Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Aku merindukanmu


__ADS_3

Waktu silih berganti, tanpa terasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Sudah 3 hari berlalu, Giska dan Bobby sudah tak saling bertemu. Setelah pertemuan di malam itu, saat mereka baru kembali ke rumah, mereka tak lagi bertemu sampai hari ini.


Selama 3 hari ini, Bobby hanya berkomunikasi dengan Giska, melalui ponsel saja. Namun, itupun juga hanya sebatas menanyakan kabar saja.


Giska menganggap, sikap Bobby yang sedikit berubah karena dia sedang fokus dengan liburannya bersama Tia. Giska pikir, Bobby seperti ini karena dia tidak ingin membuat Tia kecewa. Giska lupa, sikap Bobby seperti ini karena ia kecewa, saat Giska tak mau berkata jujur tentang masa lalunya.


Selama 3 hari ini, Giska berada di rumah sendirian. Beruntung ia memiliki tetangga yang tak lain adalah sahabatnya kecilnya, Trias. Terkadang Trias datang ke rumah Giska. Kehadiran Trias membantu Giska untuk sejenak mengalihkan pikirannya tentang Bobby.


Seperti sore ini, Trias sedang menemani Giska duduk di teras rumahnya. Mereka berdua nampak mengobrol, saling bercerita satu sama lain.


"Jadi, Bli Bobby itu suamimu, Gis?" Tanya Trias, memastikan.


Giska mengangguk, lalu tersenyum, "Iya." Jawabnya kemudian.


"Waahh, aku masih tak menyangka kau sudah menikah, Gis. Hmmm, padahal dulu kau sangat pendiam dan tak mau dekat dengan pria. Eh, tau-tau sekarang kau mendahuluiku." Cicit Trias.


"Jujur saja ya, saat kita kembali bertemu setelah sekian lama, aku sempat terkejut saat melihat ada Bli Bobby di sini. Dan aku kira itu adalah kekasihmu. Saat itu, aku pikir sekarang kau sudah berubah dan menjadi berani karena kau mau tinggal serumah dengan Bli Bobby. Tanpa aku tau, kalau pria itu adalah suamimu." Trias terkekeh.


"Semua orang kan bisa berubah, Tri. Seperti kau juga kan, bisa berubah. Dulu kau polos, tapi sekarang tubuhmu penuh dengan tattoo." Ucap Giska.


Trias pun tersenyum, "Iya, semua akan berubah pada waktunya." Ucap Trias.


"Iya, kau benar, Tri."


"Semua akan berubah pada waktunya. Sama seperti Bli Bobby yang perlahan sikapnya berubah kepadaku. Mungkin, kalau Bli Bobby tau tentang masa lalu kelamku, Bli Bobby akan semakin berubah padaku." Batin Giska. Ia pun tersenyum getir saat membayangkan kemungkinan itu terjadi.


"Kau kenapa sih, Gis?"


"Aku? Aku tidak apa-apa. Kenapa memangnya, Tri?"


"Kau seperti sedang memikirkan sesuatu, Gis. Katakan padaku, apa kau ada masalah?" Trias semakin ingin tau.


"Tidak, Tri. Aku hanya bosan saja diam di rumah seperti ini." Giska beralasan.


"Kau bosan, tapi saat aku mengajakmu keluar, kau selalu menolak." Protes Trias.


"Yaa, soalnya Bli Bobby tidak mengizinkanku keluar rumah. Dia tidak ingin aku pergi kemana-mana tanpa dirinya. Kau tai sendiri kan, beli makan saja aku selau lewat online." Keluh Giska.


"Aku rasa suamimu takut kau akan hilang kalau kau keluar rumah." Trias terkekeh.


"Kau pikir aku anak kecil yang akan lupa jalan pulang?" Giska memanyunkan bibirnya.


"Bukan hilang karena lupa jalan pulang, Gis. Tapi hilang di culik sama Om-Om."


"Hehh, ngawur!" Giska sontak memukul lengan Trias pelan.


Trias pun tertawa, "Kalau aku sih mau-mau saja kalau di culik Om-Om. Tapi, asalkan Om-Om nya berbadan kekar seperti Bli Bobby. Uuhhhhhh." Ucap konyol Trias.


"Hehh, dasar! Kau membayangkan suamiku, ya?!" Giska memelototi Trias.

__ADS_1


"Bukan, Gis. Aku juga sudah punya pria yang berbadan kekar seperti Bli Bobby. Aku tidak membayangkan suamimu. Kau itu konyol sekali." Trias terkekeh.


"Isshhh, kau yang konyol, Tri! Bisa-bisa nya kau senang jika ada Om-Om kekar yang menculikmu." Celetuk Giska.


"Helehhh, kau ini. Kau kan sudah merasakan bagaimana enaknya main sama pria berbadan kekar. Pasti kuat kan, dia. Itu juga yang aku rasakan, Gis. Main sama Om-Om berbadan kekar sangatlah puas. Ahhh pokoknya beda sensasinya, Gis. Tapi, yang paling penting, selain badannya kekar, Om-Om nya harus punya banyak uang." Oceh Trias.


"Astagaa, Triasss!" Giska hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, mendengar ucapan Trias.


Entah kenapa Trias selalu saja menceritakan tentang pengalaman ranjangnya bersama dengan pria-pria yang menjadi tamu dan juga kekasihnya. Bahkan Trias selalu bercerita sedetail dan sefrontal itu. Pria A, mainnya begini, pria B begitu, pria C seperti ini dan seterusnya. Bahkan ia juga menceritakan tentang itunya, dan juga lama durasinya ketika melakukan itu. Trias memang benar-benar konyol.


Kekonyolan Trias inilah yang terkadang membantu Giska untuk sejenak melupakan beban pikirannya.


"Ya sudah, Gis. Aku pulang dulu ya. Mau mandi terus kerja." Pamit Trias.


"Jangan kerja lah, Tri. Libur gitu lho, sekali-kali." Pinta Giska.


"Kalau aku tidak kerja ya tidak dapat uang aku, Gis. Lagipula hari ini aku ada request an, jadi ya aku harus kerja. Ya, meskipun tamunya sudah Aki-Aki, tapi dia selalu royal kalau memberi tips. Syukur-syukur bisa dapat tips banyak, nanti." Ucap Trias semangat.


"Request an? Aki-Aki? Aku tidak mengerti, Tri." Giska menatap Trias bingung.


"Request an itu, aku sudah janjian sama tamu lewat ponsel, Gis. Nanti tamu itu datang dan langsung aku handle. Jadi aku cari tamu sendiri lewat chat di ponsel, begitu." Jelas Trias.


"Ohhh... Lalu, Aki-Aki? Apa maksudnya tamu mu itu sudah tua?"


"Iya."


"Aduh Giska, Sayang... Kau masih juga polos. Dunia seperti itu tidak memandang umur, Gis. Mau tua ataupun muda, asal mereka punya uang, mereka bisa datang, Gis." Trias menjelaskan.


"Besok lagi kita lanjut ceritanya, Gis. Aku harus bersiap-siap untuk kerja sekarang." Sambungnya.


"Hmm, iya, iya. Pergilah!" Giska pun memberi izin Trias untuk pergi.


***


Di tempat lain.


Saat ini Bobby sedang duduk di kursinya, sembari bicara dengan seseorang di melalui ponsel.


"Apa istriku baik-baik saja?" Tanya Bobby pada seseorang di sebrang telpon.


"Seperti baik, Bos. Tadi saya lihat istri Bos sedang duduk di luar rumah bersama dengan seorang gadis. Sepertinya gadis itu tinggal di dekat sana juga, Bos. Soalnya, saya melihat gadis itu masuk ke rumah sebelah, beberapa menit yang lalu."


"Oke, kau tetaplah di sana." Perintah Bobby.


"Baik, Bos."


Panggilan berakhir.


"Aku merindukanmu, Gis." Batin Bobby.

__ADS_1


"Maafkan aku karena kita belum bertemu selama 3 hari ini." Gumamnya lagi.


Sebenarnya, 3 hari ini Bobby tidak pergi kemana-mana. Namun, karena ia terlanjur bilang kalau ia akan pergi liburan bersama Tia, jadilah ia menahan diri untuk tak menemui Giska.


Sebenarnya, setelah ia pulang liburan bersama Giska, memang sudah jadwalnya untuk ia gantian mengajak Tia liburan. Dan karena ia juga sudah berjanji pada Tia, hari itu ia pun menepati janjinya untuk mengajal Tia liburan. Tetapi, saat itu Tia malah menolaknya. Entah karena apa, tapi Tia menolak untuk liburan bersama Bobby.


Mungkin ini terdengar aneh, saat Tia menolak pergi bersama Bobby. Karena biasanya Tia paling semangat kalau bersama Bobby, tapi hari itu, ia sama sekali tak semangat. Namun, itu semua tak membuat Bobby bersedih, karena sejujurnya Bobby merasa senang jika tak jadi pergi bersama Tia.


________


"Oke, hari ini kita akan bertemu, Gis. Semoga pikiranmu sudah lebih terbuka lagi." Gumam Bobby.


Ceklekk!


"Pa..." Panggil Tia. Ia tiba-tiba datang menemui Bobby di bengkel.


"Tia? Ada apa?"


"Tidak ada," Tia langsung meletakkan tasnya di meja, lalu ia segera duduk di pangkuan Bobby. Ia pun langsung mengalungkan lengannya ke leher Bobby.


"Duduklah di sana, Tia." Perintah Bobby. Ia merasa tak nyaman dengan posisi Tia yang seperti ini.


"Tapi aku ingin duduk di sini." Ucap Tia.


"Aku datang ke sini karena mau meminta maaf padamu, Pa. Karena waktu itu aku menolak pergi bersamamu." Ucap Tia, seraya menbelai pipi Bobby.


"Tidak masalah Tia. Aku tidak marah padamu. Sekarang turunlah! Duduklah di sana." Tutur Bobby.


Namun bukannya menuruti Bobby, Tia malah semakin mengeratkan tangannya memeluk leher Bobby. "Hari ini aku sangat bahagia, Pa." Ucapnya.


"Kenapa?" Respon Bobby.


"Sepertinya, keinginan kita akan terkabul, Pa." Ucap Tia penuh teka-teki.


"Keinginan apa?"


"Anak."


"Anak? Maksudmu?" Bobby semakin bingung dengan Tia.


"Sepertinya aku hamil, Pa." Ungkap Tia dengan mata berbinar.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2