Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Tolong Aku


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 04.30 pagi. Dan sampai sepagi ini, Giska belum juga bisa tidur nyenyak. Pikirannya masih dipenuhi oleh hal-hal yang tak ia mengerti.


Kedua mata Giska memang terpejam tetapi ia tak benar-benar tidur. Miring ke kiri terasa salah, ke kanan pun juga tak nyaman. Giska merasa sangat gelisah sekali. Ini tak biasanya terjadi pada dirinya.


Karena tak bisa mendapatkan posisi tidur yang nyaman, Giska pun memilih membuka kedua matanya. Namun setelah kedua matanya terbuka, ia justru dikejutkan dengan bapaknya yang sudah berdiri di depan gawang kamar Giska sambil menatap Giska.


Giska sontak ingin segera bangun dan duduk. Namun bapaknya sudah mendahului duduk di tepi ranjang Giska.


Degg... Degg... Degg....


Jantung Giska langsung berdetak dengan sangat kencang. Ia merasa takut dan pikirannya pun mengarah kemana-mana.


"Aku ingin bicara denganmu," ucap Bram tiba-tiba.


Giska masih terdiam sembari berusaha menormalkan detak jantungnya. Ia juga berusaha menepis semua ketakutan yang tengah menyerangnya saat ini. Meski itu mustahil untuk bisa hilang.


"Aku tidak betah tinggal di sini lagi. Entah aku mau pergi ke mana nantinya. Dan kau, juga terserah mau kemana. Di sini tidak ada yang mau mengerti aku. Kau sebagai anak tidak pernah bisa memenuhi apa yang ku inginkan. Kau tak pernah bisa membuatku bahagia," ungkap Bram.


"Aku tak punya uang sama sekali. Mau beli apa-apa saja tak bisa," lanjutnya.


Bicaranya tiba-tiba menjadi aneh. Giska pun semakin merasa takut.


"Bapak marah padaku karena aku belum memberi Bapak uang lagi? Aku ada uangnya, Pak. Rencananya pagi ini aku akan pergi ke ATM untuk mengambil uangnya. Nanti akan kuberikan pada Bapak," sahut Giska dengan suara gemetar.


"Sudah! Aku tak mau menerima uangmu lagi. Aku tak meminta uang padamu lagi. Kau jangan berikan uang padaku lagi. Aku akan jual semua ayamku dan aku akan pergi dari rumah ini," ucap Bram dingin.


"Jangan seperti ini, Pak." Bibir Giska semakin gemetar. Ia pun hendak bangun dan keluar dari kamarnya. Namun hal tak terduga terjadi.


Bram tiba-tiba ikut merebahkan diri di samping Giska. Ia tiba-tiba memeluk Giska dengan sangat erat. Kedua kakinya bahkan ia pakai untuk mengunci kaki Giska agar Giska tak bisa lari.


"Sadar, Pak." Giska berusaha melepaskan diri dari bapaknya. Ia berusaha menghindar.


"Diamlah! Aku sudah sangat ingin, Gis! Kenapa kau sama sekali tak mau mengerti! Kau sama sekali tak peduli padaku. Aku bapakmu tapi kau malah memilih bersama pria Bali itu!" seru Bram. Suaranya terdengar menakutkan di telinga Giska.


"Sekarang kau pilihlah! Pilih bapakmu ini atau pilih orang Bali itu!" desak Bram sembari ia mendekatkan wajahnya pada Giska.


Tubuh Giska pun semakin gemetar tak karuan. Ketakutannya semakin besar.


"Sadar, Pak. Aku ini anakmu! Tolong aku jangan seperti ini." Giska memohon sambil ia berusaha lepas dari cengkraman bapaknya.


"Baiklah kalau kau tak mau. Cium saja tidak apa-apa," ucap Bram. Ia tampak ingin mencium pipi Giska.


"Jangan seperti ini, Pak! Atau aku akan teriak!" seru Giska. Ia pun mendorong Bram sampai akhirnya ia berhasil melepaskan diri dari Bram.


Mungkin karena Bram sudah tua, jadi tenaganya sudah tak sekuat dulu.


Giska langsung berlari keluar dari kamarnya. "Jangan macam-macam, Pak. Atau aku akan memberitahukan semua ini pada Mbak Siti!" ancam Giska.


"Aku akan meminum obat biar aku tiada sekalian," sahut Bram.


Giska pun langsung berlari keluar dari rumahnya. ia berlari menuju rumah salah satu saudaranya yang tak jauh dari sana. Hanya berjarak satu rumah saja dari rumah Giska.


Tokk...

__ADS_1


Tokk...


"Mbak Siti... Mbak Siti.." Giska menggendor jendela kamar saudaranya sembari terus memanggilnya.


"Mbak tolong buka pintunya."


"Iya," sahut Siti dari dalam.


Selang tak lama, Siti pun membuka pintunya.


"Ada apa, Gis?" tanya Siti.


"Mana Pak Pur, Mbak?" tanya Giska dengan suara gemetar.


"Ada apa?" Siti tampak bingung.


"Tolong aku, itu bapakku---" Giska bicara terbata-bata.


"Kenapa bapakmu?"


"Ayo ikut aku, Mbak. Panggil Pak Pur dan Pak Didi sekalian. Tolong aku."


"Didi.. Mas.." Siti pun memanggil suami dan juga adiknya.


°°°


Giska membawa saudaranya ke rumah. Sesampainya di rumah, ia sudah melihat Bram tergeletak di lantai dapur. Dan di sampingnya ada obat hama yang sudah terbuka tutupnya.


"Pakk..." Giska langsung berteriak.


Tanpa banyak bicara lagi, Pur dan Didi pun langsung menggotong Bram untuk di bawa ke kamar. Sementara Giska, ia terduduk lemas di kursi dapur. Air matanya pun langsung mengalir begitu saja. Pikirannya pun semakin tak karuan.


"Kenapa sampai begini, Lek? Ada apa sih sebenarnya?" Siti turut cemas.


Namun percuma Siti bertanya. Karena Bram tak mau membuka matanya.


________


2 jam kemudian...


Giska turun dari mobil kemudian di susul oleh beberapa saudaranya yang juga turun dari mobil.


Didi dan Pur pun langsung membantu Bram turun dari mobil itu juga. Tanpa banyak bicara, Didi dan Pur pun kembali membopong Bram, untuk kembali di bawa ke rumah.


Ya, Giska dan beberapa saudara lainnya tadi memutuskan untuk membawa Bram ke puskesmas dengan di antar oleh tetangga yang memiliki mobil. Beruntung kondisi Bram baik-baik saja. Jadi dia tak perlu menginap di puskesmas.


"Sabar, Gis. Sudah, bapakmu baik-baik saja kok. Sudah jangan menangis," tutur Siti sembari mengusap punggung Giska.


"Iya, Mbak. Tapi lihat sekarang, banyak orang sudah berkumpul di rumahku. Kejadian ini pasti akan jadi bahan omongan para tetangga. Apa yang akan ku katakan, Mbak," ucap Giska sendu. Ia menatap ada beberapa tetangga yang sudah menunggu di rumahnya.


"Bukankah ini sangat buruk? Bapakku ingin bunuh diri," gumam Giska. Air matanya pun kembali menetes.


"Sudah jangan menangis. Jangan pikirkan orang-orang," tutur Siti.

__ADS_1


"Gis, itu sepertinya bukan orang sini. Siapa itu ya? Kenapa di rumahmu?" Siti menatap pada 2 orang yang tak ia kenal, yang juga berada di rumah Giska.


Giska pun mengkuti arah pandangan Siti.


"Lho itu, ajik sama ibu," gumam Giska.


"Bagaimana mereka bisa di sini?" gumamnya lagi.


"Siapa, Gis?" tanya Siti.


"Emm itu orang tuanya temanku, Mbak. Sebentar ya, Mbak. Aku temui mereka dulu."


Giska pun segera berlari menemui kedua orang tua Bobby.


"Ajik, Ibu..."


"Nak..." Astuti langsung berhambur memeluk Giska dengan sangat erat. Kemudian di ikuti dengan Gung De yang mengusap punggung Giska.


Namun Giska memilih menggeser posisinya agar bapak mertuanya tak lagi mengusap punggungnya. Ia benar-benar trauma di sentuh oleh pria, mengingat kejadian yang menimpanya tadi pagi.


"Gis, suruh ibu dan bapaknya duduk dulu," tutur Siti.


"Iya, Gis, buatkan tamumu minum sekalian," timpal salah satu tetangga yang ada di sana.


"Iya."


"Ajik, Ibu. Mari masuk," ajak Giska.


"Duduk dulu, Jik, Ibu. Maaf ya tempatnya seperti ini," ucap Giska sambil mempersilahkan mertuanya duduk.


"Iya, Gis. Kamu mau menengok Pak Bram dulu, boleh?" ucap Astuti dan Gung De.


Giska pun mengangguk. "Mari, Jik, Ibu." Giska mempersilahkan.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Haaii Kak..


Maaf ya jika ceritanya masih sedih..

__ADS_1


Jadi sabar ya kak. ditunggu saja di next part...


Terimaksih sebelumnya🙏🙏


__ADS_2