang setiap hari dilakukan oleh bapaknya selama sakit ini.
__ADS_1
Giska mulai tengkurap di samping bapaknya, lalu kemudian ia mulai mengarahkan pembersih telinga pada telinga kiri bapaknya. Ia melakukannya dengan perlahan karena ia takut jika menyakiti bapaknya. Ketika ia sudah mendapatkan sedikit kotoran di telinga itu, ia pun segera menarik pembersih telinga itu.
Haaaa. Tiba-tiba terdengar bapaknya menarik nafas panjang.
Haaa. Dua kali tarikan nafas panjang bapaknya, membuat Giska menghentikan aktivitasnya. Ia kemudian menatap wajah bapaknya. Kedua mata masih terbuka lebar, menatap lurus ke depan, dengan bibir yang masih terbuka. Lalu kemudian Giska memperhatikan dada bapaknya.
"Pak," panggil Giska.
Dugg... Dugg... Dugg...
Entah kenapa tiba-tiba jantung Giska berdetak tak karuan. Perasaan aneh pun muncul. Rasanya ia benar-benar tak tenang. Apalagi saat ia memegang dada bapaknya, ia merasakan tak ada pergerakan dari detak jantung bapaknya.
"Pak..." Giska memanggil ulang bapaknya hingga berkali-kali, namun tak ada respon sama sekali. Di saat itulah Giska menyadari kalau bapaknya telah tiada.
"Bapakkkk....."
Flashback Off.
"Ikhlaskan Bapak, Gis. Bapak sudah tenang di sana sekarang," tutur Bobby sembari mengusap punggung istrinya. Ia mencoba menenangkan istrinya yang kini tengah menangis.
"Bapak tiada tepat di sampingku, Bli. Bagaimana bisa aku melupakan semua itu?" ucap Giska sembari menangis.
"Tak ada orang lain lagi di sana selain aku, Bli. Aku bahkan belum selesai membersihkan telinganya. Aku juga belum sempat membersihkan kukunya. Tapi Bapak sudah pergi."
"Aku menyesal karena aku sempat mengabaikan Bapak tiga hari sebelum Bapak tiada. Bagaimana aku bisa menebus semua itu, Bli?" Hikkss... Hiksss....
..
..
..
__ADS_1
Bersambung...