
Selepas Giska pergi dari kamar, Bobby tampak memilih membaringkan tubuhnya di kasur tempat ia dan Giska tidur. Tangan kirinya ia letakkan di belakang kepala lalu tangan kanannya merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Kemudian ia pun mengarahkan ponselnya ke dekat daun telinganya setelah ia memencet nomor seseorang yang akan ia hubungi.
"Tia, apa kau masih di luar?"
Ya, ia menghubungi Tia.
"Baguslah kalau sudah di rumah. Tolong kau siapkan makanan untukku. Hari ini aku ingin makan soto." Ia meminta pada Tia.
"Tidak! Jangan suruh Bibi yang memasak. Kau saja yang masak. Aku ingin makan masakanmu. Ingat itu ya, harus kau yang masak!" Ia menegaskan keinginannya itu pada Tia agar Tia mau menurutinya.
"Nanti sore aku pulang, sotonya harus sudah ada."
Tutt! Ia mematikan panggilannya setelah selesai bicara pada Tia.
"Apa aku terlalu berlebihan meminta Tia memasak untukku? Saat ini dia kan sedang hamil? Apa nanti akan mempengaruhi kandungannya?" Ia membatin.
{ Masaknya santai saja. Jika kau merasa lelah istirahat saja dulu. Nanti diteruskan lagi. Dan ya, kau boleh minta tolong Bibi untuk membantu menyiapkan bahan-bahannya. Tetapi yang memasak tetap harus kau sendiri, ya. Terimakasih. ~ Bobby }
Ia pun mengirimkan pesan ini pada Tia, setelah ia berfikir telah merepotkan Tia.
Selesai urusan dengan Tia, ia pun kemudian mengirimkan pesan pada istri mudanya yang saat ini tengah pergi ke rumah sebelah, menemui temannya.
{ Sayang, kalau sudah selesai bicara dengan temanmu yang tidak jelas itu, segeralah kembali pulang. Aku merindukanmu. ~ Bobby } Pesan yang diakhiri dengan emotikon hati berwarna merah, pun telah terkirim ke nomor Giska.
Di tempat lain. Giska merasa sedikit kesal membaca pesan dari suaminya, pasalnya ia tengah membicarakan hal serius dengan Trias.
"Kenapa, Gis? Mukamu kok seperti itu? Pesan dari siapa memangnya?" Trias bertanya saat melihat ekspresi Giska.
"Dari Bli Bobby," jawab Giska.
"Coba lihat." Trias langsung mengintip ponsel Giska untuk melihat isi pesan yang membuat sahabatnya itu merasa kesal.
"Suamimu romantis seperti itu, Gis. Kenapa kau malah kesal? Kau ini aneh sekali," celetuk Trias. Ia merasa heran akan tingkah sahabatnya itu.
"Romantis apanya. Ini pasti ada maunya," sahut Giska. Ia mengingat saat hendak kemari tadi, bibirnya di kecup dan dilumat oleh suaminya.
"Hiiii." Ia pun tiba-tiba merinding mengingat itu.
"Kenapa sih? Aneh sekali." Trias heran.
"Tidak apa-apa, Tri. Sudah lupakan."
"Kau itu beruntung tau, Gis. Suamimu sangat menyayangimu. Dia selalu memanggilmu sayang, aahh itu manis sekali," ucap Trias sambil tersenyum gemas. Padahal ia baru saja menangis, eh sekarang malah tersenyum.
"Yaa begitulah, Tri. Tapi kan bukan hanya aku saja," celetuk Giska.
"Oh iya, ada istri tuanya ya. Aku lupa." Trias terkekeh.
"Tapi kalau ke istri tuanya, apa Bli Bobby juga memanggil sayang, Gis? Atau ada panggilan sayang lainnya?" tanya Trias.
"Entahlah. Aku tidak tau." Giska mengendikkan bahunya.
"Kau cemburu ya?" goda Trias.
"Tidak penting lah untuk dibahas," sahut Giska malas.
"Eh tapi dulu aku sempat tidak percaya lho, Gis."
"Tidak percaya apa?"
"Ya tidak percaya kalau kau menjadi istri kedua. Ya, secara kan kau gadis baik-baik. Rasanya kurang yakin saja aku, Gis. Tapi ternyata memang benar kenyataannya," ucap Trias sambil tersenyum.
"Sudahlah lupakan! Kenapa malah bahas tentang hubunganku sih? Lanjutkan pembicaraan kita tadi!" seru Giska.
"Hmmm.." Trias langsung menundukkan kepalanya. Ia yang semula bisa tersenyum kini tiba-tiba ia kembali tak bersemangat ketika sahabatnya kembali meminta fokus pada pembicaraan yang sebelumnya.
"Kau tadi ingin mengatakan apa, Tri? Sepertinya serius sekali." Giska bertanya. Ya, sebelum ia menerima pesan dari Bobby tadi, ia tengah menunggu Trias mengatakan sesuatu yang kelihatannya sangat serius.
"Lupakan saja, Gis." Trias tampak berubah pikiran.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, apa rencanamu setelah ini, Gis? Kau akan selamanya menetap di sini atau bagaimana? Dan ya, rumahmu di Surabaya bagaimana?" Trias kemudian mengalihkan pembahasan.
"Entahlah. Aku masih belum bisa berfikir jauh mengenai itu, Tri. Rasanya aku masih berat menerima kalau bapakku sudah pergi," jawab Giska. Kali ini ia yang tampak sedih. Kepalanya pun tertunduk.
"Maafkan aku ya, Gis. Karena tadi pagi aku sempat kesal denganmu karena kau mengabaikan curhatanku." Trias menggeser bokongnya agar posisi duduknya lebih dekat dengan Giska. Kemudian ia pun merangkul Giska.
"Kenapa kau minta maaf? Kau kan belum tau kalau aku sedang memikirkan bapakku. Harusnya aku yang minta maaf, Tri," balas Giska.
"Iya benar. Kita ini sahabatan sejak kecil kan? Tapi kau sama sekali tidak memberitahuku tentang bapakmu. Kau baru memberitahuku hari ini! Aku kesal sebenarnya!" Trias kembali menggeser bokongnya agar posisi duduknya lebih berjarak lagi dengan Giska.
"Iya maafkan aku. Kau ini seperti anak kecil ya, Tri. Moodmu cepat sekali berubah." Giska terkekeh kecil.
"Kau juga kan? Moodmu juga cepat berubah. Tadi kau sedih, lalu kesal, lalu sedih lagi, eh sekarang kau terkekeh." Trias balas mengejek Giska.
"Yaa, entahlah, Tri. Sudahlah. Kalau sedih sih memang aku masih sedih. Tapi untuk sekarang ini, mari kita lupakan sejenak. Sekarang beritahu apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku tadi. Kau jangan lagi mencari pembahasan lain, Tri. Ayo cepat katakan apa!"
"Aku-----" Trias mendadak menjadi gugup.
"Aku apa? Ayo teruskan!" pinta Giska.
"Emmm, Gis. Kau tau tidak panti asuhan yang ada di sini? Di Bali ini?" Trias bertanya dengan suara pelan namun Giska masih bisa mendengarnya.
"Panti asuhan? Kenapa bertanya panti asuhan?" Giska balas bertanya.
"Sebenarnya------ sebenarnya saat ini aku sedang hamil, Gis," ungkap Trias sambil menundukkan kepalanya.
"Hamil?" Giska terkejut seketika. Ya meskipun ia tau bahwa pekerjaan Trias seperti itu akan tetapi ia tidak mengira kalau Trias sampai hamil.
Trias menganggukkan kepalanya pelan. "Aku ingin memberikan anak ini ke panti asuhan setelah lahir nanti," ucapnya kemudian.
"Iya karena aku belum menikah."
"Kenapa tidak menikah sekarang saja?" Giska masih menatap Trias tak percaya.
"Menikah dengan siapa?" Trias malah balas bertanya.
"Ya dengan kekasihmu yang sudah menghamilimu, Tri! Kau ini bagaimana sih? Kalian sudah sama-sama berbuat. Sekarang giliran ada bayi, kau malah mau membuangnya ke panti asuhan! Tega sekali kau ini!" Celoteh Giska.
"Kau harusnya tau konsekuensinya seperti apa jika melakukan hubungan suami istri. Jadi kau harus siap menanggungnya. Jangan malah mau lari seperti ini!" Giska mulai mengomeli Trias. Ia tak habis pikir dengan pemikiran sahabatnya itu.
"Dia tidak mau tanggung jawab, Gis. Apalagi dia juga sudah memiliki istri. Dia tidak mau menceraikan istrinya. Katanya dia sangat mencintai istrinya," ungkap Trias getir.
Giska menghela napasnya, lalu membuangnya sebelum ia bicara. "Kau jangan minta dia menceraikan istrinya. Kenapa tidak jadi istri kedua saja, seperti aku ini. Ya meskipun sebenarnya tidak dibenarkan seperti ini. Karena yang namanya perselingkuhan itu sudah salah besar. Tapi masalahnya ini sekarang ada bayi yang tumbuh di dalam perutmu. Bayi itu tidak berdosa."
"Dia tidak mau tanggung jawab, Gis. Aku tidak bisa memaksanya menikahiku hanya karena aku sedang mengandung anaknya!" Trias berkata tegas. Namun raut wajahnya tetap terlihat sedih.
"Pikirkan sekali lagi, Tri."
"Keputusanku sudah bulat, Gis."
\*\*\*
Giska kembali ke rumahnya setelah berjam-jam ia berada di rumah Trias. Ia pun langsung menuju ke kamarnya, hendak langsung menemui suaminya yang ternyata masih menunggunya.
"Bli Bobby masih di sini? Bukankah dia ingin makan bersama Bu Tia? Lantas mengapa dia tidak pulang?" gumamnya sambil berjalan ke kamar.
"Sayang..."
__ADS_1
Giska sontak terkejut mendengar suara suaminya dari belakangnya, kemudian diikuti dengan pelukan yang diberikan suaminya.
"Lho, Bli Bobby dari mana?" tanya Giska.
"Dari dapur. Aku baru saja meletakkan makanan di sana. Kau ini lama sekali kembalinya! Aku kan sudah bilang agar kau cepat kembali." Bobby semakin mengeratkan pelukannya pada Giska. Lalu ia berbisik, "Aku merindukanmu." Di ikuti dengan senyuman di sudut bibirnya.
"Tapi aku sedang tidak ingin melakukannya, Bli. Aku rasa ini juga bukan waktu yang tepat." Giska bicara sambil berusaha lepas dari pelukan suaminya.
"Kau ini. Kenapa kau berfikir ke arah sana?" Bobby terkekeh.
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu di dalam kamar. Tanpa melakukannya, Sayang," jelasnya.
"Aku fikir tadi----"
"Kau fikir apa?" Bobby tersenyum.
"Ti-tidak, Bli." Giska berusaha agar tak gugup.
"Makanya jangan berburuk sangka dulu padaku. Aku juga tau akan situasi saat ini, Sayang. Kita masih sama-sama berduka."
"Ya sudahlah, Sayang. Sepertinya kau sedang tak ingin bersamaku. Itu sebabnya kau berusaha menghindariku sejak tadi. Lebih baik aku pulang saja. Lagipula ini juga sudah sore. Kebetulan juga aku ada kerjaan di rumah," ucap Bobby.
"*Kerjaan? Mungkin saja rencana makan bersama itu*," batin Giska.
"*Lupakan soal itu dulu. Apa lebih baik aku bicara pada Bli Bobby sekarang ya*?" pikirnya.
"Emmm, tunggu sebentar, Bli. Jangan pulang dulu. Sebentar saja," pinta Giska.
"Kenapa? Kau berubah pikiran? Kau baru menyadari kalau ternyata kau juga merindukanku?" goda Bobby sambil menjawil dagu Giska.
"Emmm, aku ingin bicara hal penting, Bli."
"Apa itu? Sepertinya penting sekali. Ada apa, Sayang?"
"Aku akan memiliki anak." Giska bicara pelan namun jelas. Bobby pun mendengarnya.
"Kau serius, Sayang? Kau hamil?" Senyum Bobby mengembang seketika. Ia bahkan hendak menggendong istrinya itu namun Giska menghentikannya.
"Bukan itu maksudku, Bli..."
"Lalu? Bicaralah yang jelas, Gis. Jangan membuatku bingung." Senyuman di wajah Bobby pun perlahan memudar.
"Aku akan mengadopsi bayinya Trias. Saat ini dia sedang hamil 5 bulan. Tapi dia tidak menginginkan bayi itu. Daripada bayi itu akan diberikan ke panti asuhan, lebih baik aku saja yang mengadopsinya. Agar aku juga memiliki teman nantinya." Giska mengatakannya langsung pada suaminya.
"Kita bisa memiliki anak sendiri, Gis. Kenapa harus adopsi? Ini bukan main-main," sahut Bobby. Ia tampak tak begitu senang.
"Tapi aku sudah terlanjur mengatakannya pada Trias. Dia bahkan juga setuju," balas Giska.
Baiklah jika seperti itu yang kau inginkan. Berikan saja padaku. Aku yang akan merawatnya. Itulah keputusannya yang ia ia ambil tanpa berpikir panjang, bahkan tanpa bertanya dulu pada Bobby.
"Gis, merawat bayi itu tidak mudah. Kau belum memiliki pengalaman. Jangankan kau, aku saja juga tidak berpengalaman. Bukan hanya itu saja, kita tidak tau siapa bapak dari bayi itu. Kita berdua sama-sama tau bagaimana temanmu itu bergaul. Jadi sudahlah, jangan kau yang bertanggung jawab pada bayi itu."
..
..
..
__ADS_1
**Bersambung**...