Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Jangan pernah tinggalkan aku


__ADS_3

Kau salah, Bob. Tia sama sekali tidak mencintaiku. Dia hanya mencintaimu. Selama ini aku hanyalah patner s#x nya saja. Tolong, kau jaga Tia. Cintai Tia, bahagiakan Tia. ~ Roy.


Roy langsung mengirimkan pesan kepada Bobby, setelah ia memutuskan keluar dari rumah itu. Usai mengirim pesan, Roy pun langsung pulang ke rumahnya.


***


Keseokan paginya, di Villa Ubud.


Mentari menyapa menggeliatkan hari. Ia menari tatkala di sentuhnya kelopak bunga. Berdiskusi dengan selaksa alam, memantul di riak ombak lautan. Membelai tanah basah, mengusap mesra embun di dedaunan. Ia adalah kehangatan, ia adalah kehidupan, mata rantai di putaran pasti.


Pagi yang dingin, sisa-sisa turunnya hujan, semalam. Di pagi yang dingin ini, nampak sepasang suami istri masih tertidur lelap, saling memeluk memberi kehangatan.



Ilustrasi Giska dan Bobby.


Ini adalah kali pertama Bobby dan Giska, tidur sedekat ini. Entah Giska sadar atau tidak tidur dalam posisi seperti ini, tapi yang pasti, Bobby akan sangat bahagia jika setiap hari mereka bisa sedekat ini.


_____________


Waktu sudah menunjukkan pukul 08.16 pagi.


"Sayang... Ayo bangun." Bobby mengecupi seluruh wajah Giska.


Bobby sendiri baru membuka matanya sekitar 10 menit yang lalu. Saat ia membuka mata, ia begitu bahagia saat mendapati Giska berada di pelukannya.


"Sayang..." Bobby kembali membangunkan Giska. Kali ini ia membelai lembut pipi Giska. Sesekali ia juga meniup wajah Giska.


"Emmmppphhhh..." Giska menggeliat pelan. Namun ia masih belum mau membuka kedua matanya.


Bobby tersenyum, menatap Giska. Melihat bibir Giska yang sedikit terbuka, Bobby langsung menyesapnya tanpa ragu. Namun, baru beberapa detik Bobby menyesap bibir Giska, ia harus segera melepas ciumannya, karena bibirnya di gigit oleh Giska.


"Duhhhhh...." Pekik Bobby.


"Jelek ayam tepungnya..." Teriak Giska. Ia pun langsung terbangun.


"Bibirku di bilang ayam tepung, mana di bilang jelek lagi." Gerutu Bobby tak terima, dalam hatinya.


"Mana ayam tepung yang rasanya jelek, tadi, Bli?" Tanya Giska langsung.


"Tidak ada ayam tepung, Gis. Kau mengigau, tadi." Ujar Bobby seraya memegang bibirnya yang sedikit bengkak.


"Aku kira sungguhan, tadi. Jelek sekali rasanya tadi. Kenyal-kenyal begitu, Bli. Kayaknya aku gigit kulitnya deh, itu. Issshhh...." Giska menggelengkan kepalanya, tak suka.


"Ehhh, itu kenapa bibir Bli Bobby bengkak?" Tanya Giska saat menyadari bibir Bobby sedikit bengkak dan ada darah sedikit di sana.


"Emm, ini ke jedug pintu, tadi." Alasan Bobby.


"Haa? Kok bisa ke jedug pintu? Memangnya pintunya terbang ke wajah Bli Bobby, tadi?" pertanyaan konyol Giska lontarkan.


"Ya kali pintu terbang, Gis. Tadi aku kepleset di kamar mandi, nah di situ lah ke jedug nya."


"Ohhhh..."


"Ayo bangun, kita mandi bersama." Ajak Bobby mengedipkan sebelah matanya.


"Hahaha," Giska malah tertawa melihat Bobby.


"Kenapa kau malah tertawa?" Tanya Bobby heran.


"Aku lagi bayangin saat Bli Bobby ke jedug pintu, tadi. Itu sampai benjol bibirnya." Lagi-lagi ia tertawa.


Melihat Giska tertawa seperti itu, Bobby pun merasa senang. Ya, meskipun yang Giska tertawakan adalah bibir nya yang bengkak, karena gigitan Giska, tapi itu tak menjadi masalah baginya. Jarang-jarang ia melihat Giska seperti ini. Apa iya, Bobby harus bengkak-bengkak dulu biar Giska bisa selalu tertawa seperti ini? 😂😂😂


"Nakal, ya..." Bobby langsung mendekap tubuh Giska. "Bibir suaminya sakit, malah di tertawakan." Bisik Bobby. Ia pun menggigit pelan telinga Giska.


"Aduhh.... Kok gigit, sih!" Pekik Giska kesal.


"Biarin aja, siapa suruh kau menertawakanku." Jawab Bobby tanpa merasa berdosa. Ia pun langsung bangun dan langsung menggendong Giska.


"Ehhh, ehhhh..."

__ADS_1


"Sudah diam! Kita mandi bersama." Ucap Bobby. Ia pun mulai melangkah ke kamar mandi.


Drrrttttt..... Drrrttttttt... Drrrrrttttt..


Mendengar ponselnya berdering, Bobby pun langsung menurunkan Giska dari gendongannya. Lalu ia memeriksa ponselnya yang berada di atas meja.


"Kau mandilah dulu. Aku akan menjawab telpon dulu." Ucap Bobby. Ia pun mengambil ponsel itu, lalu ia pergi ke luar kamar.


"Pasti Bu Tia yang menelpon." Gumam Giska. Ia pun melangkah masuk ke kamar mandi.


______________


Pembicaraan melalui telpon.


"Ada apa?"


"Pa, kau cepatlah pulang. Aku kan juga istrimu, aku ingin bersamamu juga. Lagipula kau kan sudah berjanji untuk membahagiakanku." Seru Tia dengan suara manjanya.


"Iya, nanti lagi 2 hari aku pulang, Tia. Aku tidak akan lupa dengan janjiku itu. Euummmm, begini saja daripada kau diam saja, kau bisa belanja atau jalan-jalan. Ajak temanmu sekalian, ya. Nanti aku akan mengirimkan uang ke rekeningmu." Ucap Bobby.


"Aku tidak mau. Aku menyusulmu ke Ubud saja, ya, Pa." Pinta Tia.


"Tia, kita kan sudah sepakat. Nanti setelah aku pulang, aku akan mengajakmu liburan. Tunggulah lagi 2 hari, saja." Tutur Bobby.


"Ya, ya. Terserah kau saja, Pa. Kau benar, lebih baik aku pergi belanja saja. Jangan lupa kirim uangnya, Pa."


"Oke, akan ku kirim sekarang, juga."


Tuttt....


Panggilan berakhir.


Bobby pun langsung men-transfer sejumlah uang ke rekening Tia.


"Apa semalam dia tidak bersenang-senang?" Gumam Bobby. Ia pun hendak menelpon seseorang dari ponselnya, namun saat melihat ada pesan masuk dari orang yang hendak ia telpon, ia pun memilih membuka pesan itu terlebih dulu.


Kau salah, Bob. Tia sama sekali tidak mencintaiku. Dia hanya mencintaimu. Selama ini aku hanyalah patner s#x nya saja. Tolong, kau jaga Tia. Cintai Tia, bahagiakan Tia. ~ Roy.


Tuuttttt.....Tuttttt.....


Telpon tersambung. Tak lama setelah itu, terdengar suara Roy dari sebrang telpon.


"Kenapa menelponku? Aku sudah tidak ingin berhubungan dengan kalian lagi." Ucap Roy datar.


"Apa yang kau katakan, Roy. Dia tidak mencintaiku, tapi dia mencintaimu. Kau sendiri yang mengatakan kalau kau sangat mencintai Tia. Tapi kenapa kau malah mau mundur? Aku sendiri sudah memberimu jalan, tapi kau malah mau mundur!" Seru Bobby.


* Flashback On *


Beberapa hari yang lalu, sebelum Bobby berangkat Ke Surabaya untuk menyusul Giska, ia sempat mengajak Roy bertemu dan bicara empat mata.


Bobby menawarkan kesepakatan kepada Roy. Ia ingin menyatukan Tia dengan Roy. Ia melakukan ini bukan semata-mata karena ingin membuang Tia, di saat ia sudah memiliki Giska. Tetapi, ia melakukan ini karena ia ingin memberi keadilan untuk Tia. Ia akan membiarkan Tia bahagia dengan pria yang mencintainya.


Bobby selalu merasa bersalah pada Tia, setiap ia bersikap tak baik padanya. Ia pun merasa bahwa ia sudah tak adil pada Tia. Itu sebabnya ia ingin menebus semuanya dengan mempersatukan Tia dengan Roy.


Sebelum memutuskan semua ini, Bobby sudah lebih dulu mencari tau tentang Roy. Ia ingin tau, apakah Roy menjalin kasih dengan Tia hanya karena uang, ataukah ada cinta di dalamnya?


Fakta yang Bobby dapat dalam penyelidikan itu adalah, Roy adalah mantan kekasih Tia, dan ternyata saat Tia masih menjalin hubungan dengan Roy, Tia juga menjalin hubungan dengan Bobby. Bahkan, saat Roy mengajak Tia menikah, Tia malah menolaknya, dan Tia malah lebih memilih menikah dengan Bobby, karena Roy tak memiliki harta.


Hal yang sama juga ia lakukan pada Tia. Ia mencari tau, apakah Tia mencintai Roy atau tidak. Dan ternyata semua fakta yang ia lihat, menunjukkan bahwa sebenarnya Tia mencintai Roy. Hanya saja ia tak mau menerima perasaannya sendiri.


_______


"Apa kau masih sangat mencintai Tia?" Tanya Bobby.


"Masih, bahkan cintaku sangatlah besar untuknya. Di sini memang kau yang menjadi suaminya, tapi akulah yang mencintainya. Aku yang selalu ada untuknya." Jawab Roy percaya diri.


"Kejarlah dia. Buat dia menyadari kalau dia juga mencintaimu. Maka aku akan melepaskan Tia untukmu." Ujar Bobby.


"Tapi, jika aku sampai mengetahui kau tidak sungguh-sungguh dengan ucapanmu, aku tidak akan pernah mengampunimu." Ancam Bobby.


"Aku mencintai istrimu, tapi istrimu tidak pernah mencintaiku." Ucap Roy sedih. "Aku tak seberuntung dirimu, yang bisa menikahi wanita yang kau cintai." Tambahnya.

__ADS_1


"Jika cintamu begitu besar pada Tia, maka kau harus membuat Tia menyadari akan perasaannya sendiri. Percayalah, jika kau berusaha, maka kau akan mendapatkan cintamu, Roy." Tutur Bobby.


"Bagaimana caranya?"


"Bersikaplah sedikit cuek padanya. Sekali-kali kau harus mengungkapkan semua perasaanmu padanya. Tanyakan jawabannya. Jika dia menolak menjawab, maka kau menjauhlah. Jika dia mencintaimu, dia akan mencarimu, nanti."


"Aku akan mencobanya. Jika dia mencintaiku, kau harus menepati janjimu." Ucap Roy.


"Tentu."


* Flashback Off *


"Dia tidak mencintaiku, Bob. Hanya kau yang ada di hatinya. Meski aku yang lebih sering memeluk tubuhnya, tapi hatinya tetap tidak bisa ku sentuh, Bob. Sudahlah, aku akan pergi dari Tia. Aku tau cintaku ini salah. Hubunganku juga salah, makanya Tuhan tidak membiarkan aku mendapatkan cintaku." Ucap Roy.


"Sudahlah, aku tidak akan mengganggu rumah tanggamu lagi. Tolong kau jaga Tia. Cintai dia, sayangi dia. Jangan kau sakiti Tia lagi." Pinta Roy. Usai mengatakan itu, Roy langsung mengakhiri panggilannya.


___________


Bobby menghela napasnya kasar, "Tunggu saja Roy. Dia akan datang padamu di saat yang tepat." Gumam Bobby.


"Lama sekali menelpon nya?" Giska tiba-tiba muncul di belakang Bobby.


"Eumm, ini sudah selesai, Gis." Bobby tersenyum. "Cantik sekali sih, istriku ini. Cium dulu!" Bobby memajukan bibirnya, meminta Giska untuk menciumnya.


"Mandi dulu, sana." Giska berlari masuk ke kamar, meninggalkan Bobby yang masih berdiri di luar kamar.


Bobby tersenyum, "Masih malu-malu, dia." Bobby menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian ia pun masuk ke kamar.


***



Usai Bobby mandi, ia dan Giska pun sarapan. Sebelum nantinya mereka akan pergi jalan-jalan keluar.


____________


Usai sarapan, mereka berdua pun pergi jalan-jalan.


"Kita akan kemana?" Tanya Giska.


"Jalan-jalan, Sayang."


"Iya, jalan-jalan kemana?"


"Ke suatu tempat, Sayang. Kau cukup duduk diam, nanti juga kau akan tau tempatnya." Ucap Bobby.


"Iya, ya, Bli." Giska pun berhenti bertanya lagi.


____________




"Sejuknya..." Mata Giska berbinar, melihat pemandangan hijau nan asri di hadapannya.


"Apa kau suka?" Bobby memeluk Giska dari belakang.


"Suka, Bli. Udara di sini sangat sejuk. Pemandangannya juga indah. Kalau aku di suruh tinggal di sini, aku pasti langsung mau." Celetuk Giska.


"Heiii, kau mau tinggal di sini? Apa kau mau tidur di atas pohon itu?!" Konyol sekali istrinya ini, pikir Bobby.


Giska terkekeh, "Ya, tidak begitu juga. Aku hanya berandai-andai, saja."


"Sayang... Kau dan aku akan tinggal di rumah. Kita akan selalu bersama selamanya. Jangan pernah tinggalkan aku, Gis. Aku sangat mencintaimu." Ucap Bobby, yang saat ini masih memeluk Giska dari belakang.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2