Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Mencari Keberadaan


__ADS_3

Rencana Giska untuk pergi ke Bali pun akhirnya benar-benar terwujud. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih sepuluh jam, akhirnya kini Giska pun telah sampai di rumah yang ia tinggali selama di Bali.


Ya, ia berangkat sekitar pukul 10 pagi dari Surabaya dengan menaiki travel. Dan saat ini jam sudah menunjukkan pukul 9 WITA.


"Baru pukul 9 malam, sudah sepi saja di sini. Sepertinya Trias juga sedang tidak ada di rumahnya. Emm, mungkin Trias sudah berangkat kerja," gumam Giska seraya ia menatap sekeliling perumahan itu.


"Lebih baik aku segera pergi ke rumahnya Bli Bobby. Lebih cepat aku tau itu lebih baik. Maka aku juga bisa cepat-cepat kembali ke Surabaya lagi," ucapnya pelan.


Ia pun segera memesan ojek online melalui ponselnya. Selang tak lama ojek online pun tiba dan ia segera berangkat menuju ke rumah orang tua Bobby. Ia bahkan tak masuk ke dalam rumahnya terlebih dulu.


"Untung saja masih hafal alamat Ibu Astuti dan mendiang Ajik," batinnya.


Kemana lagi ia pergi mencari Bobby kalau bukan ke rumah orang tuanya, pasalnya hanya alamat itu saja yang ia ketahui. Sebenarnya ada satu alamat lagi yang ia tau, yaitu bengkel milik Bobby, tetapi berhubung ini sudah malam, bengkel juga pasti sudah tutup.


..........


Sesampainya di depan rumah orang tua Bobby, Giska pun segera mengetuk pintu. Ia benar-benar tak sabar untuk bisa segera bertemu Ibu maupun Bobby.


Tokk.. Tokk.. Tokk..


"Permisi..."


Ceklekk.. Pintu terbuka.


"Maaf cari siapa ya?" tanya seorang wanita paruh baya yang membukakan pintu.


"Saya mau bertemu dengan Ibu Astuti dan juga Bli Bobby. Apakah mereka ada di rumah ini?" tanya Giska sopan pada wanita itu.


"Bu Astuti dan Bli Bobby?" Wanita itu malah balik bertanya.


"Iya," jawab Giska seraya menganggukkan kepalanya.


"Tidak ada," kata wanita itu.


"Oo tidak ada. Emm kalau Bu Tia? Apa ada di rumah ini, Bu?" tanya Giska lagi.


"Tidak ada juga. Maaf sebelumnya, Dek. Saya baru dua hari kerja di sini. Sejak saya masuk rumah ini kosong. Jadi saya di minta untuk membersihkan sekaligus menempati rumah ini selama yang tinggal di sini belum pulang," jelas wanita itu.


"Saya juga bahkan tidak tau bos saya yang mana dan namanya siapa. Jadi maaf ya, Dek," tambahnya.


"Ohh nggih, Bu. Tidak apa-apa." Giska tersenyum. Namun dibalik senyumnya itu ia menyimpan banyak pertanyaan akan kemana lagi ia mencari Bobby.


"Maaf dengan Adek siapa? Siapa tau nanti bos saya datang, jadi saya bisa beritahu nama Adek kepada bos saya. Barangkali bos saya nanti langsung mencari Adek. Nama Adek siapa?" tanya wanita itu.


"Giska, Bu."


"Baiklah, nanti jika bos saya datang, akan saya sampaikan jika Adek Giska datang ke sini."


"Iya, Bu. Terimakasih. Kalau begitu saya permisi dulu, Bu." Giska pun segera pamit pergi dari sana.


............

__ADS_1


Tokk... Tokk... Tokk....


Giska kembali mengetuk pintu rumah seseorang. Tepatnya bukan rumah tetapi kos-kosan. Kos-kosan yang dulu ia pernah ia tempati sebelum ia menikah dengan Bobby.


"Kadek," panggil Giska seraya mengetuk pintu salah satu kamar kos itu.


Ya, setelah gagal menemui Bobby di rumah orang tuanya tadi, Giska memutuskan untuk pergi ke tempat Kadek. Dengan harapan ia bisa mendapat informasi keberadaan Bobby dari Kadek. Mengingat Kadek adalah pegawai Bobby, Giska merasa Kadek pasti tau tentang Bobby saat ini.


"Kadek...." Giska memanggil lagi.


Ceklekk... pintu terbuka namun bukan pintu yang Giska ketuk, melainkan pintu kamar sebelah.


"Cari Kadek ya?" tanya seorang pria yang membuka pintu kamarnya.


"Iya," jawab Giska ramah. Ia pun tak lupa memberikan senyum pada pria yang tak begitu tua itu.


"Kadek nya sedang tidak ada di kos. Dia dan keluarganya sedang pergi ke Singapore. Baru tadi siang berangkatnya," ucap pria itu memberitahu.


"Ke Singapore?"


"Iya."


"Tapi kenapa ya, Pak? Apa Kadek pindah ke sana?" tanya Giska. Nampak raut wajah Giska menggambarkan kekecewaan karena lagi-lagi ia gagal mendapat informasi tentang Bobby.


"Tidak pindah. Kadek hanya berobat saja. Dia akan di operasi di sana. Mungkin setelah sembuh, akan pulang lagi ke sini," jawab pria itu.


"Berobat? Operasi? Memangnya Kadek sakit apa?"


"Kenapa Kadek tak pernah cerita padaku selama ini kalau dia sakit?" batin Giska sedih.


"Astaga! Kecelakaan? Tapi bagaimana keadaan Kadek, Pak? Apa dia terluka parah? Bahkan sampai berobat ke Singapore. Bagaiamana Kadek?" Giska pun menjadi panik seketika itu juga. Bagaimana tidak, ia baru diberitahu bahwa sahabatnya kecelakaan setelah dua minggu lamanya.


"Kondisi secara jelasnya saya kurang tau."


***


Mencari suami hasilnya nihil, mencari ibu mertua pun nihil dan mencari sahabat pun yang ia dapat malah kabar kecelakaan sang sahabat yang ia cari. Ingin meminta kontak yang bisa dihubungi pun tak ada hasil.


"Kemana lagi aku harus mencari Bli Bobby sekarang ini?" lirih Giska sedih.


"Semua orang memang benar-benar tak menganggapku ada. Apa gunanya punya ponsel jika tak bisa memberitahuku apa yang terjadi? Apa gunanya ponsel mereka semua jika tak memberi kabar padaku?" ucapnya kesal. Seraya ia berjalan kaki mengukur jalanan yang ada. Entah sudah berapa jauh ia berjalan sejak tadi.


Usai dari kos-kosan Kadek tadi, ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit tempat Bu Astuti dan mendiang Ajik di rawat. Namun ia juga tak mendapatkan informasi apapun. Keluar dari rumah sakit itu, Giska terus saja berjalan tanpa ia tujuannya akan kemana lagi.


Saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, namun Giska masih tak kunjung mengetahui keberadaan Bobby dan Bu Astuti. Ia bahkan sudah berjalan cukup jauh, sampai kakinya pun mulai terasa sedikit pegal.


Badan lelah, kaki pegal, perut lapar sekaligus kepala terasa pusing yang kini ia rasakan. Pasalnya ia belum makan apapun seharian ini. Ia bahkan belum dapat istirahat sama sekali. Apalagi selama di Surabaya ia tak bisa istirahat dengan enak. Dan tadi juga melakukan perjalanan jauh lalu sekarang ia malah berjalan kaki cukup jauh.


Meski merasakan semua itu, Giska pun enggan membeli makanan ataupun minuman di warung-warung yang sudah ia lewati sejak tadi. Entah ia menyadarinya atau tidak? Atau ia memang tidak mood untuk maka dalam keadaan dan situasi seperti ini. Dalam keadaan seperti ini pun ia tetap saja berjalan menyusuri jalan. Bahkan ia sudah terlihat sedikit sempoyongan tetapi ia tetap saja tak mau berhenti.


Brugg....

__ADS_1


Hingga tanpa sengaja Giska bertabrakan dengan wanita paruh baya yang hendak membuang sampah di tong pinggir jalan.


"Maafkan saya, Bu." Giska secepat mungkin langsung meminta maaf pada ibu itu.


"Iya tidak apa-apa, Gek ( Panggilan gadis / perempuan di Bali ). Apa Gek nya tidak apa-apa? Sepertinya Gek sedang tidak sehat ya? Wajahnya terlihat pucat begitu. Gek sakit?" Ibu itu pun bertanya tanpa marah. Terangnya sorot lampu cahaya yang terpasang tak jauh dari sana membuat ibu itu melihat wajah Giska yang pucat.


"Saya tidak apa-apa, Bu." Giska bahkan tak menyadari bahwa wajahnya pucat.


"Tapi Gek nya terlihat pucat. Mari ikut saya ke dalam rumah. Biar saya ambilkan minum lalu Gek nya juga bisa sekalian istirahat. Saya melihat Gek nya seperti kelelahan," tawar ibu itu.


"Terimakasih, Bu. Tidak usah repot-repot. Saya numpang duduk di sini sebentar saja ya, Bu. Boleh kan?"


"Kenapa di sini? Ayo masuk saja. Bos saya baik kok orangnya. Bos saya tidak akan marah jika saya membawa Gek masuk ke rumahnya. Lagipula Gek nya butuh pertolongan," ujar Ibu itu.


"Ohh Ibu kerja di rumah besar ini?" tanya Giska.


"Iya, Gek. Ayo masuk!" ajak ibu itu lagi.


"Saya di sini saja, Bu."


"Sebenarnya Gek nya ini dari mana dan mau kemana malam-malam begini? Mana sendirian. Perempun jalan malam-malam sendirian tidak baik, Gek. Bahaya di jalan," tutur ibu itu.


"Sebenarnya saya--------"


Giska pun mulai menceritakan apa yang terjadi pada dirinya kepada ibu itu. Apa tujuannya malam-malam ia masih berada di jalanan seperti ini. Semua ia ceritakan pada ibu itu tanpa ragu. Ia bahkan tak takut mengatakan statusnya saat ini.


"Jadi Gek mencari suami dan ibu mertua? Tetapi Gek tidak tau dimana rumah suami Gek sendiri?" tanya ibu itu.


"Iya, Bu. Saya yakin pasti saat ini suami saya sedang berada di rumahnya bersama istri pertamanya. Tetapi saya tidak tau alamatnya. Jadi saya bingung harus mencari alamatnya kemana lagi. Karena tidak ada satupun orang yang bisa saya tanya. Saya tidak ada mempunyai maksud apapun, Bu. Setelah saya tau kondisi suami dan ibu mertua saya, saya akan langsung kembali ke Surabaya lagi. Lagipula Bapak saja juga membutuhkan saya di sana," ucap Giska pilu.


"Bali sangat luas, Gek. Bagaimana mungkin mencari alamat yang Gek sendiri tidak tau? Bagaimana kalau sampai besok tetap tidak bisa ketemu?"


"Entahlah, Bu. Mungkin saya akan langsung pulang saja ke Surabaya."


"Ya sudah, lebih baik sekarang Gek pulang ke rumah dulu. Istirahat, ini juga sudah malam. Besok saja lagi dicari alamatnya. Mudah-mudahan ada keajaiban supaya Gek bisa menemukan alamat suaminya," tutur ibu itu.


"Iya, Bu. Maaf ya Bu, saya jadi curhat begini. Terimakasih ya, Bu. Saya permisi dulu." Giska pamit.


"Iya, Gek. Hati-hati."


Giska pun kembali berjalan kaki usai pamit dengan ibu itu. Namun kali ini ia berjalan sambil memesan ojek online dari ponselnya. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah malam ini.


--------------


Sementara ditempat lain, tak jauh dari tempat Giska dan ibu tadi duduk, ada seorang wanita yang tampak sangat amat memperhatikan Giska.


"Benarkah yang ku lihat tadi Giska? Tapi apakah mungkin?"


..


..

__ADS_1


..


Bersambung....


__ADS_2