Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Aku takut


__ADS_3

Tia menghembuskan napasnya kasar, tergambar rasa ketidaksukaan di wajahnya. "Ajik dan Ibu sudah menunggu di depan." Ucap nya, kemudian ia berlalu pergi dari kamar Bobby.


Setelah Tia pergi, Giska pun nampak keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaian lengkap. Ia juga sudah merapikan rambutnya. Ia pun berjalan menghampiri Bobby yang masih berdiri di ambang pintu.


"Apa itu, Ibu?" tanya Giska.


"Bukan."


"Lalu siapa?"


"Hmmm, ayo kita keluar sekarang." Bobby pun menggandeng tangan Giska. Ia pun membawa Giska menemui orang tua nya.


Sesampainya di ruang keluarga, Bobby pun langsung menyapa kedua orang tua nya yang sejak tadi sudah menanti Bobby dan Giska keluar dari kamar. Tia pun juga ada di sana, ia duduk di samping Ibu mertua nya.


"Ajik, Ibu..." Sapa Bobby.


"Ya, Bob. Duduklah!" Perintah Gung De. Bobby pun mengangguk, lalu ia pun mengajak Giska untuk duduk bersama.


"Pa... Kau tidak menyapaku?!" Protes Tia. Ia memanyunkan bibirnya.


"Tadi juga sudah bertemu, kan Tia." Jawab Bobby santai.


"Hmmm," Tia hanya berdehem menanggapi Bobby. Ingin sekali rasanya ia protes lagi, namun ia sadar saat ini ada kedua mertuanya di sana.


Kedua orang tua Bobby pun menatap anak dan kedua menantunya dengan seksama. Nampaknya mereka merasa aneh, melihat anaknya memiliki dua istri, dan sekarang kedua istrinya tengah berada di dalam satu ruangan yang sama.


Menurut Astuti pribadi, ia merasa canggung dengan semua ini. Ia kasihan melihat Tia, yang nampaknya menyimpan begitu banyak duka di mata dan hatinya. Wanita manapun pasti tak menginginkan ini semua, namun mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Di sisi lain ia kasihan melihat Tia, namun mengingat Tia yang sudah pernah selingkuh dari Bobby, ia juga merasa kasihan kepada Bobby. Namun pilunya Tia, karena satu kesalahan yang fatal ia harus menanggung duka ini selama hidupnya. Ia harus bisa berbesar hati menerima istri kedua suaminya sebagai madunya.


Setelah menatap Tia, kini Astuti beralih menatap Giska, menantu keduanya. Ia melihat Giska yang sejak tadi selalu menundukkan kepalanya, dan ia juga meremas tangannya sendiri, entah Giska sedang ketakutan atau ia menyesali keadaannya saat ini. Selama beberapa detik Astuti melihat Giska, ia tak melihat ada kenakalan dari raut wajahnya. Malah ia melihat kepolosan di raut wajah Giska. Ia pun tak mengerti, bagaimana bisa gadis seperti Giska mau menjadi istri kedua?

__ADS_1


Banyak pertanyaan di benak Astuti yang hanya bisa di jawab oleh Bobby dan Giska.


Dibalik itu semua, tetap saja Astuti merasa prihatin dengan kedua menantunya itu. Mereka harus rela berbagi cinta dan berbagi suami. Jika saja ia punya kuasa untuk menghentikan ini sejak awal, maka ia akan melakukan nya sejak lama, namun ini di luar kendalinya.


"Gis..." Panggil Bobby, ia memegang tangan Giska, ia merasakan tangan Giska berkeringat. "Jangan gugup, tenang saja. Rileks, Gis." Ucap Bobby berbisik.


"Aku takut." Lirih Giska.


"Jangan takut, aku ada di sini, kan. Angkat kepalamu, Gis. Jangan menunduk terus." Perintah Bobby lirih.


"I-iya," Giska pun mengangkat kepalanya ragu. Namun, ia masih belum berani menatap kedua orang tua Bobby.


"Gis, kenalkan, ini Ajik dan Ibuku." Bobby meminta Giska berkenalan dengan orang tua nya.


Giska pun langsung bangun dari duduk nya, dengan ragu ia mendekat ke orang tua Bobby, dan juga ke, Tia, istri pertama Bobby. Ia pun menyalami kedua orang tua Bobby, tak lupa ia mengecup punggung tangan keduanya. Lalu setelah itu ia menyalami Tia, yang duduk di samping Ibu Astuti. Nampak Tia kesal uluran tangan dari Giska, namun ia tetap menyalaminya.


"Ajik, Ibu, kenalkan, ini Giska istriku." Ucap Bobby.


"Istri kedua!" Ralat Tia.


"Iya, sama saja kan." Ucap Bobby.


Ekhemm...


Gung De sengaja berdehem.


"Giska, berapa usiamu, Nak? Ajik lihat kau masih sangat muda." Tanya Gung De.


"17 tahun, Pak." Jawab Giska masih menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Panggil Ajik, Gis." Celetuk Bobby.


"Ma-maaf, Ajik." Ulang Giska.


"17 tahun?" Gung De dan Astuti terkejut.


"17 tahun? Kecil sekali wanita ini?" Pikir Tia dalam hatinya. "Apa karena wanita ini masih 17 tahun dan wanita ini masih perawan, sehingga Bobby begitu tergila-gila dengannya?" Tia menerka-nerka. "Jaman sekarang, pelakor memang tidak pandang usia ya? Wanita seperti dia, masih kecil sudah mencati jalan pintas menjadi pelakor, pasti untuk mendapatkan banyak uang." Tia menatap sinis kepada Giska. Nampak seulas senyum mengejek di sudut bibirnya.


"Bob?" Astuti dan Gung De menatap ke arah Bobby. Mereka seolah ingin Bobby menjelaskan sesuatu.


Bobby yang mendapat tatapan dari kedua orang tuanya, ia pun melempar senyumnya. "Ajik, Ibu, nanti kita akan bahas ini lagi. Nanti Kalian bisa langsung menanyakan semua yang ingin kalian tanyakan kepada Giska. Aku juga pasti akan ikut menjelaskan nya nanti. Sekarang, sebaiknya kita semua makan siang dulu, kali, ya. Kasihan Giska belum makan sejak tadi, dan lagipula ini juga sudah waktunya makan siang, bukan?" Pinta Bobby. Kali ini ia kelihatan santai sekali, berbeda dengan sebelumnya, saat ia pertama kali mengatakan tentang Giska pada kedua orang tuanya.


"Maaf, boleh aku protes?" Tia menyela.


Gung De, Astuti dan juga Bobby pun langsung melihat ke arah Tia.


Melihat semua orang tengah menatapnya, Tia pun langsung kembali bicara. "Pa, aku juga istrimu. Apa kau tidak memikirkanku sama sekali? Apa kau tidak tanya padaku, aku sudah makan apa belum? Kapan aku datang dari Surabaya? Bagaimana perjalananku kemarin? Bagaimana keadaanku?" Cerocos Tia kesal.


"Ku perhatikan, kau hanya memikirkan tentang Giska saja. Kau sama sekali tidak memikirkan aku! Aku juga masih istrimu." Tambah Tia.


"Tia, kita kan akan makan bersama-sama. Kau jangan berlebihan seperti ini. Aku tidak melupakanmu, bahkan sejak kemarin aku sudah beberapa kali mengirimkan pesan kepadamu, tapi kau tidak merespon nya. Dan sekarang kau malah menyalahkanku telah melupakanmu?!" Bobby membela diri.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2