
Ibu Astuti berteriak histeris melihat suami nya memukuli Bobby. Berbagai macam cara sudah ia lakukan untuk menghentikan suami nya, mulai dari membujuk nya, sampai menarik suami nya secara paksa. Tetapi, percuma saja, tenaga suami nya jauh lebih besar daripada tenaga nya. Setelah semua cara tak mampu membuat suami nya berhenti, ia langsung memeluk Bobby dengan sangat erat, dengan begini, suami nya tak akan mungkin memukul Bobby kembali.
Ibu Astuti menangis sejadi jadi nya, melihat darah segar mengalir di sudut bibir Bobby, bahkan di pipi Bobby terlihat membiru. Ia pun membawa Bobby duduk di sofa.
"Tia! Jangan diam saja, cepat ambilkan kotak obat!" perintah Astuti. Nada nya terdengar panik.
"I-iya, Bu." Tia pun berlari menuju kamar nya, untuk mengambil kotak obat.
"Biarkan saja, Bu. Dia pantas mendapatkan itu. Itu juga masih belum setimpal dengan rasa sakit yang menantu kita terima." Gung De menyahut.
"Diamlah! Kau sudah keterlaluan. Kita belum mendengar penjelasan Bobby, tapi kau sudah memukuli nya terlebih dulu. Lihat ini! Bobby jadi babak belur karena ulahmu!" kesal Astuti. Sebagai seorang Ibu, ia tak sanggup jika melihat putra nya di aniaya, terlebih, oleh suami nya sendiri. Menurut nya, jika seseorang melakukan kesalahan, ada baiknya di bicarakan secara baik-baik, dan mencari kebenaran dari masalah itu, daripada harus di pukuli seperti ini.
"Urus saja putramu itu!" kesal Gung De. Ia pun langsung pergi keluar, meninggalkan istri dan anak nya di sana.
"Bu, biar aku yang mengobati Bobby." Tia datang dengan membawa kotak obat, di tangan nya. Ia pun langsung duduk di samping Bobby.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja, tidak perlu di obati." Bobby menolak.
"Bob, kau jangan keras kepala! itu darah mu tak berhenti mengalir. Wajah mu juga lebam semua. Kalau tidak di obati, nanti bisa infeksi!"
"Biar Ibu saja, yang mengobati nya, Tia. Kau tolong ambilkan air putih untuk suami mu." Titah Astuti.
Tia mengangguk, "Iya, Bu." ia pun memberikan kotak obat itu kepada Ibu mertua nya.
"Pa, di obati sama Ibu, dulu ya. Aku akan mengambilkan minum untukmu." Tia membelai lengan Bobby.
"Hmmm." Bobby hanya berdehem. Tia pun langsung pergi mengambil minum.
"Aduhh..." pekik Bobby kesakitan, saat Ibu nya mulai mengolesi luka nya dengan salep. "Pelan-pelan, Bu."Ucap nya.
"Tadi katanya tidak apa-apa, ini sekarang kau malah kesakitan. Lagipula, kenapa kau tidak melawan Ajik mu tadi. Kau malah diam saja saat di pukuli."
"Iya kali, Bobby melawan Ajik, Bu." Bobby terkekeh pelan.
"Apa yang di katakan Tia tadi, Bob. Kenapa dia bilang, kau memiliki istri simpanan? dan gara-gara mendengar pengakuan Tia, Ajik mu sampai marah dan memukulmu seperti ini. Ibu tau, Ibu dan Ajik tidak berhak terlalu ikut campur urusan rumah tangga kalian, tetapi saat tadi, Tia sendiri yang membuat pengakuan yang membuat Ajik dan Ibu terkejut. Sekarang jelaskan semua nya pada Ibu, apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?" tanya Astuti, sembari mengobati lukanya Bobby.
__ADS_1
"Ya, ini semua tidak seperti yang kalian pikirkan, Bu. Sebelum Bobby menjelaskan semua nya, Ajik sudah terburu salah paham."
"Lalu seperti apa kebenaran nya?" tanya Astuti lagi.
"Pa... Ini minum air nya dulu." Tia tiba-tiba datang, dengan membawa segelas air untuk Bobby.
"Bu, nanti akan Bobby jelaskan, semua nya."
"Tia, ikutlah bersamaku. Aku ingin bicara berdua dengan mu." Bobby beranjak bangun, dan langsung menarik tangan Tia. Bobby membawa Tia pergi ke kamar nya.
"Ibu berharap, semua yang Tia katakan tadi tidaklah benar. Ibu percaya, kau tidak mungkin bisa menghianati istri mu, Bob. Ibu tau, bagaimana cintamu kepada Tia, dan kau juga bukan type pria yang suka bermain wanita." Lirih Astuti.
Di kejauhan, Gung De sejak tadi memperhatikan istri dan juga anak nya, sebelum Bobby dan Tia pergi ke kamar nya. Ya, saat ia keluar tadi, ia sengja berdiri diam, agak menjauh dari anak dan istri nya. Ia terus menatap kedua nya. Tatapan mata nya, tergambar begitu banyak rasa yang tersimpan. Mungkin ia kecewa, mungkin juga ia merasa sedih dan tak percaya. Ia kecewa karena mengetahui kalau anak nya sudah menghianati, Tia. Ia juga merasa sedih karena sudah memukuli anak nya sendiri. Ini pertama kali nya, dalam seumur hidup nya, ia memukuli anak nya.
Gung De adalah orang yang sangat membenci perselingkuhan dan penghianatan, itu sebab nya ia sampai terbawa emosi jika mengetahui kelurga nya sudah mendua, apalagi ini Bobby, anak nya sendiri. Sejak kecil, ia mendidik Bobby dengan penuh kasih sayang, namun juga tegas dan keras. Ia menanamkan tentang kesetiaan, kejujuran dan kegigihan. Ia berharap Bobby bisa melakukan nya untuk kehidupan nya sendiri. Namun, Sekarang tiba-tiba ia mendengar bahwa Bobby sudah mendua, ia menjadi terkejut, sekaligus marah dan kecewa. Ia merasa gagal dalam mendidik Bobby selama ini.
"Ajik... Kemarilah!" panggil Astuti. Ia baru saja menyadari bahwa suami nya tengah memperhatikan nya sejak tadi.
Gung De pun langsung menghampiri istri nya. "Bagaimana luka nya? Apakah parah?" tanya nya datar. Namun, di balik sikap datar nya, nampak ada ke khawatiran di kedua mata nya.
"Kau itu sudah sangat kelewatan, Jik. Dia itu anak mu, tidak seharus nya kau memukulinya seperti itu! Kau itu harus berpikir dulu sebelum bertindak salah seperti ini." Astuti menyudutkan suami nya.
"Kau dengar sendiri kan, Bu. Anak mu itu sudah membuat kita malu. Dia sudah menghianati istri nya sendiri. Kau tau, aku sangat membenci penghianatan. Kau sudah mengetahui semua nya tentang orang tua ku, dulu. Aku tidak ingin, Bobby menjadi seperti, Kakek nya." Gung De membela diri.
"Ya, aku tau itu. Kita akan mendengar penjelasan dari Bobby, nanti. Untuk saat ini, kau jangan kembali emosi lagi. Kita tunggu penjelasan dari Bobby." Ucap Astuti.
"Hmmm..."
***
Di dalam kamar.
"Tia, apa kau senang sekarang? inikan yang kau inginkan? Aku di hajar oleh Ajik ku sendiri." Bobby tersenyum kecut.
"Pa... Maafkan aku, aku tidak mengira semua akan seperti ini." Tia memelas.
__ADS_1
"Lalu, apa yang kau inginkan sebenar nya, dengan mengatakan semua ini kepada Ajik dan Ibu?"
"Aku hanya ingin, Ajik dan Ibu menasehatimu, Pa. Aku ingin rumah tangga kita kembali seperti dulu, lagi." Tia memegang tangan Bobby. Ia menatap Bobby begitu dalam.
"Ckck, Tia... Kau masih waras, kan? Dengan kau mengatakan semua nya, kau juga yang akan kena, Ajik dan Ibu bisa saja mengetahui tentang perselingkuhan mu selama ini."
"Itu tidak akan terjadi." Ucap Tia percaya diri.
"Ohhh, jadi itu yang kau pikirkan? Apa kau mengira, aku tidak akan tega mengatakan perselingkuhan mu kepada Ajik dan Ibu ku?" Bobby tertawa kecil, "Kau salah! Bahkan, sekarang pun, aku bisa langsung mengatakan nya." Sinis Bobby.
"Oke, aku minta maaf, Pa. Aku sudah berulang kali meminta maaf, tapi kau selalu mengabaikan ku. Berikan aku 1 kesempatan, akan ku perbaiki semua kesalahanku. Aku tidak akan pernah mengulangi nya lagi, Pa." Tia menggenggam erat tangan Bobby.
"Percuma... Pengacaraku sudah mengurus semua nya." Bobby melepas genggaman Tia.
"Apa yang kau katakan! kau tidak bisa melakukan ini padaku, Pa!" Tia histeris.
Drtttt... Drtttt... Drtttt..
"Stop! diamlah dulu! ada telpon masuk." Bobby meminta Tia diam, karena ia mau menjawab panggilan masuk di ponsel nya. Bisa-bisa nya ia menunda amarah Tia, karena panggilan masuk, dan heran nya, Tia pun mau menurut begitu saja.
"Ada apa?" tanya Bobby kepada penelpon di sebrang sana.
"............"
"Apa yang kau katakan! Kenapa kau baru mengatakan nya sekarang!" kesal Bobby.
.
.
.
Bersambung....
Maaf ya, di 2 part ini, tidak ada Giska nya.. Next part Giska ada kok...
__ADS_1
Maaf juga kalau 2 ato 3 harian ini telat up nya. Sebenar nya sudah di up. Tapi lolos riview nya lam sekali, kemarin aja sampe seharian baru di lolosin😥😥😥