
Giska duduk berdua dengan Trias, di dalam rumah. Ya, beberapa menit yang lalu, Trias kembali datang ke rumah.
Saat datang tadi, mata Trias terlihat sembab seperti habis menangis. Giska pun menanyakan, kenapa Trias sampai menangis. Trias pun langsung menceritakan semua nya tanpa ragu.
Mendengar cerita Trias, Giska seolah melupakan kesedihan nya sendiri, akan kejadian pahit yang dulu menimpanya, serta ucapan Bobby yang tadi siang. Giska merasa apa yang Trias alami, jauh lebih buruk di banding diri nya.
Flashback On beberapa menit yang lalu.
"Giska..." Trias langsung memeluk Giska.
"Hiikkss... Hikksss..."
"Trias, kau kenapa? Kenapa menangis seperti ini?" tanya Giska, ia merasa bingung, karena tiba-tiba saja Trias menangis.
"Indra sudah keterlaluan, Gis. Dia menghinaku. Dia mengataiku gadis mata duitan, gadis murahan, dia bilang aku sctv, Gis." Ucap Trias, ada kilatan kesedihan nampak di kedua mata Trias.
"Tunggu dulu, Indra siapa yang kau maksud? dan kenapa dia sampai menghinamu seperti itu?"
"Indra itu kekasihku, Gis. Eh salah, sekarang sudah menjadi mantan kekasihku."
"Sebentar, aku masih tidak mengerti dengan ucapan mu. Jika dia kekasihmu, eh maksud ku mantan kekasihmu, kenapa dia menghinamu seperti itu? Apa kau membuat kesalahan yang membuat dia sampai berbuat seperti itu?" tanya Giska.
Trias pun menceritakan segalanya kepada Giska. Ia juga menceritakan kejadian semalam, saat ia tengah mabuk dan bercinta dengan teman nya yang bernama Rahmat. Lalu, setelah itu, Indra datang dan Trias pun bercinta dengan Indra. Entah bagaimana selanjutnya, tiba-tiba saja Indra marah-marah, karena terbakar rasa cemburu, hingga ia mengucapkan kalimat yang menyakitkan itu.
Giska yang mendengar cerita Trias, ia sampai melongo tak percaya. Ternyata apa yang Bobby bilang semalam ternyata benar. Apa yang Trias lakukan dengan pria itu semalam, itu bukan yang pertama kali nya. Jadi, itu artinya, Trias tidak di perkosa.
Giska pun tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya diam tak sembari terus menatap Trias. Sementara Trias, ia terus saja bicara, dan terus membenarkan dirinya sendiri.
"Gis, mungkin jika orang lain yang mengatakan semua itu, aku tidak akan merasa sakit hati seperti ini. Tapi, ini Indra yang mengatakan nya tepat di depan wajahku. Aku sadar, pekerjaanku memang seperti ini, tapi ya, janganlah sampai dia mengataiku sctv. Hatiku sakit, Gis." Ucap Trias di sela-sela isakan tangis nya.
"Sctv? apa sih maksud nya?" celetuk Giska.
"Satu untuk semua, Gis. Aku tau kok, memang bukan hanya dia saja yang bisa tidur denganku. Tapi, yang membuatku sakit hati, kenapa dia tega mengataiku seperti itu, Gis."
__ADS_1
"Astaga, Trias..." Giska sampai menutup mulut nya sendiri.
"Tri, kenapa kau sampai menjalani kehidupan seperti ini sih? kenapa kau sampai terjerumus ke dalam pekerjaan itu? ada apa denganmu? kau bukan seperti Trias yang ku kenal dulu." Giska mengguncang kedua bahu Trias. Entah kenapa, ia merasa kecewa.
"Karena aku terbiasa melakukan itu, Gis. Sejak kecil aku biasa merasakan hal itu. Kau pasti bisa merasakan nya sendiri, kau kan juga sudah melakukan itu dengan kekasihmu, kan? jika kita pernah merasakannya sekali, pasti kita ingin mengulangi kembali. Bisa di bilang, hal itu adalah kebutuhan, Gis."
"Maksudmu sejak kecil? aku tidak mengerti." Giska semakin dibuat bingung oleh ucapan Trias yang penuh teka teki.
"Kau tau, Ayahku sendiri lah yang memulai semua nya. Dia yang pertama kali merasakan tubuhku ini. Ayahku sudah menunggangiku sejak aku kelas 4 SD."
Flashback Off.
Giska menggenggam tangan Trias, sembari ia terus memandangi Trias. Ada cairan bening yang sudah menumpuk di kedua mata Giska. Ia bisa merasakan kepedihan yang Trias alami karena sesuatu berharga, yang telah di renggut oleh Ayah nya sendiri. Mungkin, rasa sakit yang Giska rasakan tak sebanding dengan rasa sakit yang Trias rasakan. Berawal dari kelas 4 SD kehormatan nya sudah di renggut, dan sekarang Trias menjadi seperti ini, karena ia tak bisa melawan nafsu nya sendiri. Trias malah menjadikan ini sebagai pekerjaan tetap nya. Sungguh Giska tak bisa membayangkan, apa yang Trias rasakan di dalam hati nya saat ini. Apalagi setelah ia mendapat hinaan dari kekasihnya sendiri. Ya, meskipun Trias sendiri mengakui nya, tetapi, bukankah menyakitkan jika orang yang kita sayangi menghina dan merendahkan kita sampai seperti itu?
"Tri, bukankah Ayahmu sangat menyayangimu? dulu Ayahmu selalu menuruti semua keinginanmu, kan? bagaimana mungkin? saat kecil kita selalu bermain bersama, kemana-mana juga selalu bersama. Tapi, aku tidak pernah melihat ada yang aneh dengan Ayahmu." Giska mengelak untuk mempercayai ucapan Trias.
"Kenapa? kau pasti tak percaya ya? itulah yang sejak kecil ku alami. Ya, karena itulah Ayah selalu memenuhi keinginan ku, karena aku juga selalu memenuhi keinginan nya."
"Mungkin hanya aku saja yang menjadi korban kegilaan orang tua nya sendiri, Gis." Trias tersenyum pelik.
Setelah cukup lama ia mendengarkan curahan hati Trias, Giska pun mencoba menenangkan Trias. Ia juga menasehati Trias, agar tak memperdulikan ucapan mantan kekasihnya itu. Sebagai seorang sahabat, Giska juga meminta Trias untuk berhenti dari pekerjaan itu. Namun, Trias malah menolak nya.
"Untuk saat ini, aku tidak bisa berhenti, Gis. Masih banyak yang harus ku tanggung. Suatu saat nanti, aku akan berhenti, Gis. Saat ada seorang pria yang bisa menerimaku apa ada nya dan mau menikahiku. Di saat itulah aku akan meninggalkan pekerjaan ku ini." Ucap Trias.
Obrolan mereka pun berakhir. Giska yang berusaha meminta Trias hidup sehat dan normal, tetapi Trias belum bisa melakukan nya. Hanya menunggu waktu saja, itu kata Trias.
Sebagai seorang sahabat, siapa yang tidak cemas memikirkan sahabat nya setiap hari harus menenggak minum-minuman keras. Belum lagi jika tamu nya meminta Trias melayaninya. Pikiran Giska menjadi tak karu-karuan membayangkan apa yang Trias lakukan. Namun, mau bagaimana lagi, jika kita sudah meminta nya dan orang itu menolak nya, kita pun tak bisa memaksa nya. Hanya saja, kita harus terus mengingatkan nya, agar perlahan dia bisa mengerti dan menjauhi itu semua.
***
Malam hari nya.
Giska duduk termenung di kamar nya. Ada banyak hal yang saat ini mengganggu pikiran nya. Salah satunya tentang Trias. Giska melihat jam di layar ponsel nya, sudah menunjukkan pukul 21.02.
__ADS_1
"Saat ini Trias pasti sedang berada di cafe. Pasti dia sedang minum-minum bersama pria-pria." Gumam-gumam Giska. Seperti kata Trias, Trias mulai bekerja pukul 20.00 sampai dini hari, bahkan bisa sampai pagi. Saat tamu sedang ramai, ia bahkan bisa menghandle 3 orang dalam sehari. Itu artinya, akan semakin banyak dia menenggak minuman keras itu. Jika dia terus-terusan seperti itu, lama kelamaan organ tubuhnya bisa rusak, dan dia akan jatuh sakit. Pekerjaan seperti ini memang sangat membahayakan.
"Giska..." Panggil Bobby.
Giska pun menoleh, "Lho, sejak kapan ada di sini?" Giska terkejut melihat Bobby sudah duduk di sampingnya. Pasal nya ia merasa tak membukakan pintu untuk Bobby.
"Sejak tadi, saat kau melamun. Apa yang sedang kau pikirkan? sampai-sampai kau tidak tau aku di sini."
"Bagaimana bisa masuk ke rumah? sepertinya pintunya sudah ku kunci tadi." Giska mengabaikan pertanyaan Bobby.
"Siapa bilang pintunya sudah kau kunci? Justru kau tak menutup pintunya. Saat aku datang tadi, pintu rumah terbuka lebar. Saat aku memanggilmu, kau sama sekali tak menyahut. Bagaimana jika ada maling yang masuk ke rumah ini? Kenapa kau sangat ceroboh seperti ini?!" Bobby memarahi Giska.
"Apa? bagaimana mungkin? Aku ingat betul, tadi aku sudah menutup dan mengunci pintunya. Jadi mana mungkin, bisa pintunya terbuka?" Giska membela diri.
"Lha buktinya ini. Aku bisa masuk ke rumah. Awas saja ya, jika sampai kau mengulangi kecerobohanmu ini! Aku tak akan mengampunimu!" ancam Bobby.
"Aku minta maaf, aku tidak akan mengulangi nya lagi. Tolong jangan menghukumku." Giska membayangkan, hukuman yang Bobby berikan adalah seperti yang 2 hari ini sudah Bobby lakukan. Bisa saja, Bobby tak akan membiarkan Giska turun dari ranjang, nanti. Giska pun memilih meminta maaf, meskipun sebenarnya ia yakin bahwa ia tidak ceroboh.
"Oke, kali ini kau ku maafkan. Tapi, lain kali, kau tidak akan bisa mendapatkan maafku semudah ini." Ucap Bobby, ia pun memalingkan wajah nya, karena ia sudah tak bisa menahan bibir nya untuk tak tersenyum. Ia tak ingin Giska mengetahui kejahilan nya. Ya, Bobby hanya menjahili Giska. Bobby bisa masuk ke dalam rumah karena ia memiliki kunci cadangan, bukan karen Giska yang lupa menutup pintu.
"Ohh iya, kenapa kesini lagi? bukankah siang tadi, Bli Bobby sudah menghina pekerjaanku? Dan ya, aku masih kesal denganmu!" seru Giska, ia kembali teringat akan ucapan Bobby siang tadi.
.
.
.
Bersambung...
Ohh iya ya, bukankah Bobby juga sedang marah kepada Giska? tapi kenapa tiba-tiba Bobby datang menemui Giska ya?
Baca terus kisah Giska ya...
__ADS_1
Maaf ya, kemarin nggak Up🙏🙏🙏