
Bobby menghela napasnya. "Apa iya aku pulang sekarang? Tapi masa iya aku pulang tanpa memberitahu Giska?" pikirnya. Ia menatap Giska yang saat ini masih tertidur pulas.
Drrtttttt!
Drrrttttt!
Belum juga lama, Tia sudah langsung menelpon Bobby.
"Besok saja aku carikan rotinya. Sekarang kau tidurlah saja! Jangan begadang karena itu tidak baik untuk janinmu!" seru Bobby.
"Aku tidak mau! Kau harus pulang atau kau carikan rotinya!" seru Tia.
"Yaya, baiklah. Tunggu!"
Tutttt.
Bobby langsung mengakhiri panggilannya.
"Apa orang hamil memang seperti ini?" gumam Bobby sedikit kesal.
°°°
Di tempat lain.
Tia tersenyum senang karena Bobby mau menurutinya. Saat ini, ia sedang duduk di sofa ruang tengah sambil menunggu Bobby pulang. Seutas senyum nampak tergambar jelas di sudut bibirnya.
"Dia memang suamiku. Dia pasti selalu menurut apa yang aku katakan," gumam Tia sumringah.
"Kehamilanku ini benar-benar membuatku mendapatkan suamiku kembali," imbuhnya.
"Ahhh kalau tau begini, kenapa tidak dari dulu saja aku hamil." Tia terkekeh.
Tia pun bergegas berdiri dari sofa empuk yang baru saja ia duduki. Ia berjalan kesana kemari sambil pandangan matanya celingak celinguk menatap pintu rumah. Dengan senyum mengembang ia berjalan sambil sesekali terlihat tangannya tengah mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.
Nampaknya ia begitu gembira saat mendengar Bobby hendak pulang saat ia memintanya. Senyum kemenangan pun tergambar jelas di sudut bibirnya.
"Kita lihat saja, Giska. Perlahan-lahan suamiku akan kembali ke pelukanku seutuhnya," gumamnya senang.
"Apa yang menjadi milikku, akan tetap menjadi milikku," lanjutnya masih dengan senyuman mengembang.
"Tunggu saja. Tidak akan lama lagi waktunya akan tiba."
10 menit berlalu...
Tia mulai sedikit kesal karena Bobby tak kunjung sampai. Ia pun memilih kembali duduk di sofanya sambil sesekali mencoba menelpon Bobby.
20 menit berlalu...
30 menit berlalu...
Tokkk...
Tokkk...
__ADS_1
Tokkk...
Terdengar suara ketukan pintu. Tia yang semula cemberut karena sudah terlalu lama menunggu Bobby, ia segera bangun dari sofa dan ia pun bergegas berjalan ke arah pintu. Sambil berjalan, ia pun bergumam, "Eh, kok tumben ya dia ketuk pintu? Biasanya kan langsung masuk?" pikirnya.
"Ahh mungkin dia lupa bawa kunci," sambungnya kemudian. Ia nampaknya mencoba berpikir positif mengenai Bobby.
Dengan langkah sedikit terburu-buru Tia berjalan ke arah pintu. Dan sesampainya di depan pintu, ia pun langsung membuka pintu itu tanpa berpikir panjang lagi.
Ceklekkk!
"Pa,----. Kau?" Kedua mata Tia melotot lebar saat melihat orang yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Tia..." Orang yang berdiri di hadapan Tia langsung sigap menangkap tubuh Tia yang hendak terhuyung jatuh ke belakang.
"Hati-hati," tutur orang itu sambil memegangi Tia. Lalu kemudian ia membantu Tia untuk duduk di kursi depan yang berada tak jauh dari pintu.
"Ayo duduklah dulu," pintanya.
"K-kau kenapa bisa di sini?" tanya Tia dengan suara terbata-bata. Tia pun masih memelototkan kedua matanya ke arah orang itu.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh menemuimu?" tanya orang itu dengan menyipitkan matanya.
"Pergilah Roy!" usir Tia langsung. Ia bahkan langsung membuang muka di hadapan Roy.
Ya, orang itu adalah Roy. Mantan kekasih sekaligus mantan selingkuhan Tia.
"Tenanglah Tia, jaga emosimu. Kasian bayimu jika kau emosi begini," tutur Roy ramah.
"Aku kesini hanya ingin membawakanmu roti conato ini." Roy menunjuk bingkisan yang tadi sengaja ia letakkan di meja depan sebelum ia mengetuk pintu. Dan kini Tia juga duduk dekat dengan meja itu, Roy pun menunjuk bingkisan itu.
"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sedang hamil?" tanya Roy. Ia memilih mengalihkan pembicaraan.
"Itu bukan urusanmu, Roy! Lagipula kenapa aku harus memberitahumu?" kesal Tia.
"Tentu saja kau harus memberitahuku, karena aku temanmu," sahut Roy.
"Ckc." Tia berdecak.
"Hanya teman kan? Jadi ya sudah. Teman tidak harus tau," ucap Tia datar.
"Dan ya, kenapa kau kembali? Bukankah kau sendiri yang memilih pergi dan tak ingin memiliki hubungan denganku lagi? Tapi kenapa sekarang kau tiba-tiba datang dan mengaku sebagai temanku?" sindir Tia kemudian.
"Apa kau marah padaku?" Lagi-lagi Roy tak menjawab ucapan Tia. Ia malah balas bertanya pada Tia.
"Sudahlah! Aku tak ingin melihatmu lagi! Pergilah dari sini!" usir Tia.
"Apa kau begitu marah padaku sampai kau tak ingin aku ada di sini meski hanya sebentar saja?" Lagi-lagi Roy melemparkan pertanyaan.
"Aku minta maaf jika aku pernah melukai hatimu, Tia. Tapi tolong, biarkan aku menemanimu sebentar." Roy tiba-tiba memegang perut buncit Tia.
"Roy! Singkirkan tanganmu!" Tia langsung menampel tangan Roy yang memegangi perutnya. Ia pun langsung bangun dari duduknya.
"Akkhhhh!" Tia memekik kesakitan. Ia langsung memegangi perutnya.
__ADS_1
"Tia..." Roy pun reflek langsung memegang lengan Tia.
"Jangan sentuh aku! Pergilah dari sini!" usir Tia dengan suara menahan sakit. Sementara tangannya masih memegangi perutnya.
"Aku tak ingin Bobby sampai melihatmu di sini! Pergilah!" Tia kekeh mengusir Roy. Padahal ia sedang kesakitan.
"Sudah jangan banyak bicara! Pikirkan kandunganmu dulu." Roy pun langsung membopong Tia. Dan ia membawa Tia masuk ke dalam rumah.
Roy sangat panik saat Tia tiba-tiba kesakitan. Apalagi saat ini Tia sedang hamil. Ia pun tak peduli dengan ocehan Tia sejak tadi. Meskipun Tia tetap mengusirnya, ia tak peduli. Yang terpenting saat ini hanyalah kondisi Tia dan bayi di dalam kandungannya.
°°°
Roy sibuk mengurus Tia yang sedang kesakitan di rumah, sementara Bobby, ia masih berada di jalanan. Sejak tadi ia telah menyusuri jalanan untuk melihat toko conato yang masih buka. Namun sampai sekarang ia tak kunjung menemukannya.
Ya wajar saja, ini sudah tengah malam. Tak mungkin ada toko conato yang masih buka di jam selarut ini.
"Aku harus mencarinya kemana lagi?" gumam Bobby sambil masih terus menyetir mobilnya.
Drrrtt....
Drrrttt ...
Bobby mendengar ponselnya berdering.
"Pasti Tia yang menelpon," gumamnya. Ia pun langsung menjawan panggilan itu tanpa melihat siapa yang menelponnya. Ya karena ia mengira Tia lah yang menelponnya.
"Sabar, Tia. Aku belum mendapatkannya," ucap Bobby mengawali pembicaraan melalui telpon.
Tuttt!
Panggilan terputus.
"Lah, kok dimatikan? Sepertinya dia kesal padaku," gumam Bobby. Ia pun kembali meletakkan ponselnya di dashboard mobil.
.
.
.
Bersambung...
Haii Kakak readers semuanya...
Kita ketemu lagi😁
Maaf ya lama sekali aku lanjutinnya🙏
Bagaimana kabar kalian semua?
Semoga sehat selalu ya Kak🙏
Terimakasih buat yang sudah mau menunggu cerita receh ini🙏
__ADS_1
Sekali lagi mohon maaf ya kak...
Luv buat Kalian❤️