Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Memutar Arah


__ADS_3

"Baiklah kalau begitu. Aku mau ikut denganmu," ucap Tia tiba-tiba ketika Bobby hendak berangkat, menyusul Giska ke Surabaya.


Bobby pun sontak menoleh, menatap Tia.


"Apa kau yakin?" tanyanya ragu.


"Iya, aku akan ikut bersamamu," jawab Tia.


"Baiklah, Ayo. Tapi berjanjilah saat di sana nanti, kau jangan mengatakan apapun, apalagi sampai membuat keributan," ucap Bobby sembari memberikan ultimatum pada istrinya yang saat ini tengah hamil itu.


"Iya," jawab Tia sedikit malas.


"Ya sudah, ayo kita berangkat."


"Sekarang?" tanya Tia.


"Iya."


"Tapi aku belum bersiap-siap, Pa. Belum packing baju, bahkan aku juga belum dandan," ucap Tia sembari menunjukkan ekspresi yang seolah ia sebenarnya malas pergi namun di sisi lain, ia nampak tak ingin membiarkan suaminya pergi menemui Giska sendirian.


"Mau dandan seperti apalagi? Haa?" tanya Bobby malas.


"Jika kau mau ikut, maka kita berangkat sekarang juga! Masalah baju dan lainnya nanti beli saja di sana," lanjutnya kesal.


"Jangan membuang-buang waktuku lagi, Tia! Sudah cukup kau menahanku! Cepatlah!" seru Bobby seraya ia berjalan pergi meninggalkan Tia.


"Iya tunggu, Pa. Aku ambil ponselku sebentar," sahut Tia seraya ia langsung berjalan sedikit cepat mendekati meja kamarnya, hendak mengambil ponselnya. Setelah mendapatkan ponselnya, ia pun bergegas pergi menyusul suaminya.


Ketika Tia sudah berada di dalam mobil, Bobby pun langsung menancap gas mobilnya, bergegas pergi menuju bandara I Gusti Ngurah Rai Bali. Ya, Bobby memilih akan menaiki pesawat karena ia ingin segera sampai di Surabaya dan kemudian ia bisa segera bertemu dengan istri keduanya itu.


Lagipula ia juga sudah teramat sangat rindu dengan istri keduanya itu, terlebih lagi saat ini hubungannya dengan istri keduanya itu sedikit kurang harmonis, dikarenakan hingga sampai saat ini istri keduanya itu masih saja menjaga jarak dengannya.


Ini semua juga tak luput dari kesalahan Bobby sendiri yang harusnya ia bisa berlaku adil pada kedua istrinya. Apalagi Giska -- istri keduanya itu sedang sangat membutuhkannya. Tetapi juga sebenarnya Bobby sendiri juga ingin bersama Giska sejak lama, tetapi semua itu harus tertunda karena adanya drama dari Tia -- istri pertamanya yang kini tengah hamil itu.

__ADS_1


_________


Bobby mengendarai mobilnya dengan cukup mengebut di tengah kondisi jalanan yang sedikit ramai. Ia terlihat sangat fokus memegang kendali setir mobilnya. Kedua matanya pun juga fokus memperhatikan jalan. Saking fokusnya, ia sampai tak merespon pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Tia di sepanjang perjalanan yang sudah dilewati.


Hal itu pun cukup membuat Tia merasa begitu kesal. Karena ia merasa diabaikan oleh Bobby. Kalimat sedikit tak enak pun keluar dari mulutnya, "Berasa hanya sebagai wanita ****** yang sudah tak diinginkan oleh sang kekasih," celetuknya kesal.


Sontak Bobby pun melirik Tia. Lalu ia pun membalas perkataan Tia itu. "Aku sedang fokus mengemudi mobil. Kau lihat sendiri kan jalanan lumayan ramai dan kita harus bisa cepat sampai ke bandara. Jadi stop mengoceh, Tia. Jangan membuat kepalaku pusing!" balas Bobby tegas. Ia pun kembali fokus menatap jalanan.


"Hmmm." Tia hanya berdehem.


Drrrttttt.... Drrtttt.... Drrtttt....


Suara getar ponsel pun terdengar tak lama setelah Tia berdehem. Sontak Bobby pun langsung mengarahkan tangan kanannya mendekat ke daun telinganya, lalu jari telunjuknya langsung menekan tombol kecil yang ada pada benda kecil berwarna hitam yang memang sudah terpasang di telinga Bobby sejak tadi. Setelah menekan tombol itu, kemudian diikuti oleh suara Bobby yang langsung menyapa seseorang yang menelponnya itu.


"Iya, Gis? Ada apa?" tanyanya langsung dengan nada penuh semangat. Tampak senyuman yang tergambar di bibirnya.


Hal ini pun seketika membuat Tia melirik tajam lalu diikuti dengan ekspresi kesal. "Gila ya, sebegitu semangatnya dia. Apa dia lupa di sampingnya ada aku?" batinnya kesal.


Ckittttt.....


"Pa! Apa-apaan sih!" Tia terkejut.


Tinnn!


Tinnnn!


"Woy! Gila ya main berhenti di tengah jalan!" Terdengar teriakan dan juga suara klakson mobil dari pengendara lainnya.


"Kau pikir ini jalan nenek moyangmu apa? Gila!"


"Pa, cepat minggirin mobilnya!" pinta Tia cepat, ketika ia mendengar makian dari pengendara lainnya.


Bobby pun kembali melajukan mobilnya, lalu perlahan ia menepi dan ia kembali menghentikan mobilnya di tepi jalan.

__ADS_1


"Pa, kau ini kenapa? Jangan mentang-mentang kau ingin segera sampai bandara, kau jadi lalai seperti ini! Kau ingin membunuhku dan anak kita ini? Haa?!" geram Tia, mencerocos kesal.


Namun lagi-lagi Bobby tak menjawab cerocosan istrinya itu. Ia lebih memilih kembali berbicara dengan seseorang yang menelponnya, karena juga panggilannya masih tersambung.


"Dimana sekarang?" tanya Bobby. Wajahnya terlihat sangat serius.


"Baiklah." Setelah mengatakan ini, Bobby langsung bergegas menghidupkan kembali mesin mobilnya. Lalu ia pun melajukannya. Namun kali ini bukannya menuju bandara, melainkan ia memutar arah mobilnya kembali pada jalanan yang sudah ia lewati sejak tadi. Dan kali ini juga ia mengemudikan mobilnya lebih kencang lagi daripada tadi. Bahkan ia juga tak mengatakan apapun pada Tia.


"Pa, kenapa putar arah? Apa tidak jadi ke bandara?" Tia langsung bertanya.


"Lalu kemana kita sekarang? Pulang ke rumah atau mau kemana?" tanyanya lagi.


"Dan ya, Pa, kenapa wajahmu jadi tegang seperti itu? Tadi kau terlihat senang menerima telpon dari Giska? Lalu kenapa sekarang berubah? Apa terjadi sesuatu dengannya di sana?" Tia kembali bertanya.


"Ajik kecelakaan. Sekarang Ajik akan langsung dibawa ke rumah sakit," jawab Bobby tanpa menoleh ke arah Tia.


"Apa? Ajik kecelakaan? Tapi bukannya Ajik ada di Surabaya? Ini maksudnya kecelakaan di Surabaya atau dimana, Pa?" Tia pun langsung terkejut dan kembali bertanya mengenai bapak mertuanya itu.


"Pagi tadi Ajik kembali ke Bali. Ajik kecelakaan bersama taksi yang ditumpanginya. Mereka kecelakaan tak jauh dari bandara," jelas Bobby.


"Jadi kecelakaan di Bali? Lho tapi kalau kecelakaan tak jauh di bandara, kenapa tidak dibawa ke rumah sakit dekat bandara sana, Pa? Kenapa harus jauh-jauh di dekat sini?" Tia kembali bertanya.


"Tia, tolong jangan banyak tanya lagi. Duduk dan diam saja di kursimu. Nanti saja kau tanya setelah kita bertemu Ajik!" pinta Bobby, mengakhiri pertanyaan-pertanyaan Tia.


Suasana hati dan pikiran sedang kacau, memikirkan Ajiknya yang baru saja kecelakaan, membuat Bobby semakin tak ingin banyak bicara. Baginya saat ini yang terpenting bisa segera sampai ke rumah sakit tempat Ajiknya dirawat. Dan Giska, nampaknya Bobby menunda urusan Giska lagi. Kali ini demi Ajiknya.


..


..


..


Bersambung...

__ADS_1


Batal lagi bertemu Giska. Entah kapan mereka bisa kembali bertemu?


__ADS_2