
"Sayang... kemarilah! Mendekatlah padaku," panggil Bobby seraya ia melambaikan tangannya pada Giska yang saat ini masih berdiri mematung di depan pintu rumah.
"Kemarilah, Sayang. Apa kau tidak merindukanku?" Bobby kembali memanggil.
"Siapa kau?" sahut Giska pelan namun masih bisa terdengar oleh Bobby.
"Astaga! Kau lupa padaku? Kau melupakan suamimu ini? Secepat ini?" Bobby memicingkan kedua matanya, menatap Giska.
"Suami? Benarkah? Apakah aku tidak bermimpi?" Lagi-lagi Giska masih belum percaya. Padahal sudah jelas-jelas Bobby ada di depannya.
"Kau ini banyak tanya ya! Cepat kemari! Jangan sampai aku lajukan mobilku ini sampai menabrakmu di sana!" ancam Bobby. Terselip sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya.
"Iya-iya aku kesana." Giska yang semula mematung, pun langsung berlari mendekat ke mobil Bobby. Ia langsung berdiri di dekat pintu mobil yang kacanya sudah terbuka itu.
"Bli Bobby? Ini benar kau?" Giska menatap Bobby heran.
"Jangan banyak bicara lagi, Gis! Jangan berdiri saja. Cepat masuk ke mobil!" perintah Bobby.
Giska menganggukkan kepalanya sambil mulutnya berkata, "Iya." Kemudian ia segera masuk ke mobil dan duduk di kursi samping kemudi.
Setelah berada di dalam satu mobil. Posisi duduk dengan jarak sekitar tiga puluh sentimeter, keduanya pun sama-sama terdiam namun saling menatap satu sama lain. Mata keduanya pun tampak sama-sama berkaca-kaca. Tak ada yang saling bicara. Hingga hampir dua menit sama-sama diam, akhirnya suara Giska pun memecah keheningan itu. Tiada angin dan tiada hujan, Giska tiba-tiba mengatakan bahwa ia ingin memeluk Bobby.
"Bolehkah aku memelukmu, Bli Bobby?" tanya Giska lirih. Kedua matanya masih menatap mata Bobby.
Tanpa memberikan jawaban melalui mulutnya, namun Bobby menganggukkan kepalanya dan ia juga langsung merentangkan kedua tangannya seolah memberi isyarat agar Giska langsung memeluknya tanpa bertanya lagi.
Sesuai keinginan Bobby, Giska pun langsung berhambur memeluknya. Pelukan yang sangat ia rindukan selama ini. Pelukan yang membuatnya merasa hangat dan nyaman. Apalagi kali ini ia dipeluk sangat erat oleh Giska seolah-olah Giska tak ingin melepas pelukan itu. Hal ini pun semakin membuatnya merasa bahagia berkali-kali lipat. Karena sangat jarang ia dipeluk Giska seerat ini.
"I love you. Aku sangat meridukanmu, Sayang." Bobby berbisik di telinga Giska.
"Benarkah seperti itu?" sahut Giska yang langsung melepas pelukannya. Tatapan marah dan kesal pun langsung muncul diraut wajahnya. Namun semua itu tak bertahan lama. Tatapannya langsung berubah sedih ketika ia memperhatikan wajah Bobby yang berubah. Kemudian ia memperhatikan tubuh Bobby yang juga ada perubahan.
"Kenapa? Kau tidak percaya jika aku merindukanmu?" tanya Bobby sendu. Kedua matanya hampir saja melepas buliran air yang sudah bersarang di matanya.
"Ada apa denganmu, Bli? Kenapa kau berubah seperti ini? Apakah ini penampilanmu sekarang atau hanya aku saja yang salah mengenalimu?" Giska balas bertanya tanpa ia menjawab pertanyaan Bobby.
"Kau jadi memiliki kumis dan jenggot sekarang. Tubuhmu juga terlihat sedikit kurus, Bli. Apakah kau sedang diet?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Tapi kalau boleh aku jujur, kau lebih terlihat tampan dulu. Sekarang ini kau terlihat pucat seperti orang sakit. Ya meskipun kulitmu sedikit lebih putih tetapi kau terlihat aneh, Bli. Aku lebih suka melihatmu seperti dulu," ucapnya kemudian.
"Apa kau juga baru melakukan infus putih seperti artis-artis yang di TV itu?" tanyanya lagi sambil ia menunjuk plester putih, kecil yang melekat di punggung tangan Bobby.
"Apa karena dietmu ini kau jadi menghilang selama ini, Bli?" tanyanya lagi.
"Sudah?" sahut Bobby seraya menggenggam tangan Giska.
"Kalau sudah tidak ada yang kau tanyakan lagi, biarkan sekarang aku menjelaskan semuanya padamu," ucapnya kemudian.
"Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya padamu. Kenapa kau menjadi semakin kurus dan kecil, Sayang? Kau juga pucat. Apa kau sakit?" Bobby menatap Giska sendu.
"Apa semua ini gara-gara aku? Kau menjadi seperti ini?" Air mata Bobby pun perlahan menetes. Ia sudah tak bisa menahannya lagi. Rasanya ia malu menangis di depan Giska, karena ini kali pertama ia menangis di depan wanita, apalagi ini istrinya sendiri. Namun bagaimana lagi, ia sudah tak bisa menahan air matanya. Mengingat keadaan saat ini yang juga mendukungnya untuk menangis.
"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku."
"Aku tidak apa-apa, Bli. Aku juga tidak sakit. Sekarang cepat jawab pertanyaanku tadi. Jangan mengalihkan pembicaraan," ucap Giska.
"Dua minggu lalu aku mengalami kecelakaan bersama Kadek. Kau ingat saat aku mengirimkan pesan padamu waktu itu. Saat aku memberitahu kondisi Ibuku yang kritis. Saat itu aku ingin mengantarkan Ibu ke rumah sakit lain yang memiliki alat-alat canggih, Gis. Karena kepalaku sangat pusing, aku meminta Kadek untuk menemaniku. Aku minta Kadek yang menyetir mobil. Saat itu emosiku juga sedang gila, Gis. Aku masih belum terima akan kepergian Ajik, ditambah lagi kondisi Ibu yang memburuk. Jadi waktu itu aku melampiaskan kemarahanku pada Kadek. Sepanjang jalan aku memarahi Kadek. Apapun yang Kadek lakukan terlihat salah dimataku, sampai tanpa sengaja aku mengucapkan kalimat yang sangat menyakiti Kadek. Lalu akhirnya Kadek mengendarai mobil dengan sangat kencang tanpa konsentrasi yang fokus dan akhirnya kecelakaan itu pun terjadi," jelas Bobby sembari menundukkan kepalanya.
"Kau tau karena apa, Gis? Aku masih hidup sampai saat ini, satu karena bonus dari Tuhan dan kedua, itu karena kau. Kau datang ke dalam mimpiku. Kau duduk di sudut ruangan sambil menangis. Di situlah aku bisa berjuang melawan koma itu, Gis," tambahnya lagi. Kali ini air mata Bobby semakin tak terkendali.
Giska pun sama, ia mendengarkan Bobby sambil menangis.
"Baru kemarin pagi aku keluar dari rumah sakit, Gis. Aku mencemaskanmu. Apakah kau bisa makan? Apa kau sehat? Apakah uangmu masih atau jangan-jangan sudah habis? Ingin sekali aku langsung menemuimu tetapi posisiku kita berjauhan. Kau di Surabaya dan aku di sini. Ingin ku langsung menelponmu tetapi aku tidak mendapatkan ruang dan waktu yang enak, Gis. Tia selalu saja di dekatku. Dia bahkan menyingkirkan ponselku dengan alasan supaya aku bisa istirahat."
"Aku pun menunggu waktu yang tepat untuk bisa menghubungimu. Dan malam tadi, aku ingin menelponmu tetapi saat aku mengetahui bahwa kau ada di sini, aku langsung memutuskan untuk langsung menemuimu di sini, Gis," ungkap Bobby.
"Bagaimana bisa tau aku di sini?" Giska bertanya pelan.
"Aku tak sengaja mendengar Bi Eka mengobrol dengan Tia. Katanya kau duduk di pinggir jalan. Tia mengancam Bi Eka untuk tidak cerita padaku. Karena itu aku langsung memutuskan pergi dari semalam," jawab Bobby.
"Seandainya saja aku melihatmu saat kau duduk di sana, Gis. Aku akan langsung memelukmu saat itu juga. Aku akan membawamu masuk ke dalam rumahku," ujarnya.
"Jadi, Ibu itu kerja di rumah Bli Bobby? Berarti rumah itu adalah rumah Bli Bobby dan Bu Tia?"
"Iya." Bobby menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Astaga demi apa? Aku susah-susah mencari alamatmu, Bli. Aku jalan kesana kemari tetapi tidak ada yang tau dimana keberadaanmu. Saat aku istirahat, duduk sebentar di pinggir jalan itu, ternyata di sana alamat tempat tinggalmu?" Giska benar-benar tak mempercayai ini.
"Lupakan saja itu, Bli. Kau bilang sejak semalam kesini? Tapi kenapa tidak masuk ke rumah, Bli?"
"Aku sampai sini sekitar pukul 3 dini hari, Sayang. Aku tidak ingin mengganggumu. Jadi aku tunggu saja di dalam mobil sampai pagi, dan akhirnya kau keluar."
"Kenapa pukul 3 baru sampai? Jaraknya juga tak jauh kan?" Giska memicingkan matanya.
"Sebenarnya aku masih gemetaran, Sayang. Sampai saat ini juga sebenarnya aku masih gemetar. Tapi kalau aku tidak nekat kesini, aku takut tidak bisa menemuimu. Mungkin akan butuh waktu lama lagi untuk kita bertemu. Jadi semalam itu aku berhenti di pinggir jalan dekat lapangan sana. Aku benar-benar tidak kuat menyetir lagi. Kepalaku pusing. Jadi aku berhenti dan istirahat di sana. Dan setelah aku merasa lebih baik, barulah aku kemari," jelas Bobby.
Hikkksss.... Hiksss.....
Mendengar semua itu, tangis Giska yang semula mereda kini kembali pecah.
"Maafkan aku, Bli. Aku tidak memgerti kondisimu. Maaf karena aku telah berpikir yang tidak-tidak padamu. Aku minta maaf," ucap Giska dengan suara terbata-bata karena bicara sambil menangis.
"Kau berjuang melawan sakitmu sedangkan aku malah berpikir macam-macam. Maafkan aku." Lagi-lagi Giska memohon maaf.
"Sayang, kau tidak salah. Sudah cukup. Aku sudah baik-baik saja sekarang. Apalagi aku sudah bertemu denganmu, aku juga sudah mendapat cinta dan pelukan darimu, itu semakin membuatku sehat, Sayang." Bobby langsung menarik Giska ke dalam pelukannya.
Hikss... Hikss....
"Sudah jangan menangis. Jangan membuat aku ikut menangis tersedu-sedu, Sayang. Aku sudah cukup menangis. Sudah banyak air mata yang ku keluarkan. Aku tidak ingin menangis lagi," ucap Bobby.
"Tapi jika itu bisa ku lakukan," batinnya kemudian. Air matanya pun menjadi semakin deras mengalir. Bahkan sampai mengenai rambut Giska.
"Bli, bagaimana keadaan Ibu?" tanya Giska tiba-tiba.
Perlahan Bobby pun melepas pelukannya. Lalu ia kembali menatap Giska.
..
..
..
Bersambung...
__ADS_1