Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Mungkin Aku Akan Menyusulmu


__ADS_3

Bobby langsung pergi usai menerima telpon dari seseorang. Ia meinggalkan Tia dan juga Roy di rumahnya.


Dan di sinilah sekarang Bobby berada. Di pinggir jalan tak jauh dari terminal Mengwi.


"Kenapa kau baru menelponku saat Giska sudah pergi!" bentak Bobby pada Kadek.


Ya, tadi Kadeklah yang menelpon Bobby. Kadek memberitahu bahwa Giska akan pulang ke kampungnya. Namun Kadek menelpon Bobby pada saat Giska sudah pergi naik bus.


"Kau tau ini tengah malam. Dan kau biarkan Giska pulang sendirian! Kau ini bodoh atau apa?" kesal Bobby.


"Maaf, Bos. Tapi kan saya tidak mungkin ikut Giska pulang ke kampungnya?" sahut Kadek.


"Aku tidak memintamu untuk ikut Giska pulang! Tapi setidaknya kau kan bisa telpon aku dulu sebelum Giska naik bus!" seru Bobby.


Saking kesalnya Bobby, ia sampai tega memarahi Kadek di pinggir jalan.


Meski Kadek tomboy tapi ia pasti sedih jika dimarahi seperti ini oleh Bosnya, sekaligus suami dari temannya itu. Ia pun merasa serba salah. Ia berniat menolong Giska dan ternyata ia di anggap salah oleh Bosnya.


"Maafkan saya, Bos. Tadi saya mau menelpon Bos, tapi Giska melarang saya. Sepertinya Giska tengah kesal kepada Bos," ujar Kadek. Ia berusaha menjelaskan pada Bobby.


"Sudahlah! Kau pulanhlah, Dek! Besok kau harus kerja!" perintah Bobby.


"Tapi Bos. Bagaimana dengan Bos di sini?" tanya Kadek.


"Aku akan menyusul Giska jika keadaan memungkinkan. Kau pulanglah!"


"Baiklah, Bos. Selamat malam." Kadek pun berjalan ke arah motornya. Lalu ia pun menaiki motornya dan ia pun pergi meninggalkan Bobby di sana.


Sementara Bobby, ia pun berusaha menghubungi Giska. Namun berulang kali ia mencoba, Giska masih tak mau menjawab panggilannya.


"Kenapa kau begitu kesal padaku, Gis?" gumam Bobby bertanya.

__ADS_1


"Apa karena aku meninggalkanmu saat kau tidur tadi? Tapi tadi aku pergi bukan tanpa alasan, Gis. Aku pergi karena Tia sedang ngidam," gumam Bobby. Ia seolah menjelaskan pada Giska padahal Giska tak ada di depannya.


"Kau tadi tidur sangat pulas. Dan aku tau kau kelelahan, itu sebabnya aku tak pamit denganmu. Aku tak mengira jika kau semarah ini padaku," gumam Bobby sendu.


"Kau pasti sangat sedih sekarang ini. Kau pasti cemas memikirkan keadaan bapak di rumah," gumam Bobby.


"Kau pantas kesal padaku, Gis. Karena aku bukanlah suami yang baik. Harusnya di saat seperti ini, aku ada di sampingmu. Harusnya aku yang mengantarmu pulang. Tapi aku malah terlambat mengetahuinya." Bobby terus bergumam sendiri. Ia benar-benar menyesali ketidakbecusnya sebagai seorang suami.


Bukan hanya pada Giska. Bobby juga merasa tak becus menjadi suami Tia. Seperti tadi saat Tia ingin makan roti conato, Bobby malah tak bisa mendapatkan roti itu. Dan Malah Roy yang berhasil.


Dan sekarang, niat hati ingin mengejar Giska yang hendak pulang, ia sampai meninggalkan Tia di rumah bersama Roy. Dan hasilnya apa? Ia tetap tak bisa mengejar Giska dan ia juga tak bisa menemani Tia.


Bobby pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia akan menemani Tia dulu untuk malam ini. Lalu setelah pagi datang, mungkin ia akan langsung pergi menyusul Giska ke Surabaya.


°°°


"Roy, kau masih di sini?" tanya Bobby.


"Iya, aku menemani Tia." Roy menjawab.


"Kau ini suami macam apa! Main pergi begitu saja. Sudah tau istri lagi hamil dan tadi perutnya juga sakit. Kau masih saja pergi!" tegur Roy kemudian.


"Aku tadi ada urusan, Roy. Istriku pulang kampung tiba-tiba. Aku tadi mau kejar dia ke terminal. Tapi saat aku sampai sana, ternyata istriku sudah pulang 15 menit sebelum aku sampai," jelas Bobby.


"Kau begitu cemas dengan istri mudamu itu sampai kau meninggalkan Tia yang sedang hamil!" sindir Roy.


"Sudahlah, ini urusanku! Lebih baik kau pulang saja!" usir Bobby.


"Aku akan pergi asal kau bisa menjaga Tia," tutur Roy.


"Tentu saja aku akan menjaganya," sahut Bobby.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu. Tapi sebelum aku pergi, katakan dulu apa yang ingin kau bicarakan padaku," pinta Roy.


"Jangan sekarang, Roy. Nanti saja aku akan menghubungimu lagi."


"Baiklah aku pergi sekarang. Ingat! Jaga Tia dengan benar!" Roy bersikap seolah dialah suami Tia. Ia tanpa canggung meminta Bobby untuk menjaga istrinya sendiri.


***


Pagi harinya.


Tia mulai menggerakkan kedua bola matanya. Ia kemudian mulai mengerjapkan kedua bola matanya dengan perlahan hingga ia kedua matanya terbuka secara sempurna.


Perlahan Tia menatap sisi kiri dan kanannya. Ia seolah mencari seseorang di sana.


"Semalam Roy ke sini kan? Dia bahkan membawaku ke kamar ini. Aku bahkan sudah mengusirnya berulang kali tapi dia tetap menemaniku di sini," batin Tia sembari mengingat kejadian semalam.


"Tapi dimana dia sekarang?" pikirnya.


Ceklek...


"Tia, kau sudah bangun?" tanya Bobby. Ia baru saja masuk kamar. Di tangannya ada susu hangat dan juga roti bakar untuk Tia.


Tia pun tersenyum. Ia kemudian bangun lalu ia duduk sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


"Bagaimana keadaanmu? Apa perutmu masih sakit?" tanya Bobby sembari meletakkan roti dan juga susu di meja. Kemudian ia duduk di dekat Tia.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2