
"Ya Tuhan..." Tubuh Giska seketika lemas setelah ia mengakhiri panggilan dengan Bobby.
Beruntung ia sedang dalam posisi duduk di kursi yang nyaman sehingga ia masih bisa mengontrol dirinya agar tak sampai membahayakan bayinya yang sejak tadi berada di pangkuannya. Hanya saja ia tak bisa mengontrol ponselnya yang ia jatuhkan ke lantai, baru saja. Bukan sengaja ia lakukan itu, tetapi tanpa sengaja ponsel itu merosot dengan sendirinya dari genggaman tangannya.
"Ada apa? Kau kenapa, Gis?" Trias yang melihatnya pun langsung bertanya.
"Tri, aku baru saja mendapat kabar duka dari suamiku," ucap Giska lemas.
"Hah? Kabar duka dari suamimu? Apa suamimu meninggal?" ceplos Trias.
"Heh!" Giska yang semula menatap sembarang arah, langsung beralih menatap Trias.
"Jika dia meninggal mana bisa dia menelponku! Dasar kau ini aneh sekali!" decak Giska.
"Oh iya. Lalu siapa yang meninggal?" sahut Trias.
"Anaknya," ucap Giska.
"Heh! Kau ini bagaimana? Sekarang kau yang aneh, Gis. Sudah jelas itu anak kalian masih hidup. Lihat itu dia sedang mengenyot susu di mulutnya. Bagaimana kau mengatakan dia meninggal!" Giliran Trias yang berdecak seraya menatap bayi kecil yang masih berada di pangkuan Giska.
Giska menghela napasnya. Ia merasa sedih atas meninggalnya anak suaminya dan istri pertamanya, tetapi di sini Trias malah menguji kesabarannya dengan sikap yang terlalu aneh ini.
"Tri, kau lupa? Anak suamiku bukan hanya bayi ini saja. Tetapi ada anak dari Bu Tia juga kan?" ucap Giska sedikit menahan kekesalannya.
"Jadi maksudmu istri pertama suamimu keguguran? Tapi kan usia kandunganya sudah besar, Gis. Apa iya masih bisa keguguran?" celetuk Trias.
Giska menghela napasnya lagi. "Bukan keguguran. Tetapi bayinya juga lahir hari ini, Tri. Tetapi bayinya tidak selamat," ucapnya.
"Astaga... Kasihan sekali."
"Iya. Mereka juga ada di rumah sakit ini, Tri. Aku akan pergi ke kamarnya untuk menemui mereka. Kau tunggulah di sini bersama bayiku ini, ya. Kau tolong jagalah dia dulu," tutur Giska. Ia kemudian perlahan memindahkan bayinya dari pangkuannya ke kasur yang sama dengan Trias. Dengan sangat hati-hati ia melakukannya.
"Tapi aku masih sakit, Gis," ucap Trias.
"Iya kau kan tidak perlu berdiri, Tri. Ini bayinya sudah ku tidurkan di sampingmu. Jika dia menangis, kau langsung saja berikan susu ini. Kau bisa kan?"
"Iya-iya baiklah."
"Hah kau ini. Padahal kau yang baru saja melahirkan, tetapi malah aku yang menasehatimu. Hahh, ya sudah aku pergi dulu," pamit Giska.
"Ehh itu bawalah ponselmu!" pinta Trias.
"Oh iya." Giska pun memungut ponselnya yang ada di lantai, lalu ia pun menguatkan kakinya untuk bisa berjalan keluar, menuju ke ruangan tempat Tia dirawat saat ini.
Setelah berjalan selama kurang lebih lima menit, sampailah Giska di depan ruangan Tia. Saat ia hendak masuk, Bobby malah lebih dulu keluar dari sana.
"Bli Bobby." Giska langsung memeluk Bobby seketika itu juga. Ia tak bicara apa-apa untuk bisa mengurangi kesedihan Bobby. Ia hanya memeluknya saja untuk membuat Bobby sedikit lebih kuat.
"Kau baik-baik saja?" Justru malah Bobby yang menanyakan kalimat itu pada Giska, usai pelukan mereka terlepas.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian, Bli? Bu Tia?" Giska balas bertanya dengan sedikit hati-hati.
"Aku akan mengurus kepulangan bayi kami, Gis. Hari ini juga aku mau langsung mengkremasinya," jawab Bobby.
"Hari ini juga?" Aku bahkan belum melihatnya, Bli. Apa aku tidak boleh melihatnya?" Giska menundukkan kepalanya.
"Iya semakin cepat akan lebih baik, Gis. Kau boleh melihatnya. Ayo ikutlah denganku. Kita urus ini sama-sama jika kau tak keberatan," ujar Bobby.
"Tentu saja aku tidak keberatan. Mengapa aku harus keberatan?" sahut Giska.
"Iya, aku hanya tidak ingin menyakiti perasaanmu saja," balas Bobby.
"Aku tidak apa-apa. Aku akan ikut denganmu, Bli. Tapi sebelum itu, aku akan menemui Bu Tia dulu di dalam," ucap Giska.
"Nanti saja. Biarkan Tia bicara dengan temannya dulu," ujar Bobby.
"Bli, sebentar saja. Aku ingin memeluk Bu Tia sebentar. Aku yakin saat ini dia merasa sangat sedih karena kehilangan bayinya. Ku mohon..." pinta Giska.
"Iya, baiklah. Ayo aku akan ikut masuk denganmu." Kemudian Bobby pun kembali masuk ke kamar Tia untuk menemani Giska.
__ADS_1
Giska begitu kekeh ingin masuk dan menemui Tia. Namun sesampainya di dalam ruangan itu, ia malah langsung terdiam tanpa suara saat kedua netranya melihat Tia tengah berbaring di ranjang pembaringan itu.
"Hei, Roy. Ikutlah denganku keluar. Biarkan istriku saling bicara sebentar," ajak Bobby pada Roy.
"Istrimu? Bicara dengan siapa?" tanya Roy ragu.
"Bicara dengan istriku. Maksudku, biarkan Giska bicara dengan Tia," jawab Bobby.
"Maksudmu, dia istri keduamu itu?" Johan menatap ke arah Giska.
"Iya." Bobby mengangguk.
"Astaga." Johan bertambah terkejut mengetahui fakta ini. Selama ini ia tak mengira jika Giska yang sering dibicarakan oleh Tia ternyata masih sangat muda.
"Mengapa kau malah melamun. Ayo keluar!" ajak Bobby.
"Ah iya baiklah." Roy pun segera keluar dari sana bersama Bobby. Mereka berdua meninggalkan Tia dan Giska.
"Mengapa kau terkejut melihat Giska? Bukankah kau sudah mengenalnya?" tanya Bobby setelah ia berada di luar kamar bersama Roy.
"Bagaimana aku mengenalnya?" tukas Roy berpura-pura.
"Ah sudahlah. Sebenarnya aku ingin menanyakannya tentang ini. Tetapi saat ini hatiku sedang tidak baik-baik saja karena kehilangan anakku. Lupakan saja masalah itu," putus Bobby. Ia tak lagi bertanya apapun pada Roy.
Roy pun merasa lega karena Bobby tak memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
Justru Giska lah yang langsung dirundung banyak pertanyaan oleh Tia.
"Mengapa kau terkejut melihat Roy? Apa kau mengenalnya? Apa kau berniat akan menggodanya juga? Kau berniat untuk menjalin hubungan dengannya juga?" Wajah Tia terlihat begitu kesal menatap Giska.
Giska seketika menelan ludahnya. Ia datang ke sini untuk memberi dukungan pada Tia tetapi malah dirinya sendiri yang langsung dicecar oleh Tia. Namun Giska tak ingin membahas mengenai semua yang Tia tanyakan. Ia tetap fokus pada tujuannya datang ke sini.
"Bu Tia...." Dengan sedikit takut ia langsung memeluk Tia.
"Lepaskan aku! Kau jangan sok dekat denganku, ya!" Tia mendorong Giska.
"Sudahlah! Kau jangan pura-pura! Kau pasti senang kan melihat anakku tiada!" tuduh Tia.
"Sama sekali tidak, Bu. Saya juga seorang Ibu. Hati saya juga hancur jika melihat anaknya tiada."
"Halahh! Ibu?" Tia tertawa.
Entah bagaimana dia bisa tertawa ditengah duka ini.
"Oh iya aku lupa jika kau menjadi Ibu dari anak temanmu itu. Ckc. Anak itu bahkan belum lahir. Jika saja lahir nanti, belum tentu anak itu akan hidup. Mungkin saja anak itu akan tiada, sama seperti anakku," ucap Tia.
Giska menghela napasnya. Sejujurnya ia tak suka Tia bicara seperti itu. Tetapi ia juga tak bisa mendebatnya karena kondisi Tia saat ini masih berduka.
"Maaf jika kehadiran saya membuat anda tidak nyaman, Bu. Saya hanya ingin berbagi duka anda saja. Saya turut sedih atas hal ini. Saya permisi." Usia mengatakan itu, Giska hendak pergi dari sana, namun Tia menahannya.
"Tunggu dulu. Kau belum menjawab pertanyaanku mengenai Roy!"
"Saya tidak mengenal pria tadi sama sekali. Saya tidak ada niat untuk dekat dengannya, apalagi sampai menggodanya. Jangankan niat, memikirkannya saja saya tidak mau. Saya permisi." Giska langsung pergi setelahnya.
"Bli, ayo!" Giska langsung menggandeng lengan Bobby, dan segera menarik Bobby pergi dari sana. Ia bahkan tak menyapa Roy bahkan juga tak melirik Roy sama sekali.
Roy pun juga diam saja melihat Giska dan Bobby pergi. Ia pun memilih kembali masuk ke kamar Tia.
"Jauhi dia! Kau jangan dekat-dekat dengannya! Jangan sampai dia juga menggodamu, seperti dia sudah menggoda Bobby!" seru Tia tiba-tiba setelah melihat Roy kembali masuk.
"Jauhi siapa?" Roy mengernyitkan keningnya.
"Giska. Awas saja jika kau sampai tergoda dengan Giska itu!"
"Tidak. Aku tidak akan tergoda olehnya." Roy tersenyum setelah mendengar seruan Tia. Itu artinya Tia mencintainya.
"Lupakan dia. Sekarang jawablah aku, mengapa anak kita jadi perempuan? Sebelumnya di USG dikatakan anak kita laki-laki. Dan keadannya juga sehat dan baik-baik saja! Tetapi mengapa sekarang meninggal?" Roy menanyakan hal lain daripada harus membahas Giska.
"Sttttt! Pelankan suaramu itu!" seru Tia.
__ADS_1
"Apalagi yang bisa ku lakukan, Roy? Anak yang ku kira milik Bobby ternyata anak ini milikmu. Lebih baik aku membuang anak itu agar Bobby tak pernah tau kebenarannya," ucap Tia dengan penuh kesadaran.
Ia mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, saat ia menemui Roy di rumah sakit ini, untuk mengetahui hasil tes DNA yang sudah ia lakukan beberapa hari sebelumnya, bersama Roy. Saat ia mengetahui hasil itu yang menuliskan bayinya adalah anak Roy, ia pun langsung mengambil keputusan untuk langsung melahirkan bayi ini dengan operasi sesar. Jika bayinya tiada setelah lahir, maka itu akan bagus. Tetapi jika bayinya selamat, maka sudah ia putuskan untuk menukar bayinya dengan bayi yang sudah tiada, dengan meminta bantuan pada perawat yang sudah ia suap.
Ia tak siap jika harus membesarkan anak Roy. Akan lebih baik jika bayinya tiada saja. Dengan perbuatannya ini, setidaknya ia memberikan kesempatan kedua bagi orang tua bayi yang sudah tiada itu, untuk bisa membesarkan bayinya yang masih hidup.
"Kau gila!" ujar Roy.
"Apalagi yang bisa ku lakukan?"
"Kau benar-benar gila, Tia!" Roy pun berlalu pergi dari sana, meninggalkan Tia sendirian.
"Kau yang gila!" Tia berteriak.
Roy pun masih bisa mendengarnya meski ia sudah berada di luar kamar itu. Seketika ia tersenyum mendengar teriakan Tia.
"Iya aku gila. Aku sudah tergila-gila padamu, Tia. Setidaknya rencanaku berhasil. Setelah membaca hasil palsu itu, kau langsung membuang bayi yang jelas-jelas anak Bobby itu. Kau mengira itu anakku, padahal itu anak Bobby. Tapi itu bagus, setelah ini kau pasti akan berpisah dari Bobby. Lalu aku bisa memilikimu seutuhnya." Senyuman licik terpancar jelas di bibir Roy.
***
Beberapa bulan kemudian...
Giska tengah menyuapi anaknya yang sudah masuk masa MPASI itu. Dengan sangat telaten ia menyuapi anaknya.
"Pintarnya anakku," puji Giska pada anaknya.
"Aem, aem, aem..." Celotehan bayi laki-laki itu terdengar sangat menggemaskan di telinga Giska. Ditambah lagi dengan sisa-sisa bubur yang menempel di sekitaran mulut dan pipi gembul bayinya, itu membuatnya terlihat semakin menggemaskan.
"Dia sangat mirip denganku, bukan?" Bobby tiba-tiba ikut duduk di samping putranya. Lalu ia pun mengeluarkan putranya dari kursi makannya, lalu ia pun menggendongnya.
"Putraku sayang. Kau sangat tampan sepertiku, Nak." Bobby menciumi kening putranya.
"Wawawawa. ..." Lagi-lagi bayi kecil itu berceloteh.
"Ahhh, entah mengapa dia hanya mirip denganmu saja, Bli. Padahal aku Ibunya. Aku yang setiap hari mengurusnya, tetapi dia malah mirip denganmu." Giska mengerucutkan bibirnya.
"Tentu saja mirip denganku, aku kan Bapaknya." Bobby tersenyum lebar.
"Hmmmm." Giska memasang wajah kesalnya.
"Ohh, Sayangku. Jangan kesal begitu. Anak kedua kita ini, pasti nanti mirip denganmu," ujar Bobby seraya mengusap perut Giska yang saat ini sudah sangat besar.
Kehamilan Giska sudah memasuki trimester terakhir. Hanya menunggu waktu saja untuk Giska melahirkan.
"Benarkah?" Giska tersenyum.
"Iyaa tentu saja." Bobby pun tersenyum.
"Aku akan selalu menjagamu dan anak-anak kita." Bobby lalu memeluk Giska, serta putranya yang masih ia gendong.
Giska tersenyum, namun ia juga menitihkan air matanya. Ia menangis bukan karena sedih, melainkan karena ia terharu akan kebahagiaan yang ia dapatkan saat ini.
Ia senang karena akhirnya Bobby mau menerima dan menyayangi anak adopsinya. Bahkan sekarang Bobby terlihat begitu sangat menyayangi anak ini.
Ditambah lagi sebentar lagi ia juga akan melahirkan bayinya sendiri. Itu artinya ia akan memiliki dua anak setelah ini. Kebahagiaannya semakin bertambah sempurna. Rumah tangganya utuh dan ditambah kehadiran anak-anak di dalamnya.
Kesedihan beruntun yang sempat mereka rasakan, kini perlahan terkikis dengan adanya rasa bahagia ini.
Lalu Tia, istri pertama Bobby. Entah dimana keberadaannya saat ini. Dia memutuskan untuk pergi setelah upacara kremasi bayinya itu dilakukan. Dia hanya meninggalkan sebuah surat sebelum dia pergi.
Di dalam surat itu mengatakan bahwa ia akan pergi jauh dan dia tidak ingin dicari atau dikhawatirkan. Dia meminta Bobby hidup bahagia bersama Dinar sebagaiamana mestinya.
_________
END
Hallo. akhirnya kisah ini tamat juga setelah tertunda sekian lama. maaf ya karena waktunya yang sudah terlalu lama.🙏 .. Terimakasih untuk kalian semua yang sudah membaca cerita ini.
Sampai bertemu di lain kesempatan ya🙏
__ADS_1