
"Setelah semua yang sudah kita berdua lakukan, apa Ajik dan Ibu tetap ingin aku melepas Giska? Kalian menganggap Giska ini apa? Dia gadis yang masih sangat muda. Apa iya aku harus membiarkan Giska menyandang status janda di usia nya ini? Bagaimana jika nanti anakku tumbuh di rahim Giska? Bagaimana dengan orang tua Giska nanti? Bapaknya pasti akan merasa sedih dan kecewa karena aku telah mempermainkan anak gadisnya." Terang Bobby.
Gung De dan Astuti pun terdiam.
"Tapi ini Giska sendiri yang menginginkannya, Pa! Dia tidak mencintaimu. Jika masalah anak, kau jangan khawatir, aku yang akan memberikannya padamu. Lagipula aku yakin, dia tidak akan hamil secepat itu. Kalian saja belum ada satu bulan menikah." Celetuk Tia.
"Kenapa? Apa kau meragukanku, Tia? Apa kau pikir aku tak seperkasa cintamu, itu?! Sampai-sampai kau ragu kalau aku bisa membuat Giska hamil dalam waktu dekat?" Bobby menatap Tia jengah.
"Cukup, Pa! Kau tidak perlu membahas yang tidak perlu di bahas! Disini kita sedang mencari solusi yang terbaik untuk kita semua, tapi kau malah berusaha menyudutkanku. Aku tau aku pernah salah, tapi kau juga salah! Jangan semua kesalahan kau lempar padaku!" Geram Tia.
"Kau yang lebih dulu meremehkanku. Kau bicara seolah-olah aku tidak perkasa, dan tidak bisa membuat Giska hamil." Ucap Bobby kesal.
"Aku tidak bermaksud begitu. Kau salah mengerti ucapanku, Pa!" Tia membela diri.
"Cukup! Kenapa malah kalian yang ribut!" Seru Gung De. "Lihatlah itu Giska, dia gemetar ketakutan mendengar kalian ribut seperti ini." Gung De menatap Giska yang tengah gemetar. Sontak semua orang pun ikut menatap Giska.
"Gis, tenanglah. Ada aku di sini." Bobby memeluk Giska di hadapan Tia dan juga Ajik serta Ibunya. Bobby membenamkan wajah Giska ke dada bidangnya.
"Bagaimana aku bisa tenang, sementara kalian semua ribut karena aku. Aku sungguh merasa sebagai biang masalah disini. Aku ingin pergi, tapi sepertinya tak akan semudah itu untuk aku bisa pergi. Apalagi Bli Bobby sudah mengatakan isi hatinya kepadaku di hadapan Bu Tia dan juga orang tuanya. Apa ucapan Bli Bobby benar adanya? Jika memang benar, apa yang harus ku lakukan?" Batin Giska seraya mendengar deguban jantung Bobby.
"Kenapa aku merasa nyaman berada di pelukan Bli Bobby? Kenyamanan ini pernah ku rasakan saat aku masih kecil, dulu. Saat dimana aku merasakan kasih sayang yang tulus dari seorang Bapak, sebelum hari kelam itu datang." Batinnya pilu. Ia pun sejenak memejamkan matanya. Setelah beberapa detik ia kembali membuka matanya, lalu ia melepaskan diri dari pelukan Bobby.
Sementara Astuti, saat melihat Bobby memeluk Giska, ia jadi merasa kasihan kepada Tia. Ia pun memegang lengan Tia, lalu berbisik, "Tia, kau harus kuat. Ibu tau ini sangat sulit, tapi ini semua sudah terlanjur terjadi. Ibu harap kau bisa sabar dan kuat. Semoga hatimu bisa belajar menerima Giska." Bisiknya seraya mengusap lengan Tia.
"Bu, hatiku sakit sekali melihat suamiku memeluk wanita lain di depanku. Bahkan tadi saat aku datang ke kamar Bobby, mereka seperti habis melakukan itu, Bu. Hatiku sakit sekali, Bu." Tia mengadu pada Astuti.
__ADS_1
Astuti pun memeluk Tia.
"Ajik setuju dengan semua yang Bobby katakan." Ucap Gung De tiba-tiba.
Bobby tersenyum, "Jadi, Jik?"
"Ajik tau kalian menikah karena sebuah perjanjian atau apalah itu. Tapi meskipun begitu, kalian tetap saja sudah menikah. Apalagi setelah mendengar kau, Bob, sudah jujur akan perasaanmu kepada Giska, jadi Ajik ingin kalian bersama-sama memperjuangkan pernikahan kalian." Tutur Gung De.
"Bukan hanya pernikahan kalian berdua saja, tapi kau, Bob, juga harus memperjuangkan pernikahanmu dengan Tia. Keduanya adalah istrimu, jadi Ajik harap kau bisa adil dalam pernikahan kalian. Mungkin ini terlihat aneh, seorang pria memiliki dua orang istri, tapi semua ini sudah terjadi. Suka tidak suka, mau tidak mau, kalian bertiga harus berbagi hidup, harus bisa hidup berdampingan, karena sekarang kalian sudah menjadi satu keluarga. Ajik harap tidak akan pernah terjadi seperti ini lagi. Tia harus benar-benar berubah, dan Bobby juga harus berubah. Mulailah semuanya dari awal." Sambung Gung De.
"Tapi, Jik, saya tidak ingin menyakiti hati Bu Tia, lagi." Ucap Giska takut.
"Tia sudah menerimanu, Gis." Ucap Bobby, "Iya, kan Tia?" kini beralih menatap Tia.
"I-iya, aku akan berusaha menerimamu. Meskipun ini sangat sulit untukku, tapi aku akan berusaha menerimamu. Tapi, aku tidak tau berapa lama aku bisa benar-benar menerimamu. Aku butuh waktu untuk itu." Jawab Tia terpaksa.
"Jika memang ini sudah di menjadi takdir kalian, maka Ibu yakin, kalian akan bisa melewati semua ini dan Ibu yakin kalian akan bahagia." Tutur Astuti pada anak dan kedua menantunya.
Bobby pun tersenyum sumringah, "Terimakasih Ibu, Ajik. Karena kalian sudah mau mendukung Bobby." Ucapnya pada kedua orang tuanya.
"Tanggung jawabmu semakin besar, Bob. Jangan sampai lupakan itu." Tutur Gung De.
"Iya, Jik. Itu pasti."
"Dan ya, aku juga mau mengucapkan terimakasih kepada kau, Tia. Karena kau sudah mau berbesar hati menerima pernikahanku dan Giska. Tapi aku janji, aku akan berusaha membuatmu mendapatkan cinta yang sesungguhnya. Cinta yang membuatmu bahagia tanpa kurang satu hal apapun. Cinta yang bisa selalu memenuhi kebutuhan lahir dan batinmu. Aku berjanji akan hal itu." Tutur Bobby tulus. Ia pun masih tersenyum lebar, menggambarkan suasana hatinya yang tengah bahagia, saat ini.
__ADS_1
Tia pun balas tersenyum, ia pun langsung berpindah duduk di samping Bobby. Jadi, Tia di samping kanan, Bobby di tengah, dan Giska berada di samping kiri. Sungguh pemandangan yang nyata, satu pria dengan dua istri, begitulah jadinya.
"Terimakasih, Pa. Aku bahagia sekali melihat kau sudah berubah seperti. Aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi." Ucap Tia seraya merangkul Bobby.
"Tidak apa-apa aku harus sedikit mengalah dulu, untuk kembali mendapatkan suamiku. Jika aku tau, hanya dengan menerima Giska kau akan kembali mencintaiku seperti dulu, maka aku akan melakukannya sejak awal, Pa. Ahh tapi sudahlah, sekarang juga sama saja. Yang terpenting adalah sekarang kau sudah mulai seperti dulu." Batin Tia kegirangan.
"Hmmm, iya." Jawab Bobby. "Aku harap semua berjalan lancar." Batin Bobby, ia pun tersenyum.
"Sungguh seperti di film-film yang ada di tv." Giska menghela napasnya, "Kenapa aku harus berada di dalam situasi seperti ini? Semua orang disini langsung setuju untuk pernikahan kami yang rumit ini, bahkan tanpa menanyakan pendapatku, entah aku setuju atau tidak." Batin Giska. Ia sungguh merasa aneh melihat semua ini. Di tambah lagi saat ini Bobby kembali menrangkulnya dengan tangan kirinya, dan ia juga merangkul Tia dengan tangan kanan nya.
Orang tua Bobby yang melihat adegan di depannya itu pun ikut tersenyum. "Ajik senang jika melihat kalian akur seperti ini. Semoga keluarga kalian selalu di beri kebahagiaan." Ucap Gung De.
"Ibu juga ikut senang." Tambah Astuti.
***
Sore harinya.
Saat ini Giska sedang bersama dengan Ibu mertuanya. Mereka berdua sedang berada di dapur. Keduanya nampak tengah memasak makanan untuk makan malam nanti. Meskipun masih gugup dan canggung, Giska harus tetap berdekatan dengan Ibu mertuanya. Karena tak mungkin, kan, ia menolak saat Ibu mertuanya ingin ia membantunya memasak sembari mengobrol. Mungkin dengan seperti ini, mereka berdua bisa jauh lebih dekat dan menjadi akrab.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...