
"Kenapa? apa kau takut, jika aku bisa melakukannya dengan Giska?" terselip senyuman tipis di bibir Bobby.
"Aku tidak yakin, kau bisa melakukan itu, Pa. Tetapi, aku juga tidak ingin kau sampai melakukannya dengan wanita itu. Cukup lakukan denganku saja, aku tidak akan mengeluh lagi." Tia merayu.
Bobby tersenyum miris, mendengar ucapan Tia. Memang benar ia sulit bergairah dengan Tia, itupun karena kesalahan Tia sendiri. Disaat Bobby tengah bercinta dengan Tia, tiba-tiba bayangan Tia yang tengah bercinta dengan orang lain, nampak di depan mata. Itulah yang membuat gairahnya hilang seketika. Berbeda jika bersama Giska, tanpa perlu Giska merayu, gairahnya selalu muncul dengan sendiri nya. Jadi terbukti, bahwa Joni nya Bobby sama sekali tak bermasalah.
"Sebenarnya aku menginginkannya, Pa. Tapi, kau malah memakai pakaianmu. Emm, tapi tidak apa-apa, aku bisa melepaskan pakaianmu dengan sangat mudah." Tangan Tia meraba-raba dada Bobby.
"Ayo, Pa. Kita buatkan cucu untuk Ibu." Bujuk Tia, dengan suara yang di buat se sexy mungkin. Ia sungguh percaya diri dengan pesonanya.
Tia memang memiliki paras yang cantik, tubuhnya sexy serta dada nya yang besar, membuat semua pria tak akan bisa menolak nya. Apalagi jika pria itu sudah pernah bermain ranjang dengan nya, pasti pria itu akan ketagihan, karena Tia sungguh lihai jika di ranjang. Namun, itu tidak berlaku untuk Bobby selama 4 tahun terakhir ini.
"Aku tidak bisa." Bobby menghindar.
"Aku ada urusan di luar." Ucap Bobby, kemudian ia berlalu pergi, keluar dari kamar.
"Apa dia masih belum puas setelah bercinta dengan kekasihnya semalam, sampai-sampai ia ingin mengajakku bercinta?" Bobby menendang pintu kamar nya, ia sungguh merasa kesal dengan dirinya sendiri. Kenapa ia harus berada di situasi seperti ini? setiap orang pasti ingin mempunyai rumah tangga yang normal. Andai saja ia bisa mengalahkan egonya sendiri, mungkin hidupnya tak akan penuh kepura-pura an seperti ini.
Jika saja ia tak pernah melihat Tia selingkuh, dan bercinta dengan orang lain, mungkin saat ini ia tak akan seperti ini. Bobby juga pria normal yang bisa tergoda melihat Tia, apalagi Tia adalah istrinya sendiri. Namun, itu tak akan bertahan lama, pasalnya setiap bayangan itu muncul, hasratnya menghilang seketika.
Sementara Tia, ia mendengkus kesal, sungguh kesal sekali rasanya, di tinggal pergi begitu saja, saat ia ingin mengajak Bobby bercinta. Ia merasa semakin di abaikan oleh Bobby.
"Suami tidak normal!" Teriak Tia.
"Kau bilang aku tidak normal?" Bobby kembali masuk ke dalam kamar. Ia menatap Tia tajam.
"Kenapa dia masuk lagi, sih?" batin Tia, ia menggigit bibir bawah nya.
"Papa salah dengar, a-aku,---"
"Cukup! aku seperti ini juga karena ulahmu sendiri!" Bobby memotong ucapan Tia.
"Aku muak dengan semua sandiwaramu, Tia. Aku muak!" kekesalan Bobby sudah tak terbendung lagi.
"Apa maksudmu, Pa? apa kesalahanku?" Tia memasang wajah tak berdosa nya.
"Cihhh... Kau pikir aku tidak tau perselingkuhanmu selama ini? aku tau semua nya. Aku melihatmu bercinta dengan pria itu, dengan kedua mata ku sendiri, di malam perayaan pernikahan kita yang pertama. 4 tahun, aku memendam rasa sakit hatiku. Selama 4 tahun aku diam, karena aku takut kehilangan dirimu. Aku begitu sangat mencintaimu, tapi, apa yang ku dapatkan? penghianatan, hanya penghianatan yang ku dapat. Kau istriku, tapi kau membiarkan tubuhmu di nikmati oleh pria lain." Emosi Bobby semakin memuncak. Akhirnya ia keluarkan juga semua keresahan dan kepedihan yang telah ia pendam selama ini.
"Apa-apa an, ini, Pa! kenapa kau menuduhku selingkuh! aku tidak pernah selingkuh!" Tia mengelak, ia berusaha terlihat baik-baik saja, untuk menutupi kegugupan nya. Ya, sejujurnya Tia merasa takut dan gugup, mendengar Bobby mengatakan semua kebenaran tentangnya. Namun, ia juga tak ingin mengakuinya begitu saja. Ia pikir, sebisa mungkin ia harus bisa lolos dari situasi ini.
Tanpa bicara apapun, Bobby langsung mengambil ponsel di saku celana nya. Ibu jarinya pun menscroll layar ponsel nya, seolah ia tengah mencari sesuatu.
"Lihat!" Bobby menempelkan ponselnya ke dada Tia dengan sedikit dorongan. Seketika Tia langsung mengambil ponsel itu, lalu ia melihat isi di dalam ponsel itu.
Mata Tia terbelalak lebar melihat dirinya tengah bercumbu dengan pria lain, di salah satu kamar yang berada di Villa milik Bobby. Tenggorokan Tia seakan tercekat, ia pun kesulitan bicara, untuk membela diri nya. Tubuh nya pun seketika menjadi gemetaran, keringat dingin mengucur deras di keningnya. Ia pun berkali-kali menelan ludahnya sendiri, karena ketakutan melihat Bobby menatapnya dengan tatapan tajam. Selama ia mengenal Bobby, baru kali ini melihat Bobby seperti ini.
Tia menelan ludahnya, "Bagaimana bisa di kamar itu ada cctv? Kenapa aku sampai tak mengetahui nya. Apa yang harus ku katakan sekarang. Habislah aku." Tia gemetaran.
Flashback On.
Semalam, sebelum Tia datang, Bobby memberanikan diri melihat rekaman cctv yang sudah ia pasang di setiap sudut ruanagan di Villa miliknya. Rekaman itu bisa ia akses langsung melalui ponsel nya. Perasaan ragu sempat menerpa nya, sampai akhirnya ia bisa melawan keraguan nya sendiri, dan ia meneruskan niatnya untuk melihat rekaman cctv itu.
Bobby pun langsung mengakses rekaman itu melalaui ponsel nya. Ia pun langsung mempercepat laju rekaman nya sampai di hari ini dan di waktu beberapa jam yang lalu. Baru saja ia memutarnya, ia langsung menghentikan nya. Bagaimana ia bisa melihat istrinya bersama pria lain, saling memuaskan? pedih rasanya. Selama beberapa bulan, cctv itu terpasang, baru kali ini, Bobby berani melihat rekaman nya.
Flashback Off.
__ADS_1
"Kenapa diam? Apa kau tak ingin membela diri kali ini?" Bobby tersenyum misterius. Ia mencengkram dagu Tia.
"Aku akui kau memang cantik, kau juga sexy, tubuhmu bahkan sangat indah. Tapi semua itu sudah tak berarti untukku. Apa yang kau pikirkan selama ini? aku pria tidak normal, pria sakit, yang tak pernah bisa memberimu kepuasan?" Senyum mengejek tersungging di sudut bibir Bobby.
"Kau salah besar, Tia. Napsuku normal, gairahku juga normal. Jujur saja, aku masih bisa tergoda oleh pesonamu itu, tetapi saat bayanganmu dengan pria itu muncul, gairahku langsung menghilang begitu saja." Bobby mendorong Tia, hingga Tia terduduk di ranjang.
"Maafkan aku, Pa. Aku khilaf, beri aku kesempatan sekali lagi. Aku janji, tak akan mengulanginya lagi." Tia menangis, lalu menjatuhkan diri nya ke lantai, ia pun bersimpuh di kaki Bobby. Biar sudah ia merendah seperti ini, hanya ini satu-satu nya cara yang bisa ia lakukan, untuk mendapatkan maaf dari Bobby. Mau mengelak juga sudah percuma, karena sudah ada bukti yang nyata.
"Bangunlah!" Bobby memegang kedua bahu Tia, ia pun membantu Tia untuk berdiri.
Bobby mengusap air mata di pipi Tia, "Untuk apa kau menangis seperti ini? air matamu tidak akan bisa mengubah semua nya." Ucap Bobby. Bobby pun langsung pergi.
"Pa... Pa..." Tia pun mengejar Bobby keluar. Namun, Bobby malah semakin mempercepat langkahnya untuk segera keluar dari rumah.
"Pa..." Teriak Tia, yang melihat Bobby sudah melenggang pergi dengan mobil nya.
"Argghhhhh, shiittt!" Tia mengumpat kesal, karena Bobby pergi begitu saja.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini sih? bagaimana jika aku langsung ceraikan setelah ini?" Tia merasa frustasi.
***
Di tempat lain.
Giska duduk di teras depan rumah nya, menunggu pesanan makan yang baru saja ia pesan melalui aplikasi online.
Tinn... Tinn...
"Eh, itu seperti mobil Bli Bobby," Giska pun langsung bangun dari duduk nya, lalu berjalan mendekati gerbang, lalu ia pun membuka gerbang rumah nya. Usai mobil itu masuk, Giska pun kembali menutup gerbang nya.
"Suka-suka aku lah! mau kesini apa tidak. Kenapa memangnya?"
"Ya, tidak apa-apa. Tapi, Bli Bobby kan terlalu sering kesini. Memangnya tidak kerja?"
"Kerja, tapi nanti agak siang baru ke bengkel." Jawab Bobby.
"Ohhh..."
"Ayo masuk!" ajak Bobby.
"Bli Bobby duluan saja, aku masih menunggu makanan datang."
"Ya." Bobby pun masuk ke dalam rumah. Sementara Giska, ia memilih tetap berada di teras.
"Apa istri Bli Bobby mengizinkan ya, jika Bli Bobby terus berada di sini?" pikir Giska.
"Permisi..." Panggil seseorang di depan gerbang.
"Iya..." Giska pun langsung kembali membuka gerbang nya.
"Pesanan atas nama Ibu Giska,"
"Iya, saya Giska. Berapa total nya, Pak?"
"35 ribu, Bu."
__ADS_1
"Ibu? masih muda begini masa di panggil Ibu?" batin Giska.
Giska pun menyerahkan uang pas, kepada Bapak pengantar makanan.
"Terimakasih, Bu. Saya permisi." Pamit Bapak pengantar yang di balas anggukan oleh Giska.
***
"Mana makanan yang kau pesan?" tanya Bobby saat Giska baru saja masuk ke dalam rumah.
"Ini." Giska menunjukkan tas kain, yang ia bawa di tangan kanan nya.
"Coba lihat? apa yang kau beli itu?"
Giska pun mengeluarkan makanan nya dari tas itu.
"Hanya beli tipat cantok dan roti goreng mini, ini?" tanya Bobby.
Giska mengangguk, "Iya, Bli."
"Kenapa hanya membeli ini? kau kan bisa beli yang lain juga."
"Ini saja sudah belanja 35 ribu, Bli."
"Astaga... Kau mau belanja 500 ribu, kalau untuk makan, itu tidak masalah, Gis! kalau untuk makan itu tidak perlu irit-irit. Kau ini seperti kekurangan uang saja." Protes Bobby.
"Lahh, makanan apa yang harganya 500 ribu? seperti apa ya rasanya? ehh, lagipula daripada beli makanan seharga 500 ribu, lebih baik kan beli makanan yang biasa saja, nanti sisa uangnya kan bisa di tabung." Oceh Giska.
"Terserah kau saja lah, Gis! pusing bicara dengan gadis iriti!" Bobby kesal sendiri.
"Hmm, ya sudah. Ayo kita makan bersama, Bli." Ajak Giska.
"Kau makan sendiri saja. Aku nanti saja." Tolak Bobby.
"Giska, Giska, beli tipat cantok hanya 1, masih saja nawarin. Dasar Giska polos." Batin Bobby. Tersungging sedikit senyuman di sudut bibir nya.
"Ohh, iya sudah kalau begitu." Giska pun memakan makanan nya sendiri.
Bobby tersenyum, melihat Giska makan dengan begitu lahap nya. "Kau ini sebenarnya siapa sih, Gis? Kenapa setiap aku berada di dekatmu, hatiku menjadi tenang. Bahkan, di saat pikiranku kacau seperti ini, kau bisa mengalihkan pikiranku, dengan kepolosan mu itu." Batin Bobby.
"Kenapa menatapku seperti itu? isi senyum-senyum, pula." Giska menyadari, Bobby menatap nya sejak tadi.
.
.
.
Bersambung...
Karena kemarin nggak up, hari ini aku up agak panjangan ya..
Mungkin selama 3 atau 4 hari ke depan, bakal libur up dulu, karena ada sedikit kesibukan.🙏🙏🙏
❤❤❤
__ADS_1