Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Membujuk


__ADS_3

Bobby menolak keinginan Giska yang menurutnya tidak tepat. Ia tak habis pikir dengan istri kecilnya itu, bisa-bisanya memutuskan sesuatu hal yang besar tanpa bertanya dulu.


Sedangkan Giska, ia terus saja berusaha membujuk Bobby agar dia setuju dengan keinginan besarnya itu. Ia bahkan sedikit melakukan drama untuk membujuk Bobby. Dan berkat usahanya itu, akhirnya Bobby pun mengatakan iya. Kata itu sudah cukup untuk Giska. Hatinya merasa gembira, ketika ia membayangkan akan ada bayi kecil yang hadir ke dalam hidupnya yang masih dirundung kesedihan ini. Setidaknya dengan kehadiran bayi nantinya akan mengobati dan juga menghapus masa-masa sedih yang sampai saat ini masih betah bersemayam di dalam dirinya.


Giska berpikir, nanti saat istri pertama suaminya melahirkan, pasti suaminya akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk membantu Tia mengurus anaknya. Itu sudah kewajiban seorang suami bukan? Membantu istri. Dan ia tidak ingin cemburu akan hal itu nantinya, hanya saja mungkin ia akan sedikit merasa kesepian. Tetapi jika ia memiliki bayi dari Trias nanti, pasti ia tidak akan kesepian lagi. Tia mengurus bayi di rumahnya dan ia sendiri juga akan mengurus bayi di sini.


"Terimakasih banyak, Bli. Karena sudah setuju dengan apa yang ku inginkan." Giska memasang senyum manisnya di depan Bobby. Senyum yang keluar tanpa ia paksa. Senyum yang tak pernah lagi muncul di akhir-akhir ini.


"Kau senang?" tanya Bobby, yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Giska.


"Ya sudah. Ini sudah sore. Kau makanlah dulu. Tadi aku sudah memesankan makanan untukmu. Makannya ada di dapur," tutur Bobby.


"Iya, Bli. Ayo kita ke dapur." Giska menggandeng lengan Bobby. Namun sebelum ia melangkah, Bobby malah melepaskan gandengan tangan itu.


"Kau saja yang makan, Gis. Aku harus pulang sekarang. Tadi sudah janji makan di rumah soalnya," ucap Bobby setelah melepas gandengan tangan Giska.


"Ohh, iya sudah, Bli. Aku akan makan sendiri. Bli Bobby hati-hati di jalan nanti. Salam untuk Bu Tia," balas Giska tanpa memperlihatkan kesedihan yang tiba-tiba kembali muncul dalam dirinya.


"Baiklah." Bobby pun masuk ke kamar untuk mengambil kunci mobilnya, lalu segera keluar dan bergegas pergi meninggalkan Giska sendirian.


"Tidak apa-apa, lagipula kan memang aku sudah tau kalau Bli Bobby akan makan bersama Bu Tia di rumah. Ahhh, aku tidak boleh sedih karena hal ini. Aku bahagia karena sudah mendapatkan izin dari Bli Bobby," gumam Giska. Ia pun kembali tersenyum mengingat bayi kecil yang akan hadir nanti.


***


Bobby yang sudah sampai rumah, langsung duduk di meja makan. Namun di sana ia tidak melihat Tia.


"Ehh Tuan Bobby sudah pulang," sapa Bi Eka sambil meletakkan sebuah panci berukuran sedang, berisikan soto yang baru saja dimasak oleh Tia. Bau soto menyeruak begitu harum. Namun sepertinya Bobby tidak menciumnya.


"Tuan," panggil Bi Eka lagi. Karena Tuannya itu tidak menyaut ketika ia sapa tadi.


"Iya, Bi. Ada apa?" Bobby sedikit terkejut dan menjawab Bi Eka.


"Tidak, Tuan. Ini masakannya baru matang. Apa Tuan ingin makan sekarang?"

__ADS_1


"Masakan apa?" Bobby seperti tak fokus.


"Soto. Bukankah tadi Tuan meminta Nyonya untuk memasak soto?" sahut Bi Eka heran.


"Soto?" Sedikit lama berpikir. "Oh iya soto. Aku lupa, Bi." Bobby terkekeh.


"Dimana Tia sekarang?" tanyanya kemudian.


"Tadi selesai masak langsung pamit ke kamar katanya mau mandi, Tuan. Apa perlu saya panggilkan Nyonya, Tuan?"


"Oh iya boleh. Terimakasih, Bi."


"Baik, Tuan." Bi Eka pun langsung pergi ke kamar Nyonyanya.


Selang tak lama, datanglah Tia ke meja makan, dan langsung menyapa Bobby.


"Maaf sudah menunggu lama, Pa." Tia tersenyum menatap Bobby. Ketika ia hendak duduk di kursi sebelah Bobby, Bobby langsung membantu menarik kursi itu agar Tia tidak kesulitan.


"Terimakasih, Pa."


"Pa, tumben ini kau minta aku masak soto?"


"Iya aku hanya sedang ingin makan masakanmu saja," jawab Bobby datar.


"Kau merindukanku? Ehm maksudku merindukan masakanku ya?" goda Tia.


"Sudahlah. Aku mau langsung makan." Bobby malas membahas ledekan Tia. Ia memilih langsung mengambil piring lalu menuangkan nasi di dalamnya.


"Kau sudah makan?" tanyanya pada Tia sembari ia menyiapkan makananya sendiri.


"Belum lah," jawab Tia.


"Ya sudah ayo makan bersamaku. Biar ku ambilkan piring dan juga nasinya." Bobby kembali mengambil piring dan juga menuangkan nasi ke dalamnya lalu ia berikan pada Tia.

__ADS_1


"Terimakasih, Pa. Kau romantis sekali." Tia tersenyum.


"Aku hanya tidak ingin kau kerepotan mengambil piring dan nasi yang letaknya dekat denganku. Lagipula perutmu sudah semakin besar. Jadi kau pasti cepat lelah. Apalagi kau baru saja memasak untukku tadi," ucap Bobby, lalu ia menyuapkan suapan pertama ke dalam mulutnya.


"Ahh ini enak sekali," celetuknya sambil mengunyah makanannya.


"Habiskan semuanya, Pa. Nanti aku akan lebih sering memasak untukmu lagi," ucap Tia sambil tersenyum. Rasanya ia benar-benar bahagia karena masakannya di puji oleh suaminya. Setelah sekian lama ia tak pernah mendengar pujian itu, kini ia kembali mendengarnya.


"Aku rasa cinta suamiku sudah kembali seratus persen padaku," batin Tia girang.


"Kapan kau akan melahirkan?" tanya Bobby di sela-sela ia makan.


"Kata dokter kemarin, perkiraan HPL nya sekitar bulan Januari awal, Pa. Kenapa, Pa? Kau sudah tidak sabar ingin menggendong anak kita ya? Sama aku juga sudah tidak sabar menggendongnya, Pa." Tia tampak antusias membahas anaknya di depan Bobby.


"3 bulan lagi berarti ya. Bukankah kau bilang kandunganmu sudah 7 bulan? Kalau 3 bulan lagi baru melahirkan kan artinya 10 bulan usianya nanti?"


"Iya ini kan juga sudah pertengahan bulan, Pa. Bukan 10 bulan lah. Lagipula itu kan perkiraan dokter. Katanya sih bisa maju dan juga mundur," jelas Tia.


"Ohh." Bobby manggut-manggut.


"Semoga setelah ini pernikahan kita semakin harmonis ya, Pa. Hanya kita bertiga saja. Aku, kau dan juga anak kita nanti," harap Tia.


"Jangan ada Giska lagi," batinnya kemudian.


Bobby tak menjawabnya. Ia memilih meneruskan makannya. Hingga tanpa ia sadari, ia telah menghabiskan soto sepanci itu.


Entah dia memang merindukan masakan Tia atau ia memang hanya sekedar ingin memakannya saja. Namun yang pasti ini sangat aneh karena meskipun makanannya enak, ia biasanya tak pernah makan sebanyak itu.


..


..


..

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2