Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Bagaimana mungkin?


__ADS_3

Giska menghela napas nya, ia pun berkata, "Bli, Bapak sudah masuk ke kamar nya." Kata nya, sembari ia berjalan ke belakang rumah. Biarkan saja ia menjauh, supaya Bram tidak mendengar.


"Hmm, iya Gis." Sahut Bobby di sebrang telpon.


"Gis, aku sangat merindukanmu. Jelek sekali rasanya sembunyi-sembunyi seperti ini. Aku jadi tidak bisa bicara denganmu secara bebas." Keluh Bobby.


...Flashback On...


1 minggu yang lalu, pembahasan Ela tentang perjodohan Giska, sukses membuat Giska berdebat karena perbedaan pendapat dengan Bram. Bukan tentang perjodohan itu saja, kini perdebatan mereka menyangkut Bobby juga.


Awalnya Giska berpikir, jika ia mengatakan sudah mempunyai kekasih, maka Ela akan berhenti membicarakan perjodohan. Namun ternyata, setelah mendengar Giska mengakui kalau ia sudah memiliki kekasih di Bali, Ela semakin meradang. Ela semakin membangga-banggakan pria yang di anggap keponakan nya itu. Tak hanya itu saja, Ela tak segan berbicara buruk tentang Bobby. Ada saja perkataan yang dia ucapkan, dan semua perkataan nya itu benar-benar membuat Giska merasa kesal.


'Pria Bali itu begini lah, begitu lah, kurang ini lah, kurang itulah. Kalau menikah dengan pria Bali, otomatis kau akan tinggal di sana, lalu bagaimana dengan Bapak mu? Apa kau tega membiarkan Bapak mu tinggal di sini seorang diri? Apalagi Bapakmu juga sudah sepuh, sudah sakit-sakit an pula. Harus nya kau sebagai anak nya bisa merawar Bapak mu'. Itulah yang Ela katakan.


Sejujurnya, apa yang Ela katakan juga ada benar nya. Saat ini orang tua Giska hanya tinggal Bram saja, bagaimana bisa Giska mengabaikan orang tua nya yang sudah sepuh, apalagi sudah sering sakit-sakitan. Giska pun kembali mengingat masa kecil nya, masa dimana ia dan Bram sangat dekat layaknya seorang Bapak dan anak yang normal. Dulu, Bram sering bilang kepada Giska, jika suatu saat kau sudah tumbuh dewasa, carilah lelaki yang mencintaimu dan dia tulus menerima segala kekurangan mu. Dan yang terpenting, lelaki itu mau menerima keluarga kita yang miskin. Satu hal lagi, carilah suami yang mau di ajak tinggal di rumah kecil kita ini. Jadi, Bapak tak akan kesepian meskipun kau sudah menikah, nanti. Itulah yang selalu Bram katakan. Giska pun selalu mengangguk dan menjawab iya. Ya, ia sendiri juga tak ingin tinggal terpisah dengan Bapak nya. Ia ingin bisa merawat Bapak nya.


Tetapi, kini hati Giska menjadi dilema, setelah kejadian yang menimpanya, yang membuat kesucian nya terenggut secara paksa. Sejak saat itu sampai sekarang, ia di hadapkan dengan perasaan benci dan juga perasaan sayang kepada orang tua nya. Kedua nya sama besar nya, sehingga terkadang ia sulit mengambil untuk keputusan.


🌹🌹


"Putuskan hubunganmu dengan pria Bali itu!" Seru Bram.


"Tidak semua pria Bali itu sama dengan apa yang Bu Ela katakan, Pak! Lagipula Bapak kenapa sih mau-mau nya percaya semua ucapan Bu Ela!" Giska berusaha menjelaskan.

__ADS_1


"Kau ini tau apa! Lihat itu Diah! ( Tetangga )Dulu dia menikah dengan pria Bali, hidupnya menjadi sengsara. Diah di suruh bekerja siang dan malam, semantara suami nya sibuk pergi ke cafe, mabuk-mabuk an, judi! Itu sebabnya Diah memilih pisah dari suami nya."


"Aku ini Bapakmu, aku tidak mau kau menyesal nanti nya!" Bram tetap saja ngotot, ia merasa apa yang ia katakan sudah benar.


"Kita tidak tau kehidupan seseorang, Pak! Apa yang kita lihat belum tentu benar. Apa yang kita dengar juga belum tentu benar."


"Bapak itu seharusnya tidak gampamg terprovokasi oleh omongan tetangga! Tidak perlu mendengarkan semua yang tetangga katakan. Sekarang aku tanya, saat Bapak sakit seperti ini, apa kita pernah meminta uang kepada tetangga? Apa pernah kita minta makan pada tetangga? Tidak kan?! Tetangga enak asal bicara ceplas ceplos tanpa memikirkan semua nya. Selama ini aku kerja cari uang juga untuk Bapak. Coba di ingat kembali, setiap kali Bapak tidak punya uang, Bapak selalu menelponku, Gis Bapak tidak punya uang, nah besoknya aku langsung mengirim uang untuk Bapak. Saat Bapak sakit, aku langsung pulang ke rumah, tanpa melihat waktu entah siang atau malam, aku langsung pulang." Terang Giska, serinci mungkin. Biarkan saja sudah jika ia sudah tidak sopan. Tapi Bram memang harus menyadari itu.


"Baik, jika kau bersikeras membela pria Bali itu. Bilang kepadanya, suruh datang menemuiku. Jika di benar-benar serius kepadamu, dia akan datang kesini meminta izin langsung kepadaku. Aku memberimu waktu 1 bulan! Jika selama 1 bulan dia tidak datang, aku tak akan mengizinkanmu pergi ke Bali lagi!" Seru Bram. Emosinya semakin bertambah kuat. Bahkan wajahnya pun semakin memerah.


"Iya." Di iyakan saja dulu. Mau membantah lagi juga percuma. Terlebih lagi Giska takut jika ia masih membantah, maka emosi Bapak nya akan semakin besar, dan itu akan berakibat fatal nanti nya.


Giska memilih menginyakan, demi kesehatan Bram. Namun, sejujur nya ia bingung, apa yang harus ia katakan nanti? Bagaimana ia akan mengatakan jika pria yang ia bela ternyata sudah memiliki istri. Bahkan sebenarnya ia sendiri juga sudah menjadi istri kedua dari pria itu. Ia tak siap jika harus jujur sekarang. Bisa saja ia dan Bram akan menjadi bulan-bulanan tetangga nya, jika sampai status nya yang menjadi istri kedua sampai bocor. Ahh sungguh rumit hidup yang Giska jalani. Ya, meskipun Giska sendiri turut andil membuat hidupnya sendiri menjadi rumit.


...Flashback Off...


"Iya mau bagaimana lagi, Bli. Keadaan nya lagi seperti ini." Ucap Giska.


"Harusnya kau mengizinkanku untuk datang menemui Bapakmu, Gis. Ya, biar semua jelas. Jadi, kita tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti ini."


"Jangan sekarang! Nanti juga pasti akan bertemu, kok." Jawab Giska ragu-ragu.


Ia belum siap mengenalkan Bobby kepada Bram, bukan hanya karena Bobby sudah memiliki istri, tetapi ia sendiri tidak yakin akan pernikahan nya dengan Bobby. Terakhir kali sebelum ia pulang ke Surabaya, ia sempat meminta pisah dari Bobby, dengan alasan ia tak ingin menjadi duri di dalam rumah tangga orang lain. Meskipun Bobby sudah menasehatinya dan juga sudah memberikan penjelasan, tapi tetap saja, keinginan ingin pisah masih ada di hati nya.

__ADS_1


Ahhhh, ia menyesal karena sudah mati-matian membela Bobby, padahal hubungan keduanya belum tentu jelas.


Saat Giska membela Bobby, hatinya mengatakan kalau Bobby memang harus di bela, karena Bobby sudah menjadi suami nya. Huffftt, Giska benar-benar di hadapkan oleh 2 status yang menjebak, yaitu status sebagai anak dari Bram, dan status sebagai istri Bobby. Lalu, mana yang harus ia pilih? lagi-lagi dilema menyerangnya.


"Gis, sebenarnya saat ini aku sudah berada di Surabaya." Ucap Bobby pelan.


"Apa?! Bli Bobby jangan bercanda!" Giska terkejut.


"Iya, aku sudah 3 hari di sini, Gis."


"Bagaimana mungkin?" tanya Giska yang masih tidak percaya.


"Saat aku sulit menghubungimu, aku merasa cemas akan keadaanmu, Gis. Aku berusaha sabar menunggu sampai 3 hari, dan sampai semua kembali normal, lalu tiba-tiba kau mengatakan tentang Bapak, waktu itu. Jadi ya, aku memutuskan untuk menyusulmu. Aku bahkan tau dimana rumahmu. Aku juga sering lewat di jalanan sekitar rumahmu, Gis." Terang Bobby.


"Haa? Apakah ini sungguhan? tapi kalau memang iya, tolong jangan pernah ke rumah ku, Bli. Please! Jangan muncul dulu!" Giska memohon. Rasanya ia benar-benar terkejut sekaligus takut. Ia takut akan kemungkinan yang akan terjadi bila seandainya Bobby nekat datang ke rumah. Bisa gempar nanti seluruh kampung.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Giska... Giska... Hidupmu kamu buat rumit sendiri😁


__ADS_2