
"Tia..."
"Hmmmm."
"Bagaimana kabar Roy?" tanya Bobby tiba-tiba.
"Kenapa menanyakan dia? Jangan membuat suasana hangat ini menjadi buruk, Pa!" protes Tia.
"Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan dia. Aku kan sudah berjanji padamu untuk setia. Aku sudah tidak mau mengingat tentang masa lalu lagi. Sekarang aku sedang hamil, kan. Aku mau fokus pada masa depan kita, Pa." Imbuhnya kemudian.
"Lagian dia sudah pergi jauh dari hidupku. Dia sendiri yang memutuskan untuk tak berteman denganku lagi," batin Tia.
Memang benar, semenjak perdebatannya dengan Roy waktu itu, Roy tak mau lagi bicara dengan Tia. Tia sudah mencoba menghubungi Roy tetapi Roy sama sekali tak mau meresponnya. Mungkin, semua perkataan Tia waktu itu membuat Roy benar-benar mundur. Sepertinya Roy sungguh-sungguh tak ingin menjadi orang ketiga di antara Bobby dan Tia lagi. Ia tak ingin menyia-nyiakan hidupnya hanya untuk menjalin hubungan dengan istri orang.
°°°°°
"Kalau sudah tidak ada hubungan, kenapa kau harus marah?" Bobby mengulas senyumnya.
"Santai saja, Tia. Aku sudah tak melupakan semua itu. Aku hanya bertanya saja tadi, biar bagaimanapun Roy adalah temanmu," ucap Bobby kemudian.
"Sudahlah, Pa. Akan lebih baik kalai tidak membahas itu lagi. Apa kau ingin membuatku merasa malu dengan membahas dia lagi?" decit Tia.
"Tidak. Ya sudah lupakan."
***
3 bulan kemudian.
Kini usia kandungan Tia sudah memasuki minggu ke 18. Perutnya pun kini sudah terlihat sedikit membuncit. Semakin hari Tia semakin manja dengan Bobby. Semenjak tau kalau dirinya sedang hamil, ia selalu ingin berada di dekat Bobby. Ia tak perduli dengan apapun yang mengahalangi keinginannya itu. Entah saat Bobby kerja ataupun saat Bobby sedang bersama Giska, jika Tia ingin bersama Bobby, maka Bobby harus mau pulang ke rumah. Entah itu semua sengaja ia lakukan agar Bobby jauh dari Giska atau memang itu bawaan dari bayinya. Hanya dia sendiri dan Tuhan lah yang tau.
Semakin kesini, waktu Bobby buat Giska kian tak ada. Bobby pun merasakannya. Ia merasa tak enak karena tidak bisa memberikan waktu yang banyak untuk Giska.
Seperti malam ini, ponsel Bobby terus saja berdering tiada henti. Dering ponselnya itu sangat mengganggu Bobby dan Giska yang hendak menghabiskan malam bersama. Bobby yang sudah siap memasukkan Joni ke lubang kenikmatan milik Giska, terpaksa harus menundanya karena dering ponselnya yang sangat amat mengganggunya itu.
"Angkat saja dulu," ucap Giska datar. Semakin kesini, ia juga merasa kesal karena waktunya bersama Bobby selalu saja di ganggu.
Giska yang sekarang sudah siap sedia dalam melayani Bobby, ia juga belajar menjadi istri yang baik bagi Bobby. Ia sudah memutuskan untuk menjadi istri Bobby seutuhnya, dalam artian ia ingin menyerahkan seluruh hidupnya kepada Bobby. Sekarang ini, ia tak lagi protes saat Bobby mengajaknya bercinta. Meski ketakutannya masih ada, tetapi ia selalu berhasil mengalahkan ketakutannya itu.
Jika dulunya ia masih berpikir untuk mundur dari pernikahan ini karena ia tak ingin menyakiti hati Tia, kini semua itu sudah ia buang jauh-jauh dari pikirannya. Kini ia bertekad untuk mempertahankan pernikahannya dengan Bobby. Lagipula ia juga berhak atas Bobby. Ia juga istri dari Bobby, jadi ya ia harus berjuang mempertahankan rumah tangganya sendiri. Apalagi setelah menerima perlakuan Tia selama ini, tekadnya untuk bisa terus bersama Bobby sangatlah kuat. Ia tak ingin membiarkan Bobby lepas begitu saja.
4 bulan sudah Giska dan Bobby menikah. Perlahan rasa cinta pun tumbuh di hati Giska. Semua cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh Bobby selama ini membuat Giska jatuh cinta pada Bobby. Pertama kali ia merasa jatuh cinta pada pria yang sudah menjadi suaminya.
________
"Aku matikan saja, Gis." Bobby menyaut ponselnya yang ada di atas meja di dekat ranjangnya. Ia pun langsung menon-aktivkan ponselnya lalu ia kembali meletakkan ponselnya di tempat semula.
"Bu Tia ya yang menelpon?" tanya Giska.
"Iya, siapa lagi kalau bukan dia."
"Kenapa setiap Bli Bobby di sini, dia selalu saja menelpon? Apa dia tidak tau kalau Bli Bobby sedang bersama istri juga di sini!" keluh Giska. Ia memanyunkan bibirnya.
"Aduh-aduh, Sayangku..." Bobby langsung mencium bibir Giska yang manyun.
"Cemburu ya?" goda Bobby.
__ADS_1
"Bukan begitu, Bli. Aku tau dia juga istrimu tetapi aku kan juga istrimu. Aku juga berhak atas dirimu, kan?" ujar Giska.
"Iya, Giska sayang..." Bobby tersenyum.
"Bisakah kita teruskan nanti bicaranya? Lihat ini Joni kesayanganmu sudah ingin masuk kesini." Bobby menusuk lubang inti Giska dengan jari telunjuknya.
"Bli Bobby, ihhh!" Giska malu-malu.
"Jangan di colok-colok terus itu! Geli tau!" seru Giska malu-malu. Seketika manyunnya menghilang.
"Geli kan ada suamimu, Sayang. Suamimu ini akan membuatmu menggeliat kegelian nantinya," goda Bobby. Ia mengedipkan sebelah matanya.
"Isshhhh, dasar! Nakal sekali sih!" protes Giska sambil tersenyum.
"Nakal sama istrinya sendiri kan tidak apa-apa, Sayang."
"Hmmmmm, yayaya, Bli."
"Aku masukin ya,"
"Apanya?" tanya Giska.
"Joninya lah. Kok masih tanya apanya sih, Sayang..." Bobby mencubit gemas pipi Giska dengan tangan kirinya karena tangan kanannya tadi ia pakai untuk mencolok lubang itu.😁😁😁
"Ehhh, aku kira jarinya yang mau di masukin." Giska terkekeh.
"Joni sudah tidak tahan, Sayang. Dia kangen di jepit sama punyamu," ujar Bobby genit.
Lalu detik selanjutnya....
Masuklah Joni ke dalam lubang favoritnya itu. Perlahan Bobby mulai menggerakkan pinggulnya. Maju mundur, itulah gerakannya. Dati tempo yang lambat perlahan berubah menjadi cepat.
"Ahhhhhhhhhhh...."
"Ooouhhhhhhhh...."
"Milikmu selalu nikmat, Sayang..." racau Bobby.
"Ukkhhhhhhhh...."
"Emmmpphhh...."
Bibir Bobby tak henti-hentinya mendesah. Jika biasanya wanita yang mendesah, ini malah pria nya yang mendesah. Mana suara desahannya kencang sekali. Sambil terus menggoyang Giska, bibir Bobby terus saja mengeluarkan desahan-desahan manja yang membuat nafsunya semakin tinggi saja.
"Sayang..." Suara Bobby terdengar begitu sexy di telinga Giska.
"Hmmmm." Giska hanya menjawabnya dengan deheman.
"Ini sangat enak, Sayang... Akkhhhhhhhh!" desah Bobby lagi. Sesekali jemarinya meremas dada Giska yang masih kenyal itu. Pinggul bergoyang, tangan menyentuh dada dan bibirnya pun menyesap bibir ranum Giska. 3 pekerjaan itu bisa dengan mudah Bobby lakukan dalam waktu bersamaan.
Sungguh nikmat tiada tara jika sedang melakukan ini. Segala masalah yang hinggap seolah bisa langsung lenyap begitu saja dari pikiran. Mungkin nanti setelah pergulatan selesai, semua masalah itu akan kembali hadir di pikirannya.
_________
2 jam kemudian.
__ADS_1
"Sayang aku mau keluar...."
"Akhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh..."
Bobby mendesah begitu panjang sambil ia menyemburkan benih kecebongnya di dalam rahim Giska dengan harapan kecebongnya ini akan tumbuh menjadi bayi yang lucu di rahim Giska.
Hosshhhh....
Hooshhhh....
Hosshhhh....
Deru napas keduanya pun masih menggebu. Keduanya masih saling berlomba mengatur napasnya masing-masing. Beberapa detik kemudian, Bobby pun mengecup kening Giska lalu ia melepas penyatuan mereka. Bobby pun menjatuhkan tubuhnya di samping Giska.
"Tumbuhlah, Nak." Bobby mengusap perut Giska. Kalimat itu selalu ia ucapkan setelah ia selesai bercinta dengan Giska. Ia berharap akan ada bayi yang tumbuh di rahim Giska.
Selama 4 bulan pernikahan, ia dan Giska memang belum dititipkan anak oleh Tuhan. Tetapi, ia dan Giska tak henti-hentinya berusaha membuat anak. Tak lupa ia juga selalu berdoa, meminta pada Tuhan agar Tuhan mau memberinya anak di rahim Giska.
"Bli..."
"Apa, Sayang?" Bobby menoleh.
"Bli Bobby kan sebentar lagi akan mempunyai anak. Lagi 3 setengah bulan, anakmu dan Bu Tia akan lahir. Apa nanti setelah anak itu lahir, Bli Bobby akan tetap menyanyangiku?" tanya Giska ragu.
"Kau ini bicara apa? Ya jelas sayang lah. Malah semakin hari, sayang ini semakin bertambah untukmu, Gis. Kenapa kau bisa bertanya seperti itu?" Bobby memeluk Giska.
"Aku hanya takut saja, Bli. Aku kan belum hamil. Aku takut nanti Bli Bobby membuangku," ujar Giska.
"Ngawur! Siapa yang akan membuangmu? Kau jangan berpikir macam-macam, Gis. Aku mencintaimu dan sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu."
"Sungguh?" Mata Giska berbinar.
"Iyalah, Sayang. Kau ini kenapa aneh sekali sih? Kok bisa punya pikiran mau dibuang?" Bobby terkekeh.
"Hmmmm. Aku kan hanya takut saja."
"Oh iya, Bli. Bapak kemarin telpon, Bapak menanyakanmu. Bapak tanya tentang janjimu waktu itu. Kata Bapak ini sudah lewar dari 3 bulan, Bli." Ucap Giska tiba-tiba.
"Iya, Gis. Maafkan aku ya,"
"Kok minta maaf?"
"Ya aku sudah ingkar janji pada Bapak. Harusnya aku bisa menyelesaikan semua ini dalam 3 bulan. Tetapi sekarang keadaannya malah begini. Tia saat ini sedang hamil, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa."
"Memangnya apa sih rencana Bli Bobby? Apa yang mau Bli Bobby selesaikan?" tanya Giska.
"Ada lah pokoknya, Gis. Ini menyangkut hubungan kita kedepannya juga."
"Terus aku harus bilang apa sama Bapak nanti?" Giska berubah sendu.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....